
Daysi datang membawa nampan berisi makanan untuk Sindy, Sindy yang melihat sang mama perhatian seperti ini sangat bahagia. Meski pun ia sedikit kesal pada Cheval yang tidak mau beranjak pergi dari ranjang nya dan memilih tetap tinggal, tapi ketika sang mama peduli rasa kesal sirna sudah.
"Nih makan dulu ya, mama suapin ya." Duduk di dekat Sindy.
Sindy tersenyum mendengar sang mama mau menyuapi nya. Seklebat bayangan waktu kecil teringat, di mana saat makan ia di suapi sang mama satu sendok bergantian dengan Cheval. Dan saat di suapi Cheval selalu merebut suapan tersebut dan berakhir Sindy marah dan minta Mala untuk menyuapi nya.
Sindy melirik wajah Cheval yang sedari tadi tersenyum saat makanan masuk ke dalam mulut.
"Ma... aku kenyang,"
"Baru 6 sendok, kamu benar-benar mau mengurus kan badan. Apa kamu sedang menyukai seseorang Sindy sampai-sampai jaga badan?" sambil melirik Cheval, ia ingin tau ekspresi sang putra ketika diri nya menyebut kan hal tersebut.
Dan benar saja Cheval mulai tidak nyaman berada di dekat Sindy. Daysi melihat rahang kokoh Cheval mulai menggeretak seperti nya menahan amarah. Dalam hati Daysi menertawai sang putra.
"Ma Aa keluar dulu, ada tugas kuliah yang belum selesai setelah ini aku mau menemui teman-temanku." Cheval berpamitan dan segera pergi dari kamar Sindy.
Sindy yang melihat sang kakak tiba-tiba bad mood hanya diam saja, lagian tidak ada hubungan dengan nya. Daysi yang sudah tidak bisa membujuk sang putri untuk makan lagi kini menyerah sudah.
"Mama keluar dulu, hati-hati jangan sampai jatuh lagi ya sayang." Mengecup dahi Sindy yang tidak terluka.
Selepas kepergian Cheval dan sang mama, Sindy mengeluarkan sebuah cermin kecil untuk melihat apakah dahi nya parah. Dalam angan-angan Sindy yakin benjolan besar ternyata benar bahkan warnannya sangat merah matang dan sedikit gelap.
Saat berada di dalam kamar.
Cheval yang tidak ada tugas kuliah hanya mondar mandir memikirkan siapa laki-laki pujaan Sindy sekarang, kenapa ia menjaga tubuh nya akhir-akhir ini.
"Masak sih Taksa, rasanya gak mungkin deh. Tapi jika benar bahaya ini dia kan terkenal pandai merayu perempuan."
__ADS_1
Pagi hari.
Seperti biasa Sindy dan Cheval makan bersama dengan Ksatria dan Daysi. Ksatria makan sambil melirik sang putra yang sedari tadi curi-curi pandang pada Sindy. Sebenar nya Ksatria ingin memergoki Cheval namun ia urung kan karena Daysi mengisyarat kan jangan sekarang, belum tentu benar karena sejauh ini mereka belum ada tanda-tanda ke arah sana.
"Eeheemm... papa sudah selesai, jangan lupa berangkat bersama. Jika Aa tidak ada jam kuliah hantar Sindy dan pastikan adik mu selamat sampai tujuan." Ksatria bangkit dari duduk nya.
Cheval dan Sindy menyalami sang papa. Ksatria membisik kan sesuatu pada Cheval.
"Jaga dengan baik ya boy, jangan buat papa kecewa." Cheval menganggukan kepala.
Daysi segera menghantar sang suami sampai masuk ke dalam mobil. Seperti ini lah kegiatan keluarga Malik setiap hari nya sibuk dan sibuk jika ada waktu luang pasti saat seperti kemarin perang dingin. Mungkin di luaran sana berpikir jika keluarga ini baik-baik saja namun ketika masuk ke dalam keluarga ini, salah besar. Sering terjadi perang dingin meski pun hanya sebentar.
Sindy hanya fokus dengan makanan berat nya pagi ini, lagian semalam ia tidak makan banyak karena muak melihat sang papa terus-terusan membanggakan prestasi Cheval bahkan memuji nya dan yakin jika Cheval bisa menjalan kan bisnis selanjut nya.
"Cih... benar-benar anak papi," gerutu Sindy dalam hati.
"Jangan cemberut terus, cantik nya luntur loh." Menjalan kan kemudi nya.
Sindy tidak menanggapi bualan sang kakak, ia memilih melihat pemandangan alam sekitar melihat jalanan yang ramai dan gedung-gedung menjulang tinggi.
SMAN 1 KEBANGSAAN dan Universitas KEBANGSAAN.
Semua siswa siswi sudah memasuki gerbang sekolah meskipun pagi ini masih sepi, mungkin karena berangkat kepagian.
"Hati-hati ya," mengusap surai rambut Sindy dan memberi kecupan di dahi Sindy.
"Apa-apaan sih kamu," Sindy keluar dari dalam mobil dan berlalu pergi.
__ADS_1
Cheval tersenyum, satu langkah sudah lebih maju. Sedikit demi sedikit sudah mulai membaik. Rasa nya hari ini dunia penuh dengan bunga-bunga bermekaran dan beraroma semerbak wangi. Setelah memarkirkan mobil nya di parkiran kampus, Cheval terus menyungging kan senyum nya. Daylon dan Lay yang baru saja datang dengan motor sport nya mengaruk-garuk kepala nya dan saling pandang ada apa dengan Cheval, tumben-tumbenan tuh anak senyum terus.
"Eeehhemmm... sedang jatuh cinta atau baikan?" Lay duduk tidak jauh dari Cheval.
"Kepo lo!" Cheval membuka laptop nya dan melanjut kan tugas kuliah nya.
"Rajin bener sahabat kita yang satu ini, padahal tugas juga masih lama ngumpulin nya." Daylon menepuk-nepuk pundah Cheval.
Jam istirahat SMAN1 KEBANGSAAN.
Sindy tangan nya tiba-tiba di tarik oleh seseorang bahkan ia tidak kenal. Ia berusaha memberontak namun sia-sia usaha nya. Sindy melihat ia seperti nya dari kelas yang lain, sebab satu kelas nya tidak punya teman seperti dia wajah nya.
"Hay... apa kamu lupa denganku?" dengan senyum imut nya. Sambil mengajak duduk di kantin.
"......" Sindy yang masih keheranan hanya diam sambil mengingat siapa orang yang berbicara dengan nya, yang sok kenal sok dekat ini. Kemudian Sindy menggeleng kan kepala nya.
"Hhuhh...," menghela nafas panjang. "Sudah tau pasti kamu lupa denganku, aku ini teman kamu saat SD dulu kemudian aku pindah sewaktu kelas 4, Lais. Apa sudah ingat."
"Eemmm... bentar-bentar, apa kamu yang dulu pakai kaca mata itu. Tapi... mengapa sekarang tidak pakai, apa mata kamu bisa melihat ku dengan jelas?" Sambil mengayun-ayun kan tangan nya di depan laki-laki tersebut.
"Kamu kira aku ini buta apa, sampai segitu nya!" berjalan dan memesan makanan.
"Mungkin." Dengan mengangkat bahu nya.
***
__ADS_1
Gantengan yang mana nih, Cheval apa tuh yang ada di atasπππ