
Selamat membaca😊
***
Lais segera pergi dari area pemakaman dan melajukan motor nya.
"Aku yakin ayah nya Momo akan salah paham padaku kedepannya, apalagi jika keluarga Malik tau yang sebenar nya. Aku di sini tidak bersalah yang bersalah laki-laki tidak bertanggung jawab itu sampai-sampai ibuku meninggal gara-gara dia." Lais menggertakkan giginya.
Motor ia pacu cukup kencang tapi tetap berkonsentrasi. Mengingat jalan yang di lalui ramai orang menggunakan kendaraan nya masing-masing.
Rumah peninggalan sang mama Lais.
Banyak kenangan di rumah ini, tentang ibunya yang sedang menjahit, memasak dan aktivitas lainnya masih melekat di memori ingatan Lais.
8 tahun lalu, papanya meninggalkan kediaman ini dan lebih memilih wanita lain yang lebih dari segala-galanya dan pindah ke Luar Negeri dengan kekasih baru nya. Tidak lama setelah perceraian terjadi kondisi sang mama semakin menurun dan drop mendadak, saat di bawa ke Rumah Sakit ternyata Allah sudah lebih dulu memanggilnya.
Lais masih berumur 9 tahun lebih saat itu. Mamanya yang bernama Ayudia pergi untuk selama-lamanya.
Segera Lais mengusap air matanya yang jatuh berderai di pipi nya.
"Aku tidak boleh lemah, aku harus kuat demi mama. Meski mama tidak ada di dunia ini lagi aku yakin mama melihatku di Surga dengan tersenyum."
__ADS_1
Kkllikk....
Lais mengunci kembali kediaman tersebut setelah menjengguk nya, ia pacu kembali motornya dan meninggalkan kediaman tersebut dan kembali ke tempat kerjanya di kedai kopi.
Kediaman Malik.
Momo meminta sang ayah untuk menghantarkan nya ke rumah mama dan ingin menginap di sana. Sacha menghela nafas panjang melihat sang putri merajuk sambil menyilangkan kedua tangannya di perut.
"Yakin kamu mau tidur di rumah mama Daysi, yakin bisa tidur tanpa bantal kesayanganmu hem...?" Sacha menatap sang putri dengan tidak percaya, karena ia tau sang putri tidak bisa tidur jika bantal kesayangannya yang bergambar putri tidur atau aurora.
"Yakin ayah," Momo segera keluar dari mobil sang ayah dan menuju ke dalam rumah.
Kediaman ini nampak sepi sekali, dulu ia merasa senang dan bahagia di sini apalagi sebelum mbok Yati meninggal 5 tahunnan yang lalu dan mbak Ria juga masih ada di sini sebelum ia di pinang duda kaya, sekarang hanya mbak Mala yang ada bahkan rumah yang melakukan bersih-bersih hanya orang panggilan saja.
Daysi yang baru saja pulang setelah berbelanja dengan Sindy hanya geleng-geleng kepala mendengar teriakkan Momo yang menggelegar dan cempreng tersebut.
"Berisik sekali kamu Momo," ucap Sindy yang mulai kesal.
"Biarin, lagian rumah segede ini sepi banget. Papa di mana tumben tidak terlihat?" Momo mencari kesana kemari.
"Papa ada di lapangan golf dengan ayahmu Momo," Daysi mengambil sebuah makanan dan memberikannya pada Monique.
__ADS_1
Lapangan golf.
Ksatria dan Sacha sedang beradu bola golf siapa paling banyak ia pemenangnya, selain itu Sacha ingin mengeluarkan emosi nya melalui permainan ini.
Ia masih sangat kesal dengan nama yang terngiang-ngiang di otaknya setelah dari pemakaman tadi.
Ksatria yang melihat permainan buruk Sacha terheran-heran baru terkena apa sih kenapa permainannya satu pun tidak ada yang benar bahkan bola saja tidak masuk satu pun, biasanya dalam sekejab masuk 2 bola.
"Ada masalah apa sih kamu, tumben-tumbenan permainanmu buruk sekali." Ksatria konsentrasi memasukkan bola golf.
"Marc William," jawab singkat Sacha yang berhasil membuat Ksatria gagal memasukkan bola.
"Siiaalll, kenapa tidak bilang dari tadi. Pantas saja kamu dari tadi grasak grusuk tidak jelas." Meletakkan stik golf dan duduk di hamparan rumput buatan. "Terus sekarang ada informasi apa yang kamu dapat?"
"Kamu tau, Momo sedang dekat dengan putranya. Semoga ia bukan putra bajinga* itu jika ia aku akan melarang keras Momo dekat dengannya, bisa-bisa ia melukai Momo dan meninggalkan Momo begitu saja seperti dia meninggalkan putra kandungnya demi wanita lain," Sacha menjelaskan keluhan pikirannya.
Ksatria hanya mengpalkan tangannya saja, saat ini Momo juga putrinya meski bukan kandung.
"Terus apa kamu sudah tau, apa ia benar putra bajinga* itu."
"Belum tau, orang suruhanku belum menemukan apapun saat ini. Tapi aku tetap menyuruh untuk mengawasi gerak gerik bocah itu," Sacha melihat ponselnya yang sedari tadi bergetar ada pesan masuk.
__ADS_1
Ksatria mengerutkan keningnya melihat Sacha yang aneh setelah melihat pesan singkat yang di terima baru saja.