
Like dan rate.
***
Sindy yang berada di dalam kamar menonton drama yang paling terbawa perasaan yang sedang viral di media sosial.
"Dasar wanita jahat, demi keuntungan sendiri tega mengorbankan saudara bahkan orang tua terkena imbasnya, dasar perempuan ular ini." Omelnya pada pemeran antagonis tersebut, sambil mengetuk-ngetuk layar ponselnya dengan jari telunjuk, saat pemeran antagonis tersebut keluar dari persembunyiannya.
Cheval yang penasaran langsung melihat ponsel Sindy yang terdapat sebuah drama yang asing menurutnya.
"Kenapa sih kamu marah-marah pada aktingnya?" Cheval duduk dan menyandarkan dirinya di ranjang.
"Dramanya terlalu mengena di hati penikmatnya, apa salah sih Aa jika kita sebal dengan pemeran antagonisnya jika itu ada. Lagian ya Aa siapa suruh dia mau jadi antagonis dan di hujat perannya yang seperti itu. Padahal nih Aa, lihat nih wanita ini. Terlihat imut dan kalem kan, tapi kelakuannya hhuhhh buat orang panas dalam dadakan!" Sindy berbicara panjang lebar.
"Nih minum penyegar dulu, untung Aa membawanya biar gak panas dalam." Candaan Cheval membuat Sindy ingin menerkamnya hidup-hidup.
"Aku serius dia bercanda, sungguh menyebalkan sekali Aa nih," Sindy tetap saja mengambil minuman tersebut.
"Aa kira kamu bakalan marah dan tidak mau mengambil minumannya, ternyata di ambil juga minumannya." Ledek Cheval sambil membuka penutup kaleng tersebut.
Sindy yang masih menikmati drama yang membuat panas dalam sampai sariawan gagra-gara ngomel-ngomel sendiri dengan karakter-karakter yang di ciptakan sutradara drama tersebut.
"Dasar penjilat ludah sendiri, bukannya kamu sendiri tadi yang pura-pura minum. Syukurin kena karma instan, makanya jadi orang jangan cari perhatian lebih demi cinta yang tidak mungkin kamu gapai dasar wanita ular." Sindy meletakkan ponselnya dan menjeda tontonan nya.
Cheval yang sedari tadi ada di samping Sindy mulai merasa tidak nyaman, istrinya ini suka sekali menonton drama yang membuat emosi meledak-ledak.
"Ke balkon saja deh dari pada dengerin istri yang mengomel sambil pukul-pukul tempat tidur dan bantal, kasihan mereka jadi korban." Berbicara sangat lirih, takut macan betina ngamuk.
Sindy menatap dari ekor matanya saat suaminya beranjak pergi dari sampingnya. Sindy lanjut menonton drama tersebut dari EP 01 sampai EP 20. Drama yang ia lihat hanya cuplikan-cuplikan saja, ia tidak sanggup melihat satu EP yang pemutarannya menghabiskan waktu 45 menit.
__ADS_1
Cheval yang dari dulu tidak pernah merokok jika dirinya merasa kesepian, kini dia ingin mencoba sesuatu yang belum pernah ia coba. Beberapa kali ia melihat mahasiswanya sedang menghisap rokok di luar jam kuliah.
"Apa rasanya itu enak, jika enak kenapa banyak orang sakit gara-gara mencium aroma rokok. Pasti ada yang tidak beres dengan asap rokok, coba aku lihat di internet." Cheval yang belum pernah menjelajahi tentang rokok ia menulis beberapa kata yang bersangkutan.
Ternyata penyebabnya satu, orang perokok aktif dan pasif cenderung lebih bahaya perokok pasif atau yang menghirup asap rokok. Orang yang sering terpapar asap rokok cenderung terkena penyakit berbahaya dari efek asap rokok tersebut.
"Tidak jadi saja, dari pada nanti orang-orang sekitarku sakit karena ulah ceroboh ku ini, lebih baik perbanyak melakukan kegiatan yang bermanfaat, di dunia dan akhirat." Cheval kembali masuk ke dalam kamar.
Sudah berapa lama Cheval keluar dan menatap langit, saat masuk istrinya sudah tertidur dengan ponsel yang masih menyala dan drama yang ia tonton sampai menonton dirinya yang sedang tertidur.
"Sayangku lucu sekali, tadi mengomel drama yang di tonton tapi sekarang dramanya yang mengomeli penontonnya lantaran tidak di lihat." Membenarkan tidur Sindy dan mematikan ponsel yang di gunakan Sindy.
Cheval yang sudah mandi setelah memasak tadi kini ia masuk ke kamar mandi lagi, sudah biasa sebelum tidur dia mandi lagi meski tadi usai memasak ia mandi.
"Hah... segarnya." Cheval meletakkan jubah handuknya di ruang ganti dan kini mengenakan baju tidur.
Pagi hari.
Sindy menguap beberapa kali, ia masih kurang dengan tidurnya. Hari libur seperti hari ini sangat membosankan jika hanya duduk di rumah dan berdiam diri seperti patung tanpa nyawa.
"Jalan-jalan yuk Aa." Menatap ke samping yang suaminya sudah tidak ada di tempat.
"Kemana sih Aa, untung Aa tidak ada dan aku hanya berucap satu baris tidak lebih?" Sindy membuka selimutnya dan menatap tubuh bagian bawah yang sudah polosan tanpa satu kain pun yang menempel.
Ia mengerjab-gerjabkan matanya, apa semalam ia dan suaminya berhubungan. Sementara dirinya tidak sadar lantaran mengantuk.
"Pagi sayang." Cheval dengan senyum bahagianya membawakan sarapan pagi untuk tuan putrinya. Cheval langsung meletakkan nampannya di meja depan sofa.
Cheval mengambilkan celana untuk Sindy kenakan.
__ADS_1
"Aa tidak ingin menjelaskan sesuatu yang terjadi di tubuhku bagian bawah." Menatap tajam suaminya.
"Eh... itu, tadi malam celana kamu aku buang," jawabnya cengengesan.
"Alasannya." Sindy ingin sekali menghabisi otak mesumnya.
"Itu... itu..., Aa cuma menempelkan saja beneran. Tidak masuk ke dalam Aa beneran sayang," sedikit ragu-ragu bicaranya.
"Yakin." Sindy masih tidak percaya, Cheval mengangguk keras, "tidak sedang berbohong," menunjuk wajah tampan suaminya.
Cheval mengangguk mengiyakan sambil mengangkat dua jarinya, ia juga bersumpah tidak keluar masuk hutan gundul tersebut.
"Beneran sayang cuma menempel seperti tokek saja, tidak berbuat yang lebih ko. Aa tidak berani jika itu tidak kamu izinkan masuk." Sambil memainkan jari jemarinya.
"Yakin tokeknya tidak bergerak dan berbunyi di dalam." Sindy mencari kebenaran, hanya menerka-nerka saja. "Sudahlah Aa, aku lapar mau sarapan dulu." Sindy mengenakan celana dan langsung menghampiri sarapan paginya yang menggugah selera.
"Percayalah Aa tidak berbuat aneh-aneh, lanjutkan lah sarapanmu. Aa mau berangkat ke hotel pagi ini, ada rapat yang harus Aa datangi," mencium kening Sindy.
"Hati-hati Aa di jalan, maaf tidak menghantarkan Aa." Mencium punggung tangan suaminya.
"Tidak apa-apa, lanjutkan sarapanmu sayang," Cheval mengambil tas kerjanya dan bergegas pergi.
Ksatria yang menunggu di dalam mobil mulai bosan, apa putra dan putrinya masih sibuk? kenapa lama sekali hanya menghantarkan sarapan untuk istrinya.
"Aa lama sekali menghantar sarapan saja, apa kalian bercinta lagi pagi ini?" Ksatria bertanya sangat vulgar sekali.
"Tidak Pa!" jawab singkat Cheval dan segera merapikan tempatnya ia duduk.
Pagi ini Cheval yang mengemudikan mobilnya, hari ini sengaja tidak pakai sopir lantaran hanya sebentar tidak sampai satu hari penuh yang menghabiskan banyak sekali tenaga. Dengan hati-hati Cheval mengemudi, baru kali ini ia menyopiri sang Papa biasanya sang Papa menolaknya.
__ADS_1