ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu

ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu
250. Pahit dulu, manis kemudian.


__ADS_3

5 bulan kemudian.


Momo yang baru selesai berolah raga ibu hamil langsung meminum air putih banyak-banyak.


"Ternyata terasa juga jika perut semakin besar, punggung rasanya mau patah. Di tambah lagi suamiku tambah mesum saja saat aku mulai mengandung usia tua, yah... walaupun masih berjalan 6 bulan. Tapi ia selalu mencari alasan agar saat aku lahiran bisa mudah dan normal jika sering melakukannya, tapi harus hati-hati. Sudahlah, lebih baik menunggu suami yang berada di toilet. Kenapa lama sekali sih ke toiletnya, apa toilet di sini jaraknya berkilo-kilo meter dari ruangan ini?"


Momo menatap kesana kemari, mencari keberadaan suaminya itu.


"Cari siapa sayang." Lais tiba-tiba muncul seperti jin dari dalam botol. Pas pula ia sedang membawa botol yang berisi air putih.


"Terimakasih mas, cari kamu lah mas. Mau cari siapa lagi kalau bukan suaminya yang membawa sang istri olahraga," Momo langsung menghabiskan air tersebut.


"Ayo pulang sayang, setelah ini kita kemana?" Lais membukakan pintu untuk istrinya.


"Ke rumah saja mas, capek aku!" Sambil mengusap lembut perutnya.


Kebahagiaan seseorang tidak dapat di ukur dari seberapa banyak harta kekayaan yang kita punya, tapi seberapa besar dan banyak cinta dan kasih sayang yang di berikan oleh pasangan masing-masing. Katanya harta itu bisa membuat bahagia, tapi justru harta membuat sengsara.


Lebih baik hidup bersama dan sederhana itu sangat cukup untuk hidup bahagia, buat apa kaya tapi cinta tidak ada dan tidak di dapatkan. Tapi makan cinta saja juga tidak cukup, pada intinya itu semua harus seimbang dan normal. Baik cinta, kasih sayang dan tentunya harta.


Lais masih saja tersenyum-senyum, ia sudah tidak sabar mengendong dan menimang anak yang akan segera lahir ke dunia ini. Tinggal tunggu beberapa bulan lagi dari sekarang.


"Ada apa sih mas, sedari tadi aku lihat kamu tersenyum terus. Apa ada yang salah dengan tampilan ku, atau jangan-jangan mas menertawai ku dalam hati jika aku berjalan seperti orang membawa drum?" Momo mulai protes lagi.

__ADS_1


"Aa... ha... ha..., pikiranmu sayang. Kenapa negatif banget ke suamimu ini, padahal aku tidak memikirkan itu loh. Mas sedang berpikir apa ya jenis kelamin anak kita, melihat dari perutmu yang besar ini sepertinya kamu mengandung buah hati kembar sayang. Bagaimana jika USG minggu depan saat kamu periksa!" Jawabnya memang penasaran dengan bayi yang di kandung sang istri.


"Benar juga sih mas, lebih baik kita periksa dan USG. Takut juga nanti ada apa-apa dengan anak kita, tapi saat mengandungnya aku memang merasakan jika janinnya ada dua. Apalagi saat kita ke Bidan terdekat bulan lalu, padahal Bu Bidan sudah menyarankan untuk USG." Ucap Momo yang merasa bersalah sendiri terhadap kandungannya.


Bukan bermaksud tega tidak USG tapi itu sengaja ia lakukan agar ia tidak tau jenis kelamin. Biar saat nanti lahiran menjadi kejutan tersendiri.


Kediaman Erdana Khan.


Princess bermain sambil belajar, sudah beberapa bulan ini ia masuk TK atau Taman Kanak-Kanak. Dengan ceria dan bangga ia punya banyak teman dan guru yang baik serta cantik. Tapi tetap saja yang paling cantik Mamanya, yaitu Mama Momo bukan Aura.


"MAMA." Teriak Princess sambil merentangkan kedua tangannya.


"Sayang," Momo memeluk tubuh kecil putrinya.


Princess tidak berani memeluk adiknya terlalu kencang.


"Tidak sayang, adik senang sekali. Apalagi Kakaknya seperti kamu, yang pintar dan juga cantik!" Mengusap surai rambut Princess.


"Benarkah." Princess memastikan itu dan kemudian mendapat anggukan dari Momo. "Asik... Princess sayang Mama dan adik." Princess mencium perut Mamanya.


Lais hanya mendengus kesal melihat kemanjaan putrinya itu, ia memang pandai meraih hati Mamanya. Tidak seperti dirinya yang selalu membuat kesal Momo.


"Huft... sudahlah, dari pada tambah kesal. Lebih baik aku ke dapur cari es kelapa muda yang tadi di beli di pasar." Lais bergumam lalu beranjak pergi dari tempat kejadian, dimana ia cemburu terhadap putrinya itu.

__ADS_1


Momo hanya mengerutkan kedua alisnya saat sang suami marah, terdengar dari cara berjalannya yang di hentak-hentakkan.


"Dasar anak kecil, Princess saja jika marah tidak pernah seperti itu. Melakukan hal konyol." Batinnya tertawa geli sendiri.


"Mbak Lala, tolong ajak Princess bermain dulu ya Mbak. Aku mau nyusul mas Lais dulu." Princess pasrah jika Mamanya bicara seperti iki.


"Mama...," meratapi kepergian Momo.


"Nanti kita main lagi ya nak." Momo tersenyum sambil menunjukkan jari kelingkingnya, ia berjanji dari jarak jauh.


Princess menganggukkan kepalanya dengan cepat.


Di dapur.


Momo tersenyum lagi saat melihat sang suami dengan gagah dan tampannya bermain dengan teflon dan pisau di dapur. Begitu cekatan dan rapi ia bermain di dapur.


"Mas." Momo memeluk suaminya itu dari belakang, tidak bisa memeluk erat takut si baby memberontak dan menendang Papanya.


Benar saja, si bayi sudah meronta dan beberapa kali menendang punggung Papanya.


"Dia menendang keras sekali, apa perutmu tidak apa-apa?" Nada hawatir dan cemas langsung mematikan kompor listrik yang ia gunakan.


"Tidak apa-apa mas, lanjutkan saja memasaknya. Aku jadi lapar melihat suamiku sedang memasak seperti ini!" Jawabnya memang merasakan perutnya kelaparan sekali.

__ADS_1


"Siap sayang, akan segera jadi makanan sepesial dari suamimu yang super ini. Super ganteng, pintar, tampan plus romantis tingkat tinggi ini." Lais mengangkat lengannya yang memang berotot dan terlihat seksi jika ia berpose seperti ini.


Senang sekali bila suami semakin dewasa dalam membina rumah tangga, setidaknya tidak ada hati yang terluka. Mungkin pengalaman kemarin di jadikan pengalaman sebagai awal mula rumah tangga yang pahit, semoga seperti buah yang masih kecil berubah menjadi buah yang besar dan manis sekali. Singkat kata, pahit dulu manis kemudian.


__ADS_2