
Dilan benar-benar menggagahi Princess dan merampas mahkotanya dengan kasar tanpa menunggu persetujuan dari Princess. Percuma juga Princess menangis sekarang, tidak akan ada yang mendengar tangisannya sebab ruangan ini kedap suara.
Dilan menatap ke arah sensitif Princess ia terkejut dengan apa yang ia lihat dan hampir tidak percaya. Beberapa kali ia memeriksa apa benar ini darah kegadisannya, pasti bukan.
"Siapa laki-laki yang tidur denganmu kemarin usai kamu saya pecat kak?" pertanyaan menyakitkan datang dari mulut Dilan.
"Dilan, aku-- aku-- belum pernah tidur dengan siapa pun Dilan, kamu yang pertama!" jawabnya terdengar lemah sekali.
"Bohong, kamu pembohong kak. Kenapa kamu membohongi aku kak Princess." Dilan diam-diam menangis dan tidak berani menatap Princess.
"Aku tidak berbohong Dilan, kamu yang pertama Dilan," Princess meyakinkan Dilan.
"Terus jika aku yang pertama, lalu ini siapa. Hah ...." Bentaknya di akhir kalimat yang langsung menusuk hati Princess.
Princess hampir tidak percaya dengan apa yang ia lihat, kenapa wajahnya mirip sekali dengannya. Bahkan tubuhnya sama seperti dia, bergelayut manja di lengan seseorang dan masuk ke sebuah hotel terbesar di kota ini. Princess menutup mulutnya, kapan ia pergi ke hotel itu dan siapa yang merekam Vidio itu dan mengirimkannya pada Dilan.
Pantas saja dirinya di larang keluar oleh Dilan dari kemarin sampai pagi ini, apakah ini alasannya.
"Iya, itu aku. Sudah puas, usir aku dari sini. Aku membuat malu kamu bukan dan keluarga besar Malik dan Mahendra bukan." Princess sama sekali tidak menangis di hadapan Dilan.
Dilan mengepalkan tangannya.
Plak
"Wanita murahan, jala*g dasar penghianat yang ulung." Dilan tanpa sadar berucap sebegitu menyakitkan pada Princess.
Mata Princess berkaca-kaca.
Lalu ia menundukkan kepalanya.
"Selamat tinggal Dilan." Ucap lirih Princess yang mengambil beberapa pakaian yang berada di lemari.
Ia segera mengenakan pakaian dan beranjak pergi dan tidak akan kembali lagi ke tempat dimana dirinya dihina sampai titik terendah.
Princess menyeret kopernya usai membersihkan diri, ia tidak lama-lama saat membersihkan diri sudah cukup penghinaan yang di berikan Dilan Malik padanya, kini ia harus rela pergi dari tempat ini tempat di mana ia di rawat sampai ia ada rasa cinta pada putra angkat keluarga Malik tentunya. Dan tempat di mana iya kehilangan kesuciannya, sebanyak 2 kali Dilan melampiaskan nafsunya.
'Bahkan untuk menelan salivaku saja sangat sulit, bagaimana aku menelan omongan orang jika mereka tau aku sudah tidak gadis lagi saat ada yang meminangku kelak?' Princess larut dalam pikirannya.
'Bahkan Dilan tidak menghentikan langkahku pergi.'
Deg
Momo tiba-tiba ada di depan rumah dan baru saja keluar dari mobil.
"Princess, kamu mau kemana nak?" Momo berusaha menghentikan langkah kaki Princess dan langsung menghampiri putrinya.
"Princess .. Princess ..., em ... mau mandiri Ma. Bolehkan!" sambil menampilkan senyum termanisnya, tapi dalam hati ia menangis tersendu-sendu.
Untuk berbicara jujur pada mamanya Momo sangat memalukan sekali, pasti sang Mama berpendapat jika ia perempuan yang tidak dapat menjaga harta satu-satunya untuk pasangannya kelak. Apalagi keluarga Malik dan Mahendra sangat menghormati orang lain, tapi mereka tidak akan pernah tau apa yang baru saja di anak angkat laki-lakinya yang paling kecil dan muda itu.
"Kenapa mendadak sayang, apa tidak bisa satu Minggu lagi. Lagian bukannya kamu sudah mandiri di sini dengan Dilan?" mama Momo berbicara apa adanya.
Dulu Momo tidak rela melepaskan putra putrinya untuk mandiri tapi tetap satu rumah, tapi kenapa sekarang Princess ingin pergi dan lebih mandiri lagi, ini ada sesuatu yang tidak beres dan harus segera mencari Keberadaan Dilan dimana bocah nakal itu berada sekarang.
"Kamu pergi gara-gara Dilan? apa yang di perbuat oleh dia?" Momo selalu peka dengan anak-anaknya.
Tanpa menunggu jawaban Princess dia pergi begitu saja dan menuju kamar Dilan, tapi tidak di temukan Dilan dan langsung mencari ke kamar Princess. Sedangkan Princess bergegas pergi dari rumah ini dengan menggunakan jasa taxi online yang sudah ada di depan rumah.
Momo geram dan langsung menyibakkan selimut yang menutupi tubuh Dilan bagian bawah, betapa terkejutnya saat ia melihat putranya tanpa sehelai benang.
"Kamu ... kamu ..., kenapa bertelanj4ng Dilan? apa yang kamu lakukan pada Princess kakak kamu, Dilan?" mencengkram selimut yang ia pegang.
Momo langsung pingsan di tempat, Dilan kalang kabut dan langsung mengenakan semua pakaian yang tadi berserakan di sofa.
Setengah jam kemudian.
Momo membuka mata ia baru saja bangun, ia menatap kesana kemari jika yang ia lihat tadi hanya mimpi belaka dan bukan kenyataan.
"Dilan, di mana Princess kesayangan Mama?" tanyanya mencari gadis kesayangannya.
Dilan menggelengkan kepalanya, bertanda iya benar-benar tidak tau keberadaan Princess sekarang.
__ADS_1
"Cari dia Dilan, Mama mohon sama kamu. Jika kamu tidak menginginkan kehadirannya biarkan Mama yang merawatnya lagi, kamu jangan usir dia lagi." Momo terus menangis lagi, bahkan matanya sangat sembab.
Dilan begitu frustasi, bagaimana dia berbicara pada Mamanya secara jujur jika ia baru saja menodai Princess dan merendahkan harga diri Princess. Pasti Mamanya tidak akan pernah memaafkannya lagi, bahkan akan mengganggap dirinya bukan putranya lagi. Tidak bisa ia harus menyembunyikan ini semua dan ia tidak akan mencari Princess demi Mamanya, ia lebih baik membiarkan Princess pergi dari hidupnya dan supaya Princess juga tidak buka mulut atas perbuatannya.
"Iya Ma, Dilan usahakan," hanya sebagai pemanis di bibirnya yang penuh dengan dusta.
Di tempat lain.
Apotek 24 jam.
Princess sedang berada di apotik untuk membeli pil kontrasepsi untuk mencegah adanya janin yang tidak di harapkan.
Princess menenggak pil tersebut lalu meminum air putih sebanyak setengah botol, meski pil itu kecil namun ia tidak biasa meminum obat membuatnya kesusahan menelan.
"Aku harus cari tempat kos yang ada di luar kota ini, lebih baik aku ke stasiun dan membeli tiket kereta api." Princess kembali masuk ke dalam taxi yang ia tumpangi.
Princess menatap seluruh tubuhnya, ia merasa sangat kotor sekali meski ia sudah mandi. Di tempat ini ia sekarang akan menetap, di kota kecil tanpa adanya kendaraan besar dan juga jalanan yang macet setiap harinya.
Setelah menempuh perjalanan sekitar 4 sampai 5 jam lamanya, ia langsung mendapatkan rumah kontrakan sederhana.
"Tetap bersyukur, meski bukan rumah mewah tapi setidaknya masih layak di pakai satu orang. Rumah sederhana i am coming dan semoga rumah ini menjadi awal baru untukku melanjutkan hidup dan melupakan bayang-bayang bajing4n picik itu."
Rasanya dada ini sesak dan teramat sakit jika mengingat perilaku Dilan yang lembut dan baik namun dalam sekejap berubah menjadi orang lain kasar dan aneh.
Princess menatap ponselnya.
Foto Dilan ia hapus dari wallpaper depan, rasanya muak sekali menatap wajahnya. Mau menangis, semua sudah terjadi dan terlambat untuk menyesal.
"Wajah itu, siapa wanita itu? kenapa dia mirip sekali dengan aku. Tidak mungkinkan jika aku memiliki kembaran? tapi bisa jadi jika aku dan dia ada ikatan lagian selama ini aku di rawat Mama Momo meski aku pernah melihat mama Aura tapi dia meninggalkan aku dan di aku di rawat oleh Papa Lais suaminya mama Momo." Princess merebahkan tubuhnya di atas kasur.
Ia memilih bersantai dan menikmati tempat baru ini dari pada melakukan hal yang lain.
Beberapa bulan kemudian.
Hari ini Princess belajar membuat kerajinan tangan usai mencari pekerjaan yang tidak kunjung seperti yang ia harapkan, saat ada pekerjaan malah pekerjaan itu yang hendak membunuh kokohnya dinding hati yang ia bangun. Pekerjaan yang hampir sama lagi dengan masa lalunya dan di tambah lagi perusahaannya ada kerja sama dengan perusahaan milik keluarga Malik dan Mahendra.
"Apakah kepergianku di cari oleh Mama atau Papa dan mereka semua atau dia?" Princess menghela nafas saat ia memasukkan benang di jarum jahit.
Tok
Tok
Tok
Princess menatap pintu kayu berwarna coklat yang ada di depannya sekarang, siapa yang datang.
Princess segera bangkit dan meninggalkan pekerjaan barunya, saat ia membuka pintu hanya diam seribu bahas. Kenapa dia bisa tau sekarang dirinya berada di tempat ini, padahal ini sudah luar kota dan berada jauh dari jalan raya yang ramai kendaraan berlalu lalang.
"Apa aku tidak di izinkan masuk Princess?" tanya orang yang ada di depannya dengan senyum manis dan cantiknya.
Siapa lagi jika bukan Lian dan dari mana ia mendapatkan alamat rumahnya ini.
"Ada seribu pertanyaan di otak aku, ngaku dari mana kamu dapat alamat rumahku Lian?" ketus sekali ucapannya.
"Santai dong Princess, apa kamu tidak tau jika kita ini tempat kelahiran Papa aku, hari ini genap kepergian Papa aku yang ke sebelas tahun Princess!" jawabnya sambil memberikan buah tangan.
"Turut berduka cita Lian, oh ya bagaiman dengan kabar kekasih kamu yang bernama siapa itu Isabel?" sangat antusias sekali.
"Dia baik dan sudah sembuh bersama dengan hatinya yang tidak lagi untukku Princess!" jawabnya benar-benar sad boy sekali Lian sekarang.
"Maksudnya apa?" jadi bingung sendiri.
"Aku dengannya sudah putus tiga bulan yang lalu, ternyata sakitnya bukan karena rahimnya bermasalah namun ada bayi di dalamnya. Pantas saja ia tidak mau aku sentuh perutnya sebab ia mengandung anak orang lain!" mengusap air mata yang sedikit ada di pelupuknya.
"Sabar oke." Hanya bisa berucap ini Princess.
'Kamu masih beruntung Lian, tidak sepertiku. Yang di hina seperti wanita jalan* yang tidak menjaga dirinya dengan baik bahkan hartaku satu-satunya sudah hilang dan di renggut paksa oleh Uang.' Princess membatin sendiri tanpa mau ada orang lain yang tau.
Princess tersenyum saja padahal dalam hati ia merasakan perih yang teramat dalam sekali.
"Iya, aku orang paling sabar loh di dunia ini. Bahkan saking sabarnya aku selalu jadi bahan uji coba orang lain seperti itu, di tambah lagi wajahku yang terlihat mudah di manfaatkan," Lian curhat.
__ADS_1
"Oke ... oke ... kamu tidak akan jadi tempat yang aku manfaatkan saat butuh. Tapi Lian," sambil menepuk bahu kiri Lian.
Lian menatap malas Princess, pasti wanita ini sama dengan mantan yang di samarkan namanya.
"Apa?" menatap malas wajah Princess.
"Ko begitu sih ekspresinya, seperti aku ini pembawa mala petaka saja untuk kamu. Pergi sana-sana pulang dan tinggalkan tempat ini dan kamu jangan kesini lagi Lian!" usir nya mendadak sekali.
"Kenapa mengusir aku sih, padahal rumah ini nyaman sekali loh untuk di tempati. Bagaimana jika aku menginap dan tinggal di sini." Menawarkan diri sendiri.
"TIDAK BISA, PERGI SANA," Princess mendorong tubuh Lian agar segera pergi.
Usai berhasil mengusir Lian, ia bernafas lega setidaknya sedikit masalahnya teratasi dengan baik.
Di kediaman Mahendra.
Sebagai papa angkat ia kecewa dengan pengakuan Dilan Malik anak angkatnya dan juga Papa Ksatria dan Mama Daysi, kelakuan macam apa ini. Kenapa dia tega menodai Princess bahkan tidak berusaha mencari keberadaan Princess.
"Kenapa tidak bertanggung jawab dan mencari dia Dilan?" Lais bertanya dengan nada berapi-api marah.
"Tidak ingin!" jawaban Dilan langsung mendapat pukulan tongkat di area dahinya.
DUK
Dengan kerasnya pukulan itu terjadi.
"Dasar anak kurang ajar, kamu ...." Hendak marah lagi namun tiba-tiba dadanya terasa sesak dan membuat satu rumah hawatir di buatnya.
"Papa."
"Papa." Dilan langsung membantu namun di tepis olehnya dan langsung di tunjuk oleh Lais Erdana Khan.
"Momo sayang, usir dia dari sini." Perintahnya menunjuk Dilan dengan lirih sambil mengertakkan giginya.
Dilan yang mendengar langsung beranjak pergi, memang pantas dirinya mendapatkan ini atas perbuatannya yang melukai Princess, perempuan cantik manis dan pintar.
Kediaman Alam.
Alam sedang melihat-lihat foto waktu Lana kecil dan sebelum istinya masuk ke Rumah Sakit jiwa dan juga sebelum ibu mertuanya meninggal dunia.
"Sebaiknya aku datang ke rumah Om Ksatria, mungkin saja ada sedikit petunjuk tentang Lana. Aku yakin Lana adalah putri kecil kami yang hilang bertahun-tahun lamanya itu, semoga saja benar dengan menunjukkan foto itu." Alam dengan penuh keyakinan mencari kunci mobil dan bergegas pergi.
Rumah ini ia pandangi dengan senyum bahagia, ia sudah tidak sabar menanti rumah ini kembali ramai dengan suara tawa istri dan putrinya nanti.
"Semoga benar." Alam bergegas masuk ke dalam mobil dan melaju pergi dengan mobilnya menuju kediaman Malik.
25 menit kemudian.
Seharusnya perjalanan tempuh hanya 10 menit dari kediamannya sebab ada sedikit kendala di jalan selain rambu lalu lintas ada kecelakaan dan mengakibatkan macet untungnya tidak lama.
"Maaf Pak, cari siapa?" tanya satpam yang berjaga di pintu gerbang.
"Om Ksatria ada di rumah, saya kerabat dari Om Tao dan ingin bertemu dengan beliau!" sambil menunjukkan identitas dirinya.
Satpam tersebut langsung menelpon rumah dan menanyakan apakah Bapak ada dan bisa di datangi tamu pagi ini.
"Bapak ada di rumah, tapi beliau sedang istirahat dan baru saja beliau terkena serangan jantung ringan." Satpam tersebut prihatin dengan majikannya, bahkan sebelum ada tamu Bapak ini dia membuka gerbang untuk tuan muda keluarga ini siapa lagi jika bukan Dilan Malik dan lainnya.
"Jadi, bagaimana keadaannya sekarang. Bolehkah saya menjenguk beliau?" kembali bertanya.
"Silahkan Pak, di dalam ada nyonya Daysi juga!" bergegas membuka gerbang.
Alam menghela nafas panjang saat masuk ke dalam kediaman Malik, rumah ini sudah lama ia tidak datang semenjak istrinya terkena depresi berat dan harus mendapatkan penanganan khusus di Rumah Sakit Jiwa.
"Selamat siang Om Ksatria." Tersenyum dan berjalan mendekati Ksatria.
Ksatria Malik tersenyum melihat Alam yang wajahnya masih sama seperti dulu, Alam adalah teman baik menantunya namun sayang sang menantu lebih dulu pergi meninggalkan dunia ini, dan sejak saat itu Alam jarang berkunjung ke rumah ini.
"Dimana istri dan putrimu, bukannya seharusnya dia sudah besar. Saya ingat kamu membawanya saat ia berumur dua tahun dan sudah berbicara meski belum jelas?" pertanyaan Ksatria Malik mendapat sambutan tersuram dari wajah Alam.
'Ada apa ini sebenarnya?' Ksatria bingung begitu juga Daysi.
__ADS_1