ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu

ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu
S3. 12


__ADS_3

"Syukurlah jika mereka seperti ini dan tidak ada kesedihan di wajah mereka masing-masing."


Daysi berlalu pergi tadi sebenarnya ia ingin mengambil sesuatu di dapur untuk membasahi tenggorokannya meski sudah di siapkan minuman tapi di lidah Daysi kurang cocok jadi ia memutuskan untuk mengambil air putih tapi yang ia dapatkan obrolan kecil putri-putrinya dan ia bahagia mendengarnya.


"Mana minumnya Ma, tadi katanya mau ambil air putih?" Ksatria menatap curiga pada istrinya.


"Tidak jadi Pa, minum jus buah ini saja mendadak haus jadi minum seadanya saja. Lagian jus buah juga menyehatkan dan baik untuk tubuh kita!" elaknya tapi terdengar benar dan meyakinkan sekali.


"Iya juga, sesekali minum jus yang menyehatkan meski ini dari kemasan siap jadi. Lais sini." Ksatria memanggil menantu laki-lakinya.


Lais segera mendekat dan duduk di sebrang Ksatria.


"Ada apa pa?" Lais takut kena semprot lagi tapi rasanya gak mungkin sebab ini rumahnya dan dirinyalah kepala rumah tangga sedangkan Ksatria hanya Papa mertua dan sekarang sedang berkunjung ke rumahnya untuk apa takut terjadi apa-apa.


"Tidak ada apa-apa, ini kenapa jusnya beli yang sudah jadi? rumah sebesar ini gak punya blender dan buah segar apa." Ksatria mengomel tapi tetap meminum jus tersebut bahkan ini sudah kali 3 Lais melihat papa mertuanya menghabiskan jus tersebut.


"Punya pa, banyak buah-buahan segar. Tapi jus kemasan itu enakkan pa?" bertanya sambil memancing.


"Iya ... enak ... seger lagi, Papa suka Lais!" jawabnya polos.


Ksatria yang tersadar langsung memelototi jusnya.


"Gak enak, gak segar kalau sedikit." Menuangkannya lagi.


Lais menebah dadanya ia sangat lega, memiliki mertua yang cerewet seperti Ksatria memang memuatnya pusing kepala dan harus berbesar hati menerima kenyataan.


Daysi tersenyum suaminya ini senang sekali membuat menantunya panik bukan main, di tambah lagi wajah polosnya itu.


"Alhamdulillah jika Papa suka, silahkan pa di habiskan masih banyak stok di gudang minuman dan makanan siap saji," Lais berbicara apa adanya memang seperti ini adanya di rumah apa pun ia stok jika suka dan favorite termasuk minuman ini.


"Masih banyak stok?" Ksatria kegirangan sendiri.


"Ayo hantarkan Papa kesana mau bawa pulang semua." Ksatria beranjak dari tempat duduknya. Lais seperti mau bangkrut mendadak, semoga tidak satu ruangan di bawa pulang masa iya stok sebanyak itu di bawa pulang sih, enggak mungkin rasanya.


Ksatria kegirangan saat masuk ke dalam sejuk dan banyak produk makanan dan minuman siap saji, sebab Princess terkadang moodnya belum tentu terkadang minta ini dan itu jadi untuk mengantisipasi Princess meminta lagi dan lagi dengan cara seperti ini saja stok di rumah di perbanyak beberapa kardus.


"Papa bawa ini ya, mana asisten atau pembantu kamu kalau tidak ada body guard saja." Semangat membara tiba-tiba muncul saat melihat makanan-makanan sehat yang ada di gudang rumah Lais.


Lais garuk-garuk kepala mertua matrek dalam hati, bagaimana bisa punya mertua seperti ini padahal istrinya Daysi saja tidak seperti ini, untung duit banyak kalau gak ada sudah nangis kejret di pojokan tembok gak kuat dan melambaikan tangan menghadapi mertua gila harta.


"Ma, Papa dan mas Lais pergi kemana?" Momo menatap kesana kemari mencari sosok laki-laki yang ia cintai dan sayangi dalam hidupnya.


"Ke gudang tuh katanya tadi!" menunjuk ke arah gudang.


'Mau apa sih papa ngajakin Lais ke gudang, mau merampok apa. Kebiasaan deh sebagai mertua kenapa senang sekali merampok milik menantu kayak kurang duit aja, padahal duit melimpah di kasih Lais di tolak, sekarang sudah di sini malah malu-maluin. Stop ... Momo jangan berpikiran buruk tentang Papa gak boleh.' Momo membatin sambil menepuk kedua pipinya agar ia sadar dan tidak membicarakan hal buruk tentang papannya yang merangkap jadi orang tua dan walinya nikah.


Momo menuju gudang sedangkan anak-anak di awasi Daysi dan juga suster yang ada.


Momo mendengus kesal saat beberapa body guard Ksatria membawa barang-barang dari gudang padahal itu untuk stok beberapa bulan yang akan datang dari pada beli dan belanja lagi yang berakhir khilaf di toko sebab daftar belanjaan yang harusnya di beli tidak sesuai yang ada di catatan.


"Pa." Menyapa Ksatria yang berdecak pinggang sebab ia kesal sendiri kenapa barang-barang di gudang milik Lais ini banyak yang baru dan berkualitas baik setiap produknya.


"Iya Momo, ada apa?" Ksatria masih fokus dengan bahan makanan yang ada di gudang tersebut.


"Besok-besok rumah Papa jadi tempat penampungan saja ya pa, biar rumah ini bersih tanpa ada barang-barang makanan sedikit pun!" kesal Momo.


"Stop ... stop ... sudah cukup." Menyuruh beberapa orang yang berkerja untuk berhenti.


Lais mengerutkan dahinya.


"Kamu jangan pelit-pelit kalau mau ngasih Papa semua yang ada." Ksatria beranjak pergi usai berucap demikian.


Lais mendekati Momo.

__ADS_1


"Kamu bicara apa sih ke Papa sayang?" penasaran dengan apa yang di bicarakan Momo pada Ksatria.


"Tidak ada, lain kali mas jangan di biasakan seperti ini. Kita hidup juga harus berhemat selain berbagi dengan keluarga dan orang lain!" ketus sekali ucapan Momo.


"Iya sayang." Lais mengalah saja, sebenarnya tadi dia itu ingin terlihat dermawan dan iklhas jika Ksatria mengambil barang-barang yang ada di gudang miliknya biar Ksatria tidak selalu menilai rendah dirinya namun sang istri telah menghentikannya.


Momo hanya menatap sekilas lalu duduk di sebrang Ksatria.


"Papa ngambek." Tiba-tiba Ksatria berucap demikian dan menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


"Ngambek ko ngomong-ngomong sih pa, biasanya kalau ngambek yang benar itu tidak bicara seperti ini," Sindy tiba-tiba nimbrung dan memecahkan keheningan.


"Kamu ini gak bantuin Papa biar menyakinkan ngambeknya malah menghancurkan rencana Papa." Ksatria manyun.


Momo dan Sindy langsung memeluk Ksatria bersamaan, mereka terharu memiliki Papa seperti Papa Ksatria papa paling baik di dunia selain almarhum Ayah Sacha Mahendra.


"Putri ... putri Papa yang cantik." Mengusap kedua rambut putrinya.


Daysi terenyuh melihat pemandangan seorang Papa dengan anak-anaknya.


"Mama gak di ajak berpelukan nih." Ledek Daysi dan langsung saja Ksatria melebarkan tangannya, Daysi malu-malu kucing menyambut pelukan sang suami.


Lais terharu sekali, keluarga bahagia lagi yang ia lihat. Ia harus benar-benar banyak berlatih dari keluarga Malik yang hubungan antara suami istri yang awet bahkan melebihi awetnya formalin.


Cheval yang sedang berkerja kini dia tidak fokus apalagi tadi ada pengganggu yang tiba-tiba datang ke hotel, sepertinya dia ada dendam tersendiri dengan hotel ini tapi apa salah dari hotel ini. Bahkan Royal Malik berdiri sebelum Papa Ksatria lahir yang artinya sekitar 60 sampai 70 tahun yang lalu berdirinya.


"Siapa orang itu ya?" sambil menyenderkan kepalanya di kursi kerja.


Seorang manager hotel mengetuk pintu ruangan Cheval.


Tok


Tok


Sang Manager memberikan berkas-berkas yang tadi di minta oleh Cheval untuk merekap semua data-data yang ada entah mengapa Cheval sedikit menaruh curiga pada Managernya ini jika ada sangkut pautnya dengan masalah yang saat ini ada, sebagai umpannya ia harus hati-hati menggunakan umpannya untuk menangkap ikan besar yang masih bersembunyi di balik batu besar.


'Benar-benar ada yang tidak beres dengan dia, coba di suruh yang lain yang lebih ke rahasia hotel ini aku ingin lihat seberapa lihainya ia mencuri data-data di hotel. Untung ada seorang OB dan Satpam bagian CCTV yang memberi tau hal ini kalau tidak pasti perlahan-lahan hotel ini hancur di tangan orang yang kurang bersyukur ini.'


Sambil memutar-mutarkan bolpenya.


"Sudah boleh pergi, kamu kerjakan satu lagi. Saya harap kamu mengerjakannya dengan baik-baik dan teliti jika tidak kamu akan kehilangan pekerjaan yang berharga ini." Sindirnya tidak langsung, Cheval sedikit memancing dan ekspresi sang manager hotel itu mendadak panik dan mengeluarkan keringat dingin.


"Siap pak, saya akan berkerja dengan baik di hotel Bapak. Saya permisi dulu Pak," pamitnya yang terburu-buru.


Cheval mendesis kecewa, masih ada aja orang-orang keturunan seperti ini tamak dan serakah.


"Dasar bodo* di budidayakan." Cheval menutup berkas-berkas yang kurang beres itu dan membuangnya ke tong sampah sebelum ia masukkan ke dalam tong penghisap kertas atau pencacah kertas.


Cheval sudah memeriksa data melalui laptop dan meretas data hotel sejak lama, sebelum ia terjun ke dalam hotel kecerdasannya ia manfaatkan untuk meretas data tapi satu keluarga Malik tidak tau jika Cheval dari dulu sudah pandai meretas data milik beberapa perusahaan besar.


Tapi sayangnya satu orang di balik layar ini selalu mengubah-ubah data palsunya dengan leluasa seperti seorang hacker yang tingkat IQ nya di atas rata-rata orang normal.


"Pusingnya jadi orang pintar." Memijat pelipisnya yang pusing sendiri.


Cheval menutup laptopnya dan akan melanjutkan pekerjaannya nanti di rumah saja lagian ini sudah larut dan waktunya pulang ke rumah, apakah bidadari cantiknya sudah pulang atau belum.


πŸ’¬ Sayang, apa sudah pulang (sudah centang biru)


πŸ’¬ Belum Aa, Inre gak mau pulang gimana ini😭😭


πŸ’¬ Cup ... cup ... cup ... istriku yang cantik. Sebentar lagi pangeran berkuda akan menjemput ratu dan putri mahkota kerajaan Malik


Sindy mendengus kesal pesan apa ini? sejak kapan Cheval bertambah romantis dan modis seperti ini.

__ADS_1


πŸ’¬ Jangan kebanyakan gombalannya Aa, takut meleleh lilin yang aku jaga Aa


πŸ’¬ Lah, suami sendiri di samakan binatang jadi-jadian yang cari duit lagi🀣🀣🀣


πŸ’¬ Gak begitu juga kali Aa, maksudnya hati ini loh Aa hati bukan yang Aa maksud itu


πŸ’¬ Kirain


πŸ’¬ Cepetan jemputan nya Aa, kasihan anak kita sudah malam dan besok harus sekolah


πŸ’¬ Siap istriku tercinta


Ketika sudah di rumah.


Inre tidur dengan suster Nona tidak seperti biasanya yang maunya tidur dengan kedua orang tuannya.


"Sibuk banget Aa, ada apa sih?" Sindy berjalan mendekati suaminya.


"Ada sedikit masalah sayang!" tetap berkerja.


Sindy mengerutkan dahinya pekerjaan apa sih yang di kerjakan Cheval, mencurigakan sekali. Sindy duduk di sampingnya tapi sial ia tidak tau apa yang di kerjakan oleh Cheval, otaknya tidak bisa mengerti apa yang di lakukan oleh dia.


"Aa itu bukannya data-data hotel?" menunjuk salah satu sumber informasi yang ia lihat di layar laptop.


Cheval mengangguk.


"Iya, Aa meretasnya sayang!" Sindy shock dengan apa yang ia dengar, meretas??? sejak kapan suaminya ini pandai meretas data-data penting seperti ini.


"Aa, bisa di jelaskan secara gamblang padaku Aa!" rasanya mustahil Cheval bisa meretas data.


"Sebentar oke, sudah selesai." Menyimpan semua data yang ia peroleh sebelum ada yang merubahnya lagi.


"Em sebenarnya sedikit sulit untuk di jelaskan, ada orang salah satu orang di hotel berbuat curang tapi aku tidak tau siapa dalang di balik ini semua, sepertinya ini berkaitan dengan saingan hotel Royal Malik sayang. Dan untuk beberapa hari ke depan Aa akan sangat sibuk sayang, harap maklum ya," sambil memegang pundak Sindy.


"Iya Aa, karena aku gak paham masalah meretas data jadi aku diam dan mendukung semua tindakan yang Aa lakukan, semangat Aa demi Royal Malik." Menyemangati suaminya.


"Semangatnya dengan tindakan Aa sangat setuju loh sayang," Cheval nafsu mendadak tapi Sindy mendorong tubuhnya.


"Masih sakit, jadi di pending dulu ehemnya." Sindy memberikan ciuman selamat malam di seluruh wajah Cheval.


"Yah sayang, cuma gini doang gak asik," Cheval kecewa sekali.


"Gara-gara siapa coba." Sindy memalingkan wajahnya dan juga tubuhnya.


Cheval membalikkan tubuh Sindy dan menatap wajah istrinya yang sudah berlinang air mata.


"Hu ... hu ... hu ...." Menangis keras.


Cheval menenagkan sang istri.


"Sayang, jangan menangis sayang," mencium kedua mata Sindy secara bergantian, bukannya malah berhenti tangisannya malah semakin kencang saja di tambah lagi pelukan Cheval yang kokoh dan dapat di jadikan sandaran untuk tempatnya berkeluh kesah selama menikah.


"Aku gak mau nangis Aa, tapi air mata ini gak mau berhenti Aa hu ... hu ... hu ...." Sindy terus menangis, hatinya memang rapuh jika di depan Cheval apalagi dekapan Cheval yang hangat membuatnya langsung menunjukkan ekspresi yang ia tahan selama ini.


"Sayang, dengerin Aa. Kamu dan aku kita sama-sama ya menghadapi ini semua, sabar dan ikhlas kuncinya sayang," mengusap surai rambut Sindy dan memberikan ciuman di rambutnya.


"Iya Aa, terimakasih sudah menjadi suami yang selalu mengayomi istri dan keluarga." Sindy mengusap sisa-sisa air mata dan teman-temannya di baju Cheval tanpa malu bahkan bajunya Cheval sudah berbentuk banyak pulau kecil dan besar.


"Itu sudah kewajiban Aa sayang, melindungi dan menyayangi keluarga ini. Sejak kecil sampai kita punya anak kita selalu sama-sama dalam satu atap," Cheval memeluk erat Sindy dengan penuh cinta.


"Hem." Sindy mengantuk usai menangis lama, ia tertidur dalam pelukan Cheval dalam setiap doa bahkan mimpinya ia berdoa semoga suami, anak serta keluarganya selalu di lindungi Oleh Allah dan bahagia selalu.


Cheval menidurkan tubuh Sindy di sampingnya dan membenarkan anak rambut yang berantakan di wajahnya. Cantik dan menggemaskan ketika ia tidur.

__ADS_1


"Percayalah dengan Aa sayang, Aa akan selalu membawa kebahagiaan pada semua orang." Kecupan di dahi sebelum ia juga menyusul sang istri yang sudah lebih dulu mimpi di pulau bantal.


__ADS_2