
Saat berada di dalam kamar Daysi masih belum berani bergerak bebas karena ia masih merasakan nyeri gara-gara ulah Ksatria tadi, Ksatria duduk di samping Daysi dan mulai menyuapinnya dengan lahapnya Daysi makan karena terus terang saja setelah pertempuran tadi tenagannya habis belum lagi karena ia belum makan juga tadi sore.
"Apa makanannya sangat enak?" Ksatria mencoba satu sendok. Daysi menganggukan kepalannya karena di dalam mulut penuh dengan makanan. "Eemmm... enak sekali pantas saja, bukannya ini masakanmu Daysi?"
"Iya itu masakanku, sebenarnya tadi mbok Yati dan Mala juga memasak kenapa kamu tidak mencoba masakannya Ksatria?" menatap mata hitam milik Ksatria.
"Karena..., harumnya masakanmu bisa tercium dalam jarak ratusan meter saja bisa tercium wangi masakanmu!" gombalan Ksatria pada Daysi.
"AAA... HAA... HAA..., mana ada jarak ratusan meter baunya masih tercium. Yang ada itu bau limbah di sungai yang aku lihat beberapa minggu yang lalu, kalau itu aku percaya. Tetapi kalau masakanku belum ada 10 meter saja bau sudah hilang karena masuk perut. AAA... HAA... HAA." Daysi masih saja terpingkal-pingkal dengan ucapannya barusan.
Ksatria tidak tinggal diam ia meletakkan nampannya di meja kecil sebelah ranjang tidur dan mulai menggelitik bagian tubuh Daysi yang sensitif, Daysi berusaha menghindari namun percuma Ksatria lebih cepat pergerakannya.
"Hhaa... hhhaaa... hhaa..., stop Sat aku gak kuat." Melambaikan tangannya yang mengisyaratkan Ksatria untuk berhenti mengelitikinya.
"Oke tidak akan aku gelitiki lagi tapi dengan satu syarat," sambil mengacungkan jari telunjuknya.
"Apa?" Daysi duduk tegap di ranjang tidur.
"Cium aku disini!" menujuk bibirnya. Daysi mengerutkan alisnya dan dengan segera mencium Ksatria sekilas.
"Sudahkan." Daysi segera menyelimuti dirinya lagi.
Ksatria mengusap bibirnya, "aishh... apa-apaan ini kenapa aku tidak merasa sedang di cium, cuma menempel sebentar bahkan tidak ada 2 detik?" Ksatria menyingkap selimut yang di gunakan Daysi untuk menyelimuti tubuhnya yang masih polos.
__ADS_1
"Sat jangan meminta lagi. Aku malu, sana-sana aku mau ke kamar mandi untuk membersihkan diri." Daysi bergegas ke kamar mandi.
Ksatria hanya tersenyum saat melihat tubuh Daysi yang polos tanpa pakaiannya. Kemudian Ksatria menatap kasur yang ia kenakan bercinta tadi, terukir senyum di wajah Ksatria saat melihat ada bercak darah di sprai dan selimut. Ksatria mengemasnya dan memasukkan selimut dan sprai ke dalam koper kecil dan menyimpannya di dalam almari.
Mungkin jika orang lain tau pasti di kira lebay karena menyimpannya di dalam koper dan di masukkan dalam almari, tetapi untuk seorang Ksatria itu amat berati dalam hidupnya. Untuk yang pertama dalam hidupnya melakukan hal terindah bersama dengan istri tercintanya.
Daysi yang baru saja keluar dari kamar mandi langsung menuju ruang ganti baju dan mengenakan pakaian tidur sebelum melihat apakah Aak sudah tidur atau belum jam segini. Sebelum keluar kamar ia menatap ranjang tidur yang polos tanpa kemasan, kemudian senyum terukir di wajah Daysi saat melihat Ksatria baru masuk kamar sambil membawa sprai mungkin dari gudang penyimpanan.
"Sprai dan selimut kemana?" Daysi berjalan mendekati Ksatria, karena saat melihat di ruang ganti tidak ada sprai dan selimut di kranjang baju kotor.
"Aku masukkan koper Daysi!" Ksatria memasang sprai dengan rapi.
"Untuk apa, kan kotor sprai sama selimutnya?" Daysi duduk di sofa.
Ksatria mendekat dan langsung saja menjitak dahi Daysi dengan keras. TTAAKK...
"Iisshh... menyebalkan lebih baik aku ke kamar Aak aja dari pada di sini." Daysi berdecak kesal karena tidak berhasil melempar bantal pada tubuh Ksatria.
Saat berada di kamar Aak Cheval, Daysi menyentuh pipi gembul milik Cheval dengan mengusapnya perlahan takut Cheval terbangun lagi. Karena tadi sore sebelum Ksatria pulang ia menangis kencang dan sangat rewel dan sulit di tenangkan.
Ksatria yang menyusul Daysi masuk kamar Aak Cheval tersenyum bahagia, dulu ia sangat hawatit jika dirinya tidak akan pernah menyukai pernikahan ini namun seiringnya waktu keras hatinya luluh di hadapan Daysi. Bahkan jika ia tidak melihat wajah cantik istrinya ini hidupnya terasa hilang.
Ksatria segera pergi dan menuju gasebo rumah, karena malam belum begitu larut Ksatria ingin menikmati pemandangan di langit siapa tau ada bintang jatuh di sana. Dan akan meminta permemohonan.
__ADS_1
Ada seklelap cahaya yang jatuh dengan cepat, segera Ksatria memohon Kepada Sang Pencipta untuk melanggengkan pernikahannya dengan baik dan meminta agar segera di beri kepercayaan untuk memiliki buah hati sendiri.
Daysi masuk kedalam kamar meninggalkan Aak Cheval untuk di jaga Ria malam ini. Daysi menyingkap gorden kamar Ksatria dan menuju balkon sambil bersantai dan menghadap ke arah langit yang bertabur bintang malam ini.
Pagi hari.
Seperti biasa Daysi menyiapkan segala keperluan suaminya untuk ke hotel. Dengan memasak makanan kesukaan yaitu ayam kecap menjadi menu andalan Daysi padi hari. Bau wangi masakan Daysi menusuk hidung Ksatria yang baru saja selesai mandi dan mengenakan dasinya menelusuri anak tangga menuju dapur.
"Pagi sayang." Ksatria mencium pipi Daysi sambil memeluknya dari belakang.
Mbok Yati dan Mala yang melihat adegan ini tersenyum bahagia melihat si bos dan istrinya semakin bahagia pernikahannya. Keputusan Aurellia kabur waktu itu dan tidak akan kembali kini membuahkan hasil yang begitu manis. Karena mbok Yati jadi saksi kepergian Aurellia selain Ria dan Mala.
"Sat..., apa yang kamu lakukan. Nanti bajumu bau kalau kamu di sini terus, kamu masuklah ke ruang makan sebentar lagi aku hantarkan kesana makanannya." Sambil melepas pelukan Ksatria yang ada di perutnya.
Ksatria berjalan menuju ruang makan selang beberapa menit Daysi mendorong meja sambil membawa beberapa masakan, sebenarnya Mala ingin menghantarkan makanan untuk si bos dan istrinya namun selalu di tolak mentah-mentah oleh Daysi yang katanya ia masih bisa dan tugas istri melayani suami.
"Aku ambilkan ya," diiringi senyum menawannya.
Ksatria memakan masakan Daysi dengan lahap sampai ada sisa kecap di sudut bibir Ksatria.
"Sini aku lap, kenapa seperti anak kecil saja makan blepotan seolah-olah takut makanannya di ambil orang bahkan terburu-buru." Mengelap dengan telaten.
"Terimakasih sayang, nanti siang hantar makanan ke hotel ya. Aku ingin masakanmu seperti ini lagi," Ksatria tersenyum tanpa memiliki rasa dosa telah menghabiskan 4 potong ayam barusan.
__ADS_1
"Iya, nanti waktu makan siang aku kesana ya." Mengambil air putih dan menyodorkan pada Ksatria.
Untungnya Daysi sudah mengambil satu dan di letakkan di piringnya jika tidak pasti ia tidak kebagian lagi ayam kecap buatannya pagi ini.