ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu

ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu
S3. Saudara rasa pacar


__ADS_3

Di ruang pribadi Dilan


"Maaf aku terlambat datang Kak Princess." Sambil mengusap darah yang ada di sudut bibir Princess.


"Terimakasih Ilan," sedikit bergetar Princess berbicara.


Dilan tersenyum lalu ia mengobati luka di wajah Princess.


Dilan mengamati setiap inci dari wajah Princess yang terlihat cantik luar biasa, padahal Princess tidak memakai bedak tebal. Hanya menggunakan tipis saja, tapi aura yang di pancarkan sangat besar.


Dilan menyentuh pipi Princess dengan jari telunjuk dan mengusapnya perlahan.


"Kamu cantik kak. Sangat cantik." Berucap tanpa sadar sebab ia masih terkagum-kagum dengan wajah wanita cantik yang ada di depannya itu.


"Ehem...." Princess membuyarkan lamunan Dilan, sebenarnya ia tersipu malu saat Dilan memujinya cantik lagi dan lagi.


"Eh... sorry kak Princess, tapi beneran deh kamu itu cantik banget loh kak. Tapi kenapa sampai sekarang masih jomblo," mencubit hidung Princess dengan gemasnya sampai Princess memukul-mukul lengan kekar Dilan Malik.


"Ya iyalah jomblo, orang yang aku cintai gak peka ko sampai sekarang." Princess beranjak pergi dari hadapannya.


"Wah... benar-benar ada laki-laki yang kamu cintai ternyata, siapa dia biar aku seleksi dia. Apakah sudah pantas untuk kamu atau tidak, jika tidak pantas aku tendang keluar dia?" Dilan memancing pertanyaan sambil mengepalkan salah satu tangannya di belakang badannya.


Rasanya iri sekali ada laki-laki yang di cintai kalak kesayangannya, kakak manisnya.


"Dia ada di dekat aku! Tapi...," Princess menundukkan pandangannya. Belum juga selesai berbicara Dilan sudah memeluk erat tubuhnya.


"Aku mohon kak Princess, jangan memilih dia. Apa kamu tidak tau aku... aku... cemburu kak, aku takut kehilangan kamu. Aku-- mencintai kamu kak meski aku tau kita saudaraan beda ayah saja dan tidak sepersusuan meski kita lahir di rahim yang sama." Bisiknya tepat di telinga Princess.


Princess langsung menengadahkan wajahnya ke atas dan menatap Dilan adiknya penuh tanda tanya.


"Aku sungguh-sungguh kak. Maukah kamu menjadi kekasihku dan menjadi istriku?" Bertanya sambil menggenggam erat tangan Princess.


Apa-apaan ini, jangan bilang ini ngeprank saja. Bikin orang emosi level tinggi jika iya. Lagian saudara darah lebih kental dari air bukan.


"Cup." Dilan mengecup singkat bibir mungil Princess mendadak tanpa menunggu jawaban iya dari pemilik tubuh.


Nih orang main sosor aja padahal belum juga si cewek menerima dia. Dengan kepercayaan tingkat tinggi langsung sergap di tempat, apa sebegitu nafsu dan menariknya si Princess dalam hati dan pikiranmu Dilan Malik.


Princess hanya terdiam tanpa berekspresi apa-apa, antara terkejut dan juga bingung jadi satu.


"Kenapa ekspresi mu seperti itu kak Princess, apa aku mengejutkan kakak???!!!" Dilan menangkup kedua pipi Princess.


Princess menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Tidak..., em-- takut kamu prank Dilan. Lagian jika nanti mama dan keluarga yang lain tau kita bersama bukannya itu akan menjadi hal buruk Ilan." Ucapan Princess ada benarnya juga.


Meski ada rasa suka tapi ia berusaha mengendalikan perasaan yang tidak pantas ini.


Tapi Dilan sudah memutuskan pilihannya, jika suatu saat ia di coret dari keluarga Malik ia siap. Lagian ia memiliki cukup uang untuk membangun usaha kecil-kecilan sendiri tanpa meneruskan bisnis hotel dan apartemen keluarga besar Malik.


"Aku tidak peduli, lagian bukannya selama ini semua menyukai kamu dari pada cucu kandungnya, em ... maksudku bukan begitu semua di sayangi dan di sukai tapi hanya kamu yang paling tertonjolkan." Dilan memanyunkan bibirnya.


Benar juga jika di dengar, bahkan selama ini perhatian mereka semua selalu berpusat pada Princess, mungkin karena ia cantik dan penurut sepertinya menjadikan mereka sayang dan peduli secara lebih. Padahal ia bukan anak kandung dan cucu satu-satunya dari keluarga Malik.


Apalagi saat berkumpul dengan saudara jauh, Princess yang akan selalu di tonjolkan dari pada yang lainnya. Apa dulu mereka mengharapkan penerus yang lahir adalah perempuan. Padahal semua cucu perempuan kecuali Zamil dia laki-laki sendiri sedangkan Mama Sindy tidak bisa memiliki keturunan lagi pasca harus melahirkan bayi yang tidak berkembang dulu.


Jam kerja.


Dilan masih saja tersenyum-senyum sambil memandangi Princess yang berkerja keras hari ini. Entah mengapa ia merasa terabaikan olehnya, sepertinya jam kuliah Dilan bertepatan lagi dengan bantu-bantu kerja di hotel.


"Kak Princess." Panggilnya sambil memelas seperti kucing kehausan.


"Iya, ada apa Ilan?" Masih saja menata berkas-berkas yang ada di depannya. Bahkan ia menatap Dilan sekilas saja.


"Ko aku di abaikan sih, aku pacar kamu loh mulai hari ini!" Dilan berjalan mendekati Princess dan mengambil berkas-berkas yang ada di tangan Princess.


"Eh... ya sudah kalau kamu minta, kerjakan sendiri berkas-berkas itu. Aku mau membuat minum." Benar-benar acuh tak acuh Princess sekarang ini. Princess segera pergi membuat minuman coklat yang sudah tersedia di ruangan ini, ia menetralkan detak jantungnya agar tidak gugup di depan Dilan.

__ADS_1


"Hem... tampan, pekerja keras tapi di biarkan, nanti jika ada lalat yang hinggap bagaimana?" Memainkan kedua jari telunjuk kanan kirinya.


Princess memutar bola matanya dengan malas.


"Tinggal pukul aja pakai raket nyamuk kan beres Ilan. Lalat tidak akan hinggap di kamu." Ucapan Princess yang kurang peka.


"Ih... calon istriku kurang peka," omelnya sambil membolak balik berkas yang ada di tangannya dengan keras, bahkan sedikit lagi bisa berhamburan terbang menjadi serpihan kecil.


Princess langsung merebut berkas-berkas yang ada di tangan Dilan.


"Gak usah lebay, sekretaris cantik kamu sudah kamu pecat. Selanjutnya kamu mau cari yang bagaimana lagi untuk menjadi penggantinya?" Princess menarik kursi dan duduk di depan meja Dilan.


"Yang seperti kamu saja sudah cukup puas kakak manisku ... sayangku!" Sambil mengangkat kedua alisnya secara bersamaan.


Ternyata orang yang sedang kasmaran bisa gila mendadak. Gak peduli dengan ikatan darah ternyata, yang penting saling cinta. (Tidak patut di contoh)


"Tidak bisa, aku tidak mau jadi sekretaris kamu. Jadi asisten kamu saja sudah kerepotan di tambah lagi jadi sekretaris kamu, bisa-bisa aku jadi tua mendadak Ilan." Ide gila Dilan tidak di anggap serius oleh Princess.


"Ya enggak lah kak, lagian ya jika kamu jadi sekretaris aku kamu bisa kemana-mana loh sama aku. Apa kamu rela pacar baru dan pertama kamu di tonton banyak orang," sambil menarik rambutnya ke belakang.


Princess menghela nafas panjang.


"Tidak jadi sekretaris saja sudah kemana-mana setiap hari, enggak saja deh Ilan. Lebih baik kamu cari yang baru saja, yang penting pekerja keras dan gak aneh-aneh sikapnya apalagi kegenitan." Princess membuka layar ponselnya dan hampir lupa jika dirinya memesan kue.


Sedari tadi ada pesan masuk berkali-kali memastikan jika Princess benar-benar memesan kue tersebut.


Dilan yang di abaikan bermain angin dengan bibirnya.


"Huf... huf...," sambil menata rambutnya di depan dahi sambil meniup-niupnya.


Pulang kerja.


Dilan seperti biasanya memakaikan seat belt pada Princess, tapi kali ini ia melakukannya dengan lebih tanpa basa basi lagi seperti kemarin-kemarin.


Tidak ada angin tidak ada hujan, Dilan begitu romantis pada Princess. Benar-benar suami siaga 24 jam tanpa henti, ia melakukan hal-hal yang membuat Princess jengkel sendiri sampai bosan.


"Ilan ... dasar jahat." Princess sampai gerogi saat turun dari tempat duduknya.


Princess sampai menangis sesenggukan saat turun. Dilan merasa bersalah membuat Princess sampai ketakutan seperti itu.


"Maafkan aku kakak manis ku," Dilan menenagkan Princess.


Princess mengangguk sambil mengusap air matanya yang sudah mulai kering, sudah seperti biasa jika ia menangis pasti baju milik Dilan akan menjadi sasaran pulau tangisnya. Dengan terpaksa Dilan melepas jaket yang ia gunakan sebagai lapisan tebal dari pakaian kaos tipisnya.


Saat melepas jaketnya, tercetak jelas tubuh bagus miliknya. Princess mulai sebal jika Dilan seperti ini, tanpa tebar pesona saja sudah memikat orang lain.


"Ilan, lain kali pakai yang tebal sedikit kenapa. Apa kamu tidak malu Ilan terlihat jelas tuh badan kamu?" Tunjuknya pada tubuh Dilan.


Dilan malah menyentuh perlahan badannya.


"Ini maksud kamu, terpaksa terlihat gara-gara jaket aku penuh ingus kamu. Andai tadi kamu tidak menangis sejadi-jadinya pasti aku tidak melepas jaket yang melapisi tubuh perfect aku ini!" Jawab Dilan sambil membusungkan dadanya.


Princess berjalan cepat dan mengabaikan Dilan yang mengekori dirinya sedari tadi.


"Kakak ... jangan marah ya, kita baru saja resmi hari ini loh." Dilan berusaha meraih lengan Princess namun sia-sia, dia menepis tangan Dilan.


"Huft... baru juga jadian masa iya putus, gak lucu loh ini."


Saat di dalam mobil.


Suasana nampak mencengangkan, Dilan sengaja melewatkan jalan yang sunyi saat pulang. Dilan pikir Princess akan takut dan langsung memeluk lengannya yang sedari tadi di biarkan sendirian, justru Princess mulai memejamkan matanya.


Salah satu kediaman Malik.


Dilan mengendong sang pujaan hati sampai masuk ke dalam kamarnya. Princess nampak cantik dan menggemaskan sekali, dengan perlahan Dilan menurunkan tubuhnya di atas tempat tidur.


"Emm...." Princess menggeliat dan membenarkan posisi tidur yang nyaman.

__ADS_1


Dilan langsung terkejut dan membaringkan tubuhnya di samping Princess.


"Sudahlah, dari pada pusing sendiri melihat dia diam seribu bahasa. Masa iya gara-gara pakaian dalam tipis ku ini jadi masalah, seperti anak kecil saja." Dilan segera bangkit dari tempat tidur Princess dari pada terjadi hal-hal yang tidak di inginkan.


Godaan lebih kuat jika hanya ada dua orang makhluk hidup di satu kamar.


Tiara sedang mabuk di sebuah klub malam, tapi ia tak habis pikir rayuan apa yang wanita jalan* itu ucapkan pada Dilan sebelum-sebelumya, sampai-sampai dirinya yang cantik luar biasa seperti ini mendapat musibah seperti ini.


"Aa... ha... ha..., modal cantik doang gak guna jika tubuh dan otak gak berjalan." Ucap seseorang laki-laki yang tak lain adalah barista di klub tersebut.


"Nih orang bicaranya sok bijak, aku yakin dia sad boy." Gumam Tiara dalam hati.


"Sok tau kamu, mungkin saja dia menggunakan tubuh biasa-biasanya untuk menggoda. Bukannya jaman sekarang gak peduli menonjol atau datar tetap menggoda, asalkan di sodorkan begitu saja," Tiara mulai merancau ucapannya.


"Kenapa kamu tidak mencoba seperti itu saja Tiara, siapa tau setelah kamu sodorkan dia mau." Saran gila dari orang yang membuat minuman.


"Sudah pernah duduk di depannya, malah di usir dan lebih parahnya lagi aku di pecat tadi pagi," Tiara jadi curhat.


Romeo hanya tersenyum getir, ia teringat masa lalu di mana wanita yang ia cintai tidak pernah menganggapnya ada.


Tiara sempoyongan berjalan keluar bar tersebut. Romeo yang biasa-biasanya tidak peduli dengan pembeli kini ada sedikit kasihan dan ketertarikan pada wanita yang sok kuat dan tegar itu.


"Merepotkan sekali, hey... di mana rumah kamu?" Percuma saja Romeo bertanya yang ada ia di buat jijik dengan pelangi berwarna yang baru saja Tiara keluarkan.


"Ih... dasar tidak tau di untung, sudah di tolong malah mengeluarkan pelangi. Tau begini tidak aku tolong." Gerutu Romeo sambil membersihkan lengannya yang terkena pelangi.


Keesokan harinya.


Dilan sedari tadi tidak fokus kerja, entah apa yang sedang di lakukan Princess nya di rumah dengan Mama Momo.


"Membosankan sekali tidak ada Kak Princess manisku disini." Hanya membolak balikkan berkas yang akan ia tanda tangani.


Hari ini ada sekretaris magang di kantor ini, jika cocok lanjut berkerja jika tidak langsung ganti yang baru lagi dan lagi. Sambil mengerjakan tugas kampus miliknya yang sudah membeludak dan minta segera di kerjakan, jika tidak Dosen killer bakalan berapi-api.


Tok


Tok


Tok.


"Permisi pak, apa saya boleh masuk?" Sambil mengetuk pintu.


Dilan langsung mengerutkan dahinya, bukannya ia mencari sekretaris laki-laki kenapa suaranya perempuan. Pasti office girl yang datang mengantar minuman yang ia pesan setiap paginya.


"Masuk!" Jawabnya tanpa mau menatap siapa yang datang.


Dilan menatap dari bawah ke atas, sepertinya laki-laki tapi mengapa suaranya seperti wanita Apa dia merubah gendernya untuk dapat pekerjaan di kota, rasanya aneh dan mustahil ada di kota ini.


"Apa kamu merubah identitas kamu sebelum ke Negara ini?" Pertanyaan pertama terlontar begitu saja, dari pada penasaran lebih baik bertanya dulu saja. Meski pertanyaan yang di ajukan itu menyakiti telinga pemiliknya.


"Tidak pak bos!" Jawabnya dengan suara khas laki-laki sejati, serak dan berat.


Dilan Malik tersenyum mendengar jawaban calon sekretaris barunya, sepertinya suatu hari nanti ia butuh jasa suaranya untuk berbuat sesuatu. Sedari tadi Dilan menatap identitas yang ada di tangannya, nama dan umur sesuai dengan yang ada dan riwayat hidup juga sangat menarik untuk di lihat.


"Mulai hari ini kamu berkerja, itu tugas kamu dan pelajari semua yang ada di berkas-berkas itu." Tunjuknya pada meja yang ada di pojok ruangan.


Sekretaris baru ini dengan cekatan mempelajari semua yang ada.


"Ternyata mudah sekali masuk di perusahaan ini, lain kali aku akan buat kejutan yang bagus di sini. Yang pastinya tidak akan mengecewakan."


Ia menatap ke arah Dilan Malik secara intens tanpa sedikitpun lepas dari pandangannya.


"Hey jaga pandanganmu, nanti terjadi fitnah jika kamu tidak sopan menatap bos mu seperti itu." Bentak Dilan yang sudah merasa geram dengan sekretaris barunya itu.


"Maaf Pak bos, saya berjanji tidak akan mengulanginya. Tapi Pak Bos, anda setampan ini dan sesempurna ini apa tidak punya istri atau kekasih?" Antara memuji dan ingin mati laki-laki yang baru jadi sekretaris ini, bertanya sesuatu yang mengerikan sekali jika ada orang lain yang mendengar.


Dilan menatap Tudou (kentang) dengan tatapan membunuh.

__ADS_1


"Kamu ingin saya pecat saat ini ya, siapa--." Belum selesai mengomel Dilan mendapati Princess masuk ke ruangannya dengan senyum menawan.


__ADS_2