
Momo hampir saja tidak percaya, apakah suaminya ini mendatangkan duri dalam daging di rumah tangganya sekarang. Momo tidak tenang hati dan pikirannya.
Momo terpaku di tempat saat matanya menatap Aura yang tersenyum manis di hadapannya.
"Karena kamu sudah sadar aku pulang dulu ya, aku mau ke tempat Princess dulu." Pamit Aura yang membuat Momo keheranan dengan sikap Aura yang aneh.
Setelah kepergian Aura, Momo menatap tajam sang suami dengan seribu pertanyaan di dalam otaknya. Ksatria dan Daysi keluar dari ruangan tersebut dan membiarkan pasangan suami istri tersebut menyelesaikan permasalahannya.
"Kamu kembali padanya?" ucap dingin Momo.
"Tidak, aku tidak ada hubungan dengan nya dari dulu sampai sekarang!" jawab Lais sesantai mungkin.
"Benarkah, terus kenapa dia tau aku di sini jika bukan kamu yang memberi taunya, bukanya kamu ada hubungan baik dengannya." Momo memegang perutnya yang berdenyut ngilu di bagian jahitannya.
"Aku bisa menjelaskan sayang, dia tau itu semua dari suster Lala sayang. Aku mohon percayalah padaku," memegang tangan Momo dan menggenggamnya.
"Iya, aku percaya asalkan suamiku masih setia padaku." Momo berusaha meraih air putih yang ada di sebelahnya.
Momo menatap sang suami dengan penuh keyakinan, mungkin ini juga termasuk takdir dalam hidupnya. Sebisa mungkin ia tidak berpikir buruk tentang suaminya, bukannya di izinkan dalam pernikahan adanya poligami asalkan sang suami bisa bersikap adil pada kedua istrinya.
"Momo, cepat sembuh oke. Apapun yang terjadi dalam pernikahan ini aku mohon kamu terus percaya padaku ya." Menggenggam erat tangan Momo yang tidak terkena jarum infus.
"Iya, mas apa kamu tau rasanya hatiku sekarang. Pedih dan sakit," Momo menggigit bibir bawahnya.
Rasa sakit teramat dalam, gagal hamil usai operasi melihat sang suami dengan ibu kandung Princess di dekatnya.
Lais memeluk erat tubuh Momo dan menciumi ubun-ubun Momo.
"Hu... hu... hu...." Sambil sesenggukan Momo mengusap air matanya di baju Lais.
"Jangan menangis lagi sayang," mengusap punggungnya dengan lembut.
"Akankah pernikahan kita berjalan baik, apa kamu akan membawa orang lain di roda pernikahan kita. Aku mohon Lais jangan lakukan itu, aku berharap kamu paham isi hatiku."
Momo membuka kancing baju Lais dan menempelkan telinganya tepat di dada bidang Lais.
"Sayang aahh... jangan seperti ini malu tau." Mendorong pelan kepala Momo agar tidak menempel pada dadanya.
Momo merasakan kecewa terhadap suaminya ini, padahal di ruangan ini hanya ada dirinya berdua tanpa orang lain melihat.
Kediaman Erdana Khan.
Berhari-hari Momo berada di rumah sakit untuk penyembuhannya.
"Rumah ini." Momo menghela nafas panjang sesampainya di dalam rumah.
Hari ini Lais tidak menjemputnya pulang lantaran Princess juga pulang hari ini, Momo mengiyakan saja biar salah satu asisten rumah saja yang menjemputnya.
"Mbak Momo saya siapkan makan ya mbak." Ucap Nila yang membawakan tas besar milik Momo.
"Boleh mbak Nila, oh ya mbak jika nanti mas Lais pulang dan juga Princess beri tau aku ya mbak," jawab Momo berjalan sendirian ke kamar, Nila yang ingin membantu di tolak mentah-mentah oleh Momo.
1 jam kemudian.
Momo yang baru saja selesai makan mendengar suara tawa Princess dengan Lais dan juga Aura. Lais berada di tangan kanan Princess sedangkan Aura berada di tangan kiri Princess.
"Aku cemburu sekali melihat ini. Andai ada seorang bayi di sini. Sudahlah bukannya kamu berjanji dalam diri kamu sendiri kamu siap terluka karena cinta." Momo melanjutkan minum air putih dan obat.
Momo hanya berdiam di ruang makan dan tidak berani menuju sumber suara tersebut, ia berharap ini hanyalah mimpi siang hari dan bunga tidur saja.
Lais yang baru sadar jika istrinya berada di rumah langsung menghampirinya. Momo hanya diam dan menatap sekilas wajah Lais dengan malas.
"Baru pulang mas." Dengan sopan Momo mencium punggung tangan Lais, meski hati sangat perih sang suami bersenda gurau dengan wanita lain yang tak lain adalah ibu Princess.
"Iya, bagaimana keadaanmu?" Lais menyentuh perut datar Momo.
"Baik mas!" jawab acuh Momo.
__ADS_1
Momo tidak menemui putrinya langsung lantaran ingin pergi ke kamar mandi sebentar.
"Pa... mama mana." Princess merangkul sang papa.
"Mama masih di dalam kamar mandi sayang, tunggu sebentar ya papa susul dahulu," Lais bangkit dari duduknya dan menyusul sang istri.
Saat berada di depan kamar mandi tidak ada suara dari dalam, apa Momo kenapa-kenapa di dalam.
"Momo sayang, apa masih lama di dalam." Sambil mengetuk pintu.
"Iya, sebentar mas," Momo segera keluar dari kamar mandi.
Momo berusaha tersenyum walaupun hati teriris-iris perih. Lais yang kurang peka dengan Momo tidak membahas perasaan Momo sekarang.
Momo menatap Aura yang berada di dekat Princess sambil bermain boneka Barbie.
"Princess sayang." Panggil Momo lembut.
"Mama," dengan memeluk erat Momo.
Momo menahan sakit di bagian jahitan saat operasi waktu itu, rasa nyeri datang saat tidak sengaja Princess menendangnya.
"Aww...." Momo menahan perutnya.
Lais langsung hawatir saat Momo menurunkan Princess dari pangkuannya.
"Sayang kamu kenapa, perut kamu sakit." Mengendong tubuh Momo dan langsung menuju kamarnya.
Princess yang melihat mama Momo kesakitan seperti itu langsung menangis ia ketakutan melihat sang mama seperti itu. Aura yang melihat sang putri ketakutan langsung memeluknya.
"Tidak apa-apa sayang, mama Momo pasti baik-baik saja kan ada papa yang menemani." Ucap lembut Aura. Princess langsung memeluk ibunya.
Di dalam kamar Lais langsung merebahkan sang istri perlahan-lahan.
"Apa kamu sudah minum obat tadi?" memberikan air putih pada Momo.
"Baiklah jika tidak apa-apa, aku tinggal dulu ya kebawah kamu istirahatlah sayang." Mengecup dahi Momo.
Momo hanya diam sambil menatap sang suami yang sudah menutup pintu dan menghilang di balik pintu.
"Hu... hu... hu..., tidak adakah pedulimu lagi untukku mas." Momo segera mengusap air matanya yang jatuh berderai namun tetap saja air matanya jatuh.
Lais yang sudah sampai lantai bawah segera menemui sang putri yang tengah menangis lantaran takut papanya memarahinya.
"Princess kenapa kamu menangis nak." Mengelus surai rambut Princess.
"Princess takut papa marah ke Princess karena gara-gara Princess perut mama jadi sakit," jawab Princess menangis dan tidak berani menatap Lais.
"Tidak sayang, mama perutnya sudah tidak apa-apa makanya papa menyusul kamu di sini, mama kamu sudah tidur sayang jadi kamu tenang ya." Lais menenagkan hati Princess.
Namu tanpa Lais sadari Momo masih menangis dalam diam, tadinya ia mengeluarkan air mata namun kini air matanya tidak mampu menetes lagi.
"Jika sikapmu seperti ini terus menerus pasti sikap dan cintaku padamu bisa terkikis secara perlahan mas, jika waktunya tiba nanti jangan salahkan aku mas jika aku akan melepasmu dan membebaskan kamu dari belenggu ini." Gumam lirih Momo yang sedari tadi mendengar pembicaraan di bawah sana.
Momo tidak bermaksud egois namun hatinya tidak bisa berbohong jika keadilan ini dia tidak memilikinya sedikit pun.
Aura yang sudah lelah berpamitan pulang namun saat akan pulang Lais bersih kukuh menghantar Aura untuk kembali, bahkan ia tidak berpamitan pada Momo sang istri. Princess di titipkan pada suster Lala.
"Mbak Lala, mas Lais kemana?" Momo menyantap makan malamnya sendirian.
Lala yang di tanyai Momo seperti itu keheranan sendiri, apa terjadi pertengkaran hebat atau apa. Di tambah tadi Momo kembali ke rumah ini tanpa di jemput oleh sang suami.
"Em... anu mbak, pak bos menghantar mbak Aura!" jawab Lala yang membuat hati Momo hancur berkeping-keping.
Momo makan malam dengan tidak berselera, ia segera masuk ke kamarnya dan Princess sudah tidur sewaktu di gendong oleh Lala.
"Mbak Lala saya titip Princess ya mbak dan saya mau istirahat secepatnya." Pamit Momo langsung berlari kecil masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
Momo menatap ke arah luar dan bawah balkon berharap sang suami pulang dan memeluknya dengan erat, seraya meminta maaf namun itu hanya menjadi angan-angan belakanya.
DDRREETT
DDRREETT.
Momo menatap siapa yang menelpon ternyata Filan yang menelpon padahal sedari tadi ia berharap sang suami yang menelpon.
"Iya ada apa Filan?" Momo berusaha tenang.
"Tadi aku melihat Lais dengan Aura ke sebuah restoran, apa kalian bertengkar." Filan merasa sangat kasihan dengan Momo sekarang.
Apalagi Filan duduk tidak jauh dari Lais dan Aura, tetapi Lais tidak tau lantaran tersekat dinding sedikit.
"Terimakasih Filan sudah memberi tahuku," Momo sudah tidak sanggup lagi dengan semua ini. Ia mematikan ponselnya dan enggan untuk menghidupinya lagi.
Pagi hari.
Momo yang baru bangun menatap samping ranjangnya dan ternyata sang suami tidak ada di sampingnya.
Momo segera membersihkan diri dan menatap ke cermin dan semoga matanya tidak sembab, ia tidak mau terpuruk terus menerus.
"Mama." Princess membuyarkan lamunan Momo.
"Iya sayang ada apa?" Momo tersenyum pada Princess.
"Papa di mana ma, kenapa pagi seperti ini papa tidak ada!" Princess memeluk sang mama.
Aku harus menjawab apa sekarang, aku sendiri tidak tau di mana Lais berada. Apa dia baik-baik saja atau justru menyakitiku lebih dalam lagi. Ya Allah bantu hamba mu ini dan kuatkan lah perasaan hamba mu ini.
Lais yang baru pulang merasa sangat bersalah pada Momo dan Princess.
"Maaf sayang." Ucap Lais menciumi kedua perempuan yang teramat ia cintai.
"Mbak Lala tolong ya, saya mau berbicara dengan suamiku secara pribadi?" perintah Momo pada Lala.
"Siap mbak!" Lala segera mengajak Princess ke taman bermain.
Momo segera berjalan menuju lantai 4 yaitu lantai paling atas rumah ini.
"Momo sayang, kenapa kita ke lantai ini?" Lais takut jika sang istri berbuat nekat ataupun sejenisnya.
Momo tersenyum.
"Dari mana dan dengan siapa." Sekuat tenaga Momo menahan air matanya.
"Maaf sayang, maafkan aku. Aku tidak bermaksud membohongimu sayang," Lais meraih tangan Momo namun dengan cepat Momo menepisnya.
"Jelaskan mas, aku tidak butuh ucapanmu yang itu." Momo menatap ke arah lain.
Rasanya saat ini tidak ingin melihat sang suami lagi.
"Kemarin aku menghantar Aura pulang ke rumahnya saja sayang tidak kemana-mana lagi." Lais benar-benar tidak menceritakan jika dirinya makan bersama dengan Aura.
"Jika kamu mencintainya dan menyukainya, nikahi dia jangan hanya kamu tiduri saja dan kamu ajak berkencan di belakang aku," jawab Momo sangat keterlaluan di dengar Lais.
PPLLAAKK
"Siapa yang mengajarimu berucap keterlaluan seperti itu, Aura saja yang tidak baik kelakuannya tidak pernah berucap sebegitu kotor dan menjijikkan seperti kamu." Ucap kasar Lais pada Momo.
Momo yang menahan air matanya kini jatuh juga, seharusnya Momo yang marah tetapi kenapa jadi Lais yang marah. Pantas saja akhir-akhir ini sikapnya berubah 180 derajat.
Momo berjalan menuju kamar lantai dua, ia membuka sedikit takut Lais ada di dalam kamar. Saat melihat Lais tidak ada Momo buru-buru masuk ke dalam dan mengemasi barang-barangnya.
"Bunda... ayah..., bolehkah aku menyusul kalian. Hu... hu... hu...." Momo menangis sesenggukan sambil memasukkan bajunya.
Lais yang merasa sangat bersalah langsung memeluk erat tubuh Momo dan mengucap maaf beribu kali namun hati Momo sudah terlanjur sakit di tambah lagi kata-kata yang keluar dari mulut Lais dan tamparan tadi. Momo melepas dekapan Lais dan melanjutkan mengemasi bajunya tanpa peduli Lais yang sudah bersimpuh berharap di maafkan oleh Momo.
__ADS_1