
Pasti karena kejadian semalam, hatinya tidak nyaman jika di perlakukan seperti itu. Bagaimana jika suatu hari terjadi hal yang lebih.
Tiba-tiba Dilan berdiri dari duduknya dan langsung memeluk Princess begitu saja.
Dag
Dig
Dug.
Jantung berpacu dengan keras dan ada rona di wajah masing-masing.
Sedangkan Princess terkejut dengan perilaku Dilan, ia mendengar detak jantung Dilan yang seperti mau melompat dari tempatnya.
Tiara yang baru saja kembali memfoto kopi beberapa berkas terkejut melihat pemandangan ini, ia tidak menyangka jika bosnya bisa memiliki wajah semerah itu. Apalagi yang di peluk adalah asisten pribadinya.
"Ehem... permisi bos." Ucap Tiara menggangu momen terlangka Dilan memeluk Princess kakak kesayangannya.
Dilan segera bersikap normal dan biasa-biasa saja, padahal jantungnya masih saja berdegup tidak karuan.
"Huh... di ganggu, padahal momen langka tadi itu."
Dilan menatap malas berkas yang ia pegang di tangannya, rasanya ingin sekali menerkam dunia supaya gelap gulita dan membuat semua orang ketakutan. Setelah itu ia peluk erat-erat Kakak manisnya itu.
"Sudah siap semua, kumpulkan semua orang untuk rapat siang ini. Jika rapat belum selesai di larang keluar jika tidak ada keperluan mendesak." Dilan menyuruh Tiara untuk segera pergi.
Princess yang masih diam mematung hanya berharap semoga Dilan cepat sadar dan membiarkannya untuk duduk istirahat sebentar.
Dilan yang baru sadar langsung menyuruh Princess duduk.
"Duduk di situ, tidak boleh pergi dari ruangan ini. Jika iya kamu aku hukum dengan potongan gaji dan tanpa libur untuk 3 bulan kedepannya."
Princess menelan ludahnya dengan keras, tapi ia tidak peduli lagi dengan potongan gaji dan tidak libur selama 3 bulan. Bukan Princess namanya jika ia tidak melanggarnya peraturan yang ia anggap masuk telinga kanan keluar telinga kiri.
Princess orang yang tidak bisa diam di tempat, ia akan mencoba melakukan beberapa hal yang membuatnya senang.
"Kenapa aku tidak jalan-jalan keluar saja, dari pada di sini nanti ujung-ujungnya melihat kemesraan Dilan dan cabai merah itu." Lizhi hendak membuka pintu, bahkan ia sudah memegang gagang pintu tapi sial pintu di kunci otomatis dari luar oleh Dilan Malik.
Princess menghentak-hentakkan kakinya di lantai, persis seperti anak kecil yang marah dan meminta pada Ibunya untuk di belikan mainan.
Dilan yang berada di ruang meeting hampir tertawa saat ini, tapi tidak jadi lantaran masih rapat penting dengan karyawannya.
Senyum merekah terpancar di wajahnya, beberapa karyawan langsung menatap satu sama lain, apa yang membuat anak angkat pemilik hotel Royal Malik ini tersenyum terus sedari tadi. Padahal biasanya saat menatap ponsel ia akan mengeluarkan ekspresi marah, terlihat kerutan kedua alisnya yang tidak pernah akur satu sama lain. Tapi kini kerutan kedua alisnya tidak ada, yang ada malahan senyum seperti bulan terbit di wajahnya.
Di dalam ruangan kerja Dilan Malik, Princess mengumpat Dilan berkali-kali.
"Dasar adik laknat, aku sumpahin kamu kena karma sampai kamu menangis ketakutan." Sambil menunjuk kamera CCTV yang ada di ruangan tersebut.
Dilan semakin penasaran dengan apa yang di ucapkan Princess.
"Rapat selesai." Tiba-tiba Dilan menghentikan rapat tersebut, padahal ini masih baru mulai.
Semua karyawan panas dingin di tempat itu, Tiara berusaha mengejar dan menanyakan apa yang terjadi. Namun yang di dapat hanya tatapan mematikan Dilan.
"Maaf Pak boss, kenapa berhenti. Rapat baru saja di mulai?" Pertanyaan yang baru di ucapkan hanya angin lalu bagi Dilan.
"Berhenti dan jangan masuk ke ruangan ku, mulai hari ini dan seterusnya tanpa seizinku!"
Dilan melanjutkan langkahnya untuk masuk ke ruangan yang sudah ia buka pintunya tapi belum sempat ia masuk, ia di kejutkan lagi dengan tingkah laku Princess yang ia lihat dari layar ponselnya.
Tiara mengepalkan tangannya, pasti gara-gara wanita sialan itu lagi. Ia tidak mau kalah saingan oleh wanita yang biasa-biasa saja di lihat mata. Bahkan laki-laki mana pun tidak akan ada yang tertarik dengan wanita bernama Princess itu.
"Awas kamu Princess sok cantik, akan aku buat perhitungan saat Bos Dilan tidak ada di kantor." Gumam lirihnya.
Princess yang masih mengomel pada CCTV, ia menunjuk-nunjuk sambil menjulurkan lidahnya. Bahkan hal paling jorok dalam hidupnya ia tunjukkan, yaitu mencari harta karun di kedua lubang hidungnya.
Dilan yang berada di luar ruangan tertawa renyah.
"Aa... ha... ha.... Aku tidak tahan lagi, aku masuk saja ke ruanganku." Dilan dengan senyum lebarnya masuk.
PLAK
Tamparan mendarat di wajah Dilan, ternyata Princess tadi mau memukul pintu malah keduluan oleh Dilan yang masuk tanpa permisi.
"Aww...." Sambil memijat hidungnya yang langsung memerah.
"Ups... sorry Ilan, sengaja," sambil cekikikan sendiri. Ia tertawa geli sambil duduk kembali ke sofa.
"Dasar ya, Kakak laknat." Dilan langsung menggelitik perut Princess yang sangat sensitif jika tersentuh.
"Aa... ha... ha..., ampun-- ampun-- stop Ilan, aku capek tertawa," sambil memukul-mukul kedua pundaknya Dilan.
Dilan tersenyum puas, saat melihat Princess sampai ngeblush wajahnya. Mungkin momen seperti ini tidak akan pernah terulang lagi nantinya.
"Emm... maaf." Dilan segera mengalihkan pandangannya lagi saat tidak sengaja ia menatap Princess dari jarak dekat.
__ADS_1
"Dasar Adik yang laknat, tega banget mengunci pintu. Mentang-mentang gagang pintu pakai sandi jika masuk dan keluar," omelnya mengalihkan kecanggungan yang ada.
Dilan tersenyum.
"Kamu cantik." Pujinya tiba-tiba terlontar begitu saja.
"Bullshit kamu Ilan, basi tau gak," Princess tidak suka akan pujiannya ini. Yang sudah di pastikan akhirnya nanti yang buruk.
"Beneran kamu cantik kakak ku yang manis, aku gak bohong." Masih saja pandai menggoda wanita.
"B-- A-- S-- I--," Princess mengibaskan rambutnya ke Dilan sampai Dilan bisa mencium aroma wangi sampo yang di gunakan Princess.
Dilan langsung memeluk tubuh Princess sesuka hatinya, seperti kekasihnya saja padahal dalam kenyataan hanya saudara yang baik dari kecil saja.
'Jangan buat aku salah sangka kenapa Dilan, taukah kamu. Perilaku mu yang seperti ini membuatku berharap lebih tau.'
Princess melepas pelukan hangat dari Dilan.
"Kenapa di lepas?" Dilan merasa kecewa tiba-tiba saat ia sedang menikmati aroma shampo milik Princess.
"Em... itu, seharusnya tidak sering seperti ini Ilan. Itu... tidak baik untuk hubungan persaudaraan kita!" Jawab Princess menggaruk ubun-ubun rambutnya.
"Iya baiklah." Berbicara dengan nada sedikit kecewa.
Padahal hanya seperti ini Dilan bisa merasakan kehangatan dari orang yang ia sayangi saat ini. Tapi apa boleh buat, saudara tetap saja saudara tidak bisa berubah menjadi sepasang pengantin seumur hidup yang akan di persatukan oleh ikatan suci pernikahan, menurut Princess.
Sore hari.
"Kak, sepertinya aku tidak bisa mengantarmu pulang hari ini. Kamu pakai sopir saja ya." Dilan membenarkan seat belt yang di gunakan Princess.
"Baiklah Ilan, hati-hati ya," Princess melambaikan tangannya.
Dilan menatap kepergian Princess sampai mobil yang ia tumpangi melesat ke jalan raya.
Bar Solo Hitz.
Dilan meremas rambutnya kebelakang, ia mulai pusing dan gelisah sekali. Awalnya tadi ia pergi ke bar untuk menyegarkan pikiran kacaunya, tapi sepertinya ada orang yang sengaja memasukkan sesuatu ke dalam minumannya.
"Damn... sepertinya terjadi sesuatu ini." Dilan sedikit sempoyongan langsung pergi dari bar tersebut. Bahkan banyak wanita yang menggodanya namun ia sama sekali tidak tertarik dengan tubuh mereka.
"Minggir... pergi sana, jijik gue." Menampik dengan kasarnya.
Saat di perjalanan pulang, Dilan sudah melepas dasi yang bertengger di leher dan juga jas yang ia kenakan sudah di buang di jok bagian belakang mobilnya. Rasanya tidak tahan ada sengatan listrik yang menjalar dalam tubuhnya, ia benar-benar ingin merendam tubuhnya di air dingin.
Rumah besar Malik.
Dilan berjalan menuju kamarnya, tapi sepertinya langkahnya tidak mau ke dalam kamarnya sendiri. Ia mengetuk kamar Princess berkali-kali, Princess yang baru selesai membersihkan diri terusik dengan suara ketukan pintu yang memusingkan pikiran dan memenuhi indera pendengarannya tersebut.
Dilan sudah tidak kuat lagi.
Ceklek.
"Ada apa sih? Berisik tau." Princess terkejut saat melihat tampilan Dilan yang seperti menahan gejolak dari dalam tubuhnya, terlihat wajahnya sudah merah padam dan banyak keringat yang bercucuran.
"Aku tidak kuat lagi kak Princess," Dilan langsung menyergap tubuh Princess dengan ganasnya.
"Lepas Ilan... lepaskan aku, aku mohon." Princess menangis sesenggukan di bawah tubuh Dilan.
Seorang wanita hampir paruh baya yang berniat mengunjungi anak-anaknya di buat terkejut dengan suara tangisan Princess yang berada di lantai atas.
"Ada apa ini?" Dengan tergesa-gesa ia berjalan.
Betapa terkejutnya ia saat melihat Princess di bawah kungkungan Dilan, bahkan Dilan dengan kasar membuka pakaian Princess kakakny yang sedang menangis kencang.
Monique Malik Mahendra sebagai ibu langsung membawa vas bunga dan langsung memukul kepala Dilan sampai ia pingsan bahkan ada darah segar yang keluar dari kepalanya. Dilan pingsan seketika, sedangkan Princess menutupi tubuhnya yang penuh tanda kemerahan. Ia masih menangis ketakutan sendiri, hampir saja mahkota miliknya terenggut oleh adiknya sendiri meski berbeda Ayah.
Kamar Dilan Malik
Dokter langsung memeriksa Dilan, untuk cidera ringan yang berada di kepalanya. Meski ada darah yang keluar tadi.
Momo menyilangkan tangannya di depan dada.
"Sudah sadar?" Momo menatap tajam putranya, setelah satu jam an Dilan baru sadar.
Saat di periksa oleh Dokter, ada obat yang masuk ke dalam tubuh. Tapi kemudian Dokter memberikan suntikan untuk menetralkan gejolak dalam tubuhnya, jika bukan karena hal genting dan gawat seperti ini. Dokter pun juga tidak berani menyuntikkan pasien.
"Mama Momo... sejak kapan di sini?" Sambil menyentuh kepala belakangnya yang berdenyut ngilu sekali.
"Apa Mama tidak boleh berkunjung ke rumah putri Mama, kamu harus mempertanggung jawabkan atas apa yang kamu perbuat Dilan. Dasar anak kurang ajar!" Memukul kepala Dilan.
Bugh.
"Aww Mama sakit ini." Dilan mengeluh.
"Sakitan mana hah... kamu pikir kakakmu Princess tidak terluka, apalagi Mama mu ini nak. Hu... hu... hu..., kamu kenapa bisa berbuat seperti ini pada Princess kecil Mama. Apa kamu tidak tau, Mama merawatnya sejak ia umur empat tahun. Tapi hari ini kamu tega menodainya, bagaimana dia bisa hidup bahagia jika satu-satunya harta yang ia miliki kamu rengut tadi," Momo menangis sejadi-jadinya.
__ADS_1
Dilan juga ikut terkejut dengan penuturan Mama nya barusan. Dirinya menodai kakaknya Princess cantiknya, benarkah? Pertanyaan itu mengelilingi pikirannya.
Sedangkan Momo yang tadinya menangis kembali berakting di depan Dilan yang ia anggap sebagai putranya itu.
"Hu... hu... hu..., kamu kenapa bisa jadi laki-laki sebajinga* ini Dilan, apa Mama pernah mengajarkanmu hal yang buruk Dilan?" Mamanya masih saja menangis tersendu-sendu.
Di kamar Princess.
Princess termenung, ia melamun sambil menatap jendela, lalu ia berjalan dengan pandangan kosong. Andai tadi itu benar-benar terjadi, bagaimana nasib hidup kedepannya nanti. Akankah ada laki-laki yang mau menimangnya, saat tau dirinya mau-maunya di noda i sahabat baiknya.
Tok
Tok
Tok
"Kak Princess, buka pintunya. Aku mau bicara." Dengan nada lemah Dilan berucap.
Princess bingung saat ada ketukan pintu di kamarnya, kenapa Dilan kemari.
Flash back 1 setengah jam yang lalu.
Princess menangis sesenggukan saat ibu yang merawatnya sejak kecil menanyai hal itu, bahkan ia juga mengaku diam-diam mencintai Dilan tapi ia memohon pada Momo untuk tidak berbicara jujur pada Dilan.
"Benarkah kamu mencintainya, jika tadi kamu benar-benar di sentuh dia. Kamu akan terima, karena alasan cinta?" Pertanyaan Mama Momo membuat Princess diam seribu bahasa.
Lalu ia menggelengkan kepalanya.
"Kamu bisa mencintai dan memilikinya tapi kamu harus berakting juga, jika nanti ia bertanya kamu harus jawab dengan menangis. Dan satu lagi, harus meyakinkan jika tidak ingin Mama ungkap sebenarnya jika kamu diam-diam mencintainya." Momo mengancam Princess.
Bodohnya Princess, andai waktu bisa di putar ia tidak akan pernah berbicara jujur jika dirinya mencintai Dilan diam-diam.
Flash back selesai.
Kembali ke cerita.
Princess menatap Dilan, ia bingung harus seperti apa berekspresi di depannya.
"Aku akan bertanggung jawab atas apa yang aku perbuat kepadamu, tapi aku tidak bisa menikahimu untuk sekarang. Aku hanya ingin bersahabat denganmu tanpa adanya ikatan pernikahan." Dilan Malik berucap, sambil meyakinkan Princess yang sudah menangis sesenggukan.
PLAK
"Aku tidak akan pernah memaafkan kamu Pak Dilan yang terhormat," Princess pergi begitu saja.
Dilan mengejar Princess dan memeluknya dari belakang lalu ia membalikkan bada Princess, ia sangat menyesal dengan apa yang terjadi beberapa jam yang lalu.
"Aku kecewa denganmu Ilan, kenapa kamu melakukannya Ilan?" Princess mengusap air mata yang kian deras membasahi pipinya.
Benar-benar aktingnya bagus sekali, totalitas sekali. Sebenarnya ia tidak sebegitu marah, meski ada rasa kecewa pada Dilan yang hampir mengambil milikinya.
Dilan menatap tanda merah yang ia torehkan lalu ia usap perlahan.
"Maafkan aku kak Princess, aku mohon jangan membenciku kak. Beri aku waktu kak dan aku akan segera meresmikan hubungan kita. Meski nanti banyak yang menentangnya." Dilan mencari solusi.
Sedangkan Princess membulatkan matanya. meresmikan hubungan??? Pertanyaan ini terngiang-ngiang di pikirannya, bagaimana jika Dilan tau dia sedang berakting untuk menutupi jika dirinya mencintainya diam-diam selama ini.
'Mampus gue, kalau Ilan tau aku berbohong soal ini. Apakah dia akan memaafkan aku, lebih baik aku jujur. Tapi jika aku jujur Mama membuka rahasia jika aku mencintai dia. Oh My God aku harus bagaimana ini.'
Princess jadi pusing sendiri sambil menggigit bibir bawahnya.
"Sedang memikirkan apa? Jangan bilang kamu sedang berbohong kak Princess." Dilan menarik lembut tangan Princess dan mengajaknya duduk di sampingnya.
Benar-benar mati gaya Princess sekarang.
"Em... itu, tapi kamu jangan marah ya. Dan yang seharusnya marah itu aku, karena perbuatanmu itu. Tapi kamu juga harus janji untuk merahasiakan dari Mama jika aku berucap jujur oke," Princess menautkan jari kelingkingnya ke jari Dilan.
"Janji, kamu menyembunyikan apa dariku. Coba jujur padaku Kak Princess."
"Se-- be-- nar-- nya, kamu tidak mengambil milikku Ilan. Tadi itu aku di suruh Mama berakting," ucapnya memalingkan wajahnya.
Momo yang tadinya ingin memastikan anak-anaknya di buat terkejut lagi dengan pengakuan Princess, mau tidak mau ia berucap jujur.
"Princess, kamu membuka rahasia. Jangan salahkan Mama jika Mama berucap jujur juga pada Dilan." Momo mengancam lagi.
Princess langsung berlari ke arahnya sambil memeluk tubuh Mamanya seraya berbisik padanya.
"Mama, aku mohon jangan bicara jujur pada Ilan Mama. Aku tidak mau dia jauh Mama," ada sedikit air mata yang akan turun dari sudut matanya.
Momo langsung iba dengan putri kecilnya.
"Baik, tapi Mama minta satu. Jika ada yang menindas mu kamu balas langsung, jangan diam oke. Terutama harta yang ada dalam diri kamu ini." Sambil menepuk-nepuk punggung tangan Princess.
Princess mengangguk, ia terharu dengan Mama sambungnya ini.
"Terimakasih Mama," ia memeluk lagi dengan kuat.
__ADS_1
Dilan hanya menatap nanar kedua wanita yang ia sayangi itu.