ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu

ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu
22 Bertemu Hugo


__ADS_3

Resepsionis tersebut hanya tersenyum tanpa membalas pesan Daysi.


"Ada-ada saja. Memang benar-benar orang-orang sekarang jika punya kemauan selalu punya rencana ini itu untuk menemui Pak boss." Intan menggeleng-gelengkan kepalanya karena menurutnya wanita barusan sangat konyol.


Hugo yang baru saja keluar dari lift langsung saja berjalan dengan gagahnya. Para karyawan yang bertemu Hugo langsung menyapanya. Hugo memang tampan tetapi jika di sandingkan dengan Ksatria Malik berbeda sedikit kalau Hugo hitam manis sedangkan Ksatria Malik berkulit bersih.


Akan tetapi hati juga tidak bisa menipu fisik tidak menentukan segalanya yang penting hati dan perasaan yang sama, baru di katakan cinta sejati.


Daysi yang sudah berada di jalan raya hanya tersenyum getir, nasib-nasib yang belum mujur di dalam hidupnya. Dari arah belakang ada suara klakso yang terus di bunyikan padahal Daysi mengendarai sepeda motor bututnya sudah di tepi jalan raya.


"Iihhh... nih orang bikin kesel. Apa tidak melihat jika aku sudah berada di tepi jalan," Daysi segera menepikan sepeda motornya dan langsung mengeruk kaca mobil sang pemilik kendaraan.


TTOOKK... TTOOKK... TTOOKK...


"Buka kacanya, kalau tidak aku pukul nih kaca dengan batu bata." Daysi mengambil satu genggam batu bata yang siap-siap memukul kaca mobil tersebut.


Kaca mobil diturunkan.


"AA... HHAA... HHAA..., kamu sudah tidak mengenaliku Daysi, apa kamu lupa denganku setelah 3 tahun tidak bertemu. Ternyata motor dan helm yang kamu kenakan tetap sama ya, bahkan kamu masih saja mengomel." Hugo meledek Daysi dan segera turun dari mobilnya.


Daysi menatap Hugo dari atas sampai bawah. Daysi menutup mulutnya rapat-rapat seperti melihat seorang aktor terkenal saja. Hugo yang di tatap Daysi seperti itu menjadi salah tingkah.


"Lama tidak bertemu apa tidak berencana mengajak teman lama minum coffe?" Daysi berucap tajam.


"Eeiihhh... lama tidak bertemu aku kira menanyakan kabarku ternyata minta traktiran nih orang! ayo masuk kalau begitu. Pak bawa motor teman saya ya Pak." Ucap Hugo melihat sopir pribadinya yang masih di kursi kemudi.

__ADS_1


"Baik boss," sopir Hugo segera keluar dari mobil si boss.


Hugo segera membukakan pintu depan sebelah kiri kemudinya. Daysi menatap sekilas tanpa senyum seperti dulu.


"Bukannya kata resepsionis nih orang sedang tunangan. Aduhhh di kerjain orang lagi ternyata aku hari ini." Dalam batin Daysi melirik sebentar wajah Hugo.


"Kamu mikirin apa Daysi?" Hugo mendekat ke arah tubuh Daysi dan memasangkan sabuk pengamannya. Daysi diam mematung tiba-tiba tubuhnya membeku. "Aku sudah selesai memasankan sabuk pengaman kenapa kamu masih tegang begitu sih?" tanya Hugo diiringi tawa kecil.


Daysi membuka tas selempangnya dan memberikan kalung berliontin itu ke Hugo. "Nih kalung kamu aku temukan saat aku berkerja di ROYAL MALIK." Daysi memberikan kalung tersebut ke Hugo dan Hugo langsung tersenyum menerimanya.


"Terimakasih ya," Hugo menciumi kalung tersebut.


"Kenapa kamu masih menyimpan kalung itu?" Daysi mengeluarkan ponselnya dan menekan ikon kamera.


CCKKRREEKK...


"Tidak usah menertawakanku kamu, ayo berselfi dulu sebelum kita makan malam." Daysi mengarahkan kameranya dekat Hugo. Hugo segera menepikan mobilnya karena sudah sampi di rumah makan.


CCEEKKREEKK... CCEEKKREEKK....


Daysi tersenyum saat melihat wajah konyol di foto yang terakhir. Dua insan yang menjulurkan lidahnya sambil memejamkan matanya. Hugo tersenyum saat melihat Daysi begitu bahagia.


"Daysi bolehkah aku memelukmu sebentar?" tanya Hugo berhati-hati.


Daysi menatap sekilas wajah Hugo yang memelas ada rasa tidak tega dalam dirinya namun ia juga sadar jika saat ini dirinya sudah memiliki suami meskipun belum ada cinta di kedua belah pihak.

__ADS_1


"Jangan kita bukan anak-anak lagi Hugo, untuk apa kalung itu kamu simpan sementara di kehidupan nyata ini kamu sudah bertunangan?" Daysi menatap tajah mimik wajah Hugo yang kebinggungan.


"Sebagai kenang-kenangan saja Daysi, karena aku merasa bersalah denganmu Daysi lebih tepatnya 3 tahun yang lalu. Seharusnya aku percaya denganmu bukan dengannya yang berwajah dua!" Hugo belum mematikan mesin mobilnya karena mereka berdua belum keluar dari mobil.


"Sudahlah aku tidak apa-apa aku sudah terbiasa di fitnah ini itu bahkan di fitnah merebut suami orang juga pernah, padahal aku tidak pernah kenal dengan suaminya." Daysi teringat sewaktu ia berumur 20 tahun lebih tepatnya 5 tahun yang lalu.


Hugo yang serius dengan study nya tidak tahu jika teman baiknya sejak SMP ini mengalami penderitaan yang bertubi-tubi teramat sangat berat.


"Maaf kan aku oke, jika kamu ingin kembali berkerja di perusahaanku aku siap menerimamu bahkan menjadi sekertaris pengganti Ola yang akan melahirkan 2 bulan lagi. Apa kamu mau?" tanya Hugo memastikan jika Daysi tidak menolak dan memaafkan kebodohannya 3 tahun yang lalu karena memecatnya dengan kejam bahkan tanpa pesangon 1 rupiah pun.


"Aku tidak bisa Hugo, carilah yang lebih baik dariku, aku hanya tamatan SMA saja. Tidak pantas menerima posisi itu orang lain akan iri denganku dan itu membuat aku dalam masalah yang lebih rumit lagi di kehidupanku ini!" Daysi membuka sabuk pengamannya dan segera keluar dari dalam mobil Hugo.


"Aduhh..., hari ini aku benar-benar berjalan dengan tunangan orang lain. Jika ini ketahuan bukannya aku seorang pelakor. Semoga tidak ada yang tau," doa Daysi dalam hati.


Hugo yang telah mematikan mesin kendaraannya segera menyusul Daysi yang sudah berjalan lebih dulu masuk ke rumah makan. Tempat sederhana dan nyaman untuk singgah, apalagi di belakang rumah makan ini ada hamparan sawah yang luas serasa liburan saja saat ini.


"Mau pesan apa mbak mas?" tanya ibu-ibu yang cukup berumur sekitar 45 tahunan.


Daysi tersenyum. "Disini menunya apa saja bu?"


"Nasi ayam lodho suwir, pecel lele dan nasi kuning mbak!" jawab ibu penjual nasi dengan ramah.


"Nasi ayam lodho suwir aja buk 2 posi dan minumnya es teh manis dan tawar buk." Hugo menjawab sepontan ia tahu betul jika Daysi suka dengan nasi ayam lodho suwir.


Daysi tersenyum lebar saat makanan sudah sampai didepan meja. Tanpa menunggu lagi Daysi segera berdoa kemudian memakan makanan kesukaannya dengan lahap sampai berceceran di ujung sudut bibir Daysi.

__ADS_1


"Heyy... jangan buru-buru makannya, nih tisu lap dulu bekas di sudut bibirmu." Hugo memberikan kotak tisu di depan Daysi. Daysi segera mengambil dan menyapu bersih bibirnya yang terkena makanan ternikmat yang ia rasakan hari ini.


Hugo tersenyum bahagia melihat Daysi yang masih sama seperti dulu. Kini Daysi sudah semakin cantik dan dewasa jika dilihat dari penampilannya, bahkan terkesan menggoda jika berpakaian sedikit lebih ketat saja. Untungnya ia selalu menggenakan jaketnya saat keluar di jalan raya.


__ADS_2