
Tekan jempol dan bintang 5 ya.
***
Daysi yang baru saja selesai menonton drama Korea dengan Momo bergegas menuju kamar Sindy dan Cheval sakit tadi.
Cheval sedari tadi hanya terus memandang pemandangan papa dan putrinya, sampai-sampai Daysi dan Momo datang Cheval tidak menyadarinya, Ano yang sedari tadi di tempat itu hanya menjadi penonton drama keluarga tersebut.
Daysi reflek memeluk erat Momo dalam dekapannya.
"Tidak ingin bergabung sekalian Ma?" Cheval melontarkan pertanyaan yang membuat Ksatria dan Sindy merentangkan tangannya.
Dengan senang hati Daysi langsung menuju tempat tersebut dan menyambut pelukan hangat suami dan putri sematawayangnya. Pelukan yang selama ini Sindy rindukan terjadi hari ini, hari yang penuh derita dan bahagia sekaligus untuk Sindy. Dukanya lantaran gara-gara suaminya ia sampai demam dan bahagianya adalah hal yang paling ia inginkan dari dulu sampai sekarang, kehangatan dari kedua orang tuanya.
"Menantunya di biarkan seperti ini menganggur sendirian." Cheval sedikit protes dengan keadaan ini, ia di lupakan.
Ano yang mendengar Cheval bersedih langsung berhamburan memeluk Cheval dengan erat sampai sesak tubuhnya.
"Om Ano aku lagi sakit, kenapa malah Om yang memelukku, aku mau istri dan mertua ku yang memelukku." Menatap keluarga kecil yang ada di sampingnya.
"Tidak boleh, ini hukuman lantaran kamu membuat Sindy sakit tadi pagi," Ksatria menjulurkan lidahnya dan melanjutkan kebahagiaan ini.
"Hemm... benar-benar anak angkat hari ini dan seharusnya yang aku dapatkan dari dulu, kenapa tidak dari dulu saja. Jadinya istriku tidak bersifat dingin dan cuek, siapa tau bisa jadi lemah lembut atau centil bahkan bar bar, aa... ha... ha..., lucu sekali jika Sindy bar bar sifatnya." Cheval tersenyum-senyum sendiri dengan pikiran konyolnya.
Daysi yang sudah melepas pelukannya menatap sang putra tersenyum-senyum sendiri, bahan semua orang tertuju pada Cheval. Mereka merasa aneh, apa penyakit demamnya ini berefek pada mentalnya dan berakibat otaknya berjalan tidak sesuai, yang artinya dia sedikit ada gangguan kejiwaan.
"AA... SADAR." Teriak Sindy sambil mengguncang-guncang tubuh suaminya.
"Iya sayang ada apa?" Cheval menatap istrinya.
"Tadi pandangan Aa kosong dan tersenyum-senyum sendiri, kami semua sangat hawatir!" jawab Sindy yang sudah memeluk suaminya.
__ADS_1
"Benarkah? padahal tadi Aa sedang memikirkan jika istriku dari dulu penuh keceriaan sepertinya tidak ada Sindy yang dingin yang ada Sindy yang bar bar dan kecentilan dan yang lebih parahnya kamu mengejar-ngejar aku untuk kamu jadikan suami impian, uuppss... Aa keceplosan." Ucap Cheval tak terkendali sambil menutup mulutnya, sedangkan Sindy memelototkan matanya.
Dan pada akhirnya Sindy mencubit keras perut Cheval sampai memutar cubitan maha dahsyat.
"Aww... sakit sayang, hu... hu...." Cheval memegang perutnya.
"Rasain, makanya jangan berpikiran yang aneh-aneh, Aa pikir aku akan jadi wanita seperti itu, tidak ada di kamus ku," ketus Sindy memunggungi suaminya.
"Maaf sayang." Cheval meraih tangan Sindy namun segera di tepis.
Semua orang pergi satu persatu dari ruangan tersebut, dari pada menonton drama anak sekolah yang sudah menikah ini. Suasana kamar hanya penuh peperangan adu mulut antara suami istri, dan pada akhirnya Sindy lebih memilih diam seribu bahasa.
Cheval beranjak dari tempat tidur dan mendekati istrinya yang menyilangkan kedua tangannya di depan dada dan menatap ke arah luar jendela.
"Sayang." Cheval langsung meraih kedua pipi Sindy dan memberikan ciuman pada Sindy, Sindy yang merasakan ada hawa panas saat berciuman langsung melepasnya.
"Kenapa?" Cheval kebingungan sendiri.
"Aa sedang sakit, jangan berbuat macam-macam!" Sindy tidak enak hati.
Sindy terhanyut dalam ciuman ini sampai tidak sadar jika pintu terbuka lebar dan menjadi tontonan gratis penduduk Malik. Sedari tadi orang-orang sengaja berlalu lalang di depan kamar tamu tersebut untuk mencegah sesuatu terjadi, eh malah terjadi sesuatu yaitu kemesraan pasangan suami istri.
Dengan pelan-pelan pintu di tutup oleh Daysi yang tadinya ingin mengambil ponsel Ksatria yang ada di dalam kamar tersebut.
Ksatria yang menunggu ponselnya kini mulai bosan, kenapa bisa-bisanya ponsel penting tertinggal di kamar tamu.
"Mana Ma ponselnya?" Ksatria meminta ponselnya.
"Tidak jadi Mama ambil Pa, Mama tidak mau menggangu mereka yang sedang di sofa!" Daysi lebih memilih duduk dan menikmati majalahnya.
Ksatria tidak peduli dengan itu yang saat ini ia butuhkan ponselnya. Tanpa basa basi Ksatria membuka pintu dan melihat pemandangan yang waw, menantunya sedang bermain ria di tubuh bagian atas putrinya.
__ADS_1
"Ehem, Papa tidak lihat. Papa cuma mau mengambil ponsel ini, jangan lupa main sebentar dan jangan sampai sakit lagi putriku." Secepat kilat Ksatria mengambil ponselnya.
Cheval langsung menghentikan kegiatannya dan menutup kembali tubuh bagian atas istrinya. Cheval menatap dengan tidak suka, saat bermain seperti ini terganggu. Sindy merasa terselamatkan sekarang dengan kedatangan papanya, setidaknya ada jeda untuk malam ini untuk tidak melayani suami mesumnya.
Meskipun ia sangat malu, karena ketahuan seperti ini di depan papanya.
Ksatria melambaikan tangannya usai menggagalkan aksi putra putrinya, ada rasa puas tersendiri saat menggangu momen indah tersebut.
"Kasihan sekali momen panas dingin aku ganggu, tapi gak apa-apa dari pada Sindy sakit lagi. Kasihan Daysi juga." Saat berada di luar kamar.
Cheval menatap tajam pintu kayu yang berukuran satu setengah meter tersebut, seolah-olah ingin melahapnya secara langsung jika ada yang masuk lagi.
"Aa, jangan melotot kenapa matanya, mau lepas tuh." Sindy duduk menjauh sedikit dari suaminya.
"Biarkan, sekalian menggelinding di depan pintu biar tidak ada yang berani masuk dan menggangu kita," Rasa kesal dalam hatinya masih sangat berkobar-kobar.
Ada tangan kecil yang tiba-tiba melingkar di perut ratanya, tangan yang nyaman sekaligus menyakitkan jika tersinggung. Dan tangan inilah yang selalu sukses membuatnya panas dingin dengan sentuhan lembutnya.
"Kamu yang memancingnya sayang, tanggung jawab. Meskipun aku sakit tapi sebagai lelaki sejati aku merasa di terpancing." Cheval melakukan aksinya, tapi sebelum ia menyentuh bagian bawah dengan tangannya ia merasakan ada sesuatu yang mengganjal.
"Jangan bilang...?" sambil menunjuk area tesebut. Sindy menganggukkan kepalanya.
"Maaf ya Aa!" Sindy tersenyum.
"Tidak apa-apa, untung tidak berdiri tegak dan sekarang langsung lemes deh." Ucap vulgar Cheval tidak tau malu.
"Aa, bolehkah Sindy tau. Kenapa akhir-akhir ini Aa selalu nafsu seperti ini?" pertanyaan Sindy membuat Cheval bingung sendiri.
"Eemm... mungkin karena mendekati bulan suci Ramadhan, makanya Aa nafsuan seperti ini!" sambil menyenderkan tubuhnya di sofa dengan malas.
"Betul juga sih Aa, puasa tahun ini semoga semakin berkah ya Aa rumah tangga kita." Doa Sindy yang langsung di aamiin i oleh suaminya.
__ADS_1
"Aamiin semoga berkah selalu sampai akhir hayat kita," mengecup singkat tangan Sindy.
Sindy sangat bersyukur di pertemukan dan menjadi istri Cheval Malik, dulu tidak ada cita-cita menjadi istri kakak angkatnya sendiri. Meski dulu sempat kagum dengan kakaknya yang selalu melarang bertemu dengan teman laki-laki, saat bermain saja ada tanda silang atau larangan untuk mendekat. Ada-ada saja kelakuan Cheval kecil dahulu, memang sih sang kakak tampan dan pintar sejak kecil bahkan banyak perempuan yang mengidolakan sosok parasnya yang mempesona.