ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu

ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu
92 Mulai merespon


__ADS_3

Saling memaaf kan sangat indah dan mempererat tali silaturahmi antar saudara, baik sedarah mau pun tidak.


"Relli apa kamu tidak ke kedai hari ini, kenapa pakaianmu seperti ini?" tanya Daysi yang melihat Aurellia mengenakan pakaian santai.


"Rencana ke kedai hari ini dan berangkat sama Sacha," jelas Aurellia.


"O...,"


Ksatria yang baru selesai berjoging kini langsung mengistirahat kan tubuh nya sebentar sebelum ia membersih kan diri nya. Hari-hari yang di lalui keluarga kecil nya sangat bahagia.


Daysi yang baru saja selesai membuat kan kopi untuk Ksatria langsung menghantar kan nya. Ksatria yang tengah duduk di kursi dekat kolam renang langsung menatap siapa yang datang melihat sang istri dengan senyum terbaik nya membuat Ksatria tidak bisa lepas dari pandangan sang istri.


"Kenapa kamu melihatku sepeti itu Sat?" meletak kan kopi white di meja kecil.


"Kamu terlihat cantik Daysi," sambil meminum sedikit kopi tersebut.


"Bukan nya dari dulu memang aku cantik Sat, apa baru sadar sekarang. Padahal pakaian yang aku kenakan hanya daster," menatap diri nya melalui pantulan kaca.


"Walau pun pakaian kamu daster atau dress jika yang mengenakan itu kamu tetap cantik di mata aku." Menarik tubuh Daysi dan menduduk kan nya di pangkuan Ksatria.


"Kamu bau, aku mual ini." Daysi langsung berdiri dan menjauh dari Ksatria.


"Kenapa kemarin-kemarin tidak mual Daysi?" sedikit berteriak.

__ADS_1


"Tanya saya sama baby nya aku tidak tau!" Daysi berlalu pergi masuk ke dapur dan mengambil air hangat untuk menetral kan mual nya saat ini.


Royal Malik.


Ksatria yang lupa dengan janji nya semalam hanya memijat pelipis nya siap-siap tidak bisa tidur nanti malam bahkan masakan Daysi kungkinan besar tidak akan merasa kan nya.


"Haduh... bagaimana saya bisa lupa jika hari ini saya mau mengajak Daysi beli sepatu kets," Ksatria menekan ikon ponsel nya dan menelpon sang istri.


DDREET... DDREET..., suara telpon masuk ke ponsel Daysi terdengar nyaring namun Daysi membiar kan nya.


"Semalam mau mengajak beli sepatu kets nyata nya aku di bohongi," memayun kan bibir nya.


Ksatria yang masih berkerja langsung menyelesai kan pekerjaan nya, Okta yang melihat Ksatria terburu-buru keluar dari hotel banyak pertanyaan yang muncul. Ksatria yang menghampiri Okta langsung menyerah kan pekerjaan nya saat ini dan di suruh lapor melalu email saja karena ada masalah gawat darurat di rumah.


"Apa Daysi mau lahiran, bukan nya masih lama sekitar lima bulan lagi???" Okta segera melanjut kan pekerjaan nya.


"Daysi sayang maaf kan aku oke," sambil menciumi punggung tangan Daysi.


"Kamu tau gak Sat, aku tidak suka di bohongi seperti anak kecil yang di beri janji-janji palsu, sakit nya tuh di sini Sat." Menujuk perut buncit nya.


Ksatria langsung heran penuh tanda tannya, kenapa sakit nya di perut nya yang buncit bukan dada nya.


"Apa tidak salah tuh menujuk yang sakit perutmu yang buncit bukan dada kamu," menyentuh dada Daysi.

__ADS_1


"Mesum," menampik jari telunjuk Ksatria yang ada di dada nya, "mencari kesempatan dalam kesempitan ya."


"Siapa yang mencari kesempatan dalam kesempitan, saya kan cuma menujuk kan yang benar jika sakit nya tuh di sini, yang tepat tuh di dada bukan perut," tidak mau mengalah.


"Dasar egois, kamu tau gak Sat gara-gara kamu tidak menepati janji mu yang semalam, dia nih marah padaku tau, masak aku duduk pinggang ku tidak bisa bangun lagi. Seperti sekarang ini bahkan keram juga perutku," menyentuh perut nya.


"Mana coba yang ngambek gara-gara saya lupa," menempel kan telinga nya pada perut buncit Daysi. "Dia merespon Daysi, apa kamu merasa kan nya jika dia bergerak?" menatap wajah cantik Daysi.


"Iya aku merasa kan nya Sat, memang usia nya masuk empat bulan maka nya dia sudah merespon," Daysi tersenyum lebar.


Ksatria yang bahagia mengujani ciuman d perut buncit Daysi, rasa kesal pada Ksatria lenyap begitu saja berganti rasa bahagia yang tak terkira.


Mbok Yati, Mala dan juga Ria yang menyaksikan keromantisan Ksatria dan Daysi merasa senang dan bahagia, sudah sepantas nya mereka bahagi dengan kehadiran calon anak nya yang akan lahir beberapa bulan lagi.


Toko sepatu dan sendal.


Daysi langsung memilih sepatu kets yang ia mau sambil mencoba nya satu persatu namun, tiba-tiba ia tidak jadi mengambil lantaran harga nya yang mahal.


"Kenapa tidak jadi di ambil."


"Mahal-mahal, sayang uang nya," bisik nya pada Ksatria.


"Kalau mau ambil saja, masih cukup ko uangku untuk membeli semua sepatu di toko ini."

__ADS_1


"Tidak, ayo kita pulang saja," Daysi menarik tangan Ksatria, mau tidak mau Ksatria pasrah saja.


Dari pada mood baik Daysi kacau lagi dan sulit diredam kan lagi. Saat berada di dalam mobil Daysi tidak banyak tanya ia hanya fokus melihat jalan raya dan menghitung kendaraan dan pohon-pohon yang di lalui mobil Ksatria. Ksatria tidak heran jika Daysi selalu menghitung benda-benda yang ia lewati baik benda hidup atau mati.


__ADS_2