
Jangan lupa like, rate bintang 5.
***
Momo mengusap perut datar Daysi seraya berkata.
"Cepat besar." Momo tersenyum bahagia.
Daysi menepuk jidatnya sendiri, ternyata tidak hanya suaminya yang salah tangkap tapi keponakan yang baru saja patah hati juga salah sangka.
"Momo, bukan Mama yang hamil tapi Sindy yang hamil." Daysi berucap sambil tertawa.
Momo ternyata salah sangka ia pikir jika Mamanya mengandung lagi.
"Momo pikir Mama yang mengandung lagi," sambil menggaruk kepalanya.
Untung saja ia tidak berada di kerumunan orang, jika iya pasti sangat malu dengan sikap yang barusan iya tunjukkan pada Mamanya.
"Kalau Mama yang mengandung lagi sepertinya tidak mungkin, oh... ya Momo kapan-kapan kita belanja sesuatu yuk untuk Sindy, ya untuk pesta kecil-kecil an. Mau ya." Daysi menggenggam erat tangan Momo.
Momo bingung harus bagaimana, jika menolak pasti melukai hati Mamanya. Tapi jika menerima bukannya justru tidak baik, apalagi belanja sesuatu yang belum pernah ia jamah sekali pun.
"Baiklah Ma," senyum Momo terpaksa di kembangkan.
2 Bulan kemudian.
Cheval dan Sindy sudah berangkat menuju kediaman Malik, acara hari ini adalah tiga bulanan Sindy. Mereka menyambutnya dengan penuh kebahagiaan, cucu pertama Ksatria dan Daysi akan lahir sebentar lagi di dunia ini. Meski harus menunggu beberapa bulan lagi.
"Sindy." Momo langsung memeluk Sindy karena Momo tepat berada di pintu masuk.
__ADS_1
Sindy sangat bahagia sekali, Momo menatap perut Sindy yang membuncit. Seketika ia ingat wanita yang mungkin kekasih Lais yang ia temui di beberapa waktu lalu yang memamerkan ia membeli perlengkapan bayi yang akan datang beberapa minggu lagi. Momo hanya tersenyum kecut melihatnya, apalagi Lais sok tidak kenal.
"Ada apa Momo, kenapa wajah kamu sedih?" Sindy curiga dengan gelagat Momo yang aneh, bahkan terkesan seperti bukan Momo yang ceria dan seperti anak kecil.
Momo menggelengkan kepalanya.
"Tidak ada apa-apa Sindy, ayo masuk Mama dan Papa menunggu kalian di dalam." Momo mengajak Sindy masuk.
Sambutan ini sangat meriah sekali.
Keluarga Randa bahkan juga datang, teman lama Daysi ini memang selalu antusias jika menyangkut Daysi dan putrinya Sindy. Walau bagaimana pun Daysi teman perjuangan Hugo sewaktu muda dulu.
Dhela yang mengetahui kabar buruk seperti ini hanya terpaksa ikut datang, sebenarnya ia tidak mau datang ke acara ini. Andai saingannya bukan Sindy pasti ia rebut langsung, sayangnya Sindy yang cantiknya maksimal dan perfect dimana-mana.
Semua orang mengucapkan selamat atas kehamilan Sindy yang sudah masuk di usia 3 bulan. Sindy juga sangat bahagia, ternyata kehamilannya ini memang di tunggu-tunggu oleh semua orang, baik keluarga dekat maupun family lain.
Dhela sudah pasrah jika dirinya dan satu keluarganya tidak memiliki apa-apa lagi, mungkin belajar mengikhlaskan adalah jalan yang terbaik untuk saat ini.
Keluarga Randa kembali pulang, mungkin karena cuaca juga yang tidak mendukung lantaran tiba-tiba hujan begitu deras dan di sertai kilat yang menggelegar di langit. Hugo berusaha fokus di dalam perjalanannya tersebut, ada anak dan istri yang ikut bersamanya. Namun takdir berkata lain, kecelakaan yang melibatkan beberapa kendaraan termasuk mobil yang di kendarai Hugo.
"Papa." Ucap lirih Dhela sebelum ia pingsan di tempat.
Kedua orang tua Dhela sudah bersimbah darah di bagian kepala dan badannya. Pihak kepolisian dan rumah sakit dan beberapa wartawan langsung menuju lokasi untuk menangani masalah ini. Kecelakaan beberapa kendaraan ini sangat fatal dan kemungkinan sebagian besar penumpangnya tewas di tempat melihat kendaraan ada yang hancur tak berbentuk.
Ambulan berbunyi kesana kemari, para petugas Rumah Sakit langsung mengevakuasi jenazah yang berada di dalam mobil tentunya dengan bantuan pihak kepolisian juga. Sang Maha Pencipta sangat menyayangi Dhela, meski dalam keadaan kritis dan banyak sekali pendarahan di kepala Dhela, tapi ia sangat kuat.
Setelah kecelakaan tragis itu, Dhela masih terbaring lemah di rumah sakit tempatnya ia di rawat beberapa bulan ini. Jika di tanya siapa yang membiayai pengobatan dan perawatannya selama di Rumah Sakit ialah Ksatria, karena hanya dirinya yang menganggap Hugo dan keluarga kecilnya adalah keluarga.
"Bagaimana Pa? Ada tanda-tanda jika Dhela akan bangun secepatnya?" Daysi menatap dari luar kamar Dhela.
__ADS_1
"Ya... seperti yang Mama lihat, ia masih terbaring lemah. Nanti saat dia bangun aku harus berucap apa jika dirinya bertanya kemana kedua orang tuanya." Ksatria bingung harus apa.
Selama ini yang ia tau, Dhela hanya memiliki kedua orang tuannya. Ia tidak tau sanak family yang lain. Karena pernikahan Hugo dan Dhita tanpa restu dari keluarganya, dan berakibat menikah dengan di wakilkan.
2 minggu kemudian.
Dhela duduk bersandar di ranjangnya, badannya masih lemah ia menatap kesana kemari, sedang berada dimana dirinya ini. Suster rumah sakit terkejut dengan apa yang ia lihat, kemudian ia menelpon pihak keluarga yang mengurus dan membiayai dirinya.
Ksatria dan Daysi yang berada di hotel langsung menuju Rumah Sakit, sedangkan Sindy yang berada di rumah juga ikut bahagia dengan kabar ini.
"Apa kamu mau ke Rumah Sakit sayang?" Tanya Cheval yang sudah rapi dengan pakaian kerjanya sebagai Dosen.
"Apakah boleh Aa, nanti di larang lagi sama Mama dan Papa seperti kemarin sewaktu ingin ke peternakan kuda!" Sindy masih kesal, padahal ia ingin sekali menyentuh kuda-kuda yang ada di perternakan.
Cheval memijat pelipisnya yang tiba-tiba pusing sendiri, kehamilan tua istrinya ini banyak maunya padahal sewaktu hamil muda tidak seperti ini, bahkan terkesan tertutup dan tidak mau meminta apa-apa. Sampai-sampai ia bingung sendiri, apa bayi di dalam kandungan ngeprank Papanya.
"Kamu kan tau sendiri jika di sana tidak baik untuk ibu hamil seperti kamu, takutnya nanti kamu khilaf dan minta menunggangi kuda, ingat kamu hamil dan Dokter mengatakan kandungan kamu sejak awal rentan sayang, apa kamu lupa?" Cheval mengingatkan sang istri.
Iya benar memang, kandungan Sindy lemah dan harus dengan bantuan obat penguat kandungan, karena pada awal-awal kehamilan Sindy selalu ada pendarahan sedikit.
"Ya juga sih Aa, untung kemarin tidak jadi. Tapi Aa aku ingin menyentuh ekor kuda poni, tapi yang sering digunakan untuk berlomba di kejuaraan." Memelas pada sang suami.
"Kuda poni??? Dan ingin menyentuh ekornya???" Cheval menatap malas istrinya.
Sedangkan Sindy mengangguk kegirangan.
"Tidak, daripada kamu nanti tertendang kaki kuda dan terjadi apa-apa dengan kamu dan bayi kita." Ucap Cheval sudah tidak memperdulikan sang istri yang sudah marah dan ngambek lagi.
Musnah sudah harapannya, ia pikir sang suami akan menurutinya ternyata tidak.
__ADS_1