
Gauri ketakutan sedikit sambil menyilangkan kedua tangannya menutupi dada nya.
"Kamu penculik ya? atau seorang pedofil. Atau seorang psikopat." Gauri ketakutan sampai gemeteran semua terlontar padahal kata-kata itu menyakitkan sekali di anggap orang tidak benar.
Kalau di rumah atau dekat toilet umum ia akan terkencing dengan sahabat-sahabat sekalian, lagian suasana mulai mencengkram dan horor sekali di samping Aldy, ko bisa ya supir nya kuat dan betah berkerja dengan Aldy..
"Kamu kira saya mau apa hah?" Aldy mendadak menodongkan $enjata taj4m ke Gauri.
Pi$au kecil dan sangat lancip. Gauri benar-benar gemeteran dan takut, bukannya takut ia tiada tapi masih banyak sekali dosa yang belum ia perbaiki, ia belum bisa menjadi orang yang lebih baik.
"Kumohon jangan bunuh saya, saya.. mohon," wajahnya lugu dan polos.
Sejenak Aldy terenyuh melihatnya tapi ia segera menepis semua, misinya menghancurkan Gauri bukan terpesona dengan Gauri. Pasti ini efek selalu menggangu hidup Gauri dan menyebabkan terbayang-bayang akan tubuh dan wajah itu, ya.. wajah dan pemilik tubuh itulah yang merenggut nyawa kekasihnya yang bernama Risma Mawar, ia meninggal di umur yang masih muda yaitu 17 tahun. Maka dari itu Aldy selalu mencari keberadaan orang yang melempar bola itu ke jalan raya dan berjanji akan membalas orang itu perlahan agar tersiksa batin, jiwa raganya.
"Ck.. siapa yang mau bunuh kamu. Walaupun nanti kamu dapat kejutan dari saya bukan ini yang saya akan lakukan untuk kamu wahai wanita berhati tega menghilangkan nyawa orang." Tajam dan menghina. Aldy menyimpannya kembali pisau yang selalu ia bawa kemana-mana untuk pertahanan diri juga.
"Saya? tega menghilangkan nyawa orang? kapan?dimana?" bertubi-tubi Gauri di buat kebingungan, teka-teki apa semua ini.
"Kamu lupa," hendak menyambung ucapannya tapi terhenti saat ingat jika ini di dalam mobil ia harus mengontrol segalanya lebih dulu dan meredam emosinya sesaat saja demi kelancaran misinya kali ini.
Mangsa sudah di depan mata harus baik-baik dulu sebelum menghancurkannya, jika sekarang bertindak bukannya ia akan senang dan kesengsaraan Gauri tidak ada bukan.
"Sudahlah, kamu harus membayar atas perbuatan yang pernah kamu lakukan entah ingat atau tidak." Aldy langsung memalingkan wajahnya ke luar jendela kaca mobil.
Villa
Gauri terkagum-kagum dengan pemandangan yang berada di depannya itu, sangat besar dan bangunan indah sekali ada kolam juga.
"Kenapa kesini?" Gauri enggan menatap wajah Aldy yang sedingin salju.
"Kamu mulai sekarang tinggal di tempat ini dan jadi tawanan di tempat ini," Aldy mengecek ponselnya dan langsung menghubungi seseorang.
Gauri juga acuh dengan urusan Aldy, kalau terlalu ingin tau takutnya todongan pi$au tadi sampai di titik kehidupannya.
Gauri sudah di sambut di samping mobil dan bersiap-siap membawa dirinya dengan paksaan tapa adanya penolakan.
"Eh, ko banyak orang. Saya tidak suka di paksa ya pak Aldy."
Aldy mengisyaratkan orang suruhannya itu untuk segera meringkus wanita ini, wanita pembawa petaka harus bermain-main dengan secara perlahan dan baik-baik bukan agar ia senang di buat main-main. Siapapun tidak bisa menolak pesona Aldy yang dari segi apapun tetap pria kaya, mapan, berkarisma, romantis dan lainnya.
Gauri langsung di seret begitu saja, kenapa nasibnya lebih pedih dari sebelumnya, jika sebelumnya tersiksa batin kenapa sekarang malah dobel tidak hanya hati tapi juga raganya tersiksa oleh orang yang baru ia temui tadi malam saat ia hendak menginap di hotel laki-laki ini, laki-laki yang kejam sekali.
"Lepaskan saya... lepaskan." Memberontak dan berteriak-teriak sampai suaranya serak.
Aldy langsung menyuruh asisten villa untuk membungkam mulutnya agar berhenti berteriak dengan cara di bius saja. Gauri melihat salah seorang menuangkan sesuatu di atas sapu tangan pasti itu obat bius untuk membius dirinya, tidak boleh ini tidak boleh terjadi. Padahal baru tadi malam ia bermimpi buruk tapi siangnya mimpi itu terjadi padanya.
Apakah mimpi tadi malam menjadi nyata. Perlahan kesadaran Gauri berkurang ia sedikit sayup-sayup mendengar suara tawa yang ia yakini itu suara tawa Aldy, tega sekali orang tak di kenal memaksa dirinya dan akan menyiksanya.
Pukul 19.05 WIB.
Gauri masih belum sadarkan diri, hebat sekali obat bius itu atau dosis yang di tuangkan terlalu banyak.
Aldy dengan kejam membuat satu karya di lehernya, tadi ia ingin merusak wajahnya tapi saat leher jenjang itu terlihat dari dekat sangat menggoda di tambah lagi badannya presis sama milik kekasihnya yang sudah pergi ke Surga.
"Pasti ini badan Risma kekasihku." Aldy melepas semua pakaian yang ada di tubuh Gauri full naked begitu juga dengan dirinya.
__ADS_1
Gauri yang tidak sadar atas perlakuan Aldy padanya, sudah beberapa kali Aldy pelepasan dan dia puas sebab ia merasakan tubuh Risma mendadak melekat pada Gauri meski berbeda wajah, Gauri cantik dan imut berwajah kecil dan putih sekali tanpa ada satupun jerawat yang bersarang di wajahnya. Sedangkan Risma kekasihnya berwajah bule, juga cantik tapi tidak semenggoda Gauri.
"Sial, kenapa pelepasan di dalam. Aku pikir tadi itu Risma," kepalanya pusing dan langsung beranjak pergi dari tempat Gauri di gagahi.
Gauri bangun setelah pukul 10 malam, ia merasakan sedikit sakit di area selangkangannya, ia curiga dengan area itu apa yang terjadi pada dirinya.
"Aku... full naked," ia merabanya dan ia terkejut saat ia yakini bahwa itu darahnya dan ia baru saja di apa-apakan.
"Apa Aldy yang melakukan nya?" Gauri berusaha kuat dan tidak menangis tapi apalah daya ia tidak sanggup dan langsung menangis, usai menangis sekitar setengah jam ia mendapat linglung pikirannya kosong.
Tok
Tok
Tok
Ketukan pintu tidak di dengar oleh Gauri sama sekali, hampa dan hancur hidupnya.
"Makanlah, pasti tenaga kamu habis." Aldy begitu dingin saat menyodorkan satu piring nasi berisi lauk yang menggugah selera tapi tidak untuk malam ini
Gauri hancur hidupnya makanan seenak apapun tidak akan pernah enak lagi di dalam mulutnya, apa artinya hidup ini jika hidupnya sudah di renggut dan di hancurkan oleh orang yang tidak pernah ia kenal sebelumnya. Ia takut tidur dan takut mimpi-mimpinya menjadi nyata semua.
"Jika kamu tidak makan, kamu tidak bisa balas dendam pada saya Gauri. Pasti kamu marah dan benci sekali, tapi,, saya suka kamu membenci saya dengan begitu saya tidak sungkan-sungkan lagi menghancurkan kamu tanpa jejak." Kejam sekali ancaman Aldy sambil mencengkram dagu Gauri lalu menghempaskan nya juga dengan kasar.
Aldy beranjak pergi dan membiarkan Gauri untuk mengisi tenaganya nanti ia akan baik-baik mengajari Gauri cara menyenangkan tubuh laki-laki normal seperti dirinya. Aldy sudah berencana untuk menjadikan Gauri sebagai partner dalam ranjangnya setiap waktu dirinya membutuhkan pelepasan.
Gauri berusaha berpikir jernih, tidak ada salahnya ia makan untuk mengganjal perutnya yang sudah meronta-ronta sebab menangis tadi, ia harus kuat dan melawan Aldy dengan caranya sendiri, biarlah di anggap lemah tapi bukan berarti tidak bisa berbuat apa-apa bukan.
Satu bulan telah berlalu dan selama itu pula Gauri mendapatkan siksaan yang sama, tapi setelah selesai menyiksa Gauri Aldy akan pergi begitu saja dan enggan untuk menoleh ke belakang lagi, baginya setelah pelepasan tidak ada perlu hal lagi dan selama itu pula Grace mengkonsumsi pil pencegah kehamilan atas permintaan Aldy sendiri dan di saksikan Aldy secara langsung juga agar tidak kecolongan.
Pagi hari datang.
"Mbak Gauri, hari ini pak bos mengizinkan mbak keluar." Dengan senyum lebar Mimi memberitahukan jika hari ini boleh keluar dari kamar penyiksaan.
"Benarkah? tunggu sebentar kalau begitu," senyum merekah di ujung sudut bibir Gauri, rasanya sudah lama sekali tidak dapat kebebasan yang hakiki.
Sesampainya di taman Gauri terkejut saat melihat pemandangan yang seharusnya tidak ia lihat sama sekali, Aldy sedang bercumbu bersama wanita lain di gazebo terlihat mesra bahkan wanita itu duduk di atas pangkuan Aldy, bukan cemburu tapi rasanya tidak nyaman melihat pemandangan yang seharusnya tidak ia lihat.
"Mbak Mimi, saya mendadak tidak ingin keluar kamar. Apa boleh saya boleh masuk ke kamar lagi?" Mimi tau jika Gauri terluka hatinya saat melihat pemandangan itu, tapi wanita itu sudah sering keluar masuk kamar tuannya selama Gauri tinggal di sini.
Mimi bahkan keheranan sendiri, membawa pulang wanita secantik Gauri tapi menyakiti Gauri jiwa raganya sampai hancur lebur, saat Mimi hendak bertanya lebih Gauri bungkam dan tidak mau menceritakan tentang masa lalunya kepada semua orang di villa ini meski semua dapat di percaya untuk menjaga rahasia masing-masing.
"Mari saya hantar mbak Gauri!" sopan santun tutur katanya.
"Mbak Mimi, wanita tadi itu siapa." Ragu-ragu bertanya.
Dirinya harus tau siapa dia, jika suatu hari ada apa-apa setidaknya ia kenal dan lebih waspada jika wanita itu tau keberadaan dirinya.
"Wanita tadi teman spesialnya pak bos mbak," Mimi akhirnya jujur juga.
"Oh." Gauri hanya beroh saja, tidak layak kepo dengan urusan orang lain.
Aldy sedari tadi tau jika Gauri melihatnya tapi ia sengaja agar Gauri semakin tau posisinya, setelah Gauri pergi barulah Aldy menyuruh wanita itu beranjak pergi.
"Jangan lupa transfer ya sayang." Membelai pipi Aldy dengan penuh kasih sayang.
__ADS_1
Aldy segera menepisnya, ternyata tubuhnya tidak dapat bereaksi ke siapa-siapa kecuali Gauri seorang, ternyata miliknya mendadak impoten tapi ketika dekat dengan Gauri mendadak sembuh bahkan bisa pelepasan beberapakali di dalamnya. Sungguh aneh dan ajaib bukan seperti menggunakan jimat pemikat atau pesona.
"Sana pergi, barusan saya transfer," mengibaskan tangannya.
Aldy segera beranjak pergi ke kamar Gauri dan melihat sedang apa wanita itu. Dari gadis ia rubah jadi wanita, meski belum lihai bermain di atas ranjang tapi setiap bahasa tubuhnya bergerak sudah membangkitkan gairah brahi*ya. Hanya kata-kata hebat yang terbesit di pikiran Aldy.
Ceklek.
"Ada apa kemari? apa sudah selesai bermainnya di gazebo." Gauri merasakan jijik melihat tubuh Aldy.
Rasanya aneh seperti wanita yang di hianati kekasihnya, tapi kenyataannya dirinya terlupa jika dirinya ini hanya partner ranjang saja tidak lebih dari itu, jika berharap lebih maka tanggung sendiri jika jatuh cinta dan tidak dapat di kendalikan cinta tersebut.
"Aa ... ha... ha..., kamu cemburu dengan saya? apa benar?" Aldy mendekatkan wajahnya ke arah Gauri.
Gauri sedikit memundurkan kepalanya.
"Tidak, kalau sudah punya partner dengan dia kenapa kamu menyiksa saya. Apa kurang puas servisnya." Gauri menyudutkan Aldy.
"Ck, apa yang saya lakukan ke kamu tidak ada apa-apa nya. Kamu memang pantas disiksa," Aldy mengertakkan giginya.
Gauri puas melihat raut wajah Aldy yang marah itu, lebih baik Aldy marah sekarang dan melampiaskan amarahnya. Jujur saja ia tak sanggup jika malam hari harus bermain dengan laki-laki pemaksa dan penjahat area selangkan9an.
"Siksa saya sekarang, saya tidak mau jika malam hari." Tawaran yang begitu menggiurkan dan istimewa pagi hari.
Pas waktunya untuk membuat yang dingin jadi hangat, yang hangat jadi panas, yang panas jadi keringetan.
"Baik, ingat betul-betul Gauri pembawa ke sialan. Ini permintaan kamu, saya akan mengabulkannya," Aldy sudah berjongkok dan menatap area itu.
Ia singkap rok milik Gauri dan ia tatap dengan tatapan lapar, tanpa ampun jari jemari Aldy bermain begitu liarnya sampai Gauri merasakan kesakitan. Tapi ia tahan, bukannya ini sudah biasa terjadi bahkan setiap hari. Rasanya hidup sudah tidak berarti lagi, kenapa ia terjebak ke dalam kubangan.
"Sakit.. pelan-pelan." Gauri menggigit bibir bawahnya.
Aldy justru menjadi-jadi.
Tanpa ampun ia menghujam berkali-kali, Gauri pasrah di bawah kungkungan permainan pagi ini. Ia merasa seperti boneka sek$ saja, di kunci di dalam kamar dan dijadikan pemuas naf$u tuan arrogant.
'Sial.. kenapa tubuhnya selalu buat candu, dan lebih sialnya lagi kenapa aku selalu lepas kendali di hadapan wajahnya yang polos dan aku ingin sekali menyiksanya sampai ia merintih kesakitan seperti sekarang.'
Gauri merasakan pelepasan Aldy yang begitu dalam memasukkannya.
Skip
"Bersihkan itu dan sarapan pagi, aku akan ke hotel pagi ini." Aldy merapikan kembali pakaian yang ia kenakan.
"Iya," Gauri merasakan sakit di antara kakinya.
'Sakit sekali.' Mengeluh dalam hati.
Aldy cepat-cepat keluar dan masuk kembali ke kamarnya pribadi dan membersihkan dirinya, saat di bawah guyuran shower ia teringat pesona Gauri bahkan ia hampir lupa dengan kekasihnya yang sudah tiada itu, bahkan dalam memori ingatannya hanya ada nama Gauri saja tidak ada yang lain.
Gauri sedikit tenang saat sarapan pagi, Aldy sudah berangkat ke hotel dan ia bisa makan dengan nikmat tanpa adanya gangguan syaiton. Aldy memang pantas di juluki demikian, penjahat dan juga orang yang semena-mena tanpa mau peduli dengan orang yang ia tindas sampai terluka jiwa raganya.
"Mbak Mimi, apa saya bisa keluar lagi untuk jalan-jalan di sekitar taman yang ada di villa ini?" Gauri masih ingin keluar sebentar saja meski masih area villa yang luas tempat tinggal Aldy.
Mimi tersenyum.
__ADS_1
"Kalau mbak sudah kenyang dan tidak sakit boleh mbak, kata pak bos tadi sebelum berangkat ke hotel!" jawaban Mimi dengan tersenyum-senyum.