
Cheval yang baru saja masuk sedikit terkejut dengan kedatangan Dhela dengan orang tua nya, setelah menyapa Cheval segera pergi ke kamar untuk membersih kan diri nya.
Makan Malam.
Saat ini rasa nya canggung diam seribu bahasa, Sindy yang sedari tadi makan di sebelah Cheval hanya fokus pada makanan nya sementara Dhela terus-terusan mencari perhatian ke pada kedua orang tua nya dan pada Cheval.
"Aku sudah selesai saya mau pamit terlebih dahulu." Sindy berlalu pergi setelah meminta izin dengan sopan dan di iringi senyum cantik nya.
Cheval yang masih menikmati makanan nya hanya diam, ia tidak ingin semua orang curiga jika diri nya ada rasa lebih dari seorang kakak pada Sindy ke semua orang yang sedang berbahagia ini.
Usai makan malam Dhela menolak pulang ia ingin berdua dengan Cheval. Mau tidak mau Cheval menerima nya ia tidak ingin orang tua Dhela dan orang tua angkat nya kecewa ada tamu namun ia acuh kan.
"Kata mama kamu, di kediaman ini ada tempat main golf, kesana yuk ajarin aku." Dhela dengan berani menarik lengan Cheval dan mengajak nya kesana.
Cheval hanya menghela nafas dengan tingjah centil Dhela pada diri nya. Hanya untuk kali ini ia menuruti untuk selanjut nya tidak ada lagi.
Sindy yang sedang menyenderkan dagu nya di pembatas balkon hanya tersenyum kecut saat melihat sang kakak dengan cewek super nyebelin sedang bermain golf bahkan sesekali Dhela mengusap keringat yang ada di wajah tampan Cheval.
"Haduh... kemana-mana tebar pesona terus," Sindy masuk ke dalam kamar ia tidak mau melihat pemandangan selanjut nya. Sudah pasti sama seperti yang ia lihat baruasa.
Sindy mengrenyit kan dahi nya kenapa ia merasa kesal jika sang kakak berdua dengan Dhela, seharus nya mendukung setidak nya nanti saat di sekolah Dhela tidak mengolok-olok nya lagi karena cemburu.
Cheval yang tidak sengaja melihat Sindy yang tadi berada di balkon bersedih. Sebenar nya ia mau di ajak bermain lantaran melihat sang adik berada di balkon sambil menempelkan dagu nya di pembatas. Ingin melihat sang adik apa ada rasa cemburu melihat kakak nya dengan wanita lain namun bukan nya berhasil membuat Sindy marah malah ia melihat Sindy tersenyum kemudian masuk ke dalam kamar nya.
"Pulang lah ini sudah malam, biar mang Slamet yang menghantar." Ucap dingin Cheval berlalu pergi.
Dhela yang mendapat perlakuan seperti ini berdecak kesal. Untung tampan dan mempesona jika tidak makian serta sumpah serapah terlontar dari bibir tajam Dhela.
__ADS_1
Di dalam kamar.
Cheval hanya menatap foto Sindy yang ia curi saat Sindy tersenyum ketika menyiram bunga di kebun beberapa minggu yang lalu. Sambil mengusap dan mencium foto tersebut.
"Cantik, apakah aku salah jika memiliki rasa denganmu. Kenapa kamu selalu dingin denganku Sindy, tidak bisa kah kamu sedikit saja memberiku harapan. Apa memang caraku yang salah mendekati kamu, aku harus merubah strategi mulai sekarang semangat Cheval," sambil menyemangati diri sendiri.
Pagi hari.
Sindy yang sudah selesai sarapan bergegas pergi dan berpamitan pada mama dan papa nya, Ksatria terkejut kenapa Sindy seperti ini lagi.
"Ma... apa Aa sama Sindy bertengkar lagi?" memotong daging ayam dan memasuk kan nya ke dalam mulut.
"Tidak pa, mereka baik-baik saja mungkin Sindy ada tugas dari sekolah sampai ia berangkat dulu." Daysi menenagkan sang suami biar tekanan darah tidak naik.
Cheval yang baru saja turun tersenyum bahagia namun sesampai nya di ruang makan ia terkejut melihat sang adik sudah tidak ada.
"Iya, kenapa boy sudah rindu." Ksatria tersenyum lebar saat mengoda sang putra.
"Apaan sih pa, tiap hari ketemu kenapa rindu," Cheval memakan makanan nya yang baru saja di ambil kan oleh Daysi.
Di sekolah.
Sindy memarkir kan sepeda motor nya dan langsung menuju kamar mandi untuk berganti pakaian karena pagi ini ia ada latihan untuk persiapan minggu depan. Lari jarak pendek akan di adakan setiap sekolah akan mengirim siswa siswi nya yang terbaik untuk mewakili sekolah mereka masing-masing.
"Lihat tuh si cantik Sindy." Salah seorang teman laki-laki yang menujuk Sindy yang baru datang.
Seragam olah raga dengan sepatu yang pas dengan kaos yang ia kenakan seta rambut di kucir kuda sangat menawan di tubuh Sindy yang ideal. Sebelum lari Sindy melakukan pemanasan kecil biar otot tidak tegang.
__ADS_1
"Sindy sudah siap." Tanya guru pembimbing, Sindy menangguk kan kepala nya.
Dengan start jongkok Sindy sudah siap untuk berlari setelah tiupan peluit terdengar Sindy berlari dengan cepat. Seusai latihan Sindy menenggak air mineral yang sudah di siapkan tadi.
"Hai cantik," sapa Lais yang sedari tadi mengawasi latihan Sindy.
"Bolos ya," ledek Sindy dan duduk di samping Lais.
"Kata siapa bolos, tadi bu guru menyuruh ku untuk ambil buku di perpustakaan tapi saat aku melihat lapangan ada kamu yang latihan aku mampir sebentar. Hebat ya kamu pantesan sewaktu SD dulu kamu cepet banget ngilang saat aku kejar, ternyata ini jawaban nya," sambil cekikikan.
Cheval yang baru datang ke kampus mencoba mengecek keberadaan Sindy sebelum masuk jam kuliah, Cheval mencibir ia begitu hawatir dengan sang adik malah ia mendapati sang adik sedang asik mengobrol dengan seseorang yang ia temui kemarin di toko buku.
Saat berbalik badan Cheval malah tidak sengaja bertabrakan dengan Dhela yang baru saja keluar dari toilet.
"Aa... kenapa ke sini?" tanya Dhela menatap ke arah lapangan.
"Tidak kenapa-kenapa," jawab Cheval berlalu pergi.
Dhela menghentak kan kaki nya sambil berjalan kembali ke dalam kelas nya.
Di dalam kelas.
Mata pelajaran kuliah jam ini membuat Cheval sangat tidak berkonsentrasi lagi pikiran nya melayang-layang ke udara. Lay dan Daylon yang melihat ada kesedihan di sertai kegalauan menepuk pundak Cheval saat Dosen menujuk nya untuk menjelas kan mata kuliah pagi ini. Cheval langsung menjawab sepontan yang ia tau dan ternyata jawaban nya langsung benar meski pikiran nya tidak fokus sama sekali.
***
Jangan lupa jaga kesehatan ya.
__ADS_1