ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu

ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu
145 S2


__ADS_3

Momo yang melihat langsung betapa tidak nyamannya Filan hanya tertawa kecil, sebegitu asing kah tempat ini untuk dirinya. Lucu sekali kelakuannya.


"Jangan memaksakan diri jika tidak bisa, kelihatan sekali tidak pernah makan di tempat seperti ini." Ucapan tajam Momo menjadi tamparan kuat di wajah Filan.


"Siapa bilang aku tidak bisa makan di tempat ini," Filan tidak mau di remehkan oleh sosok Momo.


Masa iya seorang Momo saja yang jelas-jelas dari keluarga Malik saja bisa makan di tempat ini kenapa dirinya tidak bisa.


"Ha... ha... ha..., wajah kamu tidak bisa berbohong." Momo meledek dengan di selingi tawa kecil.


Filan hanya mendengus kesal dengan ejekan yang Momo lontarkan berkali-kali.


Di tempat lain.


Cheval dan Sindy masih menikmati perjalanannya menuju ke hotel dekat stadion Gelora Bung Karno. Mereka berdua sudah tidak sabaran untuk menyaksikan pertandingan sepak bola antar negara tersebut.


"Aa, aku lapar kita makan dulu yuk." Ajak Sindy pada sang suami.


"Ayo aku juga lapar," usai keduanya turun dari mobil yang ia tumpangi langsung menuju restoran yang berada di hotel tersebut.


Tidak tanggung-tanggung Sindy memesan makanan yang ia inginkan, mulai dari ayam bakar, udang, cumi dan sup tidak tertinggal. Cheval yang sudah tau jika istrinya nanti akan pesan makanan banyak hanya tersenyum saja dari pada nanti malam zonk hadiahnya.


Setelah puas dengan makanannya, mereka berdua langsung menuju kamar hotel yang sudah di pesan jauh-jauh hari sebelumnya.


"Haahh... capek Aa, nanti pertandingannya jam berapa sih Aa?" menatap sang suami yang sudah melepas bajunya dan hanya menyisakan celana panjangnya saja.


Cheval merebahkan tubuhnya di atas kasur kamar ini. "Acaranya besok dan malam ini kita nikmati hari kita sayang!" jawab Cheval sambil menarik tubuh Sindy agar lebih dekat dengan dirinya.


"Baiklah, aku kira hari ini pertandingannya. Oh ya Aa apa...," belum selesai berbicara ucapan Sindy sudah terpotong oleh tangan telunjuk Cheval.


"Jangan berbicara lagi, aku capek kita istirahat dulu oke baru malam kita berkerja keras dan kemudian besok kita lihat pertandingan, sebelum para pemain Indonesia mencetak gol aku mau mencetak gol ke kamu terlebih dahulu." Ucap nakal Cheval sambil menciumi rambut Sindy.


"Haahh... nafsu mulu yang utama apa tidak ada yang lain?" Sindy mengomel.

__ADS_1


"Tidak ada jika itu dekat kamu sayang, asal kamu tau Sindy dari dulu ya Aa itu selalu ingin melahapmu bahkan menginginkan kamu setiap harinya!" Jelas Cheval yang menatap langit-langit kamar.


"Sejak kapan???" Sindy mencoba memancing ia juga penasaran sejak kapan pikiran mesum penuh nafsu di otak suaminya ini, masa iya semenjak SD dulu. Rasanya tidak mungkin sekali.


"Sejak kapan ya..., SMP mungkin," jawab seadanya Cheval dan membuat Sindy memelototkan matanya, betapa malunya dirinya sekarang.


Sindy tidak berani bertanya, jadi sejak dulu sang suami memiliki nafsu berlebih padanya. Mentang-mentang dia bukan kakak kandungnya.


Sindy teringat saat dirinya mandi bersama dulu bahkan sering, terakhir kali mandi bersama sewaktu SMP kelas 3 dulu.


"Jadi, sewaktu kita mandi bersama. Aa." Sindy bangkit dan memukul dada bidang Cheval berkali-kali.


"Ya itu termasuk juga, Aa jadi pengen mandi bareng lagi seru deh kayaknya," Cheval bangun dari tidurnya dan langsung mengendong Sindy menuju kamar mandi.


"Aku belum setuju ini Aa, lepaskan." Sindy memberontak dari gendongan Cheval.


BBUUGGHH


"Aww... sss...," Cheval menahan sakit di tubuhnya.


Sindy segera bangun dari atas tubuh Cheval.


"Maaf Aa." Memapah sang suami ke ranjang tidur. "Maaf, gara-gara Sindy memberontak Aa jadi kesakitan seperti ini." Dengan menyentuh punggung Cheval.


"Tidak apa-apa, lantainya tidak licin tadi kaki Aa tersandung dengan kaki Aa sendiri makanya kita terjatuh," sambil cengengesan Cheval menjelaskan situasi yang terjadi agar Sindy tidak merasa bersalah lagi.


"Eemm tapi tetap saja aku yang salah Aa, maaf kan istrimu yang cantik dan baik hati ini izinkan aku bertanggung jawab oke." Sindy dengan cepat menutup mulutnya karena ia salah berbicara sekarang. Kenapa harus bertanggung jawab.


"Benarkah mau bertanggung jawab asik, jangan lupa ya nanti malam kamu yang memimpin permainan," dengan senyum yang mengembang sangat besar.


"Heemm oke lah." Pasrah sudah.


Pagi hari.

__ADS_1


Sindy yang baru bangun dari tidurnya hanya mendengus kesal, bahkan baru tadi jam 3 selesai permainan.


"Kenapa, apa mau lagi. Kalau Aa sih masih mau sayang." Ucap Cheval tidak tau malu.


"Dasar nafsuan, apa seperti ini sifat laki-laki yang sesungguhnya. Sungguh membuat wanita kualahan," Sindy langsung menuju kamar mandi yang ternyata di ikuti oleh Cheval.


"Kita mandi bersama oke, tanganku tidak sampai belakang punggung ini." Alasan Cheval sangat basi di dengar telinga.


"Alasan saja Aa, apa tidak ada ide kreatif lagi untuk beralasan," Sindy tidak memperdulikan Cheval yang merengek seperti anak kecil yang meminta di belikan mainan.


"Ada dengan cara seperti ini langsung." Langsung mencium pipi Sindy dengan gemasnya.


***


New Delhi, India


Lais di ajak sang kakek berkeliling taman kediaman Erdana Khan. Tidak banyak pembicaraan yang di bicarakan hanya sekedar bagaimana kehidupan di Indonesia apa nyaman atau tertekan di sana. Lais hanya menjawab nyaman dan indah suasananya.


"Nak jika nanti kamu pulang ke Indonesia, tolong kamu cari petunjuk yang di tinggalkan oleh ibumu ya, akan tetapi jika tidak mendapatkan apa-apa tidak usah di cari ya. Ikhlaskan ya kedua orang tuamu, biar mereka tenang juga di alam sana." Erdana menghela nafas panjang.


Erdana juga mengajak Lais untuk melihat isi rumah besarnya, ada banyak foto mendiang almarhum istrinya. Mata Lais tertuju pada satu bingkai foto yang hampir mirip dengan seseorang yang ia kenal. Tetapi Lais segera menepisnya, mungkin hanya kebetulan belaka saja, bukannya di dunia ini ada 7 orang yang serupa wajahnya. Mungkin ini adalah salah satunya.


"Kakek, apa ini foto almarhum nenek?" Lais menyentuh pigura yang terbingkai rapi dan ada rangkaian bunga mengingat sang kakek tinggal di negara ini.


"Iya, sangat cantik seperti mamamu. Lihatlah kalian bertiga hampir mirip!" Erdana menatap pigura sang istri.


Lais berusaha kuat menghadapi ini semua, sungguh berat hidupnya, bertemu keluarganya namun tidak utuh hanya tinggal sang kakek saja di dunia ini.


"Jangan cengeng, laki-laki harus kuat. Nak nanti setelah lulus kuliah kembalilah ke sini. Kakek ingin kamu melanjutkan usaha kakek jika tidak kakek akan menyumbangkan ke orang yang membutuhkan dan ke panti-panti."


"Maaf kek, bukannya Lais tidak mau dan tidak menghormati kakek. Akan tetapi Lais ingin membuka usaha dari nol benar-benar dari nol," jawab Lais penuh keyakinan.


Erdana Khan hanya menghela nafas, jika itu sudah keputusannya bagaimana lagi. Mungkin trauma mendalam yang ia alami selama ini membuatnya tidak tergila-gila dengan harta benda. Erdana sangat bersyukur dengan memiliki cucu seperti Lais ini.

__ADS_1


__ADS_2