
Gauri tidak buru-buru keluar dari apartemen milik Raden, ia akan menunggu Raden berangkat kerja lebih dulu baru ia akan keluar.
Raden yang curiga mengirimkan pesan singkat pada seseorang untuk mengawasi gerak-gerik Gauri nanti.
'Aku akan lebih tenang saat berkerja, gak apa-apa keluar uang lebih demi melindungi Gauri. Aku penasaran apa yang akan di kerjakan Gauri hari ini.'
Percuma juga jika nanti tanya dan mengirim pesan pada Gauri yang akhirnya tidak di jawab dan hanya di baca saja.
"Hati-hati Gauri kalau jadi keluar." Raden lagi-lagi mengusap ubun-ubun Gauri.
Penuh perhatian dan juga kasih sayang ini kenapa ada lagi dan kenapa ia merasakannya lagi, apakah nanti dia sama seperti yang dulu setelah memberikan cinta luar biasa tapi secara bersama memberikan luka yang teramat pedih.
"Gauri ... Gauri ...." Gauri menggeleng keheranan lagi dengan menyebutkan namanya sendiri, kenapa Raden bisa bicara semenarik itu hanya dengan menyebutkan nama Gauri saja.
Raden selalu saja bisa aja melakukan hal-hal romantis, pasti nanti jika dia menikah wanita yang menjadi pasangannya sangatlah bahagia.
-
"Pie to mbak, lek melaku mbok yo di sawang dalane mbak." (Gimana sih mbak, kalau jalan ya di lihat jalanannya mbak). Ucap seorang laki-laki berbadan tegap dan tinggi, wajahnya sedikit ada bule nya.
"Maaf, saya gak sengaja mas," Gauri merasa bersalah.
"Tapi yo kudu ganti rugi mbak, endi duite." (Tapi ya harus ganti rugi mbak, mana uangnya) Mengulurkan tangannya.
"Maaf mas, sepertinya anda salah orang jika mau memeras uang saya, saya orang miskin yang numpang hidup di rumah orang kaya," Gauri acuh tak acuh.
Memang ia malas melayani orang bodo4 berperilaku ganda seperti itu, mana ada kulit putih mulus dan gak ada goresan sedikit minta ganti rugi, masih muda lagi. Atau jangan-jangan ototnya gak kuat untuk kerja alias lembek.
"Aku ora percoyo lek awakmu melarat?" (Aku tidak percaya jika kamu orang miskin) masih mengejar Gauri lagi.
"Sak karepmu lek ora percoyo!" (terserah kamu kalau tidak percaya) jawaban tegas dari Gauri.
"Mbak tulong to sakjuta ae." (mbak tolong ya satujuta saja) Terlihat seperti pengemis tidak tau diri.
Gauri memelototi orang itu, kenapa ada orang yang tidak tau diri sedang merampoknya.
"Ini, aku ada lima puluh ribu. Kalau mau ambil, sebagai permintaan maaf dari aku, sekali lagi maaf ya mas," segera pergi.
Gauri kesal sekali kenapa paginya yang tadi cerah kini banyak awan mendung hitam di sekitaran kepalanya, pasti gara-gara orang ngeselin yang baru saja merampok uangnya.
Raden mendapatkan laporan jika Gauri di ganggu pemuda dan Gauri di palak orang itu, tapi ia juga melaporkan jika percakapan Gauri dan pemuda itu sedikit ada masalah dalam bahasa.
Rekaman kejadian langsung di kirim ke Raden Raden tersenyum mendapatkan rekaman yang begitu lucu di dengar.
"AA ... HA ... HA .... Ternyata bisa bahasa Jawa juga kamu Gauri ... wanita hebat seperti kamu kenapa Aldy yang bodo* itu menyia-nyiakan kamu sih." Raden masih tertawa renyah di tempat kerjanya hampir saja ia guling-guling di toilet.
Saat sekarang sebenarnya di larang menggunakan ponsel tapi ia pergi ke toilet dengan alasan sakit perut, ya ... sakit perut beneran sebab melihat vidio dari orang yang ia suruh mengawasi Gauri kemana-mana, lucu juga rekaman vidio itu ko pas begitu kejadiannya. Biasanya kalau di sengaja malah tidak jadi, ini malah terjadi dengan mulusnya sampai mules lihat vidio itu.
Raden melanjutkan pekerjaannya yang sebentar lagi selesai karena sudah masuk jam makan siang.
Sedangkan Gauri dan Zidan putranya sedang menikmati makan siang, kini Gauri tidak berkerja lagi semenjak tinggal di apartemen milik Raden.
"Nak.. nanti kalau mama kamu ini ada uang, Zidan mau tidak kembali pulang ke tempat yang dulu?" Gauri berhati-hati bertanya pada putranya.
Sebenarnya ini pertanyaan tabu dan tidak enak di tanyakan kepada anak sekecil Zidan yang tidak tau apa-apa dan yang ia tau hanya bermain selayaknya anak seumuran dengan Zidan.
__ADS_1
"Mau ma!" jawaban singkat Zidan.
Zidan termasuk anak pendiam, ia tidak banyak bicara seperti teman-teman sebayanya. Tapi mereka tidak tau jika Zidan memiliki kelebihan hanya saja anak sekecil itu bingung harus berkata apa, jika takut ia akan menangis terus menerus. Sering kali Gauri menghentikan celotehan Zidan yang ia anggap ngawur tapi sebenarnya ia menghentikan dan mengantisipasi orang lain tau tentang kelebihan Zidan, cukup ibunya ini saja yang tau tentang kelebihan putranya.
Gauri memeluk erat putranya, rasanya sudah bahagia bersama dengan Zidan kehidupannya ia tidak perlu yang lain lagi selagi Zidan ada di sampingnya sudah cukup. Sedangkan untuk pendamping hidupnya ia berpikir berkali-kali lipat dari sebelumnya, bagaimana tidak diri ini gagal 2 bahkan 3 kali dengan pernikahannya yang terakhir pernikahan siri saja.
"Ma.." suara lemah Zidan membuyarkan lamunan Gauri.
"Iya nak?" menatap wajah Zidan yang mirip dengan dirinya hanya saja Zidan versi laki-laki.
Anak ini sangat tampan bahkan semua orang kagum akan ketampanan dan kelucuan Zidan, tapi tidak untuk papa kandungnya yang tidak pernah menganggap Zidan ada di dunia ini.
"Ma.. mau... lapal!" jawabnya dengan berceloteh lagi.
Gauri mengiyakan dan mengambilkan lagi makanan untuk putranya, sebenarnya ia sungkan jika menghabiskan banyak bahan makanan yang seharusnya tidak ia gunakan sekarang, tapi.. ia terpaksa menggunakannya sebab Zidan bocah kecil taunya ada di hadapannya.
'Kalau ada uang, aku akan ganti semua biaya aku di sini. Aku tidak enak dengan Raden yang terus menerus merepotkan dia.'
Gauri segera menyuapkan makanan ke dalam mulut Zidan yang sedari tadi terbuka lebar, mungkin ia kelaparan sebab pagi tadi hanya minum susu kotak yang ia belikan kemarin, hemat dan hanya untuk Zidan putranya.
'Kasihan sekali kamu nak, maafkan Mama yang tidak bisa memberikan kamu kebahagiaan nak. Mama sebenarnya ingin kamu bahagia, tapi mama sendiri juga sadar jika mama bukanlah Mama yang sempurna, sehingga tidak ada orang yang mau mempertahankan mama di hidupnya. Semoga mamamu ini kuat dan bantu mama ya nak.'
Gauri menciumi ubun-ubun Zidan, Zidan tertawa kecil sebab ia merasakan geli di ubun-ubunnya. Setelah selesai menyuapi Zidan makan siang, Gauri lanjut membersihkan bekas wadah untuk makan minum dan memasak barusan. Entah uang yang ada di tabungannya berapa, biasa untuk kontrakan satu tahun atau tidak jika tidak ada akan mencari kontrakan yang sistem bayarnya beberapa bulan sekali atau minim 1 bulan sekali.
Hidup sebagai singel parents tidak mudah, memiliki pasangan yang tidak sejalan maupun yang sejalan saja sudah susah apalagi sendirian. Semua beban di tanggung sendiri di pundaknya bukan orang lain.
"Ma.."
Gauri melihat anaknya yang sudah melepas bajunya, pasti karena cuaca panas padahal ruangan ini ber-AC tapi Gauri sengaja menyalakan AC tidak terlalu dingin terkadang ia buka jendela tanpa sepengetahuan Raden agar lebih hemat biaya listriknya, hidup serba ada membuat Gauri tertekan sebab bukan miliknya, dirinya hanya di tampung dan menumpang dengan putra semata wayangnya sebab pemiliknya hanya berkedok kasihan saja.
Jika tidak kasihan, mana mungkin dia dengan suka rela menampung orang tidak hanya satu tapi 2 sekaligus.
Tak terasa bulir air mata terjatuh, Gauri memang sering menangis diam-diam. Hidupnya tak seindah apa yang orang lihat dengan matanya sendiri, pasti semua mengira Gauri hidup enak di tempat ini dan ini di tambah lagi tidak perlu kerja keras sudah ada yang membantu.
Tapi mereka tidak tau luka yang tersayat-sayat di dalam hatinya, apalagi ketika ia melihat putranya pasti ia tak sanggup. Zidan yang jarang menangis membuat Gauri sedih, bukan berharap Zidan jadi anak cengeng dan rewel tapi kenapa anak ini seperti orang dewasa yang tidak akan merepotkan orang lain.
"Mama."
Lagi-lagi Zidan melihat Gauri yang meneteskan air matanya.
"Kenapa nanis?" Zidan yang masih polos bertanya pada ibunya.
Gauri menggeleng berkali-kali, ia malu saat dirinya sedih dan menangis Zidan melihatnya lagi. Harus bercerita apa pada anak sekecil Zidan yang belum tau masalah orang dewasa yang menyakitkan seperti yang pernah Gauri alami sampai detik ini.
Gauri memeluk erat tubuh kecil putranya, untung saja sekarang ia tak sendirian lagi saat dirinya butuh orang yang menguatkan hati dan tubuhnya.
"Terimakasih nak sudah hadir dan menemani mama selalu." Terus menciumi kedua pipi putranya bergantian kanan kiri.
Zidan merasa kegelian saat Gauri menciuminya dengan gemas sebab rambut Gauri menerpa wajah dan lehernya.
"Aa.. ha.. ha..."
Suara tawa Zidan terdengar dari luar kamar mandi, pasti Gauri yang menyebabkan Zidan tertawa sekencang itu.
"Apartemen ini tidak sepi lagi semenjak kehadiran Gauri dan Zidan, aku.. tambah tidak sabar jika mereka berdua benar-benar aku miliki dan Gauri bisa menerimaku. Bisa menerimaku seperti ini saja aku sangat bahagia tapi untuk seutuhnya.. apa Gauri mau menerimaku ini?" bermonolog di salah satu kursi yang berada di sudut ruangan tersebut.
__ADS_1
Gauri sedang memakaikan baju pada Zidan tapi sebelumnya ia mengoleskan sedikit minyak telon pada perut dan punggungnya agar si kecil tidak terlalu kedinginan.
"Apa mama mengoleskan minyak di perut Zidan terlalu banyak? apakah panas?" Gauri terlupa jika Zidan tidak terlalu suka dengan bau minyak telon terlalu banyak dan berlebihan.
Zidan menggeleng yang artinya tidak. Gauri lega jika putranya itu tidak mengeluh dan menangis sebah terlalu banyak mengoleskan minyak.
"Ayo... keluar dari sini." Ajaknya pada Zidan.
Zidan anak penurut jika ibunya bilang tidak ya ia tidak akan melakukannya jika ibunya bilang iya baru dia berani melakukannya, lagian ia tau jika ibunya ini berjuang sendirian sebab selama ini jika ia pergi dengan Gauri pasti melihat anak seusianya di gendong oleh laki-laki seperti om Raden. Zidan memang tidak paham tentang itu tapi ia ingin merasakan di perhatikan selain ibunya.
"Ma..." Sambil menunjuk-nunjuk Raden yang sudah pulang entah sejak kapan pulang dari kerja.
"Iya nak," menatap ke arah putranya tunjuk.
Gauri hatinya berdesir hangat saat melihat laki-laki yang baru pulang berkerja, terlihat mempesona dengan pancaran ketampanan yang di miliki oleh dia.
"Barusan pulang?" pertanyaan Gauri mengejutkan Raden.
"Eh.. iya, barusan ko aku pulang. Aku bawakan makanan ringan untuk Zidan!" jawabnya kikuk.
Gauri mengangguk.
Zidan senang bukan main saat dirinya di bawakan sesuatu oleh Raden yang ia anggap sebagai om tidak lebih, pernah Raden menyuruhnya untuk sekali saja menyebutkan kata-kata ayah atau Papa malahan Zidan bertanya apa itu ayah.
Raden jadi gelagapan harus menjawab apa, pada akhirnya ia tidak pernah membahasnya kembali takut ia bertanya pada Gauri namanya tentang pertanyaan yang seharusnya tidak pernah ia tanyakan dan Raden berusaha menjaga hati Gauri agar dia tidak terluka lagi. Wanita sehebat Gauri tidak sepantasnya di lukai dan terluka lagi.
"Yeey ..." Zidan bahagia melihat terang bulan kecil-kecil berwarna warni.
"Telimakasih om," Zidan berlari menghampiri Raden dan menyiapkan satu suap terang bulan kecil ke dalam mulut Raden padahal itu bekas gigitannya.
Raden bahkan tidak merasa jijik telah memakan makanan bekas gigitan Zidan dan kejadian itu bertepatan saat Gauri tak sengaja netranya menatap interaksi antara Zidan dan Raden.
"Enak?" tanya Zidan pada Raden.
"Iya enak!" sambil menciumi pipi Zidan sampai Zidan tertawa lagi.
Gauri sebenarnya tidak tega melihat Zidan yang memang sepertinya merindukan sosok ayah di hidupnya yang selama ini tidak pernah ia dapatkan dari ayah kandungnya, padahal anak sekecil itu selalu berharap ada yang melindungi dirinya. Tapi mau bagaimana lagi jika ayahnya saja tidak mengakui adanya dirinya di dunia ini, padahal waktu satu detik saja merupakan kebahagiaan terbesar yang ia harapkan.
"Raden.. terimakasih ya sudah menerima kami berdua, jika boleh. Apa aku bisa mencari kontrakan bersama Zidan?"
Gauri tidak ingin menyinggung Raden tapi sepertinya Raden tidak suka dadakan begini apa alasannya hendak pergi.
"Kenapa? apa aku terlalu mengekang kamu. Maafkan aku Gauri tapi aku terlalu nyaman disini ada Zidan, aku tidak mau kehilangan anak seimut dan selucu Zidan!" alasan yang membuat Gauri sedikit melunturkan senyumnya.
"Tapi..."
Hendak menolak lagi tapi ketika melihat Zidan yang selalu tersenyum ketika di dekat Raden membuat Gauri bimbang kembali, apakah dirinya egois sampai-sampai melupakan Zidan yang juga butuh kebahagiaan.
"Baiklah, aku ke dapur dulu lagi." Gauri beranjak pergi.
Ada sejuta pertanyaan di benaknya, kenapa kehidupannya tidak jauh berbeda dengan yang dulu-dulu, apakah nasibnya akan sama lagi seperti kejadian yang sudah-sudah.
'Hatiku memang lemah, tapi aku berusaha kuat dan tegar. Aku wanita gagal berkali-kali jika kali ini aku tidak di berikan bahagia, aku tidak apa-apa. Demi Zidan aku rela tak bahagia, biarkan Zidan saja yang bahagia.'
Gauri sedih bahkan sering kali ia menyembunyikannya sendiri, lagi pula kehidupan tidak selalu senang terus bukan. Ikhlas saja menjalankannya selagi dapat melihat putranya tersenyum bahagia itu sudah lebih dari cukup.
__ADS_1
'Sebenarnya aku sedih saat kamu bilang begitu tadi, hanya demi Zidan saja. Kalau ibunya Zidan mana ada yang mau janda berkali-kali, aku tau di kalangan masyarakat seorang janda selalu di anggap remeh tapi asalkan kalian tau aku juga tak mau jadi janda begini, kehilangan cinta dan orang yang aku sayang. Tapi aku mengkoreksi diriku lagi, mungkin hidupku akan lebih berwarna lagi kemudian hari nanti, dan itu aku lihat hari ini. Melihat sorot mata Zidan yang nyaman berada di gendongan Raden.'
Raden menyusul Gauri yang melamun di meja makan entah apa yang sedang di pikirkan oleh Gauri terlihat dari wajah murungnya. Raden hendak menegur tapi Gauri sudah beranjak pergi ke salah satu lemari pendingin dan mengambil beberapa bahan makanan sehat dan segar untuk ia masak.