ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu

ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu
228. Tidak mual lagi


__ADS_3

Lais yang baru datang hanya mendengus, biasanya sang istri akan menyambutnya dengan tatapan hangat kini berubah menjadi dingin. Bahkan es di kutub utara dan kutub selatan tidak sedingin Momo sekarang.


"Seperti ribuan panah es yang menusuk jantung sekaligus dan mematikan langsung musuhnya." Gumam lirih Lais tidak berani mendekatinya.


Momo membiarkan saja, lagian rasa kesalnya tiba-tiba muncul dan menghancurkan mood baiknya. Kerajinan tangan yang ia buat bahkan tidak selesai padahal tinggal mengelem daun di tangkai bunga yang baru saja ia buat.


Lais kemari membawakan satu tas berisi coklat, harap-harap Momo mau menerimanya.


"Sayang, mas bawakan coklat. Apa tidak mau makan ini atau ngidam apa gitu biar mas belikan sekarang?" Tawarnya yang sudah siap siaga untuk pergi.


Benar-benar kisah cinta yang bulat tidak ada titik berhentinya, bahkan lebih rumit dari benang yang saling membelit satu sama lain. Kenapa tidak segera di maafkan dan tuntas permasalahan ini. Tidak semudah itu, sakit yang di torehkan tidak mudah kering. Apalagi luka itu sudah berdarah dan bernanah, jadi kemungkinan sembuh juga lama.


"Ada, panjat pohon kelapa dan ambilkan aku kelapa muda yang ada di villa Keluarga Malik di dekat pantai itu!" jawabnya tanpa menatap Lais sama sekali, ia langsung mengambil coklat yang di bawa Lais dan menyuapi putrinya juga.


"Sekarang dan hari ini." Rasanya Lais tidak percaya dengan keanehan istrinya, seperti lelucon yang sengaja di buat-buat saja oleh Momo. Akan tetapi Momo menganggukkan kepalanya.


"Iya, aku akan ikut tapi bawa mobil sendiri-sendiri. Nanti aku suruh pak sopir yang mengantarku ke sana," Momo mengunyah coklat batangan kesukaannya yang terdapat rasa susu dan kacang mente.


"Apa aku bisa mendekat sayang?" Dengan ragu-ragu Lais bertanya memastikan sang istri tidak mual lagi.


"Jangan mendekat, jika kamu mendekat aku muntah lagi!" Momo menutup mulutnya yang ingin mengeluarkan isinya.


"Oke... oke... aku tidak akan mendekati mu sayang." Lais mundur beberapa langkah namun masih dapat melihat istri dan anak-anaknya.


Momo hanya menatap melalui ekor matanya, ia sebenarnya ingin dekat dengan suaminya tapi apa boleh daya jika mendekat ia terasa mual dan tidak nyaman.


"Tahan dulu deh, lagian bayinya yang meminta. Selain itu biar dia benar-benar jera." Gumam Momo dalam hati tertawa renyah.

__ADS_1


Usai menghabiskan coklat Momo mengelap mulut Princess dan mulutnya sendiri. Rasanya sangat enak coklat yang di bawakan oleh sang suami. Momo bergegas masuk ke dalam kamar untuk berganti pakaian dan menyiapkan pakaian untuk Princess dan juga suaminya, meski sempat mual jika mengingat suaminya memakai pakaian yang ia tata barusan.


Saat di perjalanan Momo menatap arah jalan yang ramai dan padat, maklum hari libur pasti seperti ini ramai tapi lancar perjalanan. Sedangkan Princess bersama Lais satu mobil.


Di tepi pantai.


Lais menggaruk-garukkan kepalanya sambil menatap ke arah atas, lebih tepatnya menatap buah kelapa bagaimana cara memanjat pohon setinggi itu.


"Masa pohon segini saja gak bisa manjat, pasti bisa. Bismillah." Lais dengan tekat kuat ia mulai memanjat pohon tersebut tidak lupa ia membawa benda tajam untuk memetik buah kelapa muda.


"Ya Allah nak-nak, ujian yang kamu berikan pada Papa melebih ujian bertemu calon mertua dulu sewaktu kakek kamu masih ada." Lais meratapi nasib yang berada di pohon kelapa.


Tekatnya sudah bulat lagian sudah berada di puncak pohon tersebut dan siap-siap untuk memetik buah kelapa yang muda, meski ini pengalaman pertama Lais memanjat pohon kelapa. Tapi ia cukup berpengalaman untuk memanjat pohon seperti mangga, rambutan dan pohon sejenisnya mengingat dulu hidupnya yang susah untuk membeli buah semenjak Mamanya jatuh sakit dan meninggal.


Beberapa buah sudah Lais jatuhkan sedangkan Momo berada jauh dari pohon tersebut takut ketiban buah kelapa.


"Kamu tidak mual lagi sayang?" Lais tersenyum sangat manis.


"Tidak!" Jawabnya acuh dan langsung mengambil buah tersebut dari tangan Lais.


Momo mengerok daging buah kelapa muda dan meminum airnya dengan tergesa-gesa, rasanya nikmat dan menyegarkan tenggorokan.


"Berarti bisa peluk dong." Lais langsung memeluk tubuh sang istri dan langsung menciumi rambut Momo. Wangi dari rambut Momo membuatnya rindu sekali, tapi kini sudah terobati.


"Lepas mas, aku mau makan," tolaknya melepas lingkaran tangan yang ada di perutnya yang masih datar.


"Kenapa? bukannya sudah tidak mual lagi." Protesnya tidak terima jika di seperti ini kan lagi. Lais memanyunkan bibirnya seperti ikan kehausan.

__ADS_1


"Aku mau menikmati kelapa muda jangan ganggu," tegas Momo melanjutkan makan daging kelapa muda.


Setelah kembali dari villa, Momo hanya menatap jalan raya. Ia tidak berani menatap pesona sang suami yang semakin terlihat tampan, entah karena apa yang jelas saat hamil ini ia mendamba-dambakan suaminya itu. Tapi Momo diam dan tidak menunjukkan ekspresi sedang menggemari suaminya sendiri.


"Masa iya jujur sedang mengaguminya, nanti yang ada dia kepedean lagi dan meledekku sok jual mahal dan pura-pura acuh lagi." Momo menatap dari spion mobil sekilas.


Lais sudah curiga dengan gerak gerik sang istri, bahkan Princess yang sedari tadi saja menatap tingkah aneh Mamanya.


"Mama, Princess mau duduk di pangkuan Mama." Princess berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menuju jok tempat Momo duduk.


Momo mengulurkan tangannya untuk menerima tubuh Princess. Princess sangat senang dengan sikap lembut yang Momo tunjukkan, dulu ia selalu rindu seperti apa Mama dan ternyata Mama sehangat dan selembut ini sikapnya.


"Princess mencintai Mama." Mencium pipi Momo, Momo yang gemas langsung mencium pipi Princess.


Suara tawa menghiasi mobil ini sepanjang perjalanan menuju rumah, Lais membelokkan jalan ke arah rumah kediaman Mahendra.


"Kita pulang ke rumah ayah dulu ya." Lais membukakan pintu mobil untuk istrinya.


"Iya," Momo mengendong Princess namun segera di gantikan oleh Lais.


"Biar mas saja yang mengendong, kamu bersih-bersih badan dulu sayang." Lais dengan sigap mengendong tubuh kecilnya.


Momo bahagia jika ini terus terjadi, sikap romantis dan kepeduliannya pada keluarga kecilnya. Semoga ini awal yang baik dan baru untuk sepasang rumah tangga yang baru saja kapalnya terkena terjangan badai yang cukup besar.


Momo yang sudah masuk bath tub menikmati busa-busa yang melimpah tak lupa ia mengunci kamar mandi takut sang suami tiba-tiba menerobos masuk begitu saja seperti kemarin-kemarin, hanya untuk berjaga-jaga saja. Lais yang berada di depan kamar mandi mengetuk beberapa kali namun tidak ada jawaban dari dalam kamar mandi, dan itu membuat Lais sangat hawatir dengan istri dan calon anaknya yang akan segera datang.


"Sayang buka pintunya." Lais terus saja mengetuk. Sedangkan Momo yang terganggu langsung berteriak.

__ADS_1


"BERISIK SEKALI SIH MAS," Momo mulai emosi yang masih merendamkan tubuhnya di dalam air. Lais yang mendengar ucapan Momo langsung lega seketika dan tidak hawatir lagi.


__ADS_2