
Jejaknya ya, biar tambah semangat nulisnya.
***
Cheval menatap tajam istrinya yang masih berusaha meyakinkan dirinya yang dalam mode ngambek ini.
"Bagaimana aku tidak salah paham sayang, bukannya tas itu dari murid laki-lakimu yang tampan itu, aku iri loh dengan ketampanannya yang khas orang Indonesia." Cheval ragu-ragu mengungkapkan kecemburuannya itu.
Senyum Sindy mengembang. "Aa memang salah sangka ya ternyata, beberapa hari yang lalu aku menolong dia yang mimisan dan aku membawanya ke Rumah Sakit karena mimisannya tidak kunjung berhenti Aa, dan setelah orang tuanya datang ternyata putranya menderita leukemia dan sekarang sedang membutuhkan donor tulang sumsum belakang," Sindy sangat terpukul dengan berita seperti ini.
Murid laki-lakinya itu sangat pintar dan cepat tanggap tapi sayangnya kesehatan tubuhnya tidak baik dan tidak mau bersahabat dengannya, sebenarnya kedua orang tua Kenzo adalah Dokter bedah di Surabaya namun sampai detik ini belum juga menemukan pendonor yang tepat untuk putranya.
"Harus semangat sayang, apa kamu mau murid-murid kamu kecewa melihat guru cantiknya ini tidak ceria." Mencubit pipi Sindy.
Kebiasaan buruk keduanya saling mencubit tidak hilang, kalau Sindy sering mencubit lengan dan perut suaminya. Sedangkan Cheval lebih sering mencubit pipi gembul Sindy.
Perusahaan tempat Momo berkerja.
Momo yang kalang kabut di hari kerjanya sebisa mungkin kuat dan bertahan lagian perusahaan ini bukan milik keluarganya melainkan milik orang lain, dengan bersemangat berkerja seperti ini bisa melupakan kenangan masa lalunya itu.
"Aku sudah lama tidak mengunjungi ayah dan bunda, akhir pekan saja aku ke sana setelah itu berbelanja kebutuhan sehari-hari." Momo menatap layar ponselnya yang bergambar matahari terbit.
Momo mendengar suara samar-samar memanggilnya dari kejauhan yaitu Dhela Randa, ada apa itu menjadi pertanyaan Momo. Cukup terkejut dirinya saat ini, seorang Dhela memanggilnya. Sungguh seperti keajaiban dunia ke berapa ini, apa otaknya bergeser sedikit hari ini.
"Momo..., tunggu sebentar." Dhela berlari kecil. Momo yang menunggu Dhela mendekatinya mulai bosan.
"Kenapa larinya pelan sekali sih." Dalam batin Momo mulai bosan.
"Iya... Dhela, ada apa?" Momo terpaksa tersenyum ramah.
__ADS_1
"Kita nanti makan siang bersama yuk!" ajaknya memberikan voucher makan gratis.
"Boleh, terimakasih Dhela." Momo memasukkan voucher tersebut ke dalam saku celananya.
"Sudah lama aku tidak makan bersamanya, terakhir dulu waktu di rumah papa, itu pun saat kita masih masa SMA. Ternyata waktu begitu cepat berlalu, begitu juga kenangan-kenangan indah." Momo menghela nafas panjang.
"Sudahlah, ayo Momo semangat berkerja meski hari pertama di suruh-suruh tidak ada hentinya." Momo membawa pesanan makanan milik staf di satu ruangannya.
Sebenarnya tida ada peraturan seperti ini untuk karyawan baru, tapi karena turun temurun dari para seniornya yang terdahulu membuat karyawan baru jadi bahan suruhan para seniornya.
"Kak... ini pesanannya, sesuai yang saya catat dan rekam di ponsel saya." Memutar vidio dan menunjukkan beberapa tulisan yang ia ketik.
Meski begini Momo tidak mau ada kesalahan, jika ada ia punya bukti dan para senior tidak ada yang bisa mengelak lagi.
"Good..., kerja kamu bagus. Setidaknya tidak seperti yang baru di pecat satu minggu yang lalu yang tidak seberapa pintar di bagian departemen ini." Ucap ketus Gladis.
Momo tersenyum getir, sebegitu horornya perusahaan ini. Tapi kenapa semua orang betah di sini, bahkan mereka tidak segan untuk bercanda dengan teman satu departemen nya.
"Mungkin ayah dulu seperti ini perjuangannya, terlihat sampai akhir hidupnya ia masih saja berkerja dan terus berkerja, aku mau seperti ayah. Yang tidak merepotkan orang lain untuk mencari nafkah."
Momo melanjutkan pekerjaannya kembali, menyalin file dan memfoto kopi seperti tadi. Sekarang sudah waktunya jam makan siang, Ia bergegas mengambil tasnya tapi sebelum itu ia mengunci komputer yang ia gunakan sebelum ia pergi, hanya untuk pencegahan hal yang tidak di harapkan.
"Nah dengan seperti ini aku tidak perlu hawatir lagi untuk makan siang ku." Momo membantin sambil memasukkan ponselnya ke dalam tas.
Ada beberapa rekannya yang ingin mengerjai Momo namun saat mereka hendak membuka komputer yang di gunakan Momo, ternyata Momo jauh lebih pintar dan hati-hati dalam pekerjaannya.
"Bagaimana? apakah berhasil rencananya?" tanya pada salah seorang suruhan Gladis mencari tau.
Gladis sebenarnya tidak ingin mengerjai Momo tapi ia tidak suka dengan Momo yang sok pintar dan rajin itu, mentang-mentang cantik dan menarik.
__ADS_1
Cafe Nikita.
Dhela yang sudah menunggu Momo langsung melambaikan tangannya, ia duduk di meja nomor 20 cafe ini. Dengan santai Momo menuju meja tersebut, ia tersenyum saat beberapa waiters menyapanya dengan ramah tamah.
"Apa aku telat Dhela?" Momo duduk di depan Dhela.
"Tidak, aku juga baru sampai di sini!" jawabnya langsung memberikan buku menu pada Momo.
Momo membaca satu persatu menu tersebut, banyak sekali menu yang di sajikan cafe ini. Dari makanan kaki lima sampai makanan khas daerah.
"Kenapa tidak kamu sebutkan apa yang ingin kamu pesan Momo?" Dhela menulis beberapa menu di buku catatan kecil.
"Aku sedikit curiga denganmu, ada apa. Tidak usah basa basi lagi Dhela?" tatapan tajam Momo di sambut dengan senyum ramah Dhela.
"Jangan menatapku seperti itu, aku tidak ada maksud lain. Cuma aku mau memberi taumu tentang ini!" Dhela menunjukkan foto seseorang yang tidak asing dengannya.
Foto Lais dengan seseorang yang sangat asing bagi Momo, wanita itu merangkul tubuh Lais dengan mesra. Bahkan ada vidio Lais di cium oleh wanita itu, bahkan ia tidak menolaknya sama sekali.
"Kamu jangan sakit hati melihatnya, bukannya dulu almarhum ayah kamu melarang berhubungan dengannya." Pancing Dhela tersenyum licik.
"Dia bukan kekasih ku untuk apa aku sedih, lagian kita hidup di jaman moderen. Untuk apa mengenang masa lalu yang sebenarnya tidak terjadi apa-apa di antara kami," Momo tidak peduli dengan itu, selagi berita itu wajar-wajar saja.
Bukankah wajar jika orang memiliki perasaan lebih. Dan kita juga tidak dapat memaksakan perasaan yang tidak sama.
"Aku pikir kamu akan sakit hati melihat ini, tapi kenyataannya tidak. Dan satu lagi Momo aku dengar Lais menghamili wanita itu." Dhela dengan santainya berucap dan menikmati makanan tersebut.
Sedangkan Momo ingin sekali melampiaskan amarahnya, namun tidak disini melainkan di tempat lain.
"Apa kamu sudah selesai makan, jika sudah aku pergi dulu." Pamit Momo langsung membawa makanannya untuk di bungkus dan di bawa pulang saja.
__ADS_1
Dhela yang berulah seperti ini sangat bahagia, setidaknya ia sedikit memberi pelajaran pada keluarga Malik yang membuat usaha keluarganya menurun lantaran Ksatria Malik tidak mau berkerja sama lagi. Dan sepertinya perusahaan milik papanya akan bangkrut dalam waktu dekat ini, entah 6 sampai 12 bulan kedepan.