ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu

ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu
211. Penasaran hasil tes DNA


__ADS_3

POV Momo.


Aduh kondisikan jantung ini Momo, santai oke... santai yaa.... Tarik nafas diam-diam dan hembuskan pelan-pelan oke.


DAG


DIG


DUG


Lais menyambut ku dengan senyum yang merekah di wajahnya.


"Ayo masuklah." Dia membukakan pintu mobil untukku, ah... romantisnya pria ini.


Saat di perjalanan aku hanya menunduk malu sendiri, berkali-kali Lais meraih tanganku dan mencium telapak dan punggung tanganku bergantian dengan alasan katanya wangi dan menggemaskan. Iya sebelum berangkat tadi memang aku mengolesi tanganku dengan pelembab.


"Lais stop, kenapa kamu terus menciumi punggung tangan dan telapak tanganku sih. Apa kamu tidak cemas jika nanti Papa dan Mama Daysi tidak menyetujui hubungan kita?" tanyaku sedikit hawatir.


Lais langsung melepas genggaman tangannya dari tanganku.


"Benar juga, tetapi kita berdoa saja semoga kita di restuin dan besok kita langsung menikah saja. Aku tidak mau kamu di persunting laki-laki lain selain aku." Lais menampilkan ekspresi sedihnya.


"Jangan menampilkan wajah seperti itu, seperti anak kucing yang terjebak di lumpur saja, kita beli kue yuk atau sejenisnya," ajak ku saat melihat ada toko kue yang terkenal di kota ini.


Lais langsung membelokkan mobilnya ke depan toko kue tersebut. Mobil yang di gunakan Lais hampir sama dengan milik Cheval hanya saja beda warna. Jika milik Cheval berwarna putih milik Lais berwarna hitam. Sebenarnya aku rindu dengannya saat menggunakan motor Honda CB 100 miliknya waktu SMA dulu, di mana motor itu apa sudah ia jual sayang sekali padahal aku ingin di bonceng lagi dengan motor itu.


"Mikirin apa sih." Lais membuyarkan lamunanku.


"Tidak, ayo kita turun dan beli beberapa kue untuk di bawa ke rumah papa," jawabku dan segera membuka seat belt dan pintu mobil.


Lais tidak membukakan pintu mobil.


"Ayo," Lais meraih jari jemari tanganku dan menautkan nya.


Banyak orang berlalu lalang dan melihat keromantisan kami, ada juga yang kenal dengan boss pemilik jam berlian di kota ini. Bukan berarti semua jam miliknya bertahta berlian itu hanya nama saja, jam milik perusahaan Lais banyak macam dan berbagai bentuk sesuai dengan trend jika trendnya seperti ini, maka secara otomatis perusahaan milik Lais akan membuat yang serupa tetapi dari segi tampilan lebih bagus dan menarik serta penambahan fitur yang di perlukan seperti jam digital modern saat ini.


Setelah membeli beberapa kue aku dan Lais kembali ke dalam mobil.


"Kenapa murung?" Lais menarik seat belt yang berada di samping kiriku. Jantungku berdegup kencang sekali ini semoga Lais tidak mendengarnya.


"Tidak kenapa-kenapa, eemmm... motor lamamu masih ada."


"Masih, kenapa jangan bilang kamu rindu aku bonceng dengan motor lamaku," Lais meledekku dengan penuh kejahilan, ia mencolek pipiku berkali-kali.


"Sok tau kamu." Aku mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Memang aku tau, kamu rindukan saat aku menggunakan motor itu dan mengajakmu keliling kota ini dengan motor itu, ayo ngaku saja dengan senang hati aku akan mengajakmu keliling kota lagi dengan motor lamaku," Lais belum menjalankan kemudinya.


Kediaman Malik.


Aku menghela nafas panjang, sudah hampir 4 bulan aku tidak mengunjungi rumah ini. Apakah ini awal yang baik atau tidak, asisten rumah ini banyak yang sudah di ganti hanya mbak Mala saja mungkin yang masih setia di kediaman ini.


Dan benar saja mbak Mala langsung datang dan memelukku seperti aku masih kecil dulu, aku sudah menganggap mbak Mala seperti ibuku sendiri, dia baik dan tulus memerhatikan kami bertiga dulu.


Sayangnya Aa sama Sindy sudah tidak di sini, dia sudah pindah ke Surabaya dan Aa menjadi Dosen di Universitas paling terkenal di Indonesia.


"Sepi rumah papa kamu, sepertinya tidak ada orang. Apa jangan-jangan belum pulang karena ini jam kerja." Lais menatap seluruh penjuru rumah ini.


TTAAKK


TTAAKK

__ADS_1


Suara sepatu menuruni anak tangga terdengar nyaring. Aku menatap anak kecil yang sangat antusias menyambut kedatanganku kali ini.


"Tante..." Teriak Inre putri semata wayang Sindy dan Cheval.


"Sayang, kamu disini dengan siapa?" tanyaku menatap tubuh gembul Inre.


Inre berusia 4 tahun, umurnya hampir sama dengan Princess. Tapi cuma postur tubuh yang berbeda, jika Inre bertubuh subur sedangkan Princess bertubuh kecil.


"Mama sama papa ada di sini main dengan grandpa di lapangan sana!" jawab Inre dengan lucunya.


"Sangat menggemaskan mereka ya, tau begini aku ajak tadi Princess ke sini." Lais menatap gemas wajah Inre.


Wajahnya lebih dominan ke Cheval dari pada Sindy sang mama. Badannya sangat menggemaskan jika dia dewasa nanti dan mau merawat tubuh dan rajin olah raga pasti banyak laki-laki yang akan jatuh hati pada Inre si gadis cantik tapi gembul.


Lais dan Momo menuju lapangan golf bersama Inre. Senyum terukir di wajah Momo saat melihat sang Aa dan Papa sedang beradu berapa banyak bola yang masuk. Dulu ayah Sacha Mahendra juga suka bermain golf tapi sekarang sudah tidak ada dan tinggal kenangan di hati saja.


"Andai ayah masih ada di dunia ini, aku benar-benar rindu dengan ayah. Kenapa Tuhan mengambil kedua orang tuaku." Momo mengusap sedikit air mata yang berada di sudut matanya.


Lais menatap wajah Momo yang sangat gelisah. "Kenapa."


"Tidak apa-apa cuma aku rindu ayah dan bunda saja," jawab Momo menyeka sedikit air mata yang jatuh di pelupuk matanya.


"Sabar ya." Lais memeluk tubuh Momo dari samping.


Cheval dan Ksatria yang baru saja selesai main golf langsung memberikan tatapan tidak suka pada Lais.


"Lepaskan dekapanmu pada putiku." Ucap Ksatria datar.


GGLLEEKK


Lais menelan salivanya dengan kasar berharap tidak di terkam di kediaman Malik ini, dan semoga nanti pulang dalam keadaan selamat. Masa iya belum belah duren dengan Momo sudah end sebelum perang di mulai.


"Ayo masuk dulu sepertinya ada hal yang penting untuk di bicarakan." Ucap Ksatria menatap dingin Lais.


Daysi dan Sindy yang baru saja pulang dari mini market heran ada apa ini kenapa semua orang berkumpul di ruang keluarga.


"Ada perlu apa kesini, jangan bilang mau melamar Momo?" tanya Ksatria to the point.


"Begini om saya benar-benar mencintai Momo dan akan menikahinya besok jika kami dapat restu dari om dan tante!" Jawab Lais dengan sopan.


"AAPPAA...." Ucap serempak semua orang di dalam ruangan.


"Kamu hamil duluan Momo." Daysi mulai panik dan hawatir.


"Eehh... tidak mama, aku tidak hamil duluan," ucap Momo menenangkan suasana yang sangat-sangat panas ini, bahkan keringat dingin keluar baik Momo maupun Lais terlihat jelas, wajah pucat Lais tidak dapat di bohongi.


"Beneran tidak hamil duluan, lantas kenapa buru-buru jika tidak hamil duluan." Ksatria menatap perut Momo yang masih rata.


"Maaf om sebelumnya, tapi ini demi hak asuh Princess putri angkat saya om selain itu saya juga tidak mau wanita yang saya cintai lebih dari 10 tahun ini di pinang laki-laki lain om," Lais memberanikan diri menatap wajah garang Ksatria.


"Ohh... seperti itu, terus bukti apa yang kamu punya jika Princess bukan darah dagingmu, satu kota ini juga tau kalau pengusaha muda sepertimu punya sekandal seperti ini. Menghamili model cantik dan tidak bertanggung jawab dan malah mau merebut hak asuh Princess, jika dia bukan putrimu kenapa kamu ingin sekali mendapatkan hak asuh Princess." Ucap Ksatria skak mat untuk Lais.


Lais hanya diam dia bingung harus menjawab pertanyaan rumit, apalagi Ksatria orang tercerewet melebihi ibu-ibu jika sudah mengomel.


"Saya akan melakukan tes DNA terhadap Princess secepatnya, jika perlu nanti setelah dari sini saya akan langsung tes DNA terhadap Princess supaya anda percaya jika Princess bukan putri kandung saya," Lais berucap dengan penuh keyakinan.


"Saya tunggu, jika dia bukan putri kandungmu saya akan merestui kalian menikah secepatnya, jika Princess putrimu selesaikan permasalahan kamu dengannya jika perlu kamu harus tanggung jawab dan tinggalkan Momo biarkan dia bahagia dengan kehidupannya. Saya tidak mau Momo sakit hati memendam perasaannya sendiri selama ini." Ksatria beranjak pergi dari ruang keluarga tersebut.


Begitu juga dengan Daysi. Sementara Cheval dan Sindy menyemangati Momo dan Lais.


"Gue percaya lo gak bakalan menyakiti Momo, karena selama ini gue tau lo gak pernah dekat dengan wanita." Ucap Cheval menepuk pundak Lais.

__ADS_1


"Terimakasih ya sudah percaya sama gue," Lais tersenyum sedikit.


"Tapi lo harus janji jaga perasaan Momo, dia adik gue satu-satunya yang masih lajang." Cheval tertawa renyah setelah meledek Momo secara tidak langsung.


"Aa..., bikin malu saja," Momo mengomel dengan ucapan Aa yang seenak jidatnya sendiri, mentang-mentang sudah menikah dan tidak ada permasalahan selama ini.


"Aku juga iri dengan kehidupan rumah tangga Aa dan Sindy yang damai dan tidak pernah terdengar ada pelakor atau pebinor di kehidupannya. Bahkan papa dan mama juga selain itu ayah dan bunda bahkan sampai ajal menjemput kedua orang tuaku. Aku ingin mempunyai kisah cinta yang sangat indah dan menyenangkan, tetapi apakah takdir baik akan berpihak padaku." Momo sedikit tersenyum saat mengingat ke romantisan orang yang ia sayangi dan cintai tersebut.


Lais sadar jika banyak sekali kekurangan dalam dirinya ini.


Setelah pulang dari kediaman Malik, Lais sangat hawatir dan was-was pikirannya saat ini sangat kacau. Semoga apa yang ia harapkan berakhir dengan baik.


Momo yang satu mobil dengan Lais melihat raut wajah Lais yang sangat gelisah.


"Kenapa, apa yang kamu pikirkan. Apa tentang Princess Lais?"


"Iya, jika dia benar-benar putri kandungku apa kamu mau menerimaku Momo. Tapi aku berharap Princess bukan putri kandungku jika ia aku akan kehilangan kamu karena pasti om Ksatria tidak mau menerima menantu yang punya sekandal buruk sepertiku ini," jawab Lais dengan pikiran sangat kacau.


"Aku melihat Momo hanya diam sambil menatapku, aku tau Momo pasti sangat kecewa dengan ucapanku yang menyerah sebelum berusaha."


"Biarkan hati ini yang akan menjawab nantinya Lais, jika kamu jodohku pasti akan tetap memilihmu meski kenyataan lebih menyakitkan," Momo berusaha meyakinkan perasaan Lais, Lais tau pasti Momo sangat terluka hatinya.


"Kita kerumah dan ambil sempel Princess dan kita bawa sampel ke lab ya." Ucap Lais tersenyum manis untuk menghilangkan kecemasan Momo.


Momo berpikir sangat keras.


"Jika memang Princess putri kandungmu yang sesungguhnya, terus kamu apakah tetap sama hatimu untukku. Aku berharap kamu segera menyelesaikan permasalahan pribadimu dengan ibu kandung Princess hingga tuntas jika memang benar-benar Princess putrimu. Aku akan mendukungmu Lais, meski hatiku yang akan terluka berat nantinya. Sudahlah dari pada berpikir yang tidak-tidak lebih baik aku berpikir positif saja sekarang."


Kediaman Erdana Khan.


Lais memarkirkan mobil di garasi dan langsung menyuruh Lala memotong sedikit rambut Princess dan menyuruhnya untuk memasukkannya ke dalam kantong plastik berukuran kecil.


Lais mengajak Momo untuk langsung ke Rumah Sakit terdekat dan paling maju di kota ini.


"Sayang percaya ya sama aku. Pasti Princess bukan putri kandung aku." Lais membelai pipi Momo dengan lembut dan penuh cinta.


Momo berusaha percaya tetapi mau percaya dengan apa, hampir 95 persen Princess mirip sekali dengan Lais, apa mungkin bukan putrinya kenapa tingkat kemiripannya sama hanya berbeda jenis kelamin saja.


"Iya, semoga saja," jawab Momo lirih.


Setelah memberikan sampel pada Dokter aku memutuskan pergi meninggalkan Rumah Sakit yang sudah terjamin keasliannya, bahkan orang yang ingin menyabotase harus berpikir ribuan kali jika ada yang bertindak curang siap-siap akan terusir dari kota ini dan akan kesulitan untuk kembali ke dalam kota ini terutama dalam masalah pekerjaan di kota ini terutama dalam bidang kesehatan.


Beberapa hari kemudian.


Lais dan Momo mengunjungi Rumah sakit tersebut untuk mengambil hasil tes DNA. Lais sangat antusias dan percaya diri jika Princess bukan putri kandungnya.


Lais was-was dengan hasil tes DNAnya hari ini, dia terus berdoa saat membuka amplop putih tersebut.


DDEEGGHH


"Ini... ini tidak mungkin." Lais melipat kertas tersebut dan memasukkannya kembali ke dalam amplop.


"Aku melihat raut wajah kecewa Lais, ada apa ini sebenarnya. Apa Princess benar-benar anak kandung Lais yang sesungguhnya, terus bagaimana dengan diriku ini. Bukannya aku bisa disebut pelakor karena gara-gara aku ada wanita yang tersakiti hatinya. Tidak-tidak aku bukan pelakor dan aku tidak akan mengambil milik orang lain."


"Aku mengambil amplop tersebut, aku membukannya secara perlahan namun secepat kilat Lais merebutnya dari tanganku." Momo menatap sendu ke Lais, tetapi Lais bersikap biasa dan cuek saja.


"Kenapa, apa aku tidak boleh tau hasilnya?" tanya Momo yang sudah penasaran dari ujung kaki sampai ubun-ubun kepalanya.


"Nanti saja, kita ke rumah papa kamu dan memberikan surat ini dan jika kita di restui atau tidak itu keputusan ada di tangan papa kamu!" jawab Lais menyimpan amplop tersebut.


Momo hanya menyilangkan tangannya di depan perut sambil bergumam tidak jelas. Benar-benar membuat orang penasaran apa isinya, apa benar Princess putri kandungnya atau bukan.

__ADS_1


Momo hanya menatap Lais penuh dengan pertanyaan yang menggunung, apa benar Princess putrinya. Sepertinya iya jadi skandal itu benar jika dia menghamili wanita yang berkerja sebagai model itu.


"Pantas saja waktu dia menciumku ia sangat ahli dan lihai seperti drama-drama yang pernah aku tonton. Aku hanya meremas ujung pakaian yang aku kenakan sambil berdoa semoga bukan anak kandungnya, tetapi jika ia. Sudahlah di pikirkan nanti saja, bukannya semua orang punya masa lalu."


__ADS_2