ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu

ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu
183 S2


__ADS_3

Like, rate nya juga ya.


***


Keadaan rumah sepi hanya ada orang-orang yang berkerja di kediaman Malik. Cheval menghela nafas melihat kerakusan sang istri, padahal baru saja ia makan di kampus namun saat di rumah ia menyantap makanan lagi.


"Sayang, apa perutmu baik-baik saja atau kita pergi ke Dokter untuk memeriksanya. Kenapa kamu makan lagi, padahal di kampus kamu barusan makan." Cheval mengambil nasi sendiri.


"Aku hanya makan sedikit tadi Aa di kampus, lagian aku masih lapar. Apa salahnya jika aku makan lagi," jawabnya sambil mengunyah makanan.


"Terserah istri cantikku yang hobi makan." Mencuri ciuman di pipi Sindy.


Sangat imut sekali kelakuan istrinya saat sedang mengunyah makanan, meski banyak satu suapan besar masuk ke dalam mulut namun tidak dapat di pungkiri wajahnya semakin menarik saja.


"Jangan menatapku seperti itu terus menerus Aa, terkesan aku ada salah dengan Aa saja." Omel Sindy yang meletakkan sendok yang ia gunakan.


Sindy lebih dulu menyelesaikan makannya dan meninggalkan sang suami yang masih saja menatapnya. Benar-benar tidak bebas dan tidak nyaman untuk melakukan kegiatan.


"Makan... makan sendiri, minum air putih sendiri, duduk pun sendiri, cuci piring sendiri, aassiikk...." Menghibur dengan bernyanyi dari pada pikirannya penuh kegalauan.


Sindy duduk di ruang keluarga dan membersihkan kukunya dan merapikan, ia tidak suka dengan kuku yang panjang, selain banyak kuman ia juga tidak bebas saat makan menggunakan tangannya.


"Nah... seperti ini kan lebih terlihat cantik, mumpung datang bulan sudah selesai dan pagi tadi aku sudah bersih-bersih juga." Sindy membuang sisa potongan kuku ke tempat sampah kecil di sebelahnya ia duduk.


"Aku juga mau dong di potongkan kukunya, bolehkan," tiba-tiba seseorang datang dengan menyodorkan jari tangannya untuk di potong kukunya.


"Ayah Sacha, sejak kapan datang. Tumben ke sini, biasanya ke sini kalau papa sudah pulang?" Sindy mulai memotong kuku Sacha mulai dari jari telunjuknya kemudian tengah, jari manis, kelingking dan yang terakhir ibu jari.

__ADS_1


"Barusan datang Sindy, buat apa pulang menunggu aki-aki yang super bawel itu bikin telinga penuh dengan gema suaranya saja!" jawab kesal Sacha.


Sindy tertawa mendengar sang paman yang menjelek-jelekkan papanya, tapi memang selama ini seperti itu. Papanya tambah bawel saja sedangkan Sacha semakin hemat dalam pengeluaran dan setiap hari pasti pamannya ini makan malam di sini.


"Ayah, apa tadi ayah baik-baik saja di perjalanan. Bagaimana dengan orang yang membuat Aa babak belur dan pingsan itu." Sindy menyelesaikan memotong kuku Sacha.


"Orang itu sudah di tangkap dan sudah masuk ke sel tahanan, lagian berani-beraninya mau menghabisi orang yang berada di keluarga Malik," Sacha tersenyum bangga.


"Secepat itu menemukannya, ayah memang hebat." Pujinya pada Sacha.


"Eehh... kamu salah memujiku, yang hebat itu papa kamu Sindy. Dia yang bergerak cepat menyuruh orang suruhannya untuk mencari keberadaanya di kota ini dan di luar kota, tidak ada 24 jam mereka tertangkap dan langsung masuk ke sel tahanan," Sacha membenarkan kenyataan yang harus Sindy tau.


"Jadi orang yang memukulku sampai aku pingsan sudah di tangkap." Tiba-tiba Cheval menyahut pembicaraan.


"Iya, dia terkena hukuman pasal berlapis, selain otak pembunuhan dia juga terjerat kasus Narkoba juga," Sacha menunjukkan vidio dan rekaman suara.


"Parah ini dia, apa dia tidak punya keluarga mungkin anak atau istri?" Cheval masih melihat vidio.


"Pantas saja, tetapi meskipun dia dari keluarga broken home tetapi tidak seharusnya ia seperti ini, hanya kesenangan duniawi sementara dan menderita selamanya." Cheval mengembalikan ponsel milik Sacha.


"Seharusnya begitu, tetapi setiap orang memiliki sifat masing-masing, jika dia berkeinginan seperti itu kita mau bagaimana lagi, kita tidak bisa menghentikannya," ucapan Sacha ada benarnya juga.


Setiap orang memiliki sifat dan perilaku yang berbeda-beda, tidak semua orang akan berperilaku buruk meski ia berhadapan dengan namanya broken home di keluarganya. Seperti Cheval sendiri, sang mama yang hamil tua di tinggal sang papa kandung dan lebih memilih selingkuhannya yang lebih kaya raya dan cantik, dan pada akhirnya sang mama meninggal usai melahirkannya lantaran terjadi pendarahan hebat.


"Aku jadi rindu mama, aku ingin kesana sekarang." Cheval berucap dengan berkaca-kaca matanya.


Sindy segera memeluk sang suami.

__ADS_1


"Ayo jika Aa rindu dengan mama Arabelle, aku juga ingin menemuinya sekalian kita ke makam bunda." Sindy mengajak sang suami, Cheval segera mengiyakan.


Sacha yang di tinggal langsung mengekor, dia juga sedang rindu dengan istri tercintanya.


"Ayah juga ikut, naik mobil ayah sendiri atau barengan dengan kita. Barengan saja ayah dari pada kebanyakan bawa mobil." Sindy menawari sang paman.


"Iya, lebih baik begitu lagian aku mau makan malam masakan kalian, sudah lama ayah tidak kalian masakan setelah bunda tidak ada," Sacha masuk ke dalam mobil.


Cheval yang tadinya ingin ber romantis dengan istrinya harus menahannya, lagian ada pamannya yang senantiasa mengawasi gerak geriknya.


"Ayah, kenapa menatapku seperti itu ada yang aneh dengan kemudiku?" menatap dari spion di depannya.


"Tidak ada yang aneh, justru sikapmu yang aneh kenapa tangan kamu mengemudi seperti itu, kasihan tangan Sindy nanti pengap gara-gara berdempetan terus!" sindir keras Sacha.


Cheval langsung saja menempelkan kedua tangan mereka tepat di ac depannya, bukannya melepas justru menempelkan tangan tersebut supaya tidak pengap. Benar-benar aneh dan konyol pasangan suami istri ini.


Sacha menepuk jidatnya, pusing iya, mau marah juga kenapa, lagian mereka sudah sah juga.


"Sudahlah, lanjutkan saja kegiatan aneh kalian berdua, aku berdiam diri di pojokan mobil saja." Sacha menatap ke arah luar jendela mobil.


Sesampainya di pemakaman, mereka bertiga membeli bunga untuk mengunjungi makam Arabelle dan Aurellia. Hanya doa-doa yang di panjatkan tidak ada keluh kesah saat berkunjung sendiri-sendiri.


"Apa Aa masih rindu?" sambil merangkul lengan suaminya.


"Iya rindu sayang, aku belum pernah berada di pelukannya. Mungkin setelah lahir aku di pelukannya sebentar, pasti setiap anak ingin di peluk orang tua kandungnya!" Cheval duduk di salah satu kursi dekat parkiran pemakaman umum dan menunggu pamannya yang masih melepas rindu di pusaran istrinya.


"Iya itu benar Aa, tapi ada papa dan mama yang selalu memelukmu dengan hangat mengalahkan orang tua kandung Aa." Sindy menyadarkan dan mengingatkan.

__ADS_1


"Betul sayang, tanpa papa dan mama aku pasti tidak pernah merasakan kehangatan orang tua dan berakibat kamu yang jadi korban, maafkan Aa," menciumi tangan Sindy.


"Sudahlah Aa, kita jalani hidup kita yang baik-baik saja seperti ini." Mengacak-acak rambut Cheval.


__ADS_2