ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu

ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu
188 S2


__ADS_3

Aku berusaha memberikan yang terbaik di karyaku, meski terkadang ada beberapa kisah nyata yang tercantum di dalamnya. Semoga teman-teman masih mencintai karyaku, terimakasih yang sudah mampir dan memberikan dukungannya.


***


Daysi terheran-heran dengan ke konyolan suaminya yang masih dengan percaya dirinya menunjukkan perutnya, padahal Mala baru saja lewat.


"Kenapa tertawa, apa ada yang aneh sayang?" menikmati secangkir minuman hangat, lemon tea.


"Tidak... tidak ada yang aneh Pa, tapi barusan mbak Mala lewat. Apa Papa tidak sadar sedari tadi, sampai-sampai mbak Mala menutup wajahnya dengan kain lap, kasihan sekali loh Pa. Gara-gara Papa yang berbuat seperti itu!" Daysi tidak habis pikir.


"Biarkan saja, lagian kan lumayan dapat tontonan gratis." Ksatria acuh.


"Ada-ada saja suamiku ini, Pa beberapa hari ini sepertinya Papa terus-terusan gelisah, kenapa Pa? apa ada masalah di hotel atau tempat lainnya. Sebenarnya... aku tidak mau bertanya lebih lagi, tapi sebagai istri apa aku tidak boleh tau Papa sedang ada masalah apa?" memainkan jari-jarinya di atas meja kaca.


"Tidak ada ko Ma, lagian semua sudah selesai dan orang yang berbuat itu sudah mendekam di sel tahanan. Sudah ya Ma, Papa mau ke atas untuk bersih-bersih diri. Jangan lupa memasak makanan kesukaan Papa!" jawab Ksatria yang tidak dapat di percaya oleh Daysi, suaminya ini sepertinya memang ada masalah.


"Sudahlah jika tidak dapat bercerita, setidaknya itu tidak mempengaruhi kesehatannya." Gumam lirih Daysi dan langsung menuju dapur.


Mala yang dari tadi menunggu si bos pergi agar tidak menganggu momen bahagia tuan rumahnya tersebut dengan sang istri.


"Mbak Daysi, mau Mala masakkan apa untuk makan malam nanti?" Mala mulai mengambil beberapa sayur dan lauk pauk dari dalam lemari es.


"Ingin berbeda dari yang pagi tadi mbak Mala, tapi tanpa ayam aku ganti tahu dan tempe saja sebagai asupan gizi, mbak Mala bisa masak tumisan sayur kangkung ya mbak!" Daysi mulai mengupas bumbu.


Di dalam kamar Sindy Cheval.


"Sayang kamu tidak pergi ke dapur memasak apa begitu, dari awal kita menikah kamu jarang loh menyentuh dapur, apa jangan-jangan kami takut atau fobia dengan kompor listrik di dapur." Ledek Cheval.


"Aku turun dulu ya Aa, kalau begitu," Sindy menatap malas suaminya dan bergegas pergi dari kamar tersebut.

__ADS_1


"Eh, tidak dapat di ajak bercanda ternyata. Beginilah jika punya istri bersifat dingin, sedikit-sedikit marah eh bukan marah tapi datar dan diam, tapi walaupun seperti itu aku tetap cinta." Cheval menyisir rambutnya dan menyemprotkan beberapa semprot wangian dengan normal dan tidak berlebihan.


Daysi yang melihat Sindy masuk dapur mengerenyitkan dahinya. Aneh sekali putrinya sore ini, tumben-tumbenan dia mau masuk dapur bahkan menggantikan Mala yang sedang menumis bumbu dan akan memasukkan sayur ke dalam teflon.


"Mbak Mala biar aku saja yang memasak." Sindy mengambil alih masakan.


Sindy jarang sekali masuk dapur, tapi masakan dia tidak dapat di ragukan lagi dengan kecerdasan yang ia miliki dia masih hafal takaran bumbu yang masuk ke dalam masakannya tersebut.


Cheval yang mengikuti sang istri tersenyum lebar sekali. Daysi yang tidak sengaja bertanya melalui kode wajah. Cheval hanya membentuk tangannya berbentuk love saja.


"Anak muda, Aa mau menggantikan Mama dan mbak Mala memasak?" tanya Daysi memberikan spatula pada Cheval.


"Boleh Ma, lagian kemarin Aa belum sempat masak juga. Ayah Sacha ingin merasakan masakan ku kemarin setelah dari makam bunda dan mama kandung Aa!" jawab lirih Cheval di akhir kalimat.


"Jangan lupa, memasaknya dengan penuh cinta biar masakannya enak dan tidak asin." Daysi menepuk pundak putranya.


Sindy yang sedari tadi mendengar percakapan tersebut hanya mendengus kesal kemudian ia menghela nafas, akhir-akhir ini ia sering marah mungkin karena tugas dari kampus yang banyak dan menumpuk untuk di kerjakan.


"Walaupun Aa anak mama, tapi kamu suka kan dengan Aa yang anak mama ini," menampilkan ekspresi menggodanya dengan menggigit bibir bawahnya.


"Terserah ucapan Aa deh, yang penting Aa bahagia sementara aku tertekan batin." Sindy melanjutkan memberi bumbu di masakannya.


"Ko begitu sih sayang ucapannya, seperti aku yang membuat kamu tertekan saja," Cheval mulai mengajak Sindy berdebat lagi.


"Sudahlah Aa jika tidak mau mendengar ucapan yang keluar dari mulut aku, tutup saja itu telinga pakai lakban, sekalian yang warna hitam lakban nya. Jika tidak ada yang putih saja, sekalian pakai headset juga nanti bisa sekalian mendengarkan musik dengan keras dan volume yang lebih jelas lagi." Sindy mengaduk-aduk sayuran yang harusnya sudah ia tuangkan di piring.


"Oke... oke..., Aa tidak akan membuat kamu marah saat ini, kasihan tuh sayurnya mau terbakar di teflon itu," menunjuk teflon yang ada di depan Sindy.


Saking marahnya Sindy terlupa jika dirinya sedang memasak sayur, ia mengucap istighfar berkali-kali. Cheval langsung meletakkan spatula dan menciumi kening Sindy yang terdapat sedikit keringat.

__ADS_1


"Aku tambah mencintaimu, seperti ini lah istri tercintaku selalu mengingat Sang Maha Pencipta jika terlupa akan sesuatu." Cheval melanjutkan acara memasaknya.


Kini gantian Cheval yang memainkan peran memasaknya, suara pisau memotong halus bawang bombai. Kemudian memasukkan margarin yang bervitamin ke dalam teflon yang lainnya.


"Kenapa sih Aa tidak pakai teflon yang barusan aku pakai, kan jadi pemborosan peralatan memasak." Sindy menatap seluruh kegiatan suaminya tersebut.


"Tidak apa-apa, Aa cuma tidak mau rasa masakan ku terkontaminasi dengan bumbu yang lain,"


"Alasan, kan teflon yang baru aku gunakan anti lengket dan sekali lap saja langsung bersih dan kinclong, dasar Aa yang serba bersih." Sindy mengambil beberapa mangkuk dan piring yang di perlukan untuk meletakkan hasil masakan.


"Nanti Aa yang cuci tidak usah hawatir," Cheval menyelesaikan masakannya yang terakhir.


Dua insan ini selalu mendebatkan hal-hal kecil yang sangat tidak penting. Bukannya tidak penting justru hal seperti inilah penyebab pertengkaran di kehidupan rumah tangga dari hal terkecil jadi membesar. Bagaikan menyalakan api di kayu bakar, dari kecil menjadi besar.


"Apa semua sudah siap?" Daysi menatap menu yang sudah berada di meja dorong.


"Sudah Ma!" Cheval meletakkan piring terakhir di meja dorong.


Sindy mengikuti Daysi untuk membantu meletakkan di ruang makan. Banyak sekali masakan malam ini, sepertinya sampai besok pagi masih tersisa makanannya.


Ksatria yang melihat menu menggugah selera langsung menyiapkan diri di tempat duduknya.


"Wah enak ini, masakan siapa?" menatap Daysi dan Sindy yang baru saja selesai menata piring, sendok dan garpu.


"Masakan Aa, Pa!" jawab Sindy apa adanya.


"Pantas saja, banyak sekali. Coba Papa cicipi dulu, apa rasanya masih sama enak atau tidak. Kalau kamu Sindy masak apa." Ksatria mencoba tahu kecap. "Sepertinya ini masakan Mama deh." Melanjutkan mencicipi tahu tempe bumbu kecap.


"Itu masakan Mama, kalau yang tumis sayur sawi itu masakan aku sedangkan yang lainnya itu Aa," Sindy meletakkan gelas satu persatu di masing-masing tempatnya di sebelah piring.

__ADS_1


"Papa mau coba semuanya, sebelum Papa mengambil nasi untuk makan malam." Dengan semangat satu piring penuh dengan lauk yang ingin ia coba.


__ADS_2