ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu

ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu
104 S2 Kesalah pahaman yang belum reda


__ADS_3

Cheval hanya berjalan mondar mandir seperti setrikaan di luar kamar Sindy, Sindy yang baru saja selesai mandi dan bersih-bersih langsung keluar dari kamar nya karena perut sudah berdemo, saat keluar ia melihat sang kakak berjalan kesana kemari dengan raut wajah cemas.


Sindy berjalan begitu saja melewati sang kakak, ia malas sekali mendengar celoteh sang kakak ini itu, berisik sekali menurut Sindy.


"Sindy tunggu," memegang pergelangan tangan Sindy. Sindy menatap pergelangan tangan nya tanpa melihat sang kaka, " maaf kan Aa Sindy." Menarik sang adik ke dalam pelukan nya.


Sindy membiar kan ini semua terjadi beberapa saat, kemudian ia pergi setelah sang kakak melepas pelukan tadi. Cheval merutuki kebodohan nya kenapa kemarin itu ia berkata kasar pada nya dan hampir menampar pipi cantik Sindy.


Makan malam.


Suasana sangat hening seperti biasa nya, namun tiba-tiba Sindy menyelesai kan makan nya dengan segera dengan alasan banyak tugas mendadak tadi.


Cheval menatap sekilas sang adik, ia tau jika sang adik belum memaaf kan nya perihal yang terjadi kemarin sewaktu di Universitas. Ya Cheval memarahi Sindy saat bertemu Taksa di kampus itu pun dengan tidak sengaja. Kemarin Taksa mengajak nya ke perpustakaan kota ini dengan teman nya yang lain namun tiba-tiba Cheval datang dan langsung melarang Sindy bersama Taksa bahkan ia membuat malu Sindy di depan semua oang dengan kata-kata yang menyakit kan di dengar bahkan kemarin saat Sindy melawan sang kakal bahkan hampir menampar nya dan untung oleh Taksa di hentikan jika tidak terjadilah pertengkaran antara Cheval dan Sindy. Namun nyata nya peperangan dingin ini berlanjut sampai sekarang.


Sindy sedari kecil hati nya kuat bahkan ketika sang papa memarahi nya ia tidak menangis sedikit pun bahkan sang papa pernah memberi kan hukuman untuk membersih kan taman gara-gara telat pulang saat SMP dulu karena ia lupa tidak minta izin pergi ke pasar malam dengan Lulu teman SMP nya yang sekarang berada di Los Angles, California.


Sindy masuk kedalam kamar dan mengunci kamar nya dengan rapat-rapar ia tidak mau di ganggu sedikit pun oleh siapa pun di rumah ini.


"Memuak kan, rasa nya ingin sekali kuliah di Luar Negri buat apa di sini jika perhatian mama dan papa hanya untuk dia. Benar-benar anak tiri aku ini." Sindy yang tidak mau menangis kini menetes kan air mata nya, hati nya terluka ada rasa iri dengan sang kakak namun ia pendam dan lebih baik diam serta mengacuh kan nya. Namun tetap tersisa rasa iri dengan Cheval apalagi Cheval selalu mendapat prestasi terbaik sejak usia dini sampai sekarang meskipun ia juga cerdas namun tidak sesempurna Cheval.


Took... took... took....

__ADS_1


"Non Sindy di panggil papa dan mama non Sindy di ruang keluarga." Mala mengetuk pintu dari luar.


"Terimakasih mbak Mala," Sindy berusaha tegar namun langkah kaki nya seakan tidak mampu lagi menopang diri nya untuk berjalan. Kenapa kedua orang tua nya tidak kemari selalu Mala yang memberi tau kalu tidak Ria yang datang, semakin dingin saja sikap Sindy saat ini.


Sesampai nya di ruang keluarga Sindy duduk sangat jauh dari kedua orang tua nya terutama dari Cheval.


"Aa sudah menjelas kan semua, apa kamu tidak mau memaaf kan nya?" tanya Ksatria menatap sang putri.


"Belum bisa pa, Aa membuat aku malu di depan teman-temanku," Sindy berusaha tenang meski pun nanti ia akan merasa di pojok kan lagi seperti dulu-dulu.


Ksatria menijat pelipis nya, kenapa putri nya semakin dingin saja sifat nya kenapa tidak sehangat Cheval. Apa ia salah memberi kasih sayang nya, pertanyaan itu menari-nari di otak Ksatria.


"Terus Sindy sekarang mau nya apa, coba bilang ke mama?" membenar kan surai rambut Sindy yang sedikit berantakan.


"Sindy ingin sekolah di luar negri saja ma, tidak ingin di sini lagi!" menatap mata sang mama.


Cheval yang mendengar Sindy berucap demikian hati nya berdenyut ngilu, segitu besar kah kesalahan nya sampai-sampai dia memutus kan untuk pergi jauh.


"Tidak, kamu tetap tinggal di sini. Aku saja yang pergi ke luar negri saja, aku yang lebih baik pergi." Cheval menunduk kan kepala nya.


Ksatria melihat anak-anak nya seperti ini langsung mengambil keputusan.

__ADS_1


"Tidak ada yang boleh pergi dari kediaman ini satu jengkal pun, dan kalian berdua tetap di sekolah yang sama dan mulai besok papa tidak mau tau kalian harus berangkat bersama titik, keputusan papa tidak bisa di ganggu dan di toleransi." Ucap tegas Ksatria berlalu pergi.


Daysi melihat sang suami murka seperti itu langsung meninggal kan sang putri dan menengkan sang suami, karena akhir-akhir ini kesehatan Ksatria menurun karena cuaca yang tidak menentu dan berkerja di luat terus.


Sekarang tinggal Sindy dan Cheval di ruangan tersrbut. Cheval mendekati Sindy namun dengan segera Sindy memberi isyarat untuk berhenti di situ.


"Berhenti jangan mendekat lagi, itu kan keinginnan kamu." Ucap dingin Sindy berlalu pergi.


Cheval terkejut dengan ucapan Sindy, benar-benar ada tembok besi yang menghalagi saat ini, bahkan Sindy membangun nya dengan sangat kokoh.


"Aku hanya ingin dekat dengan kamu dan tidak bermaksud membuat kamu terpojok lagi Sindy, maaf kan aku." Menatap arah anak tangga di mana Sindy lalui barusan.


Sindy yang berada di kamar nya, hanya menghembus kan nafas panjang nya dan lebih memilih menonton drama luar negri untuk menyegar kan pikiran nya yang panas sedari kemarin, setelah bosan ia menonton cartoon di laptop dengan suara yang lirih cukup untuk indera pendengaran nya saja.


"Lucu baget dia, bahkan ketika ia terluka masih saja tertawa. Kenapa aku tidak, aku bahkan di rumah ini selalu merasa kesepian bahkan sering aku bertanya pada diri ku apa aku ini bukan putri kandung nya melain kan anak pungut." Sindy menertawai diri sendiri.


Cheval yang mendengar keluh kesah Sindy membuat hati nya terluka, Cheval segera masuk ke dalam kamar nya.


"Memang aku penyebab nya hingga Sindy merasa di asing kan di rumah nya sendiri, memang benar-benar anak pembawa sial aku. Sudah papa kandung ku tidak mengingin kan ku, dan sekarang aku melukai adik ku yang secara dia adalah anak biologis papa dan mama angkat ku." Cheval memikir kan sebuah cara agar Sindy tidak merasa di asing kan lagi di rumah nya sendiri.


Cheval berjanji akan mengembalikan kebahagiaan yang seharus nya milik Sindy.

__ADS_1


__ADS_2