
Kediaman Erdana Khan.
[POV Lais]
Momo sedang bermain dengan Princess di taman dengan meniup gelembung sabun. Lais yang baru pulang merasa senang dan terhibur melihat istri dan anaknya sedang bercanda.
"Aku benar-benar tidak sanggup kehilangan kalian berdua." Biarkan saja jika ada yang mendengar ucapan ku yang terkesan lebay di dengar, tetapi inilah isi hatiku yang sesungguhnya pada istriku dan putri kecilku.
Seharusnya Princess itu lahir dari rahim Momo seorang, aku tidak mau kehilangan kamu.
"Sayang." Ucapku sambil memeluk perut Momo dari belakang sambil mencium pundaknya yang sedikit terlihat dengan bagus.
"Lais, sejak kapan pulang kenapa aku tidak mendengar suara mobilmu?" Momo menatapku dengan penuh cinta.
"Bisa tidak panggilnya sayang atau sejenisnya kenapa hanya Princess yang kamu panggil sayang, aku cemburu dengan sikapmu yang tidak adil padaku." Aku protes pada Momo dengan manja.
"??!!" Momo menatapku dengan penuh keheranan.
"Baiklah mas, aku panggil mas sayang ya." Momo tersenyum mesra padaku.
DAG
DIG
DUG
Jantungku berpacu sangat cepat, haduh... resiko jatuh cinta di saat umur yang tak lagi muda seperti ini, semoga tidak bermasalah ini jantung berpacu seperti ini.
"Boleh, asalkan bukan mas-mas tukang siomay di gang sana itu," ucapku sambil mengendong Princess yang tertawa ria di atas pundak ku.
"Ya kalau itu beda lagi, kamu kan mas di hatiku sayang." Momo tersenyum nakal kepadaku.
Lais yang merasa di pancing langsung menurunkan Princess dari pundaknya dan menyuruh Lala untuk mengajak bermain Princess.
Momo yang sudah berada di dalam rumah langsung menuju dapur dan mulai menggenakan celemek untuk memasak.
"Hentikan kegiatanmu, ayo gosokkan punggungku dan pijatkan iniku, aku sangat lelah." Sambil ku tunjuk pundak ku dengan mengusap tengkuk dan sedikit memijatnya.
Momo yang menatapku langsung mengiyakan dan tidak menolak ku sama sekali, wahh... angin segar sore hari setelah pulang kerja memang luar biasa, apalagi istri yang menyuguhkannya.
"Baiklah ayo mas," Momo melepas celemek yang ia gunakan dan langsung menarik dan menggenggam erat telapak tanganku.
Ada apa ini kenapa istriku agresif sore ini, eehh... tunggu sebentar jangan kepedean dulu, nanti hasilnya zonk lagi kan mengecewakan.
Saat berada di dalam kamar mandi.
Lais menatap Momo dengan penuh keheranan kenapa ia mau membantu dirinya untuk mandi sore ini, biasanya dia akan menolak dengan mentah-mentah permintaannya.
Aneh dalam pikiran Lais.
"Sayang tumben kamu mau membantu aku mandi, apa ada sesuatu yang kamu minta dariku?" aku mengosok tubuhku bagian depan, sedangkan Momo mengosok punggungku.
"Tidak, aku tau kamu lelah berkerja seharian apa salahnya membantu suamiku. Hitung-hitung mengurangi beban lelah mu berkerja!" jawabnya seraya tersenyum.
"Aku tidak lelah, lagian pekerjaanku cuma duduk dan keliling perusahaan untuk melihat kinerja para karyawan saja."
"Tetap saja mas, sudah selesai aku keluar dulu ya mas, aku siapkan pakaiannya dulu," Momo masih saja tersenyum padaku dengan manisnya.
Senangnya hatiku, ternyata menikah seperti ini rasanya sungguh luar biasa menyenangkan. Setiap hari bisa bertemu tanpa harus pisah rumah dan berjauhan dan yang paling penting hangat di ranjang setiap malam. Aku ini benar-benar laki-laki paling beruntung di dunia ini.
Aku segera keluar dari bath tub dan menguyur tubuhku dengan air biasa. Saat aku keluar dari kamar mandi kenapa aku tidak melihat Momo sama sekali, dimana dia??? apa dia pergi sebelum aku selesai keluar dari kamar mandi. Sudahlah pasti Princess mencari dia dan menangis tadi.
Momo sedang merencanakan sesuatu untuk Lais, hari ini hari ulang tahun Lais tetapi Momo sengaja tidak membahasnya lagian Lais juga lupa dengan hari ulang tahunnya, mungkin karena selama ini kehidupannya yang memaksanya untuk berkerja dan berkerja sejak kecil hingga ia lupa dengan dirinya sendiri sampai sekarang.
Tidak ada kado apapun yang di berikan, mungkin kabar baik saja yang dapat di berikan dan roti buatan sendiri.
Lais yang baru keluar dari kamar bingung kenapa listrik di rumah padam padahal baru kemarin sore semua biaya listrik semua di lunasi, bahkan gaji untuk para karyawannya juga sudah.
"Sepi sekali, jangan bilang setelah menerima gaji pergi begitu saja, dasar mata duitan." Omel Lais sambil menuruni anak tangga dengan hati-hati.
"Happy birthday to you, happy birthday to yoo. Selamat ulang tahun semoga panjang umur." Semua orang menyanyikan lagu selamat ulang tahun, bahkan para pekerja di rumahnya mengucapkan panjang umur, sehat dan selalu sukses.
__ADS_1
[POV Momo]
Aku membawa roti ulang tahun buatan ku sendiri dan sudah di jamin roti ini enak dan sukses lantaran tadi aku membuatnya tidak hanya satu melainkan 4 buah roti dan satu sudah di coba tadi siang.
Lais berjalan mendekatiku dengan mata yang berkaca-kaca menahan haru, mata yang indah seperti mata elang dan tajam begitu menghipnotis ku setiap hari, dan kini jatuh berderai di pipinya.
"Terimakasih sayang."
"Berdoa dulu mas," ucapku tersenyum manis.
Lais meminta dan memohon kepada Yang Maha Kuasa untuk melanggengkan rumah tangganya sampai akhir hayat dan tak lupa meminta keturunan KepadaNya.
Usai acara kejutan aku memberikan kado kecil karena lampu masih padam Lais tidak fokus dengan kado kecil yang aku berikan.
"Mbak, tolong nyalakan lampunya."
CCEEKKLLEEKK
Lampu akhirnya menyala, aku tersenyum lebar melihat suamiku yang dengan cepat mengusap bekas tangisnya di pipi. Masih dengan wajah sedikit sembab.
"Ini apa?" tanyanya padaku.
"Buka saja nanti kamu juga akan tau apa isinya!" jawabku tersenyum pada Lais berharap dia suka dengan hadiah yang aku berikan yang tidak seberapa ini.
Lais terbengong dengan apa yang aku berikan, jepitan dasi dengan ukiran yang aku desain sendiri dan ada 3 permata yang menghiasi jepitan itu. Kenapa Lais hanya terbengong melihat itu apa jangan-jangan dia tidak suka, tuhkan desainku memang tidak ada apa-apanya dengan hasil karyanya.
Pantas saja perusahaan jam miliknya begitu terkenal di kota ini, dengan desain dan kualitasnya. Tapi ya sudahlah jika tidak suka yang penting usaha tidak akan menghianati hasil, meski nanti hasilnya akan menyakiti hati jika tidak suka.
"I love you sayang." Lais langsung memelukku dan mencium bibirku seenaknya saja tanpa melihat semua orang yang ada di rumah ini menonton gratis adegan romantis di rumah ini seperti sedang menonton film.
Aku berusaha mendorong tubuh Lais namun sia-sia dia terus menghabisi dan mengabsen mulutku dengan rakusnya.
"Kenapa???"
"Kamu membuatku malu mas, banyak orang bahkan Princess sedari tadi melihat kita seperti ini!" jawabku dengan ketus sambil ku silangkan kedua tanganku di perut.
Lais tersenyum padaku dan kemudian menatap Princess yang ada di sampingku.
"Princess mau adik tidak, nanti saat di rumah biar ada yang menemani tapi dengan satu sarat." Lais berjongkok menghadap Princess.
Aku hanya menepuk jidatku saja, anak polos ini sedang di racuni sang papa demi keuntungannya sendiri, Astagfirullah punya suami banyak sekali akal bulusnya.
"Sarat nya satu, jika papa sama mama di dalam kamar sana yang ada di atas Princess tidak boleh menangis mencari mama ya, setuju tidak Princess punya adik?" Lais terus membujuk Princess.
"Setuju papa, Princess mau sama mbak Lala dan tidak akan menangis lagi papa!" Princess berlari memeluk Lala sang baby sitter.
Lais berjalan mendekatiku dan langsung memeluk pinggangku dengan posesifnya. Sudahlah dari pada aku pusing tuju keliling lebih baik mengiyakannya saja.
CLUB MALAM.
[POV Arman]
Suara musik terdengar begitu nyaring di dalam telinga yang belum terbiasa mendengar musik seperti ini, bau bermacam-macam parfum dan minuman beralkohol menusuk hidung dengan tajamnya.
"Boss, apa anda tidak salah menyuruh saya masuk di tempat ini, sudah dua kali aku gagal tidak mendapatkan informasi apa-apa masa iya yang ke tiga kalinya aku gagal, haduh nanti kalau gagal lagi aku bakalan boss asing kan ke daerah tanpa sumber daya lagi kan hancur sudah kehidupanku. Belum juga merasakan hebatnya pernikahan." Arman mengusap keringat yang sedari tadi membanjiri dahinya.
Tiba-tiba ada seorang wanita yang tak lain adalah Aura wanita yang menjadi targetnya secara langsung datang sendiri setelah dua kali kemari tidak membuahkan hasil sama sekali.
"Hay... boleh kenalan?" Aura bertanya dengan nada manjanya.
Haduh... menjijikan sekali, kenapa Princess bisa lahir dari wanita merayu seperti ini. Malang sekali nasibmu nak.
"Eeheemm... saya Aryo Baskoro, anda sangat cantik sekali. Bolehkah saya tau nama anda nona," jawabku dengan berucap sedikit aku perbesar suaraku yang buruk ini.
"Boleh, saya Aura. Apa anda pernah mengenal saya di dunia model saya salah satu dari mereka dan saya jamin anda tidak menyesal mengenal saya." Aura mulai mendekatiku dan menyentuh dadaku yang sudah aku tutupi dengan silikon kulit palsu.
YA Allah tolong hamba mu yang lemah tidak berdaya ini Ya Allah, hu... hu... si boss jahat denganku malam ini. Memberi tugas yang membuatku kesusahan sendiri, apalagi dia sudah duduk di atas pangkuanku.
"Mas... apa mas sudah punya istri atau kekasih, jika mas kurang puas dengan servisan istri atau kekasihmu aku bisa memberikan yang terbaik padamu mas." Aura membuka sedikit kancing kemejaku bagian atas dua kancing.
"Jika aku memberikan tubuhku padamu, apa aku boleh tau tentang kepribadianmu dulu?" tanyaku sedikit aku pancing.
__ADS_1
Amit-amit tubuhku yang berharga ini jatuh di wanita seperti ini, cukup si boss yang bodoh itu yang terkena aku jangan.
Semoga si boss tidak punya mata batin yang bisa tau isi hati dan pikiran manusia, bisa mampus aku kalau si boss tau aku sering mengumpatnya.
"Apapun yang mas ingin tau aku akan jujur mas, jika mas mau denganku malam ini!" jawab Aura dengan yakin.
"Kalau begitu minum ini sebagai jaminannya dulu." Ucapku sambil aku memberikan minuman yang sudah aku campur dengan obat yang bisa membuat dia berbicara jujur padaku nanti.
"Baiklah, tapi janji ya temani aku malam ini," Aura menyentuh pipiku dengan manja.
Haduh mandi 7 kali pakaian air bersih dan membeli beberapa wangian dan aromaterapi nanti, bisa-bisa tertular hal yang tidak aku inginkan lagi.
Aura mulai merancau ucapannya, waw... dahsyat sekali obat ini tidak sia-sia aku membelinya dengan sangat mahal, semoga sukses pekerjaanku nanti. Aku mau liburan setelah ini, setiap hari bertemu boss lama-lama bisa karatan aku.
Aku menyuruh 2 orang yang aku bayar menggunakan uang si boss membantunya masuk ke dalam mobil dan membawanya ke suatu tempat. Dan lebih tepatnya di sebuah gedung yang luas.
Sedari tadi aku sudah merekam semua percakapan kami dari awal sampai akhir waktu di club malam, dan sekarang semua kamera sudah siap. Pertanyaan demi pertanyaan susah aku lontarkan dan Aura menjawab dengan jujur sekali tanpa ada satupun yang tertinggal termasuk ia meniduri si boss.
Aku sedikit geli mendengar ke jujuran nya, mataku melotot saat dia membuka bajunya bagian atas bahkan ia mulai membuka rok mininya dan dia sangat nafsu aku segera menyuruh salah satu orang untuk menyuntikkan obat penenang padannya.
Kediaman Erdana Khan.
Masih dengan posisi Lais memeluk pinggang Momo dengan erat, seolah takut terpeleset dan jatuh dari pandangan serta pengawasannya.
Princess menatap sang papa yang begitu erat memeluk mamanya.
"Papa, jangan peluk Mama erat-erat." Princess menarik lengan sang papa dengan kuat.
[POV Momo]
Tapi bukannya melepas dan mengalah dengan sang putri justru Lais sengaja menggoda sang putri dan membuat aku meringis kesakitan karena lengan besarnya melintir di pinggangku.
"Aww... sakit mas." Keluhku pada Lais.
"Maaf sayang, aku tidak sengaja. Aku... hanya berniat menggoda Princess saja dan tidak tau jika kamu kesakitan karena ulahku, jadi maafkan aku ya... ya...," dengan ekspresi memelas Lais memohon padaku, ihh... lucu sekali seperti anak kucing saja wajahnya.
"Ya sudah, aku mau makan dulu. Lapar perutku mas." Ucapku berlalu pergi meninggalkan suami dan putriku yang masih terbengong menatap kepergianku tanpa mengajak mereka.
Princess menatap sang papa dengan berdecak pinggang tangannya.
"Papa nakal gak sayang sama mama dan Princess." Ucap Princess berlari menuju ruang makan yang tempatnya tidak jauh dari lantai bawah tangga tersebut.
Aku segera menyiapkan makan untuk Lais suamiku dan Princess, terus terang saja aku tidak bisa marah pada suamiku. Meski dia sering membuatku kesal, tetapi jujur aku ingin mendapat Surganya Allah maka dari itu sebisa mungkin aku berbakti padanya, dia imam dan suami yang patut di hormati.
Lais yang masuk ke dalam ruang makan langsung memeluk perutku dengan lembut dan penuh cinta.
"Mas, mau makan apa?" tanyaku sambil mengambil beberapa tumisan sayur yang ada di meja.
"Semua aku mau sayang!" jawabnya melepas pelukannya dan duduk di samping Princess yang sedang menikmati salat buah.
"Papa tidak boleh manja sama mama, mama punya Princess saja papa tidak boleh, kalau papa manja seprti ini lagi papa tidak bisa jadi dewasa seperti Princess." Ucap Princess di sela-sela makannya.
"??!!" Lais menatap sang putri dengan tajam bahkan hawanya terasa menusuk tulang.
"Yaanngg... lihat, Princess tidak mengizinkanku manja." Lapornya padaku.
Aku hanya tertawa kecil dengan tingkah konyol suamiku ini, ada-ada saja kelakuan anehnya. Seperti anak kecil yang di ganggu oleh teman kecilnya saja.
TTRRINNG
Suara pesan singkat masuk ke layar ponsel Lais, Lais langsung menatap siapa yang mengirimkan pesan bahkan ada senyum di sudut bibirnya yang manis.
Aku mencoba tidak menaruh curiga pada suamiku, aku percaya dia akan setia padaku. Tuhkan aku jadi parno gara-gara baca novel tetang perselingkuhan suami yang diam-diam ada wanita lain. Haduh singkirkan pikiran jahat dan jelek ini dari otakku, ayo tarik nafas Momo lalu hembuskan biar kamu rileks dan tenang.
"Asik banget baca pesannya sampai-sampai makanan yang aku siapkan di anggurin." Ucapku membuyarkan senyum di wajahnya.
Lais tiba-tiba berdiri dari duduknya dan berjalan mendekatiku dan menciumi pipiku dengan gemasnya. Tuhh.... kan aku tidak mau curiga tetapi kenapa ia bersikap romantis seperti ini, inilah tanda-tanda jika suami ada main di belakang, agar tidak ketahuan ia berpura-pura romantis.
"Mas, ada apa sih kamu. Setelah mendapatkan pesan singkat kamu langsung tersenyum dan mengabaikan aku, apa pesan itu sangat penting dan berkesan untukmu?" ucapku dengan nada sangat cemburu.
Wanita mana yang tidak cemburu saat melihat sang suami tersenyum bahagia dengan ponselnya, apalagi setelah menerima pesan singkat.
__ADS_1
"Iya sangat penting sayang!" Lais terus menciumiku tanpa memperdulikan aku yang sudah panas dingin hatiku, bahkan air mataku seakan mau tumpah saja saat ini.
Sabar Momo, ini bisa di bicarakan baik-baik nanti dan tidak sekarang karena ada Princess yang harus di jaga hatinya, meski Princess bukan darah dagingmu tetapi dia masih kecil tidak pantas mendengar pederbatan kedua orang tuanya.