
Jangan lupa like, komen, favorite, rate bintang 5 dan terimakasih.
***
Filan yang merasa seperti orang asing langsung menghindar dari pada harus ikut baper melihat yang seharusnya tidak ia lihat yaitu pasangan itu sendiri.
Sambil meminum minuman kaleng Filan menatap seluruh penjuru kediaman ini, ada seseorang yang tengah melihat kesana kemari dari luar gerbang rumah ini, seorang gadis yang sepertinya mencari alamat. Filan yang tidak mau punya urusan panjang dengan orang lain langsung masuk saja dan membiarkan orang tidak di kenal itu tetap di tempatnya, jika ada keperluan pasti langsung bertanya pada satpam di depan itu.
"Selamat ulang tahun Sindy si cantik." Filan memberikan hadiah kecil pada Sindy.
Cheval melotot tidak terima sang istri mendapatkan hadiah dari Filan, apalagi Filan itu pernah ada rasa untuk Sindy. Selain itu Filan tampan dan baik bahkan calon Dokter pula.
"Jangan terlalu mesra dan menghayati, ada yang cemburu ini." Meraih pinggang Sindy.
"Mode cemburu, biasa aja kali Val lagian istrimu tidak tergoda ko denganku buat apa kamu cemburu," skak mat dari Filan.
Ksatria dan Daysi tertawa keras.
"AA... HA... HA..., sabar ya Aa." Ucap bersamaan.
Cheval memanyunkan bibirnya, bagaimana bisa orang rumah begitu kompak membuatnya tertindas, apa mereka lupa jika semalam orang tertampan di keluarga Malik ini jatuh sakit. Baru sembuh langsung di jadikan bahan bercanda di siang hari, garing tau seperti kerupuk mentah yang di jemur.
"Garing ketawanya, awas nanti tidak bisa tutup mulut karena gigi kering menertawakan pria setampan aku." Cheval berucap ketus.
"Semoga kembali ke yang bicara," Ksatria, Daysi berucap samaan lagi.
"Iihh kalian ini, membuat putra sendiri asing di saat ini." Cheval duduk dan memakan kue uang seharusnya di potong oleh Sindy sendiri.
"Huuuaaa Aa itu milik Sindy hu... hu... hu..., roti cantikku jadi burik," Sindy meratapi kue cantiknya yang sudah acak-acakan tampilannya lantaran sang suami potong sembarangan.
Cheval menghentikan kegiatannya, rasanya krim yang ada di mulut pahit melihat sang istri menangi tersendu-sendu. Akhir-akhir ini memang Sindy sering menangis, tidak mungkin jika ia sedang mengandung dan hormon ibu hamil bawaan.
"Jangan menangis sayang." Menciumi seluruh wajah Sindy padahal bibirnya penuh krim alhasil wajah Sindy lengket dan berminyak.
"Aa jorok, jadi lengket kan wajahku," Sindy segera mengambil tisu di atas meja.
__ADS_1
"Walaupun lengket aku tetap suka dengan wajah kenyal ini." Gombalan maut Cheval keluar dari sangkarnya.
Filan yang semakin gila dengan perilaku yang ia tonton sedari tadi hanya menebah dada berkali-kali berharap ada keajaiban yang lain.
Suara orang masuk membuat semua orang tertuju pada pintu masuk rumah. Senyum Filan melebar saat melihat sosok manis di dekat pintu.
"Momo." Ucap pelan Filan.
Sacha dan Momo langsung memeluk dan memberikan selamat pada Sindy. Masih ada sedikit krim di wajah Sindy yang membuat Momo dan Sacha tidak memberikan cium pipi kanan ataupun kiri.
"Sindy kenapa ada orang playboy kesini, kamu mengundangnya?" bisik lirih Momo.
"Tidak, tapi tadi pagi papa yang menyuruh untuk menjemput Aa dari rumah sakit!" Sindy menjawab dengan berbisik juga.
"Pantesan ada tamu tak di harapkan datang." Momo duduk sangat jauh dari Filan yaitu di sebelah ruang tamu yaitu ruang santai.
Filan tidak tinggal diam ia langsung mendekati Momo dan mengajaknya berbicara serius.
"Momo ada yang ingin aku tanyakan, penting." Menarik pergelangan tangan Momo.
Filan segera melepas setelah sampai di gazebo.
"Cepat, mau berbicara apa. Sepertinya tidak penting dan hanya basa basi saja." Momo duduk di lantai gazebo.
"Ee... he... he..., aku sengaja membawamu ke sini. Tuh ada yang mencari dan menunggumu dari tadi," menunjuk Lais yang sedang tertidur di bawah pohon yang rindang.
Taman kediaman ini sangat luas, jadi maklum saja Ksatria dan Daysi tidak tau. Yang tau hanya Cheval dan Filan saja.
"Sejak tadi dia di situ." Momo berjalan mendekati Lais.
Filan seperti patah hati lagi, kedua putri Malik ini sudah ada tambatan hati yang satunya sudah sah dan satunya lagi sepertinya iya akan sah, entah cepat ataupun lambat. Filan kembali masuk tetapi tidak jadi pasti nanti orang di dalam bertanya Momo kemana, mau tidak mau Filan menunggu di gazebo sambil melihat orang berpacaran.
"Uhh... malu-malu meong. Cuma lihat-lihatan tanpa bergerak cepat, kenapa gaya pacarannya seperti ini sih, kuno sekali. Tapi biarlah mungkin mereka akan bersentuhan setelah menikah, istilahnya pacaran setelah menikah." Filan mengambil ponsel dan melihat wanita-wanita di media sosial, aduh mata keranjangnya meronta-ronta ingin sekali mengajaknya berkencan.
Filan melototkan matanya saat melihat ada seseorang tanpa busana di statusnya.
__ADS_1
"Haduh... berdiri lagi, ke kamar mandi dulu deh." Filan langsung masuk dan mencari kamar mandi.
Setelah bertanya pada Mala, Filan langsung menuntaskan hasratnya sendiri. Ya dia sering main sendiri daripada dengan partnernya, cita-cita menjadi Dokternya ia dahulukan dari pada menghamili anak gadis orang lain.
Di bawah pohon.
Lais tersenyum lebar dan menyuruh Momo untuk duduk di sampingnya.
"Kenapa tidak masuk ke dalam?" Momo mengambil rumput liar dan memainkannya.
"Tidak, ayahmu pasti ada aku tidak mau menghancurkan suasana bahagia ini, cukup melihat kamu tersenyum saja aku suka!" jawab sedih Lais.
Dalam diri Lais ia bertekad akan merebut hati ayahnya Momo meski harus menunggu ia sukses terlebih dahulu.
"Oo." Momo membuang satu persatu daun dari rumput yang ia cabut.
"Besok kamu kuliah tidak, aku jemput bagaimana. Apakah mau." Menawarkan diri.
Momo menggelengkan kepala, ia berusaha menjauhi Lais perlahan. Ada semburat kecewa dari Lais, kenapa dia menolak lagi dengan halus. Apakah ia benar-benar tidak ingin bersama untuk sekarang.
"Baiklah Momo aku akan selalu menantimu." Lais menyentuh rambut Momo dan memberikan ciuman di dahi Momo.
"Semoga kamu tidak mengingkarinya dan berhianat," dengan yakin Momo mengiyakannya.
Momo dan Lais memutuskan seperti ini karena sudah tidak ada yang di bahas lagi, Lais berpamitan pulang dan akan mencari pekerjaan paruh waktu lagi.
"Hati-hati." Momo melambaikan tangannya.
Lais tersenyum dan memberikan ciuman jauh dan keluar dari kediaman Malik dengan motor kesayangannya. Hati Momo kian sepi dari hari ke hari tanpa ada lagi orang yang menggoda dan mengobrakabrik hatinya.
"Sabar Momo, ayo masuk dan berkumpul dengan keluargamu." Filan menepuk bahu Momo.
"Baiklah, ayo," Momo mengikuti langkah kaki Filan untuk masuk ke dalam rumah.
Sindy yang melihat Momo datang dengan wajah masam semakin menghawatirkan saja. Sindy memegang kedua bahu Momo.
__ADS_1
"Ada apa ini dan kenapa kalian?" Sindy menatap Momo dan Filan bergantian.