ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu

ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu
S3. Terpesona aku terpesona


__ADS_3

Gauri menatap malas villa milik Aldy, kenapa harus kembali jika bisa kabur sekarang juga mumpung Aldy yang suka semena-mena itu pergi berkerja. Tapi, kenapa tidak rela harus pergi apakah dirinya mulai tergantung dengan keberadaan Aldy. Gauri sadar dan hatinya penuh dengan gejolak dilema, apa dirinya mulai kecanduan dengan keberadaan Aldy seperti saat dirinya bersama dengan Shandy meski hanya kepedihan yang di dapatkan dirinya sama seperti sekarang bukan.


"Kalau aku kabur apa ya konsekuensinya, di siksa di tempat tidur atau kamar mandi atau di tempat umum." Sambil membayangkan yang tidak-tidak padahal belum tentu terjadi.


Meski di anggap pembawa sial dan teman penghangat ranjang saja ia tidak apa-apa dan rela, lagi pula pernikahannya dengan Shandy saja gagal dan ia tidak tau kesalahannya apa mungkin gara-gara uang 10 M itu.


"Oh ya bukannya Shandy pernah bilang jika dirinya di suruh seseorang untuk menjebak dirinya dan menjadikan dirinya ini sebagai objek siksaan batin tanpa harus turun tangan, siapa ya kira-kira orangnya atau jangan-jangan aku kenal dia?" bertanya-tanya dalam hati.


"Haduh jadi tambah pusing lagi." Sambil merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur


Tempat dimana dirinya di siksa setiap malam.


Alat test pack bekerja dengan cara mendeteksi keberadaan hormon human chorionic gonadotropin (hCG) adalah preparat hormon yang digunakan untuk mengatasi infertilitas atau ketidaksuburan pada wanita melalui air $eni atau ur!ne. Hormon ini hanya ada jika sel telur yang telah dibuahi menempel di dinding rahim. Kadarnya pun akan meningkat seiring bertambahnya usia kehamilan itu sendiri.


Hormon hCG adalah hormon yang diproduksi oleh tubuh pada masa kehamilan. Hormon ini dihasilkan oleh sel-sel di dalam plasenta, setelah sel telur yang telah dibuahi oleh $perma menempel di dinding rahim. (copas Google lagi, tapi sudah di rombak)


Mimi mengerjabkan matanya berkali-kali rasanya tidak percaya dengan apa yang ia lihat sekarang, benarkah ini nyata bukan hoax dan tidak di ada-ada.


💬 Belikan test pack, kalau ada semua merk kamu beli


💬 Siap pak bos


Mimi gembira sekali dengan perubahan sifat Aldy yang berangsur-angsur membaik.


"Harus siap-siap beli ini." Bergegas tapi belum juga 5 langkah sudah melihat Gauri memandangi dirinya dari ujung rambut sampai ujung kaki.


"Mbak Mimi..." Lemah lembut tapi penuh penekanan di setiap bait kata yang keluar dari mulut Gauri.


"Eh.. ada mbak Gauri, mau di buatkan apa? atau pesan apa. Saya mau keluar sebentar mbak Gauri," alhasil canggung dan bingung.


"Gak titip apa-apa mbak, cuma saya mau tanya. Tadi.. kamu di suruh apa oleh bos kamu yang berkuasa itu?" Gauri sedikit meninggikan suaranya dan mendominasi seluruh penjuru ruangan villa.


Gauri memainkan jari jemarinya.


"Em.. anu ... itu ... anu.. mbak Gauri, em ... barusan pak bos mengirim pesan, saya di suruh pak bos untuk membelikan mbak Gauri test pack semua merek yang ada di apotik terdekat mbak!"


Benar-benar seperti murid sekolah jaman dulu-dulu di hukum di depan semua murid dan boleh duduk ketika jam pelajaran habis.


Apalagi dulu pelajaran sekolah tidak sebanyak sekarang, jadi bisa bayangkan kaku rasanya kram dan mati rasa sebab terlalu lama berdiri. Waktu di hukum bisa jadi kurang lebih satu jam sampai dua jam tergantung pelajaran apa dan jam berapa ketika terkena hukuman.


"Untuk siapa?" Gauri curiga jika untuk mengetes dirinya.


Apa obat yang selama ini ia konsumsi adalah obat penyubur kandungan, kalau di dalam rahimnya ada sosok makhluk hidup dan tidak berdosa ini bagaimana. Kalau Aldy cuma menginginkan anaknya tanpa ibunya, dirinya harus bagaimana keputusannya. Tetap bersikukuh atau menyerah, bersikukuh tidak punya segalanya.. kalau menyerah sama saja tidak punya apa-apa.


"Untuk mbak Gauri!" cicitnya beranjak pergi.


Gauri pasrah jika dirinya benar-benar hamil di luar nikah, mau bagaimana lagi semua sudah terjadi menolak pasti akan lebih parah lagi siksaannya.


"Untuk saya?" sambil menunjuk dirinya sendiri.


Gauri sampai geleng-geleng kepala. Apakah otak Aldy geser ke sebelah kepalanya, tumben peduli? biasanya cuma nyakitin aja.


"Iya.. untuk mbak Gauri!" jawab Mimi semangat.


'Kenapa pakai di cek segala sih, kalau aku hamil dan pil KB itu gagal gimana. Terus.. nanti dia cuma mau anaknya saja gimana, aku jadi wanita yang terbuang begitu. Kek.. drama-drama di tv tv saja kisahku ini.'


Gauri tidak langsung mengiyakan, lagi pula alatnya belum di beli dan nanti coba saja semoga.. negatif satu garis.


"Mbak, gimana? saya boleh keluar dan membelinya kan mbak?" mematung yang di ajak berbicara.


Mimi terpaksa keluar tanpa pamit ke Gauri yang di ajak bicara berfantasi sendiri di lamunannya.


"Haduh.. sabar-sabar jadi bawahan seperti aju ini. Mau makan hati setiap hari mau mengeluh sakit pinggang dan sendi sudah ada, apalagi coba lambung perih itu sudah biasa. Mau makan satu suap sendok seperti puasa bulan Ramadhan, sabar... sabar... sampai aku mau muntah harus makan sabar terus. Jika... melonjak gaji gak masuk dompet, ngenes-ngenes plus apes." Mimi melakukan pekerjaannya tapi ya.. dengan menggerutu sebab tadi dirinya hendak makan.


Apotik


Mimi mengeluarkan kartu debit milik Aldy dan membeli semua test pack yang di perlukan sebenarnya malu tapi mau bagaimana lagi, dirinya saja janda tanpa anak dan hidup sebatang kara seperti Gauri cuma bedanya Gauri berada di atasnya sangat jauh sedangkan dirinya hanya seperti keset villa milik Aldy.


"Mbak.. ini sudah benar semuanya? tidak ada yang tertinggal kan mbak?" cerewet sambil mengecek semuanya.


Sang apoteker tersenyum seperti kemarin-kemarin sebab wanita ini kemarin-kemarin membeli pil KB dab sekarang test pack, pasti berbadan dua wanita ini.


"Jangan mikir yang tidak-tidak, ini untuk majikan saya." Ketus dan berlalu pergi usai membayar semua yang perlu di beli.



"Huft.. akhirnya sampai juga setelah naik ojek sebentar, aku harus memberikan alat ini untuk mbak Gauri agar segera di coba semuanya." Mimi sangat senang dan bahagia bahkan kantong kresek yang ia bawa ia ayun-ayunkan.


Aldy yang berada di hotel menunggu hasil dari Gauri seperti apa, kenapa lama sekali Mimi mencarikan alat itu dan menyuruh Gauri mencobanya semua.


Tok


Tok


Ketukan pintu mengagetkan Aldy, Aldy menatap suram pintu yang baru saja di ketuk salah satu karyawannya yang sedang mengantarkan minuman dan makanan sehat untuk dirinya.


"Letakkan di situ dan pergilah." Di usir secara tegas oleh Aldy.


OB langsung mengangguk dan beranjak pergi dari pada kena omelan lagi bukan.


Mimi mengetuk pintu kamar Gauri tapi tidak ada sahutan sama sekali, dimana Gauri jika tidak di dalam kamarnya mungkin sedang di dalam kamar mandi dan tidak dengar jika ada yang mengetuk pintu kamar yang ia tempati sekarang.


Di dalam kamar mandi Gauri bernyanyi, sebab di dalam kamar mandi lah dirinya merasakan dirinya sendiri bebas berekspresi tanpa adanya penekanan atau menghindari orang-orang membicarakan tentang dirinya.


Cinta.. tegarkan hatiku

__ADS_1


Tak mau sesuatu merenggut engkau


Naluriku berkata


Tak ingin terulang lagi


Kehilangan cinta hati


Bagai raga tak bernyawa


Aku..... junjung petuahmu


Cintai dia yang mencintaiku


Hatinya dulu berlayar


Kini telah menepi


Bukankah hidup kita akhirnya harus bahagia.


"Apalah daya diri ini, cinta selalu datang tanpa di undang dan pulang tanpa berpamitan. Terkadang aku lupa dan terlena, tanganku ini menengadah air ke atas aku terima setiap tetes air yang jatuh tapi aku lupa dan menggenggamnya padahal air jika semakin erat di genggam semakin cepat pula jatuh ke tanah, begitu juga dengan pasir yang sangat halus."


Gauri menghela nafas panjang dan bersiap-siap lagi untuk menghadapi dunia yang perih dan kejam secara bersamaan ini.


"Hai mbak Gauri." Tiba-tiba nongol dan membuat Gauri terperanjat dengan kehadiran Mimi tiba-tiba.


"Sial, buat orang terkejut saja," baru kali ini Gauri marah-marah biasanya tidak, tumben ini begini pasti saat di hotel tadi berdebat dengan pak bos.


Tuhkan apa yang tadi di ucapkan terjadi lagi, belum juga isi tenaga dan mempersiapkan diri agar mental gak down malah ini down duluan.


"Maaf mbak sengaja.. eh.. maksudnya tidak sengaja mbak. Jangan marah ya," dengan menampik wajah imutnya padahal gak ada imut-imut nya melainkan wajah yang mulai tumbuh keriput dimana-mana.


"Iya, mbak wajahmu keriput ya. Sepertinya umur kita tidak jauh berbeda?" sambil tertawa pasti Mimi akan panik sekarang.


"AA... saya tidak percaya, masa wajahku tumbuh keriput. Oh... no wajah tercintaku, ini aset berharga untuk mencari suami setia!" langsung berlari ke arah cermin.


"Puft.. lucu sekali kalau di buat panik. Jika Aldy aku buat panik bukannya lucu tapi seram." Cekikikan sendiri membayangkan yang tidak-tidak.


Mimi kesal di kerjain Gauri tapi lega saat melihat Gauri tertawa bebas seperti sekarang, selama ini Mimi jarang sekali melihat Gauri tertawa atau tersenyum, bisa di hitung oleh jari bahkan tidak ada 5 jari hitungannya.


"Mbak Gauri,stop dong ketawanya. Cepat cek mbak jika tidak saya kena omelan lagi, telinga saya panas mbak jika mendengar ocehan pak bos." Memohon dengan sangat tulus.


Gauri mengangguk kasihan juga jika terkena omelan lagi.


"Iya... iya ... sabar mbak, ini juga mau coba tes dulu," Gauri beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi tapi sebelumnya ia mencari gelas kecil untuk menampung ur1ne.


Beberapa menit kemudian semua alat di masukkan satu persatu ke wadah masing-masing dan coba di lihat hasilnya apa garis satu atau garis dua. Gauri harap-harap cemas, jika dirinya hamil harus gimana ini di tambah lagi masa hamil di luar nikah. Tapi... kalau takdirnya harus begini bagaimana lagi coba. Harus ikhlas menjalankannya dan tabah tentunya.


Setelah di lihat baik-baik hanya satu garis dan semuanya sama 1 garis saja tidak ada yang dua berarti dirinya tidak berbadan dua.


Mimi menggaruk rambutnya, kenapa malah senang padahal Mimi sudah berharap jika Gauri berbadan dua dan di villa ini banyak suara anak kecil yang menghiasi seluruh penjuru villa. Mimi berpamitan dan keluar dari kamar Gauri.


Sayangnya harapannya pupus sebelum berkembang, jika pilnya di ganti tanpa sepengetahuan Gauri dan Aldy pasti dirinya terkena masalah, pasrah sudah.


💬 pak bos, negatif semua


Aldy melihat ponselnya yang berdering tanda pesan singkat masuk dan ia lihat ternyata dari pembantunya.


"Negatif??" Aldy tersenyum lebar.


Jika negatif tidak apa-apa, kasihan anaknya jika lahir nanti sedangkan papanya sebajinga*n ini, pasti dia malu memiliki papa yang akhlak nya minus.


💬 Jangan lupa, suruh orang salon merias dia malam ini


Mimi langsung tancap gas menghubungi pihak salon tentunya dengan bayaran yang tidak main-main, uang berbicara semua masalah gawat teratasi dengan mudahnya.


"Enaknya jadi orang kaya, tinggal suruh orang-orang bawahannya langsung selesai tuh keinginannya, coba kalau aku.. harus jungkir balik dulu cari duit baru bisa beli ini itu gak bisa nyuruh orang semena-mena. Nasib.. nasib," sedikit mengeluh.


Gauri menatap langit-langit kamar sambil menghitung bentuk hiasan langit-langit.


Ketukan pintu mengagetkan Gauri lagi.


"Masuk saja." Gauri mengencangkan suaranya.


"Em mbak Gauri, nanti ada orang-orang salon sebentar lagi. Mbak siap-siap ya soalnya perintah langsung dari pak bos dan tidak bisa di tolak atau beralasan lain," Mimi mengambil nafas banyak-banyak setelah mengucapkan nya.


Gauri hampir menautkan alisnya.


"Untuk apa? apa ada acara penting?" Gauri keheranan tidak biasa-biasanya Aldy begini atau jangan-jangan Aldy mau eheman lagi. Haduh...


"Tidak tau mbak, sepertinya tidak mbak!"


Setelah Mimi pergi Gauri mencuci mukanya di wastafel dan menatap dirinya dari pantulan kaca.


"Wajahku memang kusam, pasti gara-gara kebanyakan pakai AC.. dulu saja gak pakai apa-apa kinyis-kinyis dan gak kusam. Memang ya orang kaya pasti begini nih bingung habisin duit ngundang orang salon untuk perawatan ini itu, kalau aku sayang uangnya lebih baik di gunakan untuk keperluan yang lain yang lebih membutuhkan dan mendesak tentunya. Tapi.. gak apa-apa mumpung gratis dan nanti malam siap-siap pinggang sakit lagi."


Gauri menuruni anak tangga dan menuju ruang keluarga.


Mimi membantu Gauri untuk bersiap-siap sebab mobil orang salon sudah datang dan berada di gerbang depan belum sampai di parkiran mobil.


"Mbak."


"Iya mbak Gauri, ada apa?" sambil mempersiapkan kebutuhan yang sebenarnya tidak penting sebab pihak salon sudah menyiapkan semua dengan terperinci tanpa adanya kesalahan satu pun.


Jika nanti ada kesalahan pasti biaya salon jadi gratis dan itu sedikit menggoyahkan pendapatan salon hari itu juga. Di tanbah uang muka yang berlipat-lipat ini jarang sekali ada orang yang sedermawan Aldy Samporna pemilik hotel Sam.

__ADS_1


"Tidak jadi, hanya mengantuk saja!" malas sekali sekarang di tambah lagi sebentar lagi dirinya akan di siksa pihak salon.


Saat di rias dan mendapatkan pijatan Gauri menikmati itu semua, perawatan sore hari sangat nikmat di tambah lagi ngantuk juga melanda di matanya, Gauri akhirnya tertidur pulas pelan-pelan dan para pekerja salon tidak berani membangunkannya.


Gauri tidak sadar tubuhnya sudah full naked dan dirinya di balut lulur asli dengan rempah-rempah alami yang bisa mengencangkan kulit dan membuat kulit lebih cerah dan juga sehat tentunya.


Malam hari


Pukul 19.07 WIB


Aldy baru saja kembali dari hotel, hari ini banyak pekerjaan yang harus segera ia selesaikan sebab ia penasaran seperti apa aroma dan wajah Gauri malam ini. Membayangkan saja rasanya sudah tidak sanggup dan tidak mampu pasti Gauri berubah 180 drajat menjadi wanita pemikat siapapun yang melihatnya.


Suasana begitu menegangkan saat Aldy menapak satu persatu anak tangga ia tidak mengenakan lift agar cepat sampai, rasanya dada ini seakan-akan mau lepas dan bergeser dari tempatnya berdetak.


"Kenapa sih dengan debaran jantung ini, perasaan dulu tidak pernah berdebar-debar pasti ada yang tidak beres dengan jantungku, aku harus menelepon Dokter nanti." Aldy turu menginjakkan kakinya menuju kamar Gauri kamar wanita yang selalu membuat naf$unya naik secara mendadak pula.


Gauri menanti seperti menanti seorang kekasih yang tak dapat ia miliki seumur hidupnya. Tapi meski begitu setidaknya ia memiliki dirinya dalam bayang-bayang dan angan-angan meski begitu sangat menyakitkan.


Ceklek


Aldy menatap salah satu sudut ruangan yang sudah tertata rapi bahkan ada lilin dan kelopak bunga yang bertabur di seluruh ruangan.


'Apa-apaan ini? apa sebegitu bahagianya sampai merayakan dinner candle malam ini. Pakai lilin dan bunga-bunga pula kaya di kuburan.'


Batin Aldy mendadak tidak suka, apa harus menghentikan pil itu agar dia hamil dan tambah tersiksa kedepannya, jika tidak di hamilin wanita ini ternyata seberani ini mengadakan makan malam yang seperti orang berpacaran dan memiliki hubungan baik saja.


Gauri langsung menyambut kedatangan Aldy dan merangkul lengan Aldy dengan mesra, Aldy bahkan tidak menolaknya. Bau parfum Aldy masih sama seperti pagi tadi dan belum hilang dari jas dan juga kemejanya, Gauri dapat mencium bau itu bahkan ia mulai senang dengan wangi tubuh Aldy.


"Kenapa kamu mengusap hidungmu di lenganku?"


"Tidak, hanya saja saya suka bau kamu Aldy. Wangi dan lembut aromanya!" Gauri melanjutkan mencium bau tubuh Aldy.


Aldy tidak tahan sebab ulah Gauri yang berani-beraninya menggoda di saat perut lapar begini.


Gauri pasrah sudah di sentuh sana sini oleh Aldy, asalkan dia puas dirinya juga lega setidaknya tidak ada beban untuk melayani laki-laki yang naf$unya selalu tinggi meski sudah di turuti kemauannya.


Aldy tersenyum lebar, tanpa ampun ia menyiksa Gauri di bawahnya tanpa sedikitpun adanya kelembutan di setiap sentuhannya. Lagi pula wangi tubuh Gauri tidak dapat di pungkiri sangat menggoda di tambah lingerie berwarna coklat transparan yang mencetak semua bada Gauri sempurna benar-benar sempurna sekali.


Cras....


Aldy membersihkan tubuhnya sebentar lalu menuju ke tempat makan malam di balkon. Gauri juga membersihkan dirinya dan mengenakan piama tidurnya.


Setelah melepas ha$ratnya lagi Aldy barulah makan malam dan ia menyuapi Gauri dengan makanan yang lezat itu dengan tangannya langsung tanpa sendok.


"Apakah enak?" Aldy bersikap romantis.


"Enak, yang masak saya sendiri!" jawabnya menikmati hasil masakannya.


Hanya sayur kangkung masakannya yang lainnya tentu saja pembantu villa ini yang masak.


"Semuanya?" tidak percaya begitu saja.


"Tidak, hanya sayur kangkung itu saja yang saya masak!" tersenyum lagi.


Gauri benar-benar cantik, tanpa polesan saja sudah cantik kenapa harus mengundang orang salon untuk meriasnya lagi.


"Besok-besok jangan pakai bedak tebal, saya tidak suka dengan riasan menor seperti jalan* saja." Aldy menikmati masakan Gauri bahkan yang lain saja tidak di sentuh sama sekali.


Sayang sekali jika makanan enak tidak di sentuh, mubazir namanya buang-buang makanan padahal di luaran sana masih banyak yang membutuhkan makanan enak seperti yang tersedia di atas meja makan.


"Iya, tidak akan pakai riasan suapan terlihat pucat seperti mayat hidup bukan," kesak dan langsung menghabiskan makanan itu tanpa menawari Aldy sedikit pun.


Benar-benar wanita rakus makanan, apa perutnya tidak sakit makan banyak meski tidak habis semua tapi tadi di piring besar Gauri penuh dan ia habiskan sendiri.


"Ya pakai polesan sedikit, pelembab wajah dan bibir saja sudah cukup. Ditambah lagi alis kamu dan bulu mata kamu sudah bagus tidak usah di apa-apakan lagi."


"Siap Aldy, saya akan melakukan apa saja asalkan kamu puas dan saya tersiksa," Gauri memalingkan wajahnya.


Rasanya memang kesal sekali, wanita di luaran sana yang selalu ia ajak kemana-mana saja berparas cantik dengan dempulan tebal, sedangkan dirinya di larang pakai ini itu. Rasanya tidak adil sekali, ia juga ingin pakai skincare dan mempercantik kulitnya.


"Bagus jika sadar diri." Aldy menutup sendoknya dan pergi tanpa pamit.


Gauri menatap kepergian Aldy dari kamarnya, kamar yang tadinya di rias indah kini berantakan tak berbentuk, mau menyapu tapi ini malam hari. Katanya jika bersih-bersih malam hari akan mengurangi rejeki yang datang pada diri masing-masing.


"Besok saja deh bersih-bersih nya, lagian capek banget." Gauri mengertakkan badannya ke kanan dan ke kiri.


Grepek


Grepek


"Hah... leganya pinggangku." Ia langsung merebahkan tubuhnya dan masuk ke alam mimpi yang menyenangkan sekali.


Aldy yang berada di kamarnya sendiri berpikir matang-matang, kenapa rasa bencinya terhadap Gauri menghilang begitu saja. Apa dirinya mulai menerima keberadaan Gauri di dekatnya, jika begitu bukankah akan ada benih-benih cinta.


"Mau bagaimana lagi, setiap di dekatnya selalu berdebar-debar dan si Otong gak bisa tidur." Aldy menyentuh miliknya yang selalu bangun jika di dekat Gauri.


Sepertinya memang Gauri saja yang layak mendapatkan tubuhnya tapi soal hati masih penuh kebimbangan dan galau, jika nanti Gauri tidak ada rasa bukannya itu cinta bertepuk sebelah tangan.


"Tidur saja dari pada bangun lagi si Otong." Memejamkan matanya, berangsur-angsur Aldy juga tertidur dalam mimpinya.


Banyak sekali kejadian-kejadian yang menimpa Gauri. Gauri berusaha bangun tapi tidak bisa, di tambah lagi mimpinya selalu dengan isian ketakutan bukan main.


"Tidak, jangan bunuh saya. Saya mohon jangan," sambil memegang perutnya.


Entah mengapa ia memegang perutnya padahal dirinya tidak berbadan dua. Setelah melalui mimpi buruknya Gauri banyak-banyak beristighfar dan meminum air putih yang banyak untuk menguatkan dirinya, lalu ia membalikkan bantal yang ia gunakan dan mengalihkan arah tidurnya mencari tempat yang aman dan nyaman.

__ADS_1


__ADS_2