
2 jam telah berlalu. Ksatria yang merasakan tubuhnya lelah karena duduk terlalu lama di gasebo akhirnya berdiri dan kembali masuk kedalam rumahnya.
Ria yang tadi siang mengirim pesan ke Aurellia tersenyum saat adik si boss ini bahagia dengan berita tersebut. Dan Aurellia akan pulang jika mendapatkan kabar yang lebih baik lagi.
"Awal yang baik semoga Kakak dan Daysi sahabat lamaku bisa bersama merajut tali cinta di pernikahannya. Meskipun aku yang memaksa mereka terikat pernikahan, dari dulu aku tidak suka dengan para kekasih Kakak makanya aku menyerahkan Kakak pada Daysi sahabat lamaku." Aurellia segera masuk kedalam rumah yang ia sewa selama ini.
Ria sangat senang sambil tersenyum-senyum sendiri Ria tidak sengaja menabrak tanaman.
BBRRUUGHH..., Ria menahan sakitnya karena tanaman yang ia tabrak cukup besar.
Mbok Yati yang melihat Ria menabrak pohon ingin sekali tertawa lepas pasalnya sangat lucu kejadian barusan. Namun tidak jadi mbok Yati tertawa takut gigi palsunya lepas.
Daysi yang berada di kamar perutnya berbunyi tandanya minta segera di isi oleh makanan. Daysi beranjak dari ranjang tidurnya dan menatap sekeliling kamar, ia teringat jika dirinya tadi di ruang keluarga dengan Ksatria Malik dan menangis di pelukan Ksatria sambil bercerita masa lalunya.
Tiba-tiba pipi Daysi memerah mengingat kejadian itu. Dan Daysi segera menuju kamar mandi untuk mencuci mukanya.
"Haduh... malunya aku. Semoga ia tidak teringat kejadian di ruang keluarga tadi." Daysi segera memegang handel pintu dan membukanya.
Sesampainya di dapur Daysi segera mencari sesuatu yang bisa di makan saat ini. Tapi ia terkejut saat melihat Ksatria Malik sedang berkutat dengan penggorengan dan yang lainnya. Ksatria mengenakan clemek bermotif bunga. Ksatria yang mendengar suara langkah kaki segera melihat siapa yang datang.
"Duduklah makanan akan segera siap." Ksatria menyuruh Daysi duduk. Dengan segera Daysi duduk di kursi.
5 menit kemudian makanan siap. Ksatria meletakkan hasil masakannya di piring tidak lupa ia mengambil nasi putih kemudian menyodorkannya pada Daysi. Daysi terbengong dengan kelakuan Ksatria saat ini.
"Heyy... segera di makan kenapa melamun, lagi memikirkan aku ya?" ucap Ksatria dengan pede.
__ADS_1
"Isshh... siapa yang memikirkan kamu!" sanggah Daysi. "Aneh banget, apa kepala dan kepribadian pak Ksatria ada masalah kenapa seperti ini kelakuannya," dalam batin Daysi.
"Cepat di makan cumi saos tiramnya." Ksatria segera menarik kursi dan duduk di depan Daysi setelah mencuci semua peralatan yang ia gunakan untuk memasak barusan. Daysi yang di tapat Ksatria segera menghabiskan makanan tersebut.
"Eemmm.. enak," Daysi melanjutkan makannya. "Baru kali ini aku melihat ia memasak dan masakannya sangat enak, apa dia seorang chef???" dalam benak Daysi banyak pertanyaan.
"Tentu saja enak, aku sudah terbiasa masak sewaktu kuliah di luar negri dulu." Ksatria segera pergi dari hadapan Daysi membiarkannya untuk menghabiskan masakannya.
"Oo..." dengan cepat Daysi menghabiskan masakan Ksatria Malik.
Ksatria Malik merasa bangga saat ini, masakannya sangat di hargai oleh Daysi saat memasak tadi ia takut jika masakannya akan di tolak mentah-mentah oleh Daysi lantaran ia marah. Namun nyatanya Daysi menyukai bahkan menikmati masakannya tersebut.
Ria tanpa sengaja melihat adegan tersebut bersorak-sorak gembira sekali bahkan sampai memeluk mbok Yati. Begitu juga dengan mbok Yati yang sangat bersyukur setidaknya usaha Aurellia menyatukan sahabat dan Kakaknya sedikit membuah kan hasil.
Setelah selesai makan Daysi mencuci bekas makannya tadi, ada rasa senang di balik sikap arogan ucapan dan tindakan Ksatria ada sisi lembutnya juga di dalam dirinya.
"Eehheemm... kenapa kamu kesini?" suara Ksatria mengejutkan Daysi yang tengah memegang pot bunga dan pot tersebut jatuh mengenai kaki Daysi.
BBRRUGHH..., seketika pot kecil tersebut pecah mengenai kaki Daysi. Darah segar keluar di punggung kaki Daysi, dengan menahan sakit dan perih Daysi berjalan dan mencari tempat duduk.
Ksatria yang sedikit merasa bersalah langsung mengambil kotak obat. Dengan segera Ksatria membersihkan luka tersebut dan membalut kaki Daysi dengan perban kecil.
"Maaf aku tidak sengaja mengejutkanmu." Daysi hanya menganggukkan kepala.
Setelah membersihkan luka Daysi. Ksatria segera pergi dan menyuruh asisten rumahnya untuk membersihkan pot bunga yang berserakan di kebun bunga.
__ADS_1
"Isshh... aku kira akan membantuku berjalan seperti acara tv yang aku tonton." Daysi berjalan perlahan masuk kedalam rumah.
Saat ini body guard Ksatria Malik tidak sebanyak dulu saat Daysi awal-awal di kediaman ini. Daysi merasa tenang tidak ada banyak orang di kediaman ini, jadi saat akan melakukan pekerjaan disini tidak ada tekanan apapun lagi.
Mbok Yati segera membawakan obat dan makanan untuk Daysi, padahal tadi barusan makan.
"Nak Daysi makan sedikit dulu lalu meminum obat ini." Mbok Yati menyodorkan nampan yang berisi makanan, minuman serta obat.
Daysi menatap mbok Yati penuh tanda tanya dari mana mbok Yati tau jika dirinya terluka dan mberi obat perdeda sakit.
"Ini yang menyuruh den Ksatria nak Daysi. Den Ksatria sangat hawatir dengan keadaan nak Daysi." Mbok Yati tersenyum.
Daysi mengangguk dan segera menerima nampan yang di bawa mbok Yati dan duduk di kursi ruangan tersebut.
"Sepertinya aden ada sesuatu dengan nak Daysi, apa nak Daysi merasa?" tanya mbok Yati pada Daysi.
"EEHHEEMMM..., mbok saya juga lapar." Ucap Ksatria tiba-tiba datang dan mengejutkan Daysi dan juga mbok Yati.
"Baik den mbok segera masakkan makanan kesukaan aden." Mbok Yati segera pergi dari tempat tersebut.
"Jika masih sakit tidak usah berkerja besok, aku tidak mau tiba-tiba di hotelku ada karyawan yang pingsan gara-gara terpaksa masuk berkerja karena sakit dan takut terkena potongan gaji." Ksatria segera pergi dari hadapan Daysi.
"Tuhh... kan kumat lagi arogannya, aku pikir tadi siang dan saat membuat makanan tadi sudah berubah ternyata tetap saja menyebalkan." Gerutu Daysi sambil meminum obat.
Ksatria yang masih di balik pintu sebelah Daysi hanya tersenyum mendengar ocehan Daysi barusan, baginya terasa sangat indah di dengar ocehan Daysi serasa hidup rumah ini mendengar ocehan Daysi. Ksatria segera menuju ruang makan sambil bermain dengan ponselnya dan menunggu makanan siap.
__ADS_1
Setelah selesai makan dan minum obat Daysi berjalan dengan perlahan sambil menahan sakit di kakinya menuju kamar tidurnya, sesampai di kamar tidur Daysi merebahkan tubuhnya.
"Aaww... sakit," keluh Daysi saat mengangkat kakinya di ranjang tidur. Daysi menatap perban hasil maha karya Ksatria Malik, begitu rapi dan bagus di pandang mata.