ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu

ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu
68 Hawatir


__ADS_3

Daysi kebinggungan sekali dengan keadaan Ksatria yang tidak baik-baik saja saat ini.


"Relli bagaimana ini, apa yang harus aku lakukan Relli aku takut?" keluhnya pada Aurellia.


"Daysi..., tenang oke kita coba bicara pelan-pelan pada kakak!" Aurellia menenagkan Daysi yang sangat cemas saat ini.


Aurellia menepuk pelan pipi Ksatria Malik namun tidak ada respon dari Ksatria. Aurellia meneteskan air matanya lagi melihat sang kakak tidak menjawab apa pun.


Daysi dengan kencang memeluk Ksatria ia berharap Ksatria segera sadar dan bisa di ajak bicara kembali. "Besok kita ke pesekiater saja Relli aku takut Ksatria terguncang ke jiwaannya." Sambil menciumi wajah Ksatria.


Ksatria yang sedari tadi hanya berpura-pura ingin sekali ia tertawa kencang, namun entah mengapa ia masih saja meneruskan dramanya ini. Ksatria menatap wajah hawatir kedua orang yang sangat ia sayangi, seandainya ia tidak memasang alarm di dalam mobilnya mungkin saat ini ia sudah masuk ke dalam peti mati dan sudah di semayamkan di alam kubur. Betapa hancurnya kedua orang yang ia sayangi. Dengan berpura-pura seperti ini saja mereka hawatir apalagi jika terjadi sesuatu yang lebih parah lagi.


Tiba-tiba gelak tawa Ksatria pecah. "AA... HAA... HAA..., kalian lucu sekali aku bercanda oke." Ksatria masih tergelak tawa sambil memegang perutnya.


Daysi dan Aurellia yang baru saja di kerjai Ksatria langsung melayangkan pukulan berkali-kali di lengan dan pundak Ksatria.


"Rasakan ini dasar mengerjai orang sampai kami hawatir seperti ini dasar, kenapa tidak sekalian jadi aktor saja sudah pas bermain film," sindir Daysi yang memonyongkan bibirnya.


"Tidak usah memanyunkan bibirmu seperti ikan kekurangan oksigen, atau kamu meminta oksigen dariku saat ini?" goda Ksatria sambil mengusap surai rambut Daysi.


"EEHHEEMM..., please dong romantisnya dilanjutkan di sana saja masuk ke dalam kamar saja. Jangan di depan jomblo seperti ini," cibir Aurellia sambil menyilangkan tangannya di depan perut.


"Salah sendiri jomblo, sana... sana... pacaran lagi sama Sacha di rumah sakit." Ledek Ksatria pada Aurellia sambil mengibas-ngibaskan tangannya.


Daysi langsung menatap tajam Ksatria dan Aurellia secara bergantian dengan penuh tanda tanya. "Maksudnya apa ini?" Daysi membutuhkan jawabannya saat ini.


"Eeemm bukan apa-apa Daysi, Kakak sedang membual karena kan baru saja bercanda masak kamu lupa sih?" elak Aurellia, balik menanyai Daysi.


"Betul juga sih ucapanmu, tapi bagaimana dengan Abang jika kamu bersama Sacha dan satu lagi kenapa kamu ke rumah sakit," Daysi mengangkat tubuh Cheval menganti popok.


"Haahh... tetap saja mengintrogasiku ternyata." Gumam lirih Aurellia sambil menjauh dari dua insan yang saling memojokan dirinya ini.


Ksatria segera berdiri dan menarik baju belakang milik Aurellia, "mau kemana, jawab dulu pertanyaan kakak iparmu baru boleh pergi," dengan tatapan mengancam.

__ADS_1


"Isshh... dasar pasangan suami istri yang kompak, kenapa kalian kompak sekali memojokkanku, apa salahnya si jomblo ini?" duduk di kursi kayu sambil menggerutu.


"Ya salahlah... dulu bukannya kamu menjodohkan kami sekarang gantian kami akan menjodohkanmu!" jawab dingin Ksatria.


"Kenapa jadi kesini sih percakapannya, aku tidak suka itu kan masalah pribadiku tentang percintaan," tertunduk lesu. Aurellia pasrah dengan keadaan sekarang ini.


"Aku hanya menjenguk Sacha, Daysi. Karena Sacha terkena luka tusuk." Aurellia memainkan ponselnya, "masalah cinta ya aku tetap cinta dengan Abang meskipun hasilnya nol besar," sambung ucapan Aurellia.


"Tuh adikmu terkena masalah percintaan, bantuin sana. Siapa yang menurutmu cocok jadi pasangannya nanti." Daysi menatap Ksatria dengan tersenyum, sementara Aurellia memanyunkan bibirnya.


"Aku pergi dulu, terserah kalian mau menjodohkanku dengan siap asalkan dia sempurna seperti kakak." Aurellia mengambil kunci mobil dan berjalan keluar.


"Heyy... mau kemana ini sudah malam sekali?" nada tinggi Ksatria terdengar sampai rumah tetangga.


Aurellia menoleh dan menatap Ksatria, "aku lapar, apa kakak mau membelikan." Sambil tersenyum manis.


"Eeehh..., apa-apaan ini aku pikir kamu mau pergi dan kabur seperti tahun lalu," sambil menggaruk rambutnya. Ksatria cengegesan.


Aurellia menggeleng-ngelengkan kepalannya, "ada-ada saja kakak nih." Berjalan dan masuk kedalam mobil.


"Sat... lepas aku gak tahan, geli Sat." Berusaha mengindar namun naas kakinya tersandung dan jatuh kelantai.


BBRRUGGHH...


Daysi meneteskan air mata karena dagunya lecet dan mengeluarkan sedikit darah. Ksatria langsung membantu Daysi berdiri dan meniup-niup dagu Daysi.


"Sakit Sat..., ambilkan kotak obat di tas itu." Sambil menujuk tas berukuran lumayan besar. Ksatria segera mengambil dan membuka kotak obat.


Setelah mengobati luka di dagu Daysi, Ksatria menggengam erat tangan Daysi. "Maaf aku tidak bermaksud membuatmu terluka sayang." Sambil memegang pipi chubby Daysi.


"Ciyeee sayang...," ledek Aurellia yang baru saja membawa banyak nasi bungkus.


"Apaan sih," wajah Ksatria mendadak merah saat di ledek Aurellia begitu juga dengan Daysi.

__ADS_1


"Nih makan dulu baru nanti lanjutkan romantisnya di kamar dan aku akan menjaga Aak nanti." Aurellia membuka kantong plastik dan mengambil 3 bungkus untuk di berikan pada body guard sang kakak.


Karena sudah malam Ksatria dan Daysi masuk kedalam kamar, sementara Aurellia dan Cheval juga masuk kedalam kamar.


"Nanti tutup telinga ya Aak jika mama papamu bermain, oke." Sambil menguyel-uyel pipi gembul Cheval.


Di dalam kamar.


Terjadi keheningan diantara Ksatria dan Daysi, binggung dan lelah bercampur aduk menjadi satu.


"Eemm... aku lelah, besok saja ya." Sambil memeluk tubuh Daysi dari belakang.


"Iya, tidak kenapa-kenapa besok juga," membenamkan wajahnya ke bantal.


"Kamu kecewa Daysi?" membalikkan wajah Daysi. Daysi yang di tanyai seperti itu hanya terdiam.


"CCUUPP..., selamat malam Daysiku." Memejamkan matanya.


Daysi yang lelah akhirnya ikut tertidur. Aurellia yang sedari tadi belum tidur kini menguap beberapa kali, niatnya ingin menguping apa yang di lakukan sepasang suami istri ini namun hanya ada keheningan yang terjadi.


"Sudahlah aku tidur saja, mumpung Aak anteng." Memejamkan matanya.


Pagi hari.


Daysi merasakan ada sesuatu yang tidak beres pada tubuh Ksatria, ia menempalkan telapak tangannya pada dahi Ksatria.


"Panas sekali, sebentar aku ambilkan kompres dulu." Daysi menuju dapur dan mengambil kain serta air hangat.


Dengan sangat hawatir Daysi mengompres dan mengosok-gosok telapak tangan Ksatria agar ia tidak kedinginan. Ksatria membuka matanya dan tersenyum sedikit.


"Terimakasih Daysi," Daysi yang mendengar Ksatria berucap langsung memberikan air putih.


"Minum dulu ya, aku buatkan bubur sebentar ya." Daysi langsung menuju dapur dan membuatkan bubur untuk Ksatria.

__ADS_1


Untungnya Daysi kemarin sempat belanja sewaktu baru sampai di kontrakan ini. Ternyata sedia payung sebelum hujan sangat penting.


***


__ADS_2