
Cheval sudah menunggu sang istri yang selesai wisuda hari ini. Sindy nampak cantik dengan balutan kebaya lantaran toga yang ia kenakan sudah di lepas usai berfoto bersama untuk kenang-kenangan.
"Sindy sayang selamat." Cheval hendak mencium bibir Sindy namun di cegah dengan tangan Sindy lantaran ini masih di area gedung sekolah.
"Kenapa, aku ingin memberimu hadiah sepesial sayang," menyingkirkan tangan Sindy.
"Jangan, aku tidak mau, malu Aa ini masih di area sekolah. Aku tidak mau di kira menggoda kakak aku sendiri." Sindy mengeluh.
Cheval terlupa jika satu sekolah tidak tau jika Sindy dan Cheval pasangan suami istri. Karena masih di area sekolah maka dengan terpaksa Cheval mengurungkan niatnya untuk menikmati dan memberikan hadiah untuk Sindy.
"Baiklah ayo." Menarik tubuh Sindy dan mengajaknya masuk ke dalam mobil Jeep Wrangler nya.
Ksatria, Daysi dan Sacha Mahendra di abaikan begitu saja padahal tadi dari rumah berangkat bersama menggunakan mobil milik Cheval.
"Dasar anak durhaka, berani-beraninya mengabaikan papanya. Hhuhhh... dasar budak cinta jadi lupa segalanya." Ksatria mengomel.
Daysi dan Shaca tertawa melihat ke konyolan bapak satu anak ini.
"Kenapa masih kesal saja, tuh ada sopir yang menjemput sepertinya kamu harus membuang firasat burukmu pada putra menantumu itu." Ledek Sacha dengan iringan tawa.
"Dasar adik ipar tidak sopan," memukul lengan Sacha.
"Sadis." Sacha memegang lengannya yang terasa ngilu.
Seperti inilah jika mereka berdua bersama apalagi di dalam situasi seperti ini, sama seperti animasi gajah dan monyet tetap bersama dan berteman tetapi sering jahil satu sama lain.
"Pa kita ke restoran mau, biar hati papa lega sedikit biar tidak panas terus." Ucap Daysi yang tidak tepat waktu.
__ADS_1
"Tidak usah biarkan panas saja, siapa tau setelah panas parah mobil ini bisa menguap dan meledak," menatap tajam Sacha yang duduk di depan samping kemudi.
"Memang benar-benar kurang waras otak Ksatria ini, apa semakin tua otaknya tertinggal di rumah atau di kamar mandi. Kenapa ucapannya semakin nyeleneh dan aneh saja dari hari ke hari. Sudahlah aku yang masih waras diam saja dari pada ikutan nggak jelas seperti dia." Umpatan dalam hati Sacha.
"Kenapa kamu menatapku seperti itu, apa ada masalah?" Ksatria tidak menyukai tatapan buruk Sacha.
Sacha masih saja menatap Ksatria dari spion.
"Percaya diri sekali ini orang, aku hanya menatap kakak ipar ku Daysi kenapa dia kuat dan tahan bersama denganmu laki-laki tua bangka bau tanah yang sok berkuasa ini," sambil menunjuk Ksatria yang semakin kesal saja terlihat dari raut wajah Ksatria yang memerah menahan amarah.
"Dasar adik ipar durhaka di kutuk emak baru tau kamu." Ksatria melengos setelah mengucapkan kata tertajamnya dalam hidup ini.
Sacha diam tidak bergeming jika sudah mendapatkan perkataan yang menyakitkan dari sang kakak ipar barulah mulut nerocosnya diam.
"Akhirnya tenang juga, pak Amin boleh lanjut perjalanannya dengan tenang dan aman." Daysi menyuruh sang sopir melajukan laju kendaraanya dengan normal lagi.
Restoran siap saji.
Ksatria tidak mau turun dari mobil karena restoran yang di tuju tidak sesuai dengan angan-angan yang ia harapkan.
"Kenapa tidak mau turun lagi, jangan seperti anak kecil yang minta di belikan mainan. Jika tidak mau turun aku dan Sacha saja yang makan, ayo pak Amin tinggalkan dia sendiri saja." Ucap tegas Daysi meninggalkan Ksatria yang memelas di dalam mobil.
"Istriku tunggu aku," Ksatria yang awalnya gengsi kini mau tidak mau ia keluar dan masuk ke dalam restoran.
Makanan semua tersaji di atas meja tinggal mengambil apapun yang disukai. Nanti waiters tau berapa yang di ambil dan di makan konsumen.
"Aku kira masih ngambek." Sacha menyodorkan piringnya pada Daysi dan dengan segera Daysi mengambilkan makanan untuk Sacha.
__ADS_1
Sacha sengaja bermanja pada sang kakak ipar untuk memanasi Ksatria, sudah lama tidak melihat Ksatria cemburu pada Daysi.
"Dia istriku tercinta, jangan mencari perhatian kenapa keganjenan sekali jadi laki-laki." Ksatria menarik lembut tangan Daysi agar tidak melayani adik iparnya yang kurang waras ini.
"Baiklah-baiklah jangan merebutkan aku kasihan tuh pak Amin kita cuekin," Daysi menengahi perdebatan kecil ini.
Amin yang sedari tadi menahan tawa kini tersenyum, ia tidak berani jika nanti ada potongan gaji lantaran menertawakan si bos yang mudah tersinggung ini.
"Amin nanti antar dia jangan sampai rumah jika perlu baru belokan dari sini saja biar dia jalan kaki atau mengeluarkan duit sedikit untuk dirinya, eehh... aku berubah pikiran jangan di hantar biar dia pesan ojek online atau taxi online jika uangnya tidak cukup biarkan dia naik angkutan umum saja." Perintah Ksatria menatap Amin yang tidak berani memakan makanannya lantaran Ksatria terus menatap tajam dirinya.
"Haduh begini amat punya boss, walaupun gajinya besar jika orangnya seperti si boss orang-orang yang mau berkerja untuknya pasti berpikir berulang kali sebelum masuk ke keluarga Malik." Keluh kesah Amin.
Usai makan di restoran siap saji. Sacha mendengus kesal lantaran di biarkan sendirian di depan restoran tanpa di tawari ikut sekalian.
"Nasib... nasib... untung aku masih punya kesabaran jika tidak sudah aku umpat kamu berkali-kali, kenapa meninggalkan aku sendirian. Apalagi aku seorang duda beranak satu jika aku di culik bagaimana." Gumam lirih Sacha.
Ada seorang anak sekitar umur 7 tahun yang mendengar jelas gumaman Sacha yang duduk di depan teras restoran ini.
"Siapa yang mau menculik om?" tanya seorang gadis kecil yang sangat cantik.
"Eehh... tidak ada yang menculik om ko, om hanya menghafal naskah untuk bermain drama saja!" elak Sacha dengan tersenyum manis.
Anak kecil tersebut masih tidak percaya kemudian ia pergi dari hadapan Sacha dan kembali pada orang tuanya yang berada di dalam restoran tersebut.
Sepuluh menit kemudian, taxi yang di pesan Sacha telah datang. Sacha segera masuk ke dalam taxi, hanya ada kesunyian padahal tadi sewaktu berangkat ada orang yang ia ajak berdebat dan saling ejek satu sama lain.
"Sepi sekali, dulu sewaktu kamu masih ada duniaku tidak sesepi ini." Mengusap layar yang ada gambar wallpaper Aurellia.
__ADS_1
Sacha kembali memasukkan ponselnya di saku dan menatap ke arah jendela. Banyak gedung-gedung tinggi yang menjulang dan pohon-pohon yang tertata rapi di tempatnya. Sacha meminta sang sopir untuk melewati taman kota ini hanya sekedar untuk menyejukkan mata dan pikiran yang suntuk seperti sekarang. Banyak pikiran yang menerobos masuk, mulai dari hidup kedepannya dan masa depan Momo sang putri satu-satunya yang ia miliki.