ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu

ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu
S3. 18 up sedikit dan promo


__ADS_3

Daysi sedang menyiapkan sarapan pagi dengan beberapa pembantu yang ada di dapur, Sindy sedang memandikan Inre untuk siap-siap pergi ke sekolah pagi ini dengan Cheval sekalian Cheval pergi ke hotel.


"Aa, hati-hati ya." Setelah memandikan dan memakaikan seragam pada Inre.


"Iya sayang," mencium kening Sindy.


Sindy sedikit tidak rela saat suami dan anaknya pergi, ia ingin ikut berangkat tapi Cheval tidak mengizinkannya lagian hari ini banyak pekerjaan yang harus di urus dan ada beberapa klien yang minta bertemu dan membicarakan masalah kerja sama kedepannya bagaimana. Baik di hotel maupun di apartemen semua butuh Cheval untuk menanganinya.


"Aa boleh ikut?" tanyanya mendadak dan langsung mendekati suaminya.


"Ikut? tapi apa badan kamu kuat ... em ... maksudnya bisa kalau ikut. Ke sekolah apa ke hotel." Hawatir akan kesehatan istrinya yang akhir-akhir ini sering down sebab musim dan cuaca juga berpengaruh akan kesehatannya itu.


"Kuat Aa, kan Sindy strong gak percaya?" mengangkat kedua tangannya.


Mengacak rambut Sindy.


"Percaya, ayo ... berangkat sayang!" menggenggam tangan Sindy dan sebelah tangan kirinya menggendong putri gendutnya Inre, tapi semakin besar ternyata Inre tidak segembul dulu ada sedikit perubahan.


Senyum bermekaran di wajah Sindy dan Cheval, Inre menatap kedua orang tuannya.


"Mama ... Papa ... kenapa kalian senyum-senyum seperti itu?" Inre menatap heran orang tuanya.


"Tidak apa-apa nak, ayo sarapan pagi!" mengelak untuk menjawab pertanyaan Inre.


Suasana sarapan pagi seperti biasa-biasa tidak ada percakapan atau mengeluh tentang masakan yang tersaji di atas meja makan.


Ksatria seperti satpam di rumah, menatap semua orang yang hanya makan dan mengunyah tanpa ada pembahasan sama sekali, kehidupan ko gini-gini aja gak seru terlalu sepi tanpa penghuni lagi.


"Apa kalian gak ada masalah, kenapa senyap?" Ksatria yang sudah tidak tahan langsung bertanya pada anak-anaknya sambil memakan buah melon.


"Tidak ada!" jawab Cheval benar adanya.


"Benarkah? apa kalian sakit gigi." Ksatria menatap lagi kedua anaknya.


Sindy dan Cheval menggeleng kompak, Ksatria menepuk jidatnya. Ternyata semakin hari sifat dan karakter Sindy dan Cheval sama-sama dingin pantas saja mereka jadi suami istri cocok sih. Ksatria hanya bisa mencibir mereka dalam hati dan melanjutkan makanannya sebelum nanti ia menjemur Dilan di taman samping rumah yang sebelah timur.


Di jalan.


Inre sangat senang kedua orang tuanya mengantar dirinya ke sekolah, meski sesungguhnya ia tetap suka di temani suster Nona dari pada Papa Mamanya yang ujung-ujungnya nanti mereka akan saling bermesraan, kata Grandpa.


"Ma ... Pa ... tidak usah masuk ke dalam sekolah ya, Inre bisa sendiri." Inre menyalami kedua orang tuanya.

__ADS_1


"Baiklah ... baiklah karena anak papa sudah besar, tidak boleh nakal ya saat sekolah. Harus dengar apa kata ibu guru," menunjukkan jari kelingkingnya.


Inre menyambut jari Cheval.


"Janji Papa, Inre sudah besar ini. Ayo suster Nona." Sambil melambaikan tangannya.


Sindy tersenyum melihat kelakuan sang putri yang sangat jelas sudah dewasa dan pengertian, Sindy bersyukur di berikan seorang anak yang begitu membanggakan. Setelah memutar kemudinya Cheval langsung melesatkan mobilnya menuju Royal Malik, dan melihat kondisi hotel serta nanti ada beberapa klien yang akan datang dan mengadakan meeting di kantor.


***


Promo


Di sudut kota dekat Pasar Jumat ada seorang gadis berumur 20 tahun dengan keringat yang membanjiri hampir di semua badannya, bukan karena apa. Tapi ia ketiban sial sebab di kejar-kejar oleh orang gila.


"Gila ... bener ... bener orang gila yang ngejar-ngejar aku, masa iya cuma gara-gara aku mirip anak majikannya." Salma menarik nafas panjang lalu menghembuskannya, ia mengatur nafasnya agar teratur dan stabil namun bukannya belum selesai beristirahat suara itu.


Salma membalikkan pandangannya ke belakang.


"Tuh ... kan dia lagi, LLAARRII ...." Dengan nafas ngos-ngosan ia berlari kocar kacir.


"BERHENTI WOY," teriak laki-laki yang umurnya sekitar 20 sampai 30 tahun dengan pakaian yang acak-acakan seperti orang gila.


Salma yang kehabisan tenaga akhirnya duduk di salah satu gubuk sawah kecil dan pada akhirnya dia tertidur sebab kelelahan.


Rumah sederhana.


Salma masih belum sadar dari pengaruh obat bius, entah berapa banyak yang ia tuang semoga tidak terjadi apa-apa dan segera bangun dari pingsan lamanya itu, sudah sekitar 2 jam tapi belum bangun juga.


"Sialan ini wanita, apa tidak ada rencana bangun apa." Ia menendang kaki wanita itu tapi tidak ada reaksi apa-apa dari sang pemiliknya.


Salma sebenarnya sudah bangun ia menahan kaki betisnya yang di tendang laki-laki sialan ini, ternyata yang mengejarnya tadi itu anak dari pembantu rumahnya, gila betul ini orang nekat pula.


Alga mengambil air dan langsung mengguyur wajah Salma dan membuat Salma bangun gelagapan sebab air masuk ke dalam hidungnya.


"ANJIN* LO." Teriak Salma spontan dengan kata-kata kasarnya.


Alga tidak merasa bersalah sama sekali setelah menguyur badan Salma dengan air sumur. Alga Ranting hanya seorang laki-laki biasa yang kehidupan jauh dari kata kemewahan sejak lahir, ia hidup hanya berdua dengan Bapaknya yang bernama Arto. Alga lahir 28 tahun yang lalu dan artinya umurnya sekarang 8 tahun lebih tua dari Salma Adipati.


Tak


Alga meletakkan secarik kertas di atas meja.

__ADS_1


"Ini kamu baca," Alga masih saja semena-mena pada Salma, padahal ia adalah anak dari pembantunya.


"Siapa kamu perintah-perintah aku seenak jidat kamu sendiri, perasaan aku ino anak majikan bapak kamu deh." Salma hendak pergi namun badannya langsung di hempaskan lagi ke tempat tidur.


"Baca ... atau aku perk0$a kamu," ancaman yang terdengar mengerikan tapi bukan Salma jika tidak berani dengan tantangan ini.


Salma tersenyum dan langsung merangkul pundak Alga lengan kirinya sedangkan yang kanan siap-siap memukul perut Alga.


"Lakukan saja ... jika mau." Ucapan tergila yang pernah Salma ucapkan dalam hidupnya. Salma ingin sekali mencuci mulutnya pakai pemutih dan menghilangkan mulutnya yang penuh racun dan kurang akhlak ini dari pada bicaranya tidak dapat di saring lagi.


"Jika ancaman ini bisa buat kamu berubah pikiran maka akan aku lakukan biar kamu ini setuju dengan permintaan aku di kertas itu," Alga hendak mencium bibir ranum Salma yang masih suci sambil menunjuk wajah Salma.


Tapi suara pukulan terdengar nyaring.


BUGH


Salma memukul perut Alga dengan sekuat tenaga dan membuat Alga merasakan sakit sekaligus nyeri di ulu hatinya.


"Aw ..., sakit banget. Wah ... parah banget kamu mukul perut aku, sakit tau. Kamu pikir gak sakit apa." Sambil meringis kesakitan tapi ia bangga sebab nona muda dari keluarga Adipati ini ternyata tidak akan pernah ceroboh dalam mengambil tindakan, bagus.


Salma menyilangkan kakinya dan duduk di kursi kayu yang terbuat dari anyaman bambu, nyaman tidak nyaman Salma tetap duduk di atasnya dari pada duduk di lantai yang belum tersentuh infrastruktur bahkan tanah saja masih acak-acakan, entah apa yang di lakukan anak ini setiap hari padahal bapaknya nih anak kerja tiap hari banting tulang di rumah Adipati.


Salma menatap lembaran kertas yang sangat konyol dan lusuh di tambah lagi sudah ada materai, gila nih orang persiapannya matang banget, niat banget mau mencari keuntungan.


'Dasar licik, coba aku baca dulu. Nona muda di ancam orang biasa bahkan anak dari pembantu sendiri, benar-benar bernyali besar rupanya.' Batin Salma berapi-api.


Isi perjanjian.



Jika kamu lulus dari tantangan maka kamu ada satu kesempatan menyuruh dan memerintah aku, apapun yang kamu minta.


a) pulang ke rumah tepat waktu dan di larang jadi orang seperti preman yang malak sana sini.


b) sopan pada aku, selaku pembimbing kamu



Baru saja baca peraturan poin b saja sudah membuat Salma naik pitam.


"Kamu mau atur-atur hidup aku gitu maksudnya? gila ya kamu itu. Kamu pikir kamu itu siapanya aku, seorang nona muda pewaris satu-satunya keluarga Adipati pemilik perkebunan teh dan tembakau terbesar di kota ini." Melempar kertas tersebut tanpa mau membacanya lagi.

__ADS_1


"Terserah jika tidak mau, lagian ini satu-satunya cara supaya aku dapat duit banyak," memang benar Alga mengajukan diri sebagai pembimbing Salma pada Papanya Salma beberapa minggu yang lalu, supaya Salma tidak ceroboh lagi dalam bertindak di tambah lagi wanita seperti Salma di incar banyak laki-laki hidung belang.



__ADS_2