
Keesokan harinya.
Cheval dan Sindy yang sudah menerima kabar kini ia siap-siap dengan segala keperluan memancing dan sialnya, bukan kesialan namun kurang beruntung. Ksatria tanpa sengaja lewat depan kamarnya yang kebetulan terbuka sedikit.
"Kalian mau memancing tidak ajak Papa." Tiba-tiba saja menyahut pembicaraan para anak muda, aki-aki ini.
Sindy dan Cheval saling bertatapan, ia bingung sendiri kenapa di saat seperti ini sang Papa malah mau ikut pergi juga. Bukannya tidak mau, nanti jika Ksatria tidak dapat ikan satu pun pasti mengomel dan mengatai pemancingan tidak ada ikan kenapa masih saja di buka, seharusnya di tutup dari lama tempat tersebut.
"Tidak buat masalahkan Pa, jika ikut pergi dengan kami?" Pertanyaan Cheval sukses membuat Ksatria tersenyum kecut.
"Tidak janji, tapi Papa mau ikut. Lagian Papa sudah lama tidak pergi memancing, mumpung hari libur juga. Apa kamu tidak kasihan dengan Mama kamu!" Ide Ksatria tidak habis di tempat, pasti dengan alasan Daysi sang Mama pasti manjur dan tidak dapat di tolak lagi. Benarkan sesuai dugaan Ksatria, Cheval langsung setuju.
"Baiklah, karena Mama sepertinya butuh menyegarkan pikiran. Ayo kalau begitu." Pasrah sudah baik Cheval dan Sindy, jika Daysi yang ikut setuju saja. Tapi ini aki-aki menyebalkan yang lebih dominan kegirangan sendiri.
Daysi yang baru selesai membuat kue untuk berbuka nanti hanya tersenyum saat suaminya berbicara akan mengajaknya pergi memancing. Daysi kemudian memasukkan kue tersebut ke dalam lemari pendingin supaya rasanya lebih enak dan nikmat ketika berbuka nanti.
"Apa kamu sedang tidak berpuasa sayang?" Ksatria duduk tidak jauh dari sang istri.
"Iya Pa!" Jawab singkat dan padat Daysi.
"Pergi mancing yuk, setuju enggak Mama jika kita semua pergi." Ksatria pergi ke gudang untuk mengambil beberapa peralatan yang di butuhkan untuk memancing.
"Iya Pa," Daysi hanya tersenyum dan membantu Ksatria mengambil peralatan pancing.
Pemancingan.
Semua orang tertuju dengan orang yang sedang mengomel sendiri saat tidak dapat ikan sama sekali, jika tidak dapat ikan bukannya itu nasib belum beruntung alias zonk.
__ADS_1
"Lais, aku tadi berencana pergi diam-diam. Sorry buat malu." Cheval berbicara lirih pada Lais yang sedari tadi di sampingnya.
"No problem Aa, santai lagian aku juga sudah hafal dengan Papa yang super cerewet itu," tunjuk nya pada Ksatria yang jaraknya jauh di sebrang kolam. "Besok-besok perginya saat Papa di hotel saja," memberikan umpan cacing pada Cheval.
Tanpa rasa jijik Cheval memotong tubuh cacing tersebut menjadi beberapa bagian untuk umpan makan ikan.
Ksatria yang melihat kedua menantunya berbisik-bisik mulai curiga, apalagi saat semua orang menatapnya.
"Menantu durhaka, bulan puasa membicarakan orang." Gumam lirih Ksatria dan melanjutkan memancing ikan.
Lais dan Cheval yang di tatap tajam oleh Ksatria langsung mengalihkan suasana pemancingan ini, dengan sigap Cheval dan Lais yang sudah banyak dapat ikan pergi dari tempat tersebut dan pindah ke kolam yang paling pojok dan jauh dari Ksatria.
"Kita pergi saja yuk, dari pada hawa dingin menusuk tulang terdalam." Cheval beranjak pergi dengan Lais.
Meski Lais tidak ikut mancing tapi ia cukup puas saat bermain dengan cacing-cacing yang super gemuk itu. Gara-gara ngidam saat istri sedang mengandung ini.
"Dasar anak kurang ajar, sudahlah dari pada emosi pas puasa begini. Lebih baik aku duduk dan bersandar saja di bawah pohon itu, siapa tau dapat wangsit dan rejeki dadakan." Ksatria mengambil kursi plastik kecilnya dan duduk di bawah pohon dan membiarkan pancing yang ia bawa di makan ikan.
Ksatria melengos kecewa, ternyata umpannya tersangkut di kail orang lain.
"Sial, ternyata ujian siang-siang seperti ini sangat berat." Helaan nafas Ksatria saat kecewa.
Cheval dan Lais yang mengawasi dari kejauhan tidak dapat menahan tawanya. Mereka berdua kompak menertawai sang mertua. Daysi dan Sindy yang bermain dengan Princess dan Inre juga ikut tertawa renyah.
Ksatria ngambek, ia berjalan menggerutu. Ia lalu duduk di dekat istri, anak dan cucunya.
"Lebih baik Papa di sini saja, dari pada emosi gara-gara ikan tidak mau makan kail yang aku siapkan. Padahal umpan yang aku berikan tidak kecil, justru sangat besar cacingnya." Ksatria kemudian merebahkan diri dan menatap langit-langit pondok kecil yang di duduki Daysi.
__ADS_1
Daysi menyentuh pundak Momo dan Sindy seraya meninggalkan kedua putri dan cucunya.
"Sabar Pa, bukannya memancing itu perlu kesabaran," Daysi menenangkan suaminya.
"Betul Ma, tapi tidak adil." Ksatria duduk, "lihatlah Ma mereka berdua sudah dapat banyak, masak iya mereka kailnya terus di sambar ikan. Tuh... tuh... lihat Ma mereka sudah dapat, padahal baru saja memasukkan umpan." Tunjuknya pada Cheval dan Lais.
Daysi membatin. "Wes angel iki, lek omong-omongan kambek bojo ne seng ngene iki. (Sulit sekali jika bicara dengan suami yang seperti ini)" Daysi diam tanpa bicara kecuali dalam hati.
"Ikhlas Pa, biar nanti dapat banyak," menepuk pundak Ksatria perlahan.
Ksatria jadi diam dan lebih baik bermain ponsel, sedari tadi ponselnya berbunyi terus. Banyak email yang masuk ke dalam ponsel, sepertinya banyak pekerjaan yang harus di lakukan besok. Ternyata libur satu hari saja sudah segini banyak pekerjaan yang terbengkalai, tau begini besok-besok bawa laptop untuk berkerja.
Sore hari.
Sebentar lagi memasuki buka puasa, jadi 2 jam sebelum berbuka puasa. Ksatria sudah memesan makanan yang cukup untuk berbuka nanti.
Cheval yang sudah lelah memancing sedari tadi kini berhenti untuk istirahat, Lais pun juga. Ia duduk di dekat istrinya dan menyentuh perut yang sedikit berisi itu.
"Tadi Papa dan Om kamu mancing nak, bagaimana senang tidak?" Tanyanya pada perut Momo.
"Senang Papa!" Jawab Momo seperti suara anak kecil. Princess yang mendengar Mamanya berbicara ternyata lucu sekali.
Princess duduk di pangkuan Lais dan juga ikut menyentuh calon adiknya itu.
Tak terasa buka puasa sudah terdengar, semua berdoa sebelum menyantap makanan yang ada di tempat itu. Makan dengan lesehan sangat nikmat di tambah meja kecil yang ada di tempat itu. Pemandangan tempat pemancingan ini sangat indah dan sejuk saat hari menjelang malam seperti sekarang. Momen ini tidak di sia-siakan begitu saja, Momo beberapa kali mengajak berfoto selfi ria saat sedang menikmati makanan ikan bakar dan teman-teman ikan bakarnya.
***
__ADS_1
Sepertinya lain kali jangan mengajak orang bawel saat memancing dari pada emosi.
Terimakasih sudah mampir dan memberikan dukungannya.