ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu

ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu
196 S2


__ADS_3

Jangan lupa like, rate bintang lima.


***


Sindy tersenyum saat suaminya menjauh darinya, kenapa suaminya saat sakit terlihat sangat menggemaskan sekali ekspresinya.


"Biarkan saja dia istirahat, lagian aku juga butuh istirahat." Sindy memperbaiki tempat istirahatnya agar lebih nyaman untuk berbaring.


Universitas kebangsaan.


Momo sedang mengerjakan tugas kuliah seperti biasanya, tentu saja dengan laptop kesayangannya itu. Dulu sewaktu laptopnya rusak ia perbaiki, saat akan mengambil laptop tersebut ternyata laptopnya sudah di bayari oleh Lais, awalnya Momo menolak dan tidak enak hati namun melihat Lais yang tulus membuatnya menerima hal tersebut.


"Pandang terus tuh laptop, saat ada orangnya saja menjauh. Ketika tidak ada rindu setengah mati." Ledek Lidia dengan menyenggol bahu Momo.


"Siapa yang rindu setengah mati, aku kalau rindu b aja biasa-biasa saja gak sampai segitunya, lagian setiap hari ketemu ko," elak Momo yang kembali fokus mengerjakan tugasnya dari pada melamunkan Lais lagi.


"Baiklah-baiklah aku percaya, oh... ya Momo jalan-jalan yuk kemana gitu." Ajak Lidia bersemangat sambil duduk di samping kiri Momo.


"Gak mau, lagi banyak tugas. Apa kamu tidak mengerjakan tugasmu?" Balik menanyai Lidia.


"Aku mah gampang ngerjain tugasnya sebab tidak ada pacar jadi gak ganggu pas ngerjain tugas malam hari, lagian sesekali kenapa kita jalan-jalan begitu. Masa iya kita berteman hampir satu tahun, iya kali kamu ajak main ke rumah atau ke rumah sepupu kamu itu!" Lidia mulai cerewet.


"Berisik, kalau tidak ada yang di bicarakan lagi aku pergi dulu. Bye... bye...." Momo berlalu begitu saja.


"Nih anak nyebelin banget sih, di ajak berteman dianya gak mau."


Lidia sangat kesal dengan sikap Momo yang menurutnya sangat angkuh ini. Pantas saja ia rumit memiliki cinta, kelakuannya saja seperti ini. Terlalu tertutup dan sulit di ajak pergi ke suatu tempat.


"Sudahlah, lebih baik nanti jalan-jalan sendiri." Lidia mengenakan tasnya dan pulang.


Momo yang melihat Lidia dari kejauhan pergi ia tidak menanggapinya apa-apa lagi. Ia sengaja menjauhi Lidia lantaran ada sesuatu yang ia rahasiakan. Momo tidak nyaman berteman dengan Lidia, meski ia terlihat baik-baik saja tapi dia berkerja di tempat yang seharusnya tidak ia jamah seumur hidupnya.


"Andai aku tidak melihatmu waktu itu saat aku dan Lais makan malam, mungkin aku tidak akan seilfil ini padamu Lidia. Aku tidak menyangka jika kamu berkerja di dunia malam." Momo merasa sangat kecewa.


Namun demi melindungi identitas Lidia, Momo dan Lais merahasiakan itu semua. Ia tidak mau membuka aib temannya tersebut, biar dia tetap pede dalam melakukan aktivitasnya di kampus ini.


"Hey... lagi mikirin apa?" tanya Lais yang membuat Momo terkejut dan hampir menjatuhkan laptopnya lagi.


"Huh... hampir jantung aku copot," Momo menebah dadanya berkali-kali kemudian ia pukul perut Lais.


Bbugh.


"Aw... sakit Momo." Memegang perutnya yang ngilu lantaran di pukul dengan tas selempang nya.

__ADS_1


"Makanya jangan resek jadi orang," Momo berlalu pergi menuju kantin untuk mengisi perutnya.


Suasana hati buruk membuatnya ingin makan dan makan lagi. Mumpung hanya ada satu mata pelajaran lagi yang ia makan saja selagi menunggu jam masuk kuliah.


Kediaman Malik sore hari.


Momo yang mendapat kabar jika Cheval dan Sindy sama-sama sakit langsung menjenguknya.


"Sindy." Sapa Momo yang baru saja melihat Sindy sudah baik-baik saja. "Katanya sakit?" Momo duduk tidak jauh dari Sindy yang berada di ruang makan.


"Iya, sudah sembuh. Cuma Aa yang masih sakit tuh di kamar Aa!" jawab Sindy yang masih belum bersemangat.


"Kalian kompak sekali sakitnya." Ledek Momo tertawa nyaring.


"Aa... ha.. ha..., kamu ini bisa saja Momo," Sindy menuju dapur dan mencuci piring dan sendok yang baru saja ia gunakan. Kemudian ia mengambil satu nampan yang sudah ia siapkan lebih dulu untuk suaminya yang terbaring lemah.


Momo tidak berani masuk, lantaran yang iya jenguk suami orang. Apalagi sedang sakit seperti ini.


"Kenapa tidak masuk saja?" Sindy yang baru datang membukakan pintu tersebut.


"Gak, buat apa. Lagian tiap hari bertemu juga, gak usah di jenguk pasti sebentar lagi sehat!" jawab Momo berlalu pergi dan lebih memilih menemui Daysi yang sedang menonton acara televisi drama terbawa perasaan tahun ini.


"Terserah deh, nikmati saja harimu Momo." Gumam lirih Sindy yang sedang membawa makanan untuk suaminya.


Cheval berusaha duduk dan tersenyum, tapi tidak dapat di pungkiri badannya lemas sekali. Tenaganya habis hari ini, selain sering ke toilet ia juga lantaran tenggorokannya sering merasakan haus berlebihan.


Mala yang baru pulang dari pasar membeli beberapa kelapa muda pesanan Sindy. Sindy menyuruh Mala lantaran air kelapa juga bisa menyegarkan tubuh kembali, berharap panas dari dalam tubuh suaminya menurun secepatnya.


"Segera aku buka saja buah kelapanya, ada-ada saja Aa tuh, kena hukuman sedikit langsung sakit." Mala tertawa sendiri.


Ano yang baru saja datang lantaran ada tugas di luar kota pagi ini dan terpaksa kembali ke kota ini lantaran keponakan kecilnya sakit.


"Lama banget datangnya." Omel Ksatria yang berpapasan di pintu masuk.


"Sial kamu, untung aku datang kalau tidak, dasar orang kurang bersyukur," sambil menjulurkan lidahnya. Ano segera masuk ke dalam rumah dan mencari di mana Cheval berada, tanpa sengaja ia melihat Mala sedang membawa nampan berisi air berwarna putih yang sedikit keruh.


"Mala." Panggilnya dengan cukup keras.


"Eh... ada Pak Dokter, ada apa Pa?" Mala menatap Dokter tampan dan sedikit menunduk untuk menjaga kesopanannya.


"Cih... tidak usah pura-pura sesopan itu, biasanya dengan Sacha saja malu-maluin!" Ano yang tadinya ingin bertanya di mana Cheval berada jadi tersungut emosi, jika sikap Mala seperti ini pada dirinya.


Hati Mala sangat terluka dengan ucapan Ano yang begitu menyakitkan, apa serendah itu pekerjaannya sampai-sampai di hina seperti itu.

__ADS_1


"Maaf pak, saya memang seorang pembantu dan saya masih punya perasaan, bapak seenaknya menjelek-jelekkan saya. Anda pikir saya tidak sakit hati, permisi." Mala sangat kecewa dengan sikap Ano, ia lebih baik pergi dan menghindari Ano.


Ano kecewa kenapa bisa dia berucap semenyakitkan itu untuk Mala.


"Maaf Mala." Ucap lirih Ano kemudian ia melangkah mengikuti Mala, saat berada di pintu ia tidak sengaja menabrak Mala.


Mala tertunduk dan justru meminta maaf tanpa melihat Ano dan berlalu pergi dari pada mendapat perkataan yang menyakitkan lagi.


"Lebih baik menghindari orang-orang berduit tebal ini dari pada harga diri di injak-injak, mentang-mentang berpendidikan tinggi, meski aku dulu juga kuliah, tapi semenjak namaku jelek aku kesulitan mencari pekerjaan dan berakhir di keluarga baik ini." Ucap Mala dalam hati.


Di kamar tamu.


"Bagaimana keadaanmu Aa, apa masih sakit badannya?" Ano memeriksa suhu bada Cheval dengan termometer digital infrared untuk mengukur suhu Cheval tanpa harus di letakkan pada tempat-tempat tertentu, cukup di mengarahkan alat tersebut di dahi pasien.


"Lumayan Om Ano!" jawab Cheval apa adanya.


Sudah turun suhunya, tidak seperti waktu kecil yang begitu kesulitan menurunkan demam Cheval.


"Sudah turun, jangan terlalu di manja Sindy suaminya nanti kebiasaan dianya, kebiasaan manja." Ano tertawa renyah.


"Om Ano menikah sana, jangan jomblo terus Om, kasihan keperkasaan Om kalau tidak tersalurkan," ledek Cheval yang membuat Ano tersadar jika dirinya semakin tua dan keriput dimana-mana.


"Biarin, lagian enak ko hidup menjomblo. Bebas kemana-mana." Ucap dengan penuh keyakinan.


"Nanti jika tua, biar kesusahan sendiri saat berganti popok," Cheval yang suhu tubuhnya kian membaik setelah meminum air kelapa muda mulai cerewet saja.


Ksatria yang sudah di beri kabar sedari pagi kini menemui putranya dan langsung menyentil dahinya.


"Anak manja." Tiba-tiba datang dengan wajah yang masam.


"Gara-gara Papa juga, kenapa jadi Aa yang kena lagi sih," Cheval mengusap dahinya. Benar-benar hari yang kurang beruntung untuk dirinya.


"Kenyataan memang begitu, bagaimana keadaanya Ano sudah baikan atau belum?" menatap Ano yang sangat acuh dengan kedatangan Ksatria.


"Sudah baikan, semua berkat ketelatenan Sindy yang merawat suaminya dengan sepenuh hatinya!" Ano membanggakan Sindy.


"Baguslah jika seperti itu, setidaknya Sindy putriku bisa menjaga suaminya, begitu juga dengan sebaliknya." Ksatria menemui putrinya dan mengecek keadaan putrinya secara langsung sendiri.


"Papa." Sindy memeluk papanya dengan penuh haru, papanya begitu menyayanginya hari ini dia pikir sang papa akan pilih kasih lagi seperti biasanya, tapi hari ini ia merasa sangat bangga memiliki papa seperti Ksatria Malik.


Kebahagiaan sederhana seperti ini yang Sindy harapkan dari dulu sampai sekarang, Cheval juga terharu dengan pandangan ini sakit yang ia rasakan musnah berganti dengan kebahagiaan.


"Aa harap kamu selalu bahagia sayangku, maaf sayang karena aku kamu tersakiti sampai sekarang. Alhamdulillah kejadian semalam karena nafsuku membawa kebahagiaan untuk Sindy, tau begini aku buat Sindy demam lagi."

__ADS_1


Pikiran Cheval berkelana kemana-mana kembali, padahal sakitnya baru saja sembuh sedikit.


__ADS_2