
Setelah berbuka puasa.
Rasanya sangat nikmat ketika berbuka puasa dengan orang-orang terdekat kita. Rasa yang luar biasa dan sayang jika di lewatkan begitu saja.
Usai berbuka bersama, Momo dan Lais berpamitan pulang. Karena hampir seharian ini ia tidak mengajak sang putri untuk pergi.
"Kenapa buru-buru pulang sih, seharusnya tadi bawa Princess sekalian." Ksatria tidak rela jika Momo pulang begitu cepat, padahal dirinya baru melihat putrinya saat berbuka puasa.
"Besok ke sini lagi Pa, lagian kasihan Princess di rumah," Momo mencium punggung tangan Ksatria begitu juga dengan Lais.
"Jangan lupa, jaga istrimu dengan baik. Jika tidak aku pisahkan kalian dengan paksa." Tegas Ksatria, mengingatkan sang menantu tapi penyampaiannya kurang enak di dengar telinga.
Lais yang sudah biasa dengan ucapan sang mertua yang bicaranya tanpa rem hanya banyak-banyak bersabar saja.
"Siap Papa," Lais mengikuti Momo yang sudah lebih dulu masuk ke dalam mobil.
Kediaman Erdana Khan.
Princess yang belum tidur menunggu kepulangan kedua orang tuanya di dekat pintu masuk, saat melihat mobil sang Papa ia langsung berteriak memanggilnya.
"PAPA." Princess mendekati mobil milik Papanya.
Lais yang melihat sang putri langsung membuka pintu mobilnya dan menyambut uluran kedua tangan putrinya. Momo sedikit cemburu dengan Princess putrinya.
"Semoga, jika kamu lahir nanti Papamu tidak membeda-bedakan kamu ya nak." Momo mengusap lembut perutnya.
Momo jadi teringat kisah lalu, kisah Sindy dan Cheval. Betapa terlukanya Sindy waktu itu, dulu Sindy sering berkeluh kesah dengan bundanya Aurellia saat sang bunda masih sehat dan masih ada. Sindy sering mendapat ketidak adilan dari orang tuanya. Apalagi sang Papa yang lebih mementingkan Cheval yang bukan anak kandungnya sendiri, melainkan anak mantan kekasihnya dulu dengan suaminya. Dan yang paling mengejutkan lagi ternyata Papa kandung Cheval adalah mantan Papa tirinya Lais dan Lais sekarang menjadi suaminya. Beberapa kali Ksatria juga melarang ada rasa cinta untuk Lais setelah meninggalnya Sacha Mahendra, Ksatria takut dan hawatir jika Momo di sakiti. Apalagi berita heboh waktu Lais menghamili seorang model majalah dewasa.
"Kisah ini jika di jadikan novel pasti babnya beranak, dari tuju turunan hingga tanjakan dan tikungan tajam. Aa... ha... ha... lucu juga." Momo berkhayal dan tertawa kecil saat berjalan.
Lais yang mendengar cicit tawa Momo langsung tersenyum dan mencium pipi Momo sekilas.
__ADS_1
"Apa yang membuatmu senang sayang." Lais membisikkan ucapannya tepat di telinga Momo.
Momo langsung malu saat suaminya bertanya seperti itu, suaranya yang lembut membuat rona di wajahnya langsung tersirat.
"Jangan... membisikkan... suara seperti itu mas, geli tau di dengarnya." Momo berucap penuh penekanan, padahal dalam hatinya jantungnya berdegup kencang sekali.
"Geli atau gerogi dengan bisikan aku barusan," Lais terus saja menggoda.
Momo tidak tinggal dia dengan secepat kilat ia injak kaki suaminya dengan sepatu kets miliknya.
"Aduh... sayang, sakit." Lais berjingkat-jingkat sambil memegang erat kakinya yang terasa ngilu dan panas akibat injakan istrinya.
"Makanya mas jangan aneh-aneh kenapa sikapnya, ingat bulan puasa," Momo mengibaskan rambutnya dan pergi begitu saja.
Malang sekali nasib Lais, padahal ia tidak berucap aneh-aneh tapi terkena juga. Apalagi jika berbicara fulgar, sepertinya bakalan di gantung langsung seperti jemuran.
"Aduh... nut... nut... rasanya, sepatunya besok aku sembunyikan saja. Bisa-bisa kakiku ini gak bisa jalan saat lebaran, jika terus-terusan di injak bumil yang sensi ini." Gumam lirih sambil melepas sendal rumah yang ia gunakan.
Haduh Lais hanya menelan saliva nya dengan berat, salah lagi salah lagi. Kapan benarnya.
"Eh... enggak sayang, aku yang sensi bukan kamu sayang." Lais menutup mulutnya.
Momo cemberut, padahal ia datang ingin memberikan es batu untuk meredakan sakit di kakinya. Momo yang kesal langsung melempar kantong es batu tepat di samping suaminya.
"Aku tidur sendiri, kamu tidur di luar Mas." Pergi begitu saja.
"Sayang maafkan mas," Lais berucap lirih.
Momo pura-pura tidak mendengar, ih... ternyata suaminya tidak mengejar dirinya. Sepertinya cintanya mulai luntur deh.
"Apa aku perlu beli pengawet cinta ya biar cintanya gak luntur ke aku, tapi mana ada pengawet cinta, yang ada pengawet makanan dan mayat." Momo berpikir jernih.
__ADS_1
Perutnya ia usap perlahan-lahan dan segera memejamkan matanya, ia kesulitan tidur. Sudah 3 jam berlalu bahkan Lais tidak mengetuk pintu untuk memohon tidur bersama.
"Coba aku cek keluar deh, apa kakinya masih sakit." Momo berjalan menelusuri anak tangga.
Momo mendengar Lais sedang berbicara dengan seseorang pelan-pelan, sepertinya ada pembicaraan serius.
"Maaf Aura tidak bisa, bukannya kamu punya suami. Laporkan saja padanya jangan padaku, aku juga punya kehidupan pribadi. Aku tidak mau istriku salah sangka lagi." Lais menutup telpon tersebut.
"Mas," Momo mendekat.
Lais langsung membalikkan badan, ia terlihat sedikit panik. Takut sang istri marah lagi jika dirinya masih ada hubungan dengan Aura, meski tadi ia mengangkat telpon secara tidak sengaja.
"Sayang, aku bisa jelasin. Mas tidak tau jika itu Aura sayang, mas sudah blokir nomornya sayang." Berusaha menjelaskan.
"Tidak apa-apa mas, duduk dulu. Apa mas tidak mengantuk, kenapa tidak tidur?" Momo menampilkan senyum ramahnya.
Mata Lais langsung berkaca-kaca, kenapa istrinya bersikap seperti ini. Pasti dia sedang menahan perasaan sakitnya sendiri lagi. Lais merasa tidak pantas menjadi suaminya, ia sering menyakiti hati Momo terus menerus.
"Aku harus hati-hati menjaga perasaan Momo, aku tidak mau ia terluka lagi karena ulahku ini. Aku akan selalu berusaha menjadi suami yang lebih baik lagi dari sebelumnya, aku harus berubah tidak boleh bersikap kekanak-kanakan lagi kedepannya." Janji Lais dalam batinnya.
"Ayo ke kamar mas." Ajaknya lembut.
Lais dan Momo segera menuju kamar dengan bergandengan tangan.
"Mas, perhatianmu yang lebih untuk orang lain, itu bisa menyebabkan kesalah pahaman mas. Apa kamu tau itu menyakitkan, tapi aku tidak mau jadi wanita yang egois. Biarlah aku dan Allah yang tau kepedihan ku ini, aku percaya Allah selalu melindungi orang yang sabar dalam ujian-Nya." Momo mengusap sedikit air matanya. Lais tidak tau jika ia mengeluarkan air mata di pelupuk matanya.
Terkadang cinta itu butuh pengorbanan, dan pengorbanan ini selalu di iringi doa dan keikhlasan yang besar. Memang sakit mencintai dan berjuang sendirian meski berjalan bersama mengarungi pernikahan. Terkadang cinta bisa jadi ragu dalam hati karena sikap yang masih kekanak-kanakan dan terkesan egois. Sebaiknya kita saling mencintai dan menyayangi satu sama lain, supaya tambah kompak dan awet pernikahan ini dan jangan sampai mendatangkan duri dalam daging. Sangat menyakitkan jika tertelan duri yang begitu lancip dan enggan untuk keluar.
***
Berasa baca koran dan puisi dalam hati, maafkan author yang kurang ngena ceritanya. Mohon di maklumi ya karya orisinil asli author halu ini, terimakasih sudah berkenan mampir.
__ADS_1