ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu

ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu
178 S2


__ADS_3

Jangan lupa jempol dan bintang limanya.


***


Sindy memberontak saat sang suami mengangkat tubuhnya dan menuju kamar mandi.


"Aa game ku." Meratapi ponselnya yang sudah mati karena kehabisan daya baterai.


"Lebih baik, jika tidak seperti ini kamu tidak akan mandi dan lebih mementingkan game perusak otak cerdas mu," Cheval melepaskan semua pakaian yang di kenakan oleh Sindy satu persatu.


Sindy menurut saja dari pada dapat hukuman di kamar mandi, air terasa dingin sekali.


"Aa sengaja tidak menyalakan air hangat, untuk apa biar hemat listrik seperti yang Aa ucapkan kemarin-kemarin." Sindy berucap dengan menggigil.


"Sudah aku nyalakan ini, bagaimana apa masih kedinginan badannya. Apa perlu aku hangatkan secara langsung denganku," Cheval merentangkan tangannya dan siap memeluk istrinya.


"Sudah hangat ko, tidak perlu Aa langsung hangatkan dengan tubuh itu." Tunjuk Sindy dan segera menatap ke arah lain.


"Benarkah sudah hangat," Cheval merasakan air dalam bath tub dengan cara mencelupkan tangannya. "O... sudah hangat, Aa tinggal keluar dulu. Mandilah dengan berendam," berlalu pergi.


"Hhuufftt... aku pikir dia mau ngapain, otakku ini ternyata sudah tertular virus cinta mendalam alias mesum, aa... ha... ha...." Sindy merendam tubuhnya dan masih sambil tertawa kecil.


Aroma wangi sabun menusuk indera penciuman, wangi yang lembut dan menggugah semangat.


Cheval mulai bosan dengan kegiatannya yang hanya membolak balikkan majalah.


"Sayang, apa masih lama berendam nya. Sudah satu jam lebih ini sayang." Sambil mengetuk pintu.


"Sebentar lagi Aa," jawab Sindy yang berada di dalam bath tub.


Ia segera keluar dan membersihkan diri dari busa-busa lembut dengan guyuran shower. Sindy mencari kesana kemari namun tidak menemukan jubah handuk di seluruh penjuru kamar mandi. Ia menepuk jidat, Sindy baru sadar tadi ia masuk kamar mandi dalam keadaan terpaksa lantaran sang suami yang menggendongnya ke sini.


Terpaksa Sindy keluar tanpa sehelai pakaian, ia menutupi area terlarangnya dengan tangan.


Cheval yang melihat sang istri tidak mengenakan pakaian berjalan keluar dari kamar mandi menuju ruang ganti, geleng-geleng kepala.

__ADS_1


"Akhirnya tidak kedinginan lagi." Sindy menuju meja rias untuk mencari minyak telon.


Sindy menggunakan minyak bayi untuk mengolesi perutnya yang terasa begah lantaran kedinginan.


"Apa perutmu sakit sayang?" Cheval menyentuh perut Sindy yang sudah di olesi dengan minyak telon.


"Iya Aa, besok-besok aku tidak mau mandi terlalu gelap, jadinya seperti ini deh. Sakit banget!" Sindy menepuk perutnya yang begah, suara bung bung bung terdengar nyaring seperti panci di pukul.


"Sudah-sudah jangan di pukul lagi perutnya, ayo istirahat." Cheval membuka selimut untuk Sindy.


Sindy segera membaringkan tubuhnya dan memposisikan dirinya dengan nyaman untuk istirahat. Cheval membantu memperbaiki selimut Sindy sampai dada. Sindy tersenyum saat suaminya memberikan ciuman singkat di bibirnya.


Cheval segera keluar kamar untuk membuatkan Sindy minuman hangat, ia bingung harus membuat apa. Kemudian ia memutuskan membuat teh hangat saja.


"Aa, sedang buat apa?" Daysi yang mengambil makanan ringan di lemari menatap sang putra yang tengah mencari-cari sesuatu.


"Mau buat teh hangat Ma! mana ya Ma tehnya. Ko Aa mencarinya tidak ketemu dari tadi." Cheval kelimpungan sendiri mencari benda pahit tersebut.


"Itu di lengan kiri kamu, apa tidak terasa toples teh sebesar itu kamu peluk," jawab Daysi tergelak tawa.


"Kebiasaan peluk Sindy sih Aa, jadinya peluk yang lain terasa aneh," Daysi berlalu pergi.


Hhaaching...


Hhaaching....


Sindy mengusap-usap hidungnya yang teras gatal sekali. Sindy merasakan perutnya tidak nyaman dan ia segera masuk ke kamar mandi untuk mengecek apakah dia dapat tamu bulanan, ternyata benar ia kedatangan tamu. Pantas saja perutnya begah dan tidak nyaman. Kemudian Sindy keluar dari kamar mandi.


"Aku matikan saja AC nya dari pada bersin-bersin terus." Sindy berjalan menuju sofa untuk mematikannya.


Tit.


Cheval yang baru saja selesai membuatkan teh hangat langsung menuju kamar, agak susah membawa nampan dari dapur sampai ke kamarnya. Butuh perjuangan apalagi anak tangga menuju kamar tidak sedikit, ada sekitar 25 anak tangga.


"Haduh... benar-benar seperti lomba maraton, capek. Untuk membuatnya tidak satu gelas saja tadi." Cheval berhati-hati membawa masuk ke kamarnya.

__ADS_1


"Aa sini aku bantu," Sindy bergegas bangun dari tempat ia beristirahat.


"Eehh tidak usah, kamu diam di situ sebentar lagi sampai ke situ tehnya." Tolak Cheval berjalan mendekati Sindy.


"Baiklah, karena Aa yang memaksaku untuk tidak bangun dari ranjang ini," Sindy bersikap seolah sang ratu.


"Silahkan di minum tuan putri." Cheval membantu Sindy minum melalu gelas.


"Enak Aa," Sindy langsung menghabiskan satu gelas besar.


"Benar-benar perut gentong, pasti dulu Mama makannya banyak pas mengandung kamu."


"Kenapa Aa melihatku seperti itu, apa ada yang aneh denganku?" Sindy meletakkan gelas tersebut di atas nampan.


"Tidak, tidak ada yang aneh. Istriku minum seperti jerapah saja, sungguh menggemaskan!" tanpa sadar Sindy bertambah marah dengan ucapan suaminya.


"Aa mengatai aku seperti jerapah, badan tinggi suka minum banyak dan makan banyak begitu." Sindy segera membalikkan tubuhnya dan memejamkan mata.


"Aa salah bicara lagi ya, kamu ko jadi gampang marah sih ke Aa sekarang. Jangan bilang kamu sedang hamil muda dan si jabang bayi tidak mau dekat papanya," Cheval asal menebak saja.


"Hamil dari mana, tamu bulanan saja baru keluar saat Aa ke dapur tadi." Sindy mengusap-usap perutnya yang terasa nyeri.


"Apakah perutmu masih sakit, sini Aa bantu mengusap-usap biar cepat reda sakitnya," ia langsung mengusap tanpa persetujuan Sindy.


"Romantis banget suamiku, tambah cinta dan sayang sama kamu." Memberikan ciuman di pipi Cheval.


"Ucapan cinta dan sayang yang benar itu di sini," menunjuk bibirnya yang seksi.


"Tidak, sudah benar ciumnya di pipi. Bukannya setiap hari kita berciuman di sini." Menyentuh bibir Cheval.


"Baiklah, selamat malam sayang," Cheval segera membaringkan diri di samping kiri istrinya.


Malam semakin larut, dua insan yang sedang tidur saling merasa kedinginan padahal AC dalam kamar sudah di matikan, mungkin karena pintu sedikit terbuka untuk mendapatkan oksigen.


"Iisshh dingin banget lagi." Cheval terbangun dan menutup rapat pintu yang langsung menjurus ke balkon kamarnya. Cheval kembali ke ranjang tetapi ia sedikit curiga dengan seseorang yang sepertinya mengawasi rumah ini.

__ADS_1


"Siapa sih orang itu, buat aku tidak nyaman untuk tidur lagi. Lebih baik aku cek seluruh rumah, apa ada yang belum terkunci." Cheval mengurungkan niatnya untuk tidur kembali, lantaran ada gangguan yang membuatnya tidak dapat tidur dengan nyaman.


__ADS_2