ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu

ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu
207 S2. Selesai dan sekarang part Momo dan Lais


__ADS_3

Kediaman Malik.


Sindy yang sudah rapi dan wangi dengan pakaiannya, ia duduk bersantai sambil membaca majalah.


"Sayang." Membawakan potongan buah segar untuk Sindy.


Sindy yang melihat buah-buah itu sangat menggoda, tanpa pikir panjang ia langsung mengambil garpu dan memakannya.


"Enak?" tanya Cheval yang merasa aneh dengan Sindy.


"Enak Aa, tambahin susu dan mayonaise nya!" Mengembalikan mangkuk tersebut pada suaminya.


Cheval menuruti keinginan sang istri, lagian ia tidak ada pekerjaan sore ini, apa salahnya jika membantu sang istri yang lagi ingin makan ini dan itu, dari pada nanti bayinya lahir terus ileran.


"Baiklah untuk istri tercintaku." Cheval langsung menambahkan mayonisenya dan susu cair dan kental manis sebagai tambahannya, tidak lupa keju berbentuk dadu dan parutan ia tambahkan.


"Benar-benar suami siaga Aa ini," Sindy memberikan ciuman di pipi Cheval.


"Ih... jorok, lap dulu bibir kamu sayang jika ingin menciumku." Cheval segera mengusap pipi kanannya dengan tisu basah.


"Lupa Aa, saking manisnya wajah Aa," Sindy mendekat dan menjilat pipi Cheval.


Cheval langsung menatap dingin Sindy dan menyentuh pipinya yang baru saja di jilat istrinya itu. Cheval mengambil lap tisu basah, dengan kasar ia mengosok dan berharap Sindy merasakan pahit lidahnya saat menjilat pipi kanannya lagi.


Tapi bukannya Sindy tidak suka justru malah kebalikannya, Sindy tetap melancarkan aksinya untuk menikmati suaminya. Cheval tidak bisa apa-apa jika seperti ini, kalau tidak nanti malam siap-siap tidur di sofa.


"Malam ini aku tidur di kasur ya jangan di sofa lagi, please." Sambil memohon pada Sindy yang tengah menikmati kesegaran buah di dalam mulutnya.


"Baiklah, asal Aa tidak menyentuh sana sini," Sindy melanjutkan makannya.


"Aku tidak sentuh sana sini, aku menyentuh tepat di sini." Cheval menyentuh benda kenyal milik Sindy yang sudah berisi dan lebih besar lagi.


Ppllaakk.


"Aduh, sakit sayang."


"Biarin, lagian punya tangan tidak bisa di jaga," Sindy memunggungi Cheval.


"Lah ko Aa yang salah sih, yang salah itu ini." Meremas kuat salah satu benda kenyal milik Sindy dan berakhir terkena cubitan keras dari yang punya tubuh.


"JANGAN TIDUR DI KASUR," kesal Sindy yang langsung menghentikan kegiatannya memakan buah.


Cheval menghentakkan kakinya, ia menyesal dan sangat menyesal. Kenapa istrinya sekarang ini mudah sekali marah, apa dulu Sindy sewaktu di kandungan seperti itu. Mama perlu di interogasi malam ini.


"Baiklah jika istriku tidak mau aku tidur di kasur." Cheval pura-pura marah dan keluar dari kamar tersebut.


Sindy merasa bersalah tidak mengizinkan suaminya untuk tidur satu tempat tidur. Ia terus-terusan menatap pintu tersebut.


"Tuhkan aku menyesal tidak mengizinkan Aa untuk tidur di sampingku, kalau Aa cari penghangat yang lain bagaimana. Hua... hu... hu... aku gak mau punya madu di saat aku sayang-sayangnya." Sindy menangis sesenggukan. Pikirannya kemana-mana padahal sang suami tengah menemui Mamanya.


Cheval mengetuk pintu kamar Daysi, namun tidak ada jawaban darinya. Kemudian Cheval menuju ruang keluarga dan benar saja Daysi sedang menonton drama Korea seperti biasanya. Terdengar suara tawa Daysi yang begitu nyaring sekali.


"Mama." Cheval duduk di sebelah Daysi dengan wajah di tekuk berlipat-lipat.


"Kenapa itu wajah, ada masalah lagi dengan Sindy. Kebiasaan, bertengkar terus padahal mau jadi orang tua," Daysi masih saja melanjutkan menonton drama itu.


"Iya Ma, Sindy melarang ku tidur di sampingnya, padahal Aa ingin sekali tidur dan menyentuh perutnya." Cheval menguap beberapa kali, bertanda iya sangat mengantuk berat.

__ADS_1


"Ya sudah tinggal di susul dan di peluk saja Aa, begitu saja ko repot," Daysi memakan camilan.


"Benar juga ya Ma, ya sudah Aa ke kamar dulu. Selamat malam Ma." Pamitnya berlalu pergi.


"Dasar anak muda, kalau berdekatan bertengkar. Jika berjauhan saling rindu." Daysi mematikan saluran channel yang ia tonton.


Cheval masuk lagi ke dalam kamar, ia bertanya-tanya kenapa istrinya menangis seperti itu.


"Sayang, kenapa menangis. Bayi kita menendang keras dan tidak berhenti bergerak?" Dengan nada hawatir sambil mengusap lembut surai rambut Sindy.


Sindy menggeleng. "Jangan tinggalkan aku Aa, aku tidak mau Aa madu dan duakan. Karena sikap aku yang seperti ini pada Aa!" Sindy menangis lagi.


"Hus... jangan bicara sembarangan, Aa tidak akan meninggalkan kamu sayang. Aa sudah mencintai dan menyayangi kamu semenjak kamu di dalam perut Mama." Cheval menenagkan sang istri.


"Jangan membual Aa, aku tidak percaya jika Aa sudah menyukaiku sejak aku di dalam kandungan Mama," Sindy tidak mudah percaya, ia yakin jika suaminya ini sedang membual untuk menenagkan tangisannya itu.


"Aa tidak membual sayang, ini kenyataannya yang ada. Lagian Aa dulu sering mencium dan berharap kamu cepat lahir di dunia ini." Cheval mencium kedua mata Sindy secara bergantian.


Sindy tentunya sangat bahagia mendengar ini, ternyata suaminya ini mencintai dirinya semenjak di dalam perut sang Mama. Meski ia sempat kesal dengan Cheval yang dulu suka mengadu ini itu pada kedua orang tuannya, tapi itu semua terkalahkan dengan kasih sayang dan cinta yang banyak yang di curahkan langsung oleh suaminya.


Pagi hari.


Sindy sedang menikmati sarapannya bersama suami dan kedua orang tuannya. Momo pagi ini juga ikut sarapan karena dari semalam Momo menginap di rumah ini.


"Momo, kenapa aku lihat dari kemarin wajah kamu di tekuk seperti itu. Apa ada masalah yang serius?" Sindy menatap Momo yang tidak memakan sarapannya sedikit pun.


Daysi menunjukkan satu buah vidio Lais dengan scandal nya, beberapa bulan lalu. Sindy hampir tidak percaya jika seorang Lais berbuat demikian.


"Rasanya tidak mungkin, tapi..." Sindy menutup vidio tersebut.


"Momo kamu harus move on, jangan memikirkan dia terus menerus. Apa kamu ingin menjadi perusak hubungan orang, jika hati kami terpatri untuknya. Lihatlah dia Momo, buka mata dan hati, sebentar lagi wanita itu akan melahirkan mungkin 2 bulan lagi di lihat dari besarnya kandungan." Sindy berusaha menenagkan Momo.


"Pelan-pelan Momo, jangan terlalu memikirkan dia. Buang saja kenang-kenangan darinya kalau bisa, biar kamu segera move on. Karena dia menyakiti kamu." Sindy memberikan solusi.


Cheval hanya menenggak saliva nya dengan kasar, jika ia menyakiti istrinya apakah sama seperti ucapannya yang akan membuang langsung kenang-kenangan itu tanpa berpikir panjang.


"Aku tidak boleh mengecewakan Sindy, aku sangat-sangat mencintainya." Cheval melanjutkan sarapannya.


Sedari tadi Ksatria dan Daysi hanya mendengar pembicaraan kedua putri itu, tanpa ikut campur masalah anak-anaknya. Ia percaya jika kedua putrinya itu sudah dewasa dan membiarkan mereka menyelesaikan masalah dengan kepala dingin.


Bertahun-tahun Momo melupakan Lais.


Momo menempati pekerjaan barunya di salah satu perusahaan yang berkembang baik, entah jodoh atau apa. Ia ternyata berkerja di perusahaan Lais sang mantan sahabat dekat yang ia cintai sejak SMA.


"Benarkah aku akan berkerja di sini, di tempat Lain. Oh My God, takdir apa ini. Kenapa harus berkerja di tempat ini, tempatnya pula." Momo menghela nafas panjang.


Ia segera memasuki ruangan yang ia tempati sebagai staf biasa di perusahaan ini, mungkin karena Lais masih ada dendam sendiri membuat Momo di letakkan di salah satu management terendah di kantornya. Padahal banyak sekali prestasi yang Momo torehkan di perusahaan lamanya itu.


"Beberapa hari ini aku merasa tenang saat Lais acuh tak acuh kepadaku, ternyata dia tidak peduli denganku. Dengan begini aku bebas dan santai, namun dugaan ku salah saat aku menatap ada panggilan masuk di ponsel pribadiku. Ternyata Lais menyuruhku untuk membuatkan kopi."


Momo sebenarnya malas sekali membuatkan kopi untuk Lais di tambah lagi ia tidak di izinkan masuk sama sekali oleh Lais Erdana Khan. Momo acuh tak acuh saja dari pada terkena masalah lagi dan lagi.


Kejadian yang tidak di harapkan hadir.


Hari ini hari pertama Momo berkerja sebagai baby sitter dadakan, sungguh sial hari ini dan untuk pertama kali ini seorang Momo harus berhutang tanggung jawab dengan orang yang super resek dan satu lagi ia sudah memiliki seorang anak siapa lagi kalau bukan Lais, setelah sekian lama Momo berkerja di perusahaannya tidak sengaja tiba-tiba motor yang ia kenakan mengenai air mineral yang masih berisi penuh airnya dan yang lebih sialnya mengenai dia orang menyebalkan dari dulu sampai sekarang.


"Kamu berhenti dan kamu harus tanggung jawab, gara-gara kamu bajuku dengan Princess jadi basah. Dan sebagai gantinya selama satu bulan kamu harus jadi baby sitter Princess tanpa penolakan." Ucap Lais dengan tegas seraya mengancam Momo dengan tatapan mata elangnya yang tajam.

__ADS_1


"Cihh... mentang-mentang berduit tebal seenak jidat menyuruh orang ini itu," gumam lirih Momo sambil memanyunkan bibirnya.


"Princess tiba-tiba menarik tanganku dan mengajakku untuk masuk ke dalam kantor papanya, ya aku berkerja di sini hanya sebagai staf biasa di bagian desainer perhiasan untuk jam mewah di perusahaan Berlian ini."


"Lais hanya menatap dengan senyum penuh makna, tetapi aku membiarkannya lagian untuk apa aku menanggapi dia yang bisanya hanya mengerjai ku setiap harinya. Sudah hampir 3 bulan aku berkerja disini tetapi aku tidak pernah melihat istrinya satu kali pun, apakah istrinya sebegitu sibuknya sampai-sampai tuh bocah resek membawa putrinya."


"Mama." Ucap Princess Erdana Khan lirih.


"Mama... dimana sayang, tante belum pernah melihat mama Princess?" Momo mendekati Princess sambil berjongkok menghadap Princess si bocah kecil yang sangat cantik.


"Disini," gadis kecil tersebut mengusap pipi Momo dengan lembut.


"Haduh ini anak kecil buat orang dewasa salah tingkah deh dengan ucapannya, papanya pasti sudah bilang aneh-aneh deh kenapa panggil aku mama." Gerutu Momo dalam hati.


TTAAKK...


TTAAKK....


Suara sepatu terdengar nyaring menuju ruangan ini, Momo langsung mendengus kesal saat seseorang yang menyebalkan mengejek dirinya.


"Hey... baby sitter jangan lelet kenapa, apa kamu tidak kasihan dengan Princess ku yang sudah kedinginan." Bentaknya pada Momo.


"Iya," jawab Momo dengan tersenyum ramah. Ingin sekali Momo menggelam kan si boss yang super nyebelin plus resek ini.


Momo terheran-heran dengan sosok Lais ini, dulu saat SMA dia baik perhatian, kenapa sekarang setelah sukses seperti ini. Apa semua orang seperti ini saat dia sukses lupa dengan dulu saat masih berkerja keras, dasar mentang-mentang sekarang boss semenamena suka memerintah.


"Jangan lupa rawat dia dengan penuh kasih sayang." Ucap Lais berlalu pergi.


Senyum Lais mengembang saat mengerjai Momo, itulah kegiatannya selama ini ada saja ide untuk mengerjai Momo perempuan cantik dan bawel kalau saat berdekatan.


Enam tahun lalu ayah pergi untuk selamanya dan menyusul bunda di Surga. Waktu itu Momo meminta sang ayah untuk menjemputnya karena Momo di nyatakan lulus dan mendapat predikat terbaik di kampus tetapi hari itu juga Momo mendapatkan kabar jika ayah masuk Rumah Sakit karena serangan jantung dadakan dan Allah begitu sangat sayang pada ayah dan mengambil ayah untuk kembali ke pangkuannya. Hatinya hancur berkeping-keping lima tahun sebelumnya bunda tercintanya dan kemudian di susul sang ayah.


Sebenarnya papa Ksatria dan mama Daysi selalu membantu Momo dalam segi apa pun itu, tetapi Momo selalu menolaknya dengan alasan ingin mandiri tetapi bukan itu alasan utamanya, Momo tidak ingin merepotkan mereka saja. Momo juga tau kehidupan papa dan mama tidak semulus yang Momo tau, ayah pernah bercerita jika papa Ksatria hampir tewas dan itu terjadi tidak hanya sekali bahkan bunda juga mengalaminya, rasanya sedih sekali. Semoga saja kehidupan Momo akan baik-baik saja kedepannya.


"Sudahlah aku jalani hidupku yang sekarang lagian aku harus bisa berdiri di kakiku sendiri tanpa bantuan lagi dari mereka, aku biarkan uang pemberian papa dan mama."


"Princess mau makan, tante suapi ya." Momo mengendong princess di tangan kirinya dan mengajak duduk di sofa.


Sebenarnya ada baby sitter yang merawat Princess namun karena Momo melakukan kesalahan ya sudahlah hitung-hitung mengisi waktu luang, sepertinya Momo akan di pecat dari staf bagian desainer.


Tuhkan mbak Tia sang desainer datang.


"Momo."


"Iya mbak, ada apa kenapa kesini?" tanya Momo dengan sangat gelisah dan tau apa ucapan selanjutnya nanti, Momo masih bisa tersenyum walaupun dalam hatinya teriris perih.


"Ini, sepertinya surat pemecatan dari atasan." Tia berlalu pergi.


Momo membuka surat tersebut dan benar saja isinya surat pemecatan dirinya. Beginilah nasib bawahan plus staf paling rendah di perusahaan ini, melakukan kesalahan sedikit tanpa sengaja langsung di pecat, nasib-nasib.


Masih ada waktu 29 hari lagi, semoga setelah selesai jadi baby sitter dapat pekerjaan.


"Mama." Princess memanggil Momo dan menyentuh tangannya.


"Iya sayang, ada apa?"


"Mama cantik, maukah mama jadi mamaku." Mata princess berkaca-kaca penuh harapan dan itu membuat Momo bingung di landa gelisah galau merana. Momo hanya mengangguk kebingungan, rasanya campur aduk saat anak kecil seperti Princess meminta hal ini.

__ADS_1


"Anak sekecil ini memintaku untuk menjadi mamanya, pertanyaan muncul di kepalaku. Lais sialan racun apa yang kamu tabur di putrimu. Dari tadi dia terus memanggilku mama, pasti kamu mau mengerjai ku lagi lewat putrimu ini kan."


Lais yang sedari tadi melihat Momo dari layar laptopnya tersenyum bahkan tertawa melihat kekesalan Momo.


__ADS_2