ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu

ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu
28 Mengharapkan


__ADS_3

Daysi berjalan dengan menggerutu karena baru kali ini ia di usir oleh Abang.


"Ada apa sih dengan Abang tidak biasa-biasanya mengusirku seperti ini?" Daysi binggung dengan pikirannya yang memikirkan perubahan sikap dari Abang. Daysi merasa asing dengan Abang saat ini.


Abang yang menatap punggung Daysi hanya bisa menatap dari kejauhan saja.


"Andai sainganku bukan si boss aku pasti akan maju terus pantang mundur Daysi." Ucap Abang dalam hati.


Abang mengingat waktu Ksatria Malik memintanya untuk masuk kedalam ruangan pribadinya untuk membahas sesuatu yang sangat penting. Ksatria Malik menyodorkan 2 buku nikah di hadapan Abang. Abang terkejut dengan apa yang ia lihat dan baca. Daysi adalah istri sah Ksatria Malik beberapa bulan yang lalu. Tapi mengapa Daysi tidak bercerita apa-apa tentang ini semua, bahkan menyembunyikannya dari semua orang yang mengenalnya apa alasannya itu adalah pertanyaan yang menari-nari di dalam otak Abang.


Kemudian Ksatria menjelaskan jika dia menikah karena ingin membahagiakan sahabat lamanya dan soal Daysi masih berkerja menjadi cleaning servic juga di jelaskan karena tidak ingin identitas terbongkar. Dan Ksatria juga menceritakan kejadian orang tuanya yang meninggal karena di beri bom dalam mobilnya saat akan berangkat ke tanah suci. Abang mengangguk paham dengan semua ucapan Ksatria Malik.


Dan sejak hari itu Abang berusaha menghindari Daysi sejauh mungkin meskipun hatinya terluka karena rasa cinta yang belum terungkap musnah sudah karena telah di ambil orang bahkan sudah terikat dalam ikatan suci agama dan negara.


Daysi segera melanjutkan pekerjaannya yang tertunda karena ada gangguan yang harus di atasi. Tak terasa waktu sudah menujukkan jam istirahat yang artinya sebentar lagi waktunya mengisi perut untuk mendiamkan lambungnya yang berdemo sedari tadi.


"Aduhh... tahan dong belum waktunya makan siang, tahan oke." Daysi meraba-raba perutnya berharap bisa tenang namun justru sebalikknya perutnya berdemo semakin keras saja, mau tidak mau Daysi kembali istitahat untuk mengisi perutnya yang kosong. Untungnya waktunya tepat jam istirahat saat berjalan menuju tempat istirahat para karyawan.


Abang yang melihat Daysi seperti itu ingin sekali mengiburnya dan memberikan sesuatu untuk Daysi namun ingatannya masih kuat jika Daysi sudah menjadi milik orang dan tidak seheharusnya ia mendekatinya lagi.


Tanpa sengaja Daysi melihat Abang dan langsung saja menawarkan makan siang namun Abang tolak dan segera pergi dari hadapan Daysi. Daysi heran sejak pagi kenapa Abang mengindarinya terus apa ada masalah. Itu yang menjadi pertanyaan di benak Daysi saat ini.

__ADS_1


Setelah makan siang Daysi melanjutkan pekerjaannya namu saat melihat Abang sedang bersenda gurau dengan Riri membuatnya mengurungkan niatnya untuk bertanya pada Abang kenapa ia menghindarinya saat ini.


"Ternyata dekat dengan nenek sihir pantesan. Sudahlah mungkin nenek sihir itu marah-marah ke Abang karena lebih perhatian pada temannya dari pada pacarnya. Lebih baik biarkan mereka bersama dan merajut cinta sampai pelaminan tanpa gangguan dariku tentunya." Daysi segera pergi dari tempat tersebut.


Abang yang tanpa sengaja melihat Daysi hatinya terisi ngilu saat melihat kesedihan di mata Daysi.


"Maaf Daysi, mungkin mulai hari ini dan seterusnya aku tidak akan dekat denganmu lagi. Kamu sudah menikah berbahagialah dengan suamimu Daysi." Gumam Abang dalam hatinya.


Rumah Ksatria Malik.


Daysi memijat kakinya yang terasa sakit karena seharian berjalan terus untuk menghindari Ksatria mau pun Abang. Rasanya seperti akan runtuh saja kaki Daysi yang di gunakan untuk menopang berat badannya.


Ksatria yang baru saja pulang setelah bertemu rekan bisnisnya. Tersenyum getir saat melihat Daysi kesakitan sambil memijat kakinya ingin memberikan obat pereda sakit di kaki namun gengsi yang besar mengalahkan kemauan hatinya lagi. Ksatria melewati Daysi yang tengah duduk di kursi kayu yang terlihat elegant sekali jika di tempati apalagi yang menempati Daysi nampak sekali terlihat cocok di gunakan.


"Iisshhh... menyebalkan apa tidak bisa melihat aku seperti ini. Sama sekali tidak menawarkan obat apa pun. Eehhh.. tunggu sebentar kenapa aku mengharapkan ia membantuku???" Daysi segera menepuk kedua pipinya untuk menyadarkannya dari hayalan semata.


Ria yang melihat Daysi kakinya sakit langsung memberikan obat pereda rasa sakit di kaki. Dengan senang hati Daysi mengeoleskannya sendiri. Tadinya Ria ingin membantu memijatkannya agar cepat meresap namun di tolak mentah-mentah oleh Daysi.


Pagi hari.


DDRRETT... DDERRTT... DDERRTT..., suara ponsel Daysi berdering terus buka deringan alarm melainkan nomor tidak di kenal.

__ADS_1


"Ya hallo siapa ini." Daysi menjawab dengan malas karena saat ini ia tengah membuat adonan isian untuk risoles.


"Apa kamu tidak ingat hari ini hari apa." tanya orang yang bertelpon balik menanyainya. Daysi segera mengingat pemilik suara tersebut, setelah teringat ia langsung melototkan matanya.


"Hari Rabu menuju hari kamis besok, jika tidak ada keperluan aku matikan dulu telponnya menggangu saja." Daysi mematikan telpon dari Hugo dan melajutkan pekerjaanya yang hampir selesai membuat isian risoles.


Mbok Yati yang melihat Daysi begitu cekatan dan telaten tersenyum bahagia. Mbok Yati berdoa agar Daysi benar-benar seutuhnya menjadi istri Ksatria Malik tanpa ada gangguan di pernikahannya.


Daysi langsung melihat ke arah mbok Yati yang sedari tadi memperhatikannya. "Ada apa mbok, sepertinya ada yang penting mau di sampaikan ke Daysi?" memasukkan satu persatu isian risoles.


"Tidak ada nak Daysi lanjutkan saja itu dan mbok akan melakukan pekerjaan yang lainnya!" mbok Yati segera memasak makanan karena pagi semakin memunculkan sinar warna emasnya.


Setelah selesai menggoreng risoles Daysi segera meletakkan risoles sayur dengan gilingan daging ayam di atas piring yang beralasakan tisu anti nempel di makanan. Dan memajang risoles di ruang makan harap-harap di habiskan oleh Ksatria Malik hari ini.


Ksatria Malik yang baru saja bangun langsung bersiap-siap mandi. Ksatria menatap arah pintu berharap ada seseorang yang datang namun tidak ada yang kunjung datang pagi ini. Dengan segera Ksatria mandi sekitar 15 menit Ksatria mandi.


"Ternyata dia tetap menyiapkan pakaianku seperti biasanya bahkan posisinya sama seperti kemarin-kemarin." Dengan senang hati Ksatria mengenakannya. Setelah berdandan Ksatria menuju anak tangga dan segera masuk ke ruang makan.


Melihat ada setumpuk risoles di meja makan ada daya tarik tersendiri saat melihat makanan itu. Tapa basa basi lagi Ksatria menarik kursinya dan memposisikan tubuhnya supaya pas untuk menikmati camilan tersebut.


"Eemm... enak sekali. Baru kali ini aku memakan risoles senikmat ini, rasanya perutku tidak pernah ada rasa kenyang jika makannan seenak ini." Satu piring di habiskan Ksatria Malik sendiri.

__ADS_1


Daysi yang sudah siap dengan pakaian kerjanya tersenyum saat melihat Ksatria memakan masakannya dengan lahap.


__ADS_2