
Like, rate bintang 5.
***
Baik Cheval dan Sindy mereka saling mengerjai satu sama lain sampai nasi tersebut habis.
"Bagaimana, apa kamu puas aku kerjain dengan minuman yang aku sita tadi?" Cheval baru saja memberikan gelas es pada Sindy.
Sindy mendengus kesal, padahal ia sedari tadi membutuhkan air untuk minum. Lain kali bawa air mineral sendiri saja jadi waktu dan momen saat genting tidak kesusahan seperti yang terjadi tadi. Benar-benar kencan hemat malam ini.
Cheval yang melihat sang istri dalam mode marah ingin sekali mengikat mulutnya dengan karet gelang, menggemaskan saja dia yang ngambek seperti ini.
"Masih mau marah lagi ke Aa, padahal kamu duluan loh yang bercanda tadi, tapi justru sekarang kamu yang marah." Memberikan minuman tersebut pada Sindy.
Dengan segera Sindy meminumnya, rasa seret di tenggorokan musnah sudah kini berganti dengan rasa segar dan sejuk dari minuman tersebut. Sindy yang sudah selesai minum kini kembali ceria seperti sedia kala.
"Aa tidak di anggap nih, masih marahan sama Aa?" Cheval menggenggam tangan Sindy.
"Sudah Aa!" jawab singkat Sindy.
"???!!!" Cheval menghela nafas.
Akhir-akhir ini perilaku istrinya memang berbeda seperti bukan Sindy yang dulu, sekarang istrinya lebih manja padanya seperti seorang yang berbadan dua.
"Sayang, kamu lagi berbadan dua ya?"
"Tidak Aa, aku sudah cek tadi pagi sewaktu Aa di hotel!" jawab Sindy yang seketika membuat hati dan pikiran Cheval runtuh dalam sekejap.
Sindy yang melihat raut wajah sedih suaminya membuat ia terluka juga, apa rahimnya ini benar-benar tidak berfungsi lagi. Jika tidak berfungsi kenapa masih bisa datang bulan, bukannya datang bulan bertanda sel telur yang tidak di buahi oleh ****** maka terjadilah datang bulan pada wanita.
"Maafkan aku Aa yang tidak bisa memberikan Aa seorang bayi kecil." Sindy menguatkan hati saat berucap demikian.
__ADS_1
Cheval tidak menjawab ucapan maaf Sindy, kemudian ia menarik pergelangan tangan Sindy dan mengajaknya untuk kembali ke rumah. Hari yang melelahkan ditutup dengan berita yang sangat mengejutkan.
"Mungkin aku kurang bersyukur sudah mendapatkan nikmat yang luar biasa ini, sampai-sampai aku di beri ujian seberat ini. Semoga suamiku selalu setia padaku hingga akhir hayat kami berdua." Doa dalam hati Sindy.
Hanya ada keheningan di dalam mobil, hal seperti ini terjadi lagi dan lagi.
"Aa." Panggil lirih Sindy dengan tatapan terlukanya.
"Apa, Aa sedang mengemudi jangan banyak tanya dulu, nanti konsentrasi Aa bisa buruk," Cheval mulai fokus mengemudi.
Sindy kemudian menatap ke luar kaca mobil, hanya ada kesunyian saat melintasi jalan. Lampu berkelap-kelip silih berganti, sesampainya di rumah. Bahkan pintu mobil tidak di bukakan dan yang lebih parahnya Cheval meninggalkannya sendirian di dalam mobil.
"Sebegitu nya kecewa denganku kamu Aa." Dengan perlahan ia buka seat belt yang sedari tadi melekat di tubuhnya tersebut.
Ia keluar dari dalam mobil dengan ekspresi wajah tertekuk lesu. Tidak ada senyuman yang menghiasi wajah cantiknya tersebut, yang ada hanyalah wajah suramnya saja.
Daysi yang melihat putrinya berjalan sendirian masuk ke dalam rumah langsung menanyainya.
"Aa..., maaf Ma. Sindy buat Aa kecewa terus menerus, jika seperti ini terus terjadi izinkan Sindy untuk kuliah di luar negeri seperti harapan Sindy dulu sewaktu Sindy belum menikah dengan Aa, bisakan Ma. Jika tidak bisa gak apa-apa Ma, Sindy mau ke kamar dulu ya Ma." Pamitnya pada sang mama.
Tanpa menunggu jawaban dari sang mama, Sindy sudah lebih dulu pergi dari hadapan Daysi. Daysi yang melihat Sindy yang seperti itu harus bertanya pada putra kesayangannya.
Saat berada di dalam kamar, Sindy menatap ke seluruh penjuru kamar tesebut, namun suaminya tidak ada. Di ruang ganti tidak ada, di balkon juga apalagi kamar mandi.
Sindy memutuskan mandi untuk menyegarkan dirinya, ia tatap tes pack yang ia coba gunakan untuk mengecek apakah dirinya sedang berbadan dua atau tidak, tapi hasilnya sangat mengecewakan sekali. Hanya satu tanda yang artinya negatif.
"Jika tidak berjodoh, mungkin belum rejekiku. Lagian seharusnya tidak ada pernikahan di antara kami berdua, jika ujung-ujungnya seperti ini. Bahkan Aa saja sudah enggan untuk masuk kamar ini." Setelah mandi Sindy mengenakan baju tidur dan ia merebahkan dirinya.
Sindy berusaha tegar dan tidak menangis menghadapi ini semua, ujian dalam pernikahan dengan sekuat tenaga ia berusaha.
Cheval yang sedang bermain golf berkali-kali gagal memasukkannya, alhasil tidak mencetak gol sama sekali.
__ADS_1
"Mandi dulu deh kalau begitu, Sindy pasti sangat kepikiran dengan sikapku yang seperti ini." Cheval menaiki anak tangga.
Cheval menatap sang istri sudah tidur dalam balutan selimut tebalnya, istrinya tidur dalam sedih terlihat jelas raut wajahnya yang sedih.
"Maafkan Aa sayang." Mengusap lembut bibir Sindy.
Cheval segera masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan diri seperti kemarin-kemarin sebelum tidur. Ia berkali-kali menyiramkan air di kepalanya tanpa henti sekitar 10 menit ia melakukannya, kemudian ia berdiri di bawah shower untuk mendinginkan pikirannya yang bukan-bukan.
Usai mandi Cheval langsung menyusul sang istri dan ikut tidur di samping Sindy sambil memeluknya dari belakang. Sindy yang merasakan tubuhnya ada yang menimpa, menatap lengan besar yang ada di pinggangnya.
"Aa sudah tidur?" Sindy terbangun.
"Mau tidur, maaf... maaf... gara-gara Aa kamu terbangun!" jawabnya hendak menarik tangan kokohnya dari pinggang Sindy.
"Iya, sudah malam Aa tidurlah." Sindy membalikkan tubuhnya dan menatap sang suami yang sedang sedih.
"Pasti Aa sangat terluka mempunyai istri sepertiku." Sindy mulai memejamkan matanya kembali.
Pagi hari.
Sindy bangun lebih dulu dari pada sang suami, ia membantu Mala memasak di dapur. Mulai hari ini ia mau berubah supaya suaminya tidak cari yang lain selagi ia mampu.
"Aku berusaha sekuat tenaga mengerjakan pekerjaan rumah dan melayani suamiku, tapi jika takdir benar-benar tidak memihak ku, aku harus bagaimana lagi."
Mala yang sedari tadi melihat aktifitas nona nya ini yang tidak seceria biasanya langsung bertanya.
"Non Sindy, non ada masalah dengan Aa?" tanya Mala sedikit ragu-ragu, takut nantinya Sindy tersinggung dengan pertanyaannya yang ikut campur seperti ini.
"Tidak apa-apa Mbak Mala, cuma jika nanti..., sudahlah mbak Mala tidak apa-apa. Hubungan kami baik-baik saja!" Sindy menutupi kesedihannya.
Mala yang melihat ini tidak sanggup, biasanya ia melihat Cheval dan Sindy selalu bersama dan ceria, sejak tadi malam sepertinya ada perang dingin antara suami istri tersebut.
__ADS_1