
Lais berbalik badan saat ada suara anak kecil yang sedang memanggil dirinya yaitu Princess si putri cantiknya.
"Papa..., kenapa Papa ada di luar?" Princess berada di gendongan Lais.
"Tidak apa-apa! Apa kamu ingin masuk ke dalam sayang. Mungkin saja Mama mau bertemu." Lais merayu putrinya, hanya Princess yang bisa meraih hati Momo.
"Mau Papa," Princess tersenyum lebar.
Suara pintu di buka, Momo menatap malas suaminya yang sedang mengendong putrinya di lengan kirinya.
"Mama." Princess langsung duduk di sebelah Momo.
"Ada apa sayang?" Memperbaiki anak rambut Princess.
"Tidak ada apa-apa Mama, tapi Papa yang ada apa-apa. Kenapa Papa berada di luar pintu Mama!" jawabnya penuh penasaran.
"Tidak apa-apa, adik bayi tidak mau Papa dekat-dekat." Momo segera berlari ke kamar mandi.
Perutnya mendadak mual lagi jika merasa kesal terutama melihat Lais. Lais mengekori sang istri dan membantu mengeluarkan isinya dengan memijat tengkuk Momo.
"Sayang kamu tidak apa-apa?" Lais sangat hawatir.
"Tidak apa-apa, pergilah. Perutku terasa mual jika berdekatan denganmu mas!" jawabnya tanpa menatap sang suami.
Dari pada dirinya kesal lagi jika melihat wajah Lais, lebih baik seperti ini saja. Mungkin karena bayinya tau jika Mamanya baru saja di sakiti, makanya sang bayi tidak mau Papanya dekat-dekat lagi.
"Beneran nih tidak mau dekat dengan aku, maaf sayang." Lais terus saja merayu sang istri.
"Sana-sana, jangan dekat-dekat jika perlu jaraknya 10 meter dari sini," usir nya sambil mengibas-ngibaskan tangannya dari pada mual lagi dan lagi.
Tanpa pengecekan lagi sudah yakin jika dirinya berbadan dua, dari ia telat beberapa minggu ini dan mudah emosi dengan hal-hal yang biasanya ia mampu hadapi sendiri. Tapi demi meyakinkan hal itu Momo menyuruh salah satu asisten rumah tangganya untuk membeli tes pack untuk meyakinkannya bahkan tidak hanya satu tapi ada 3 macam dari toko yang berbeda-beda.
__ADS_1
"Mbak Momo ini pesanannya." Seorang asisten memberikan bungkusan plastik pada Momo.
"Terimakasih ya mbak Nia," Momo menerima bungkusan tersebut seraya tersenyum.
Lais hanya bisa menatap dari kejauhan, rasanya ingin sekali terjun payung dari atas langit dan jatuh di dasar perut bumi yang panas ini.
Momo yang sudah masuk ke dalam kamar langsung menuju kamar mandi dan mengecek apa benar ia berbadan dua, 3 buah tes pack ia celupkan bersama.
Hati Momo berdetak cepat saat ia tau ketiga-tiganya menandakan garis dua yang artinya ia mengandung buah hati lagi, tapi mengapa saat dirinya dan suami sedang dalam masa buruk. Bahkan pernikahan sudah di ujung tanduk, apakah ini suatu petunjuk agar pernikahan ini langgeng. Momo pusing memikirkan ini, jika suatu hari nanti Lais meminta hak asuh anaknya bagaimana. Ia tidak sanggup dan tidak bisa tegar jika ia harus kehilangan anaknya, cukup beberapa bulan yang lalu ia kehilangan calon bayinya, tapi tidak untuk yang sekarang.
"Aku harus menjaganya dan merawatnya." Momo menyimpan hasil tersebut ke dalam tas kecil yang berada di kamarnya.
Kemudian ia keluar dan menuju dapur saat di tengah pintu ia melihat sang suami sedang memasak sesuatu dan kebetulan di situ ada Princess. Ia tidak jadi masuk lantaran tidak ingin melihat suaminya.
"Mama." Princess memanggil Momo. Momo yang hendak pergi hanya tersenyum pada Princess dan meninggalkan tempat itu.
Lais kecewa lagi dan lagi, istrinya benar-benar dingin sekali.
"Papa... kenapa Mama pergi, apa Papa bertengkar dengan Mama?" Tanya polos Princess.
"Jadi Papa harus sabar menghadapi adik bayi." Princess membuka mulutnya.
Lais tersenyum mendengar celotehan putrinya, kenapa anak sekecil Princess sudah memahaminya. Sedangkan dirinya yang sebagai orang tua malah bertingkah seperti anak kecil yang belum paham apa-apa, Lais begitu malu pada dirinya sendiri.
"Iya sayang, kamu benar nak. Mungkin adik bayi mau Papanya lebih berusaha keras lagi untuk menjadi Papa super hero," Lais menciumi putrinya.
Momo yang berada di ruang keluarga menyentuh perutnya yang terasa lapar dan ingin segera di isi oleh makanan, tapi jika mengingat Lais mendadak ia merasa mual lagi.
"Bisa-bisa lambung aku tambah kurus ini jika setiap hari muntah terus. Sepertinya Lais harus kembali pulang deh." Momo berjalan menuju dapur. Ia melihat sang suami masih dengan telaten menyuapi Princess.
"Momo sayang." Sapa Lais yang langsung mendekati istrinya.
__ADS_1
"Stop, jangan mendekat lagi mas. Aku merasa mual, setelah selesai menyuapi Princess pulanglah. Aku tidak mau baby di dalam perut aku kekurangan gizi, karena sering melihatmu dan mual terus bawaannya," Momo menolak melihat wajah Lais.
Lais kecewa lagi, apa bisa dirinya sembilan bulan tidak melihat istrinya. Sepertinya ia tidak sanggup selama itu.
"Satu rumah rasa LDR, nasib-nasib. Nasi sudah menjadi bubur yang sangat cair sekali."
Lais menganggukkan kepala dari pada calon buah hatinya kekurangan nutrisi dari sang ibu lantaran sering mual saat melihat wajahnya.
"Iya sayang, setelah ini aku pulang." Lais menyelesaikan menyuapi Princess.
"Princess tidak mau pulang Papa, Princess ingin Mama dan adik bayi," rengeknya pada Lais. Lais menatap Momo dan menanti reaksi Momo, apa dia memperbolehkan Princess tinggal atau tidak.
"Iya tidak apa-apa jika tidak bisa. Aku akan merawat Princess seperti kamu merawatnya seperti biasa." Lais pasrah jika Momo benar-benar menolah putrinya.
"Boleh, tapi jika nanti aku mual. Jemput dia," jawab lirih Momo tanpa tersenyum sedikit pun.
Sedangkan Lais sangat gembira dengan ini, setidaknya ia tidak membenci wajahnya melalui Princess.
"Iya terimakasih sayang." Hendak mencium Momo tapi tidak jadi takut sang istri merasa mual lagi. Momo yang sedikit berharap ada ciuman kini kecewa saat Lais memundurkan langkahnya dan langsung membalikan badan begitu saja.
Beberapa hari kemudian.
Momo menatap satu persatu bunga yang baru saja ia buat dari kain flanel berbagai macam warna, hampir semua warna yang ada di toko yang tadi siang ia kunjungi di borong.
"Mama, bunganya cantik." Princess memegang salah satu tangkai bunga yang sudah kering dan selesai di lem tembak oleh Momo.
"Apa Princess menyukainya?" Momo memberikan satu tangkai lagi.
"Iya Mama!" Menciumi bunga kain flanel tersebut. "Ma..., kenapa bunganya tidak ada baunya?" Pertanyaan konyol Princess membuat Momo terpingkal-pingkal.
Princess sangat senang membuat sang Mama tertawa, sesuai pesan Papanya untuk menjaga Mama dan calon adiknya. Lais menyuruh Princess membuat sang Mama tertawa, ternyata cara seperti ini sangat sukses.
__ADS_1
"Mama cantik jika tertawa seperti ini, Princess senang sekali punya Mama dan adik." Princess menciumi adiknya yang berada di perut Momo.
Momo sangat terharu dengan sikap Princess. Suara langkah kaki membuat Momo langsung menatap sumber suara itu, ia malas menatapnya dan langsung melanjutkan kegiatannya lagi tanpa memperdulikan orang itu.