ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu

ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu
200 S2


__ADS_3

Terimakasih sudah mampir dan membaca, aku tetap up meski kesehatan sering menurun. Sedikit curhat ya. Maaf belum bisa membalas satu persatu, tapi aku sangat berterima kasih karyaku ini di terima oleh teman-teman.


***


Rumah Sakit Umum.


Saat ini mereka semua sedang menangis di ruang tersebut, lebih tepatnya di depan ruang jenazah. Tadi Dokter bilang Sacha terkena serangan jantung dadakan di perjalanan untungnya ia mengunakan sopir, jadi sang sopir langsung menghantarkan ke rumah sakit yang kebetulan dekat dari sini.


Pak sopir juga sudah menjelaskan kejadiannya secara terperinci, usai menerima kabar dari putrinya tiba-tiba Sacha merasa tidak nyaman di bagian dada kirinya dan langsung pingsan di tempat, setelah di bawa ke Rumah Sakit ternyata nyawanya sudah tak tertolong lagi.


Momo berada di pelukan Daysi dan Sindy. Mereka semua menangis beberapa kali Momo juga pingsan, Daysi dan Sindy hafal jika Momo akan shock seperti ini lagi dan lagi. Dulu sewaktu bundanya tiada juga seperti ini.


"Momo... sadar nak." Mengoleskan minyak kayu putih.


Kediaman Mahendra.


Banyak sekali pelayat yang datang, mulai dari tetangga dan beberapa kerabat jauh. Sacha sudah tidak mempunyai kerabat dekat kecuali iparnya. Momo seperti mimpi saja, hari ini hari kelulusannya tapi di hari ini juga ayahnya tiada. Bagaimana ia sanggup untuk menghadapi ini semua.


"Ayah..., bangun ayah. Lihat ini ayah... Momo dapat ini yah... hu... hu... hu...." Sambil menunjukkan bukti jika dirinya dapat prestasi nomor 2 di jurusannya.


Daysi mengusap lembut punggung Momo untuk menguatkan putrinya. Daysi juga hampir tidak percaya, 6 tahun yang lalu bundanya dan sekarang ayahnya. Bagaimana nanti Momo bisa melanjutkan hidupnya, jika sandarannya juga sudah tidak ada lagi.


"Ma... ma..., lihat ma... kenapa ayah tidak bangun ma." Menyentuh wajah ayahnya.


Setelah di makamkan, Momo enggan meninggalkan tempat tersebut. Pemakaman sang ayah tidak jauh dari makam almarhum bundanya hanya berjarak sekitar beberapa meter saja dari bundanya Aurellia.


Momo menahan air matanya, tapi tetap saja keluar dengan deras. Sindy dan Cheval yang berada di dekat Momo berusaha menenangkannya, ia juga sangat terpukul dengan kejadian ini, kenapa harus tepat di saat wisuda sarjana musibah ini.


"Kita harus kuat Momo." Sindy meluk erat adik sepupunya.


"Sindy... ayah... Sindy... ayah..., hu... hu... hu...," Momo masih saja menangisi ayahnya.

__ADS_1


Rasanya dunia seakan gelap seketika, saat orang yang kita cintai pergi untuk selamanya. Hari begitu cepat berlalu tak terasa sudah satu tahun lebih semenjak kepergian sang ayah Kepada Yang Maha Kuasa.


"Momo." Sapa Daysi yang pagi ini.


"Iya ma," menatap Daysi. Daysi dengan lembut mengusap surai rambut Momo.


"Sarapan dulu nak." Daysi membawakan nampan yang berisi makanan dan susu hangat serta segelas air putih.


"Kenapa mama repot-repot setiap hari kesini sih ma, Momo masih bisa ko menyiapkan semua. Lagian banyak tuh pembantu di rumah," menatap semua asisten yang bertambah 2 orang di rumah ini dan totalnya hampir 10 orang.


"Meski banyak, tetap saja mama ingin menemui kamu. Lagian di rumah juga sepi Sindy dengan Aa berada di Surabaya, apa kamu tega melihat mama seperti ini?" Daysi bersedih.


Momo merangkul Daysi. "Mama, jangan berucap seperti itu. Momo tidak akan meninggalkan mama sendirian!" jawab Momo penuh keyakinan.


"Benarkah? tapi kenapa kamu sudah rapi mau kemana. Uang yang papa transfer kurang atau bagaimana?" Daysi menatap Momo yang menggunakan seragam dari PT Lambang Emas. Perusahaan desainer jam dan aksesoris lainnya yang bersangkutan dengan desain.


"Tidak ma, bahkan kelebihan. Tapi Momo ingin mandiri ma, makanya Momo berkerja dan mulai hari ini Momo mau membuka lembaran baru dan menutup lembaran lama!" Momo menyantap makanan yang di bawakan oleh Daysi.


Di bilang kehilangan ya Momo merasakan sangat kehilangan, kehilangan kedua orang tuanya dan juga kehilangan cintanya. Entah sudah lama ia tidak melihat cintanya datang mengunjungi rumahnya. Dan Momo juga tidak tau Lais pergi kemana, masih di Indonesia atau pulang ke New Delhi tempat kakeknya tinggal.


"Momo, sini." Panggil seseorang yang dua kali bertemu dengan Momo.


Karena Momo belum paham seperti apa perusahaan ini dia sedikit di kerjain oleh beberapa rekannya, mulai dari foto kopi dan di suruh membeli sesuatu padahal ini masih jam kerja dan belum istirahat.


Di apartemen Sindy dan Cheval.


Cheval sedang memasak sedangkan Sindy mengerjakan tugas yang lain, ia mencuci pakaian dan membersihkan rumah.


"Sudah selesai masaknya Aa?" Sindy mencium aroma wangi masakan suaminya.


"Belum, masih kurang satu menu lagi!" jawabnya memotong sayuran.

__ADS_1


"Tampannya suamiku ini, tidak pernah menyangka jika kakakku sendiri yang tumbuh bersama denganku menjadi suamiku, aa... ha... ha... kalau di jadikan cerita turun temurun sampai cucu pasti lucu sekali, nenek moyangnya ternyata seperti ini kisahnya." Sindy menghayal yang bukan-bukan.


Cheval yang melihat sang istri seperti ini langsung mencubit pipinya dengan kuat, pasti sang istri sedang membayangkan hal yang aneh lagi.


"Sadar, jangan di dunia hayalan terus." Meletakkan masakan terakhir di meja makan.


Ada 4 menu masakan Cheval, mulai dari ayam di masak balado, kemudian tumisan sayur, tahu dan tempe. Tentunya dengan porsi yang pas di makan berdua saja.


"Bagaimana rasanya?" saat memberikan nasi hangat pada Sindy.


"Enak Aa!" jawabnya segera menyantap makanan tersebut.


Cheval tertawa renyah.


"AA... HA... HA..., padahal buat asal-asalan dan tidak aku cicipi. Jangan berbohong sayang, aku tau ko kalau itu tidak enak." Cheval langsung mengambil masakannya.


"Ee... he... he...," Sindy menggaruk-garuk kepalanya. "Ketahuan juga ternyata, maaf ya Aa bukan maksud Sindy berbohong tapi Sindy tidak mau Aa kecewa dengan masakan Aa yang baru pertama kali itu," ucapnya menunjuk ayam balado yang rasanya tidak karu-karuan.


"Tidak apa-apa, salah Aa juga kenapa tadi tidak mencicipinya dan langsung memasukkan begitu saja tanpa menambahkan bumbu yang lain lagi." Tersenyum.


Cheval dengan telaten menyuapi istrinya, Sindy ikut ke Surabaya selain melanjutkan pendidikannya dia juga ikut berkerja di luar kampusnya.


"Apa hari ini kamu mau mengajar lagi untuk anak-anak SMA?" pertanyaan Cheval membuat Sindy menghentikan makannya.


"Iya Aa, lagian aku tidak ada kerjaan selain mengajar anak-anak. Lagian mereka sopan dan baik ko!" jawabnya sedikit ragu-ragu.


"Kenapa itu wajah ekspresinya di tekuk seperti itu, apa salah satu murid kamu ada yang suka dengan kamu." Cheval sebagai suami sedikit curiga. Sindy mengangguk mengiyakan jika ada murid laki-lakinya yang ada rasa untuk dirinya.


Cheval sudah curiga dari beberapa minggu yang lalu saat istrinya membawa pulang buket bunga yang mahal. Kemudian coklat satu box yang ukurannya lumayan besar, dan lebih parahnya tas yang berkisaran seharga lebih dari 100 juta dan masih ada di lemari pakaian yang membuat Cheval enggan mengambil baju sendiri. Ia seperti laki-laki gagal saja tidak bisa membelikan ini itu untuk istri tercintanya.


"Aku akan mengembalikannya dan soal tas itu, Aa jangan salah paham ya." Sindy menggenggam erat tangan Suaminya. Sedangkan Cheval hatinya terluka berat.

__ADS_1


"Laki-laki gagal seperti ku ini tidak pantas mendapatkan Sindy yang seperti ini, dia baik, cantik dan kalem, yang lebih unggulnya lagi Sindy putri tunggal yang di pastikan akan mewarisi separuh dari Royal Malik. Hotel dan apartemen terbaik di Ibu Kota. Sedangkan aku apa yang aku bisa banggakan, tidak punya apa-apa selain pekerjaanku sekarang ini."


Cheval masih saja berpikiran yang tidak-tidak.


__ADS_2