
Ayo menghalu lagi sebelum melakukan pekerjaan real life, happy reading.
***
New York, Amerika Serikat.
Cheval yang baru saja selesai melakukan pekerjaannya langsung mengemasi semua barang-barang nya.
Waktu di jalan ia tidak sengaja bertemu seseorang yang sedang menangis sesenggukan di kursi dekat taman. Cheval berusaha cuek dengan hal tersebut namun hati nurani nya berkata untuk mendekatinya.
"Stop Cheval, jangan seperti ini lagi. Kamu tau jika dirimu sudah punya istri dan harus kamu jaga hatinya, ingat kamu berada di Negri orang dan kamu tau di dunia fana ini penuh kepura-puraan." Cheval membiarkan wanita muda tersebut dan tidak menghampirinya.
Selain tidak kenal ia juga tidak mau terkena masalah, apalagi Negara ini berbeda dengan Negara asalnya.
Sesampainya di apartemen Cheval meletakkan semua barang-barang nya dan memasukkan semua kebutuhan pokok nya ke dalam lemari pendingin.
"Haahh... dua hari di sini kenapa rasanya seperti dua tahun saja, sangat lama. Tapi aku harus berjuang istriku juga menungguku sukses, semangat Cheval."
Cheval memeriksa ponselnya, banyak sekali pesan yang masuk dari Sindy dan juga ada dari Momo dan sang mama.
"Sindy, i love you." Mencium potret Sindy yang ada di layar ponselnya yang ia gunakan sebagai wallpaper dan lain-lain nya.
Beberapa bulan kemudian.
Sacha Mahendra telah mendapat petunjuk secara detail tentang Lais, memang benar Lais ada sangkut patutnya dengan Marc William tapi yang membuat terkejut ternyata Lais bukanlah anak kandung Marc William tetapi anak wanita yang ia nikahi. Marc William menikahi wanita tersebut karena harta kekayaan yang melimpah.
Kemudian setelah harta itu habis, ia meninggalkan sang istri dan anak yang masih berumur sekitar 9 tahunan lebih tersebut dan pergi meninggalkan nya dan memilih wanita lain yang lebih cantik, seksi dan tentunya kaya raya.
"Cihh... laki-laki matre." Melempar berkas di meja dengan keras sampai Ksatria terkejut.
__ADS_1
"Heeyy... bisa pelan gak sih lempar berkasnya, untung kopi yang aku minum tidak tumpah," Ksatria tersulut emosi juga.
Bukan tanpa sebab Ksatria marah, karena ia sedang menikmati secangkir kopi dan sebentar lagi bertemu orang penting untuk membahas proyek apartmen yang sedang di bangun sekarang.
"Apa kamu tau, itu ternyata benar-benar orang matre." Menujuk berkas yang ada di meja.
Ksatria menatap sekilas wajah Sacha. "Bukannya kamu juga," ledek Ksatria.
"Ingat siapa yang matre, aku kan jujur kerjanya meski aku juga gila uang dulu. Tapi kan aku berkerja demi keluargaku juga." Sacha berusaha mengelak.
"Terserah kamu saja, terus sekarang perkembangan Momo dengan bocah ingusan itu bagaimana?"
"B aja gak ada perkembangan, lagian aku melarang Momo ketemu dengannya sekarang!" jawab santai Sacha.
"Tapi beberapa minggu ini aku lihat Momo wajahnya murung sekali, apa ini ada kaitannya dengan laranganmu selama ini." Meletakkan cangkir kopi nya.
"Okelah," Ksatria segera keluar dari ruangannya. "Apa cuma perasaanku saja ya, Momo semoga ia tidak tertekan hatinnya, heemm jadi teringat Aurellia dulu sewaktu ia SMA yang aku larang berpacaran sampai ia sakit dan sekarang, hhuuhhh." Gumam dalam hati sambil berusaha tersenyum karena banyak orang yang menyapanya siang ini.
Apartemen Cheval.
Suara ketukan dari luar kamar nya terdengar nyaring namun Cheval tidak pesan apapun bahkan makanan ia masak sendiri, ia berusaha hemat meski sang papa selalu memberi uang bulanan untuknya, saat berkerja sebagai asisten dosen dulu ia tetap menabung mengingat ia sudah menjadi suami adiknya sendiri.
"Siapa sih, coba aku cek dulu jangan-jangan orang yang mau berbuat macam-macam lagi." Melihat di layar monitor.
Wanita muda dengan pakaian seksi dan topi besar yang menutupi wajahnya.
"Tidak usah di buka, lagian aku tidak kenal." Cheval membiarkan wanita tersebut di depan pintu apartemen nya.
Namun ketukan pintu tidak yang tidak di respon sama sekali dan membuat wanita tersebut marah-marah di depan pintu.
__ADS_1
"Aa... aku memberimu kejutan dengan berdandan berbeda di ke sini tapi malah kamu cuekin, awas yaa."
Mengambil ponselnya dan menelpon sang suami.
DDRRETT...
DDREETT...
Cheval yang mendengar deringan ponsel nya langsung mengangkat panggilan tersebut.
"Aa." Teriak Sindy.
Cheval hanya mengosok-gosok telinganya yang berdengung seketika.
"Sindy sayang ada apa, kenapa teriak-teriak?"
"Aa jahat, buka enggak pintunya atau aku panggilkan penjaga apartemen ini, ohh... atau Aa menyembunyikan wanita di apartemen Aa. Jawab Aa," Sindy menangis di depan pintu.
"Sayang enggak, jadi di depan itu kamu, sebentar sayang aku bukain pintunya," Cheval langsung kalang kabut lari membuka pintu.
Dan benar saya Sindy sudah menangus sesengukan di depan pintu, Cheval segera menarik tubuh Sindy dan memeluknya dengan erat untuk menenagkan Sindy.
"Hu... hu..., Aa jahat."
"Maaf sayang, Aa benar-benar tidak tau jika kamu datang mendadak seperti ini dan satu lagi kenapa kamu berdandan seperti ini?" Cheval menatap riasan Sindy yang sangat dewasa dan berbeda sekali.
Sindy masih marah dan tidak mau menjawab pertanyaan aneh sang suami, jika ia berdandan seperti ini artinya ia ingin di nomor satu kan tetapi yang di dapat malah seperti ini.
Cheval berusaha membujuk Sindy dengan sekuat tenaga dan hatinya.
__ADS_1