ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu

ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu
153 S2


__ADS_3

Jangan lupa pencet like, favorite, komen dan rate bintang lima ya. Terimakasih sudah mampir.


***


Lais sengaja tidak langsung mengajaknya kembali ke rumah justru ke tempat yang seharusnya tidak pernah di kunjungi yaitu taman bermain.


"Kenapa kesini, mau membuat kenangan yang tidak terlupakan." Momo melepas helmnya.


"Iya, aku ingin menghabiskan waktu denganmu saat ini," Lais menggenggam erat tangan Momo dan enggan untuk melepasnya.


Momo pasrah dengan ajakan Lais asalkan masih dalam tahap wajar dan sehat. Momo membiarkan waktunya dengan baik, ini adalah moments langka yang jarang terjadi. Lais berkali-kali mengambil fotonya dengan berbagai macam gaya, Momo yang hobi berfoto sangat menikmatinya.


"Kamu sangat cantik." Bisik Lais tepat di telinganya.


Wajah Momo seketika memerah karena malu.


"Kenapa sih kamu seperti ini lagi dan lagi, jangan membuat aku berharap lebih ke kamu Lais," Momo menatap hasil fotonya dengan Lais.


Kediaman Malik.


Cheval begitu sangat posesif pada Sindy, Sindy di larang ini dan itu.


"Kenapa sih Aa kamu, melarang aku melakukan ini itu bahkan menyuruhku besok mengenakan pakaian biasa agar tidak terlalu mencolok di Universitas, inikan baju seragam dari sana yang harus aku kenakan. Masa iya ke kampus pakai pakaian kasual, itu tidak mungkin Aa." Omel Sindy yang menatap sendu pakaiannya.


"Bukan begitu maksud Aa kamu pakai ini," memberikan aksesoris berupa kaca mata dan gelang karet.


"Untuk?" Sindy kebingungan.


"Kamu pakai besok, berdandan natural rambut di kepang dan jangan lupa kaca mata ini di pakai. Aku tidak mau kecantikan istriku ini terekspos dan di nikmati laki-laki mata keranjang yang ada di kampus!" Cheval tersenyum-senyum membayangkan tampilan baru sang istri pagi hari di kampus.


"Jangan bilang Aa sedang cemburu dengan murid-murid Aa, dasar posesif." Sindy meletakkan aksesoris semua di atas meja rias.


"Biarin, lagian aku tidak mau berbagi wajah cantikmu ini dengan orang lain, wajar saja jika aku tidak mengizinkan kamu berdandan," sambil memeluk mesra tubuh Sindy.

__ADS_1


"Pasrah sudah, dari pada berdosa pada suami karena tidak menuruti ucapan sang suami." Sindy mencium dada bidang Cheval dengan gemasnya.


Sejak malam pertamanya dengan Cheval sampai sekarang sang suami jarang mengenakan kaos atau pakaian bagian atas lantaran Sindy lebih menyukai sang suami bertelanjang dada.


"Dada yang sangat bagus untuk di nikmati." Tangan Sindy berkelana di atas dada Cheval.


Rasa geli menghampiri tubuh Cheval, banyak seperti bulu-bulu yang menggelitik di tubuhnya lantaran tangan Sindy yang kecil dan lembut.


"Stop sayang, aku capek ini banyak tugas yang harus aku kerjakan besok," Cheval menyingkirkan tangan manja milik Sindy.


"Aa..., aku mau."


"Tidak, aku capek," Cheval segera memunggungi Sindy dan tidak memeluknya lagi.


Sindy benar-benar kecewa permintaanya di tolak mentah-mentah oleh Cheval bahkan sang suami memunggunginya.


"Aa." Sindy memanggil Cheval dengan lirih kemudian ia juga memunggungi sang suami. Sindy menepis jauh-jauh pikiran buruknya jika sang suami sedang mendua dan salah satu cirinya dengan adanya penolakan saat di ajak berhubungan badan.


"Semoga Aa tidak bermain hati di belakangku, jika ia jangan salahkan aku jika aku juga mendua." Sindy segera memejamkan matanya dan masuk ke ruang mimpi.


Sindy melihat pesan singkat yang masuk ke dalam ponsel Cheval dengan keberanian kuat ia menatap layar ponsel yang tertera nama seseorang yang bahkan ia tidak kenal sama sekali.


"Siapa dia, kenapa mengucapkan selamat malam semoga mimpi indah." Sindy menatap sang suami yang tertidur pulas sambil tersenyum-senyum.


Sindy meletakkan kembali ponsel Cheval di meja sampingnya tidur.


Pagi hari.


Sindy hanya mengaduk-aduk makanannya, ia bahkan tidak menyapa mama dan papanya pagi ini. Barang-barang yang semalam di berikan sang suami tidak ia kenakan.


"Sayang." Mencium ubun-ubun Sindy.


Cheval menatap sang istri kemudian ke kedua orang tuanya. Seolah bertanya kenapa sang istri diam seperti itu bahkan kehilangan semangat.

__ADS_1


"Ada apa sih kamu, tumben-tumbenan tidak membangunkan aku ataupun menyiapkan pakaian kerjaku hari ini?" duduk di sebelah Sindy.


"Lagi bosan!" jawab ketus Sindy yang menyudahi acara makannya.


Taakk


Dengan kasar Sindy menutup sendoknya dan berlalu pergi meninggalkan meja makan. Ksatria dan Daysi sampai terkejut dengan perilaku putrinya yang kembali dingin seperti dulu.


"Sayang." Cheval mengejar Sindy namun sayang dengan kecepatan sepeda motor yang di pakai Sindy membuat Cheval tidak dapat menghentikannya.


Motor gede inilah yang menjadi saksi saat Sindy galau dan dilema. Mungkin sebagian perempuan motor seperti ini tidak pas di gunakan apalagi jika Sindy yang menunggangi kuda besi seperti ini, wajah cute nan manis tetapi naik motor gede.


"Dasar tukang selingkuh, sok polos dan sok tidak punya dosa." Omel Sindy menatap layar ponsel yang masih terpajang foto dirinya dan suami.


Sindy yang hari ini niatnya ingin pergi ke kampus ia urungkan. Sindy membelokkan kuda besinya ke arah pemakaman umum, namun sebelum masuk ke area makam Sindy terlebih dahulu membeli bunga untuk mengunjungi bunda Aurellia.


"Bunda...," rengeknya saat selesai mendoakan Aurellia.


Cheval yang sudah hafal betul saat Sindy bersedih ataupun marah selalu mengunjungi makam bundanya.


"Aa jahat bunda, Aa tidak mencintai aku lagi bunda... hu... hu... hu...," Sindy menyentuh nisan Aurellia dan menciumi nisan tersebut.


Cheval terkejut bukan main, apa maksud dari ucapan Sindy barusan tidak mencintainya lagi. Itu adalah hal yang sangat mustahil dan tidak akan terjadi.


"Aa punya kekasih lain bunda, Aa tega menghianati cintaku bunda." Air mata Sindy kian membanjiri wajahnya.


Cheval yang sedari tadi mendengar keluh kesah Sindy di atas pusaran sang bunda langsung memeluk Sindy dan mengucapkan beribu maaf dengan tulus.


"Maaf sayang, maafkan Aa sayang." Cheval berucap maaf di sela-sela tangisnya. Cheval sedari tadi ikut menangis di belakang Sindy namun tanpa suara.


"Lepas Aa, aku tidak mau di peluk Aa lagi. Jika Aa sudah tidak mencintaiku lebih baik bicara dengan baik-baik Aa, tidak seperti ini yang diam-diam memiliki hubungan lain dengan orang lain Aa," Sindy melepas pelukan Cheval.


Badan Cheval lemas seketika saat Sindy berucap demikian. Ucapan dingin Sindy membuat hatinya berdenyut ngilu. Cheval hanya menatap ke pergian sang istri dari parkiran pemakaman.

__ADS_1


"Semoga bunda percaya denganku saat melihatku dari Surga, aku hanya mencintai Sindy istriku bunda tidak ada wanita lain di hidup aku bunda, hanya dia yang berhasil masuk dan mendobrak pintu hatiku." Cheval menyentuh nisan tersebut kemudian pergi untuk menyusul sang istri yang entah pergi ke mana.


Sindy yang berada di jalan sudah tidak menangis lagi yang ada dalam hatinya saat ini adalah amarah dan kesal pada sang suami. Kenapa harus ada badai di pernikahan ini dan kenapa harus ada orang ketiga dalam hubungan ini. Sesak dalam hati pasti, namun Sindy tahan dan lebih memilih fokus pada jalan yang ia lalui sebelum kembali pulang ke rumah.


__ADS_2