ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu

ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu
140. S2


__ADS_3

Jangan lupa, like fav dan rate ya kakak kakak, terimakasih banyak.


***


Sindy, Momo dan Cheval hanya membelai perutnya masing-masing yang saat ini sangat kekenyangan sekali akibat ulah Sacha. Sacha tersenyum puas setelah mengerjai anak-anak, tadinya ia hanya ingin mengerjai sang putri yaitu Momo lantaran menunggu Momo membuatnya menahan lapar 2 jam, tapi keberuntungan berpihak pada dirinya di karenakan kedatangan Sindy dan Cheval, sekalian saja di kerjain hitung-hitung membalas perbuatan Ksatria yang tidak mengajaknya makan malam kemarin.


"Ayah, aku mau belajar dulu di taman samping dengan Aa dan Sindy." Pamit Momo pada Sacha.


Sacha yang sudah memegang koran untuk di baca tidak lupa kaca mata besar bertengger di hidung Sacha, padahal mata milik Sacha masih jernih dan sehat ia hanya mengenakan kacamata palsu, supaya di kira orang rajin membaca sampai matanya harus mengenakan kaca mata dengan ukuran yang sangat besar seperti ini.


"Yang rajin belajarnya, biar bagus nilainya." Ucap Sacha dengan membetulkan kaca matanya.


"Siap Ayah," jawab serempak Cheval, Sindy dan Momo dengan tangan hormat seperti waktu upacara bendera merah putih.


Sacha yang melihat ke kompakan anak-anak sungguh bahagia, meski kehidupannya sepi akan tetapi ia selalu rindu dengan sosok sang istri masih teringat betul semua kenangan di rumah ini, karena sosok Aurellia lah yang menemaninya merintis dari nol, meski bukan pengusaha tetapi hidup keluarga kecil ini tetap bahagia.


Sacha tidak meminta bagian hotel Royal Malik baik itu yang pertama atau yang kedua, tetapi Ksatria tetap saja memberikan bagian bahkan setiap bulan selalu di transfer ke dalam rekening milik Sacha, berulang kali Sacha berdebat dengan masalah ini. Sacha tidak mau tetapi Ksatria tetap memaksa untuk menerimanya dengan alasan Momo kalau tidak menyangkut almarhum adik tersayangnya.


"Hhah... sepi rumah ini tanpa kamu bunda, jika nanti ayah menyusul bunda bagaimana? apa bunda setuju." Sacha menatap langit yang cerah.


Momo yang sedang belajar bersama hanya fokus dengan mata pelajarannya, untung ada Cheval yang dengan sigap meringkas kan materi yang penting untuk ujian beberapa hari yang akan datang.


"Awas kalian berdua jika nilainya jelek dan membuat malu." Ancam Cheval pada Mono dan Sindy.


"Iya Aa," jawab kompak Sindy dan Momo.


Mereka berdua menyelesaikan tugas yang di berikan oleh Cheval, sementara Cheval menemui sang ayah yang masih duduk di ayunan kursi pijat.


"Ayah." Sapa Cheval menyentuh lengan Sacha.


"Eehhh... anak tampan ayah, ada apa. Apa sudah selesai belajarnya?" Sacha meletakkan koran yang ada di atas dadanya ke meja kecil sebelah ia beristirahat.


"Belum ayah, aku tinggal saja biarkan mereka berkonsentrasi jika aku awasi takutnya tidak fokus nanti belajarnya, lantaran aku tampan dan mempesona seperti ini!" Cheval berucap penuh percaya diri.

__ADS_1


"Iihhh??!!... kepedean sekali kamu, masih bau kencur saja tebar pesona sana sini." Ledek Sacha dengan pedasnya.


"Siapa bilang bau kencur, cuma sudah bau petai aku," Cheval duduk di lantai.


"Main catur yuk, jika ayah kalah ayah akan memberikan kamu tiket." Sacha mengeluarkan papan catur dari laci.


"Baiklah, semoga tiketnya tidak mengecewakan aku," jawab Cheval yang setuju begitu saja.


Sacha hanya tertawa dalam hati, ia memang sengaja tidak memberitaukan tiketnya untuk pergi kemana, jika di beritau sekarang pasti Cheval akan menolak mentah-mentah ajakannya bermain catur siang-siang seperti ini.


1 jam kemudian.


Sindy dan Momo mengemasi peralatan belajarnya, Sindy menanti Momo yang masih tertunduk lesu bahkan ia tidak semangat seperti kemarin-kemarin.


"Ada apa, apa ayah melarangmu berhubungan dengan Lais?" Sindy menatap sedih wajah Momo yang sepertinya sangat terluka.


"Iya, bahkan ponselku di sita ayah. Aku tidak tau punya salah apa Lais pada ayah kenapa ayah sebegitu tidak menyukai Lais, padahal kami hanya berteman bahkan tidak lebih dari itu!" Momo menjawab sambil menghela nafas berkali-kali.


"Sabar oke, aku dan Aa selalu mendukung. Oh ya Momo jika lulus nanti mau masuk perguruan mana."


Sindy yang merasa di abaikan kini berpamitan pulang, lagian Cheval juga sudah selesai bermain dengan Sacha.


"Ayo Aa pulang, ayah aku pulang dulu ya." Menyalami Sacha.


Cheval juga menyalami dan menerima dua buah tiket yang di berikan padanya.


"Jangan lupa usai ujian perginya." Teriak Sacha sedikit kencang.


Saat di perjalanan.


Sindy bercerita apa adanya pada Cheval, Cheval hanya bisa tersenyum getir. Antara kasihan dan tidak, jika di telusuri memang ibunya Lais ada salahnya. Jika bukan karena ibunya Lais yang menggoda papanya Cheval tidak mungkin papa dan mamanya akan berpisah dan mengakibatkan Cheval kehilangan ibu kandungnya pasca melahirkan dirinya.


"Sudah jangan banyak di pikirkan, kita pikirkan masa depan kita. Tetap tinggal di kota ini atau pindah usai kamu lulus kuliah nanti." Cheval mengacak-acak rambut Sindy.

__ADS_1


"Aa... stop ihh... berantakan jadinya, aku lama loh Aa benahin rambutnya," Sindy mengeluarkan sisir dari tas kecilnya.


"Sejak kapan sekarang kamu suka bawa sisir, tidak seperti biasanya?" Cheval sedikit curiga pada istrinya ini.


"Sejak hari ini, aku kesal dengan Aa yang seenaknya sendiri mengacak-acak rambutku yang mengkilap bak minyak goreng di tuang di rambutku ini!" Sindy bergaya saat bercermin sambil menyisir rambutnya dengan manja.


"Hhaahh... sekalian oli di garasi di pakai keramas biar hitam, lebat dan lengket." Menyindir dengan cara halus.


"Boleh juga tuh di coba Aa siapa tau rambut Aa yang sedikit berwarna merah ini bisa hitam," membelai rambut Cheval.


Tiba-tiba Cheval merasakan aliran listrik mejalar pada tubuhnya.


"Sindy... kamu tau kelakuan kamu sekarang ini membangkitkan sesuatu yang seharusnya bangkit nanti saat di rumah." Cheval sedikit menggertakan giginya, menahan hasrat yang sudah sampai ubun-ubun kepala.


"Kenapa, apa si dia yang bangun?" tanya Sindy menggoda sambil menyentuh milik Cheval dan sedikit menekannya.


PPLLAAKK....


"Iisshh... jangan di sentuh lagi!" Cheval menolak dengan kejam.


"Sakit Aa tangan aku, panas banget lagi." Sindy meniup-niup tangannya.


"Makannya jangan usil kenapa tangannya, kebiasaan buruk sentuh sana sini," Cheval kembali menetralkan hasrat sesaatnya itu.


Sindy yang sudah mendapatkan amukan sang suami tidak berani menggangunya dari pada nanti Cheval tiba-tiba ke hotel dan menyiksanya lagi, lebih baik ia diam tanpa membangunkan nafsu sang suami.


"Kenapa diam."


Sindy yang di tanyai Cheval hanya menggeleng dengan cepat, ia tidak mau membuat Cheval marah. Sementara dirinya besok ujian akhir sekolah.


"Aa nanti kita mampir ke restoran itu ya, aku mau beli ayam bakar di tempat itu sepertinya rasanya sangat enak." Sindy menujuk restoran ayam bakar.


Cheval berpikir keras sekarang, kenapa sang istri ingin makan ini dan itu aneh sekali. Apa benar-benar Sindy sedang berbadan dua.

__ADS_1


"Sindy kita ke Rumah Sakit ya sepulang dari restoran," Cheval mengarahkan laju kendaraannya di kiri jalan dan membelokkannya ke arah restoran tersebut.


__ADS_2