ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu

ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu
209. Cari perhatian


__ADS_3

Tatapan Momo sangat lembut dan hangat.


Momo menyuapi makanan pada Lais dengan telaten dan penuh perhatian.


"Iisshhh... seperti anak kecil saja makannya." Momo mengusap bekas makanan di sudut bibir Lais dengan ibu jarinya, kemudian Momo terkejut dengan tindakan Lais yang langsung menarik pergelangan tangan Momo dan menjilat ibu jarinya dengan lembut dan geli.


Momo segera menarik tangannya, betapa canggungnya Momo saat ini di depannya.


"Kenapa, apa kamu belum pernah merasakan seperti ini. Jemari kamu di cicipi laki-laki?" tanya Lais penuh dengan kemenangan.


"Siapa bilang tidak pernah, pernah ko sebelumnya!" jawab Momo dengan ketus sambil menyuapinya, namun raut wajah Lais berubah suram. "Apa aku salah berbicara," ucap Momo dalam hati.


"Aku sudah kenyang, kamu makanlah sendiri setelah itu datang ke kamarku dan pijatkan punggungku, cepat." Ucap Lais penuh penekanan di akhir kalimatnya.


"Tuh..kan salah berucap lagi, dia emosi lagi. Nasib-nasib orang pengangguran sepertiku, sudah tidak mendapat gaji tertindas pula." Momo segera mengambil makanan secukupnya dan menyantap dengan nikmat.


Usai makan malam Momo membiarkan piring yang baru saja ia gunakan di atas meja makan, lantaran mbak Nila menyuruh Momo untuk segera menuju kamar Lais.


"Sungguh tidak sabaran tuh si boss ngeselin untuk mengerjai ku terus-terusan." Gerutu Momo sambil berjalan ke arah anak tangga menuju kamarnya.


TTOOKK...


TTOOKK....


"Aku mengetuk berkali-kali namun tidak ada jawaban. Aku membuka kamar tersebut dan bertepatan Lais baru saja mandi dan masih menggenakan jubah handuk yang mengekspos dada bidangnya yang super menggoda mata telanjang sepertiku. Aku segera membalikkan tubuhku dan tidak berani menatapnya. Suara langkah kaki mendekatiku, aku rasanya ingin sekali menghilang dari muka bumi ini saja jika dia mendekat dalam keadaan seperti ini, ini tidak benar aku harus mencegahnya, aku tidak mau terjadi hal-hal yang merugikan aku kedepannya."


"Kenapa menjauh, kamu punya tugas memijat punggungku malam ini. Ayo sini." Lais menepuk tepi ranjangnya.


Apa-apaan sih boss yang sok berkuasa ini, selalu memerintah seenak jidatnya sendiri.


"Iya, aku segera memijat kan punggungmu," jawab Momo mendekat ke arah ranjang tidurnya yang super besar bahkan 5 orang saja muat memakainya.


Lais membaringkan tubuhnya dan memberikan minyak oles pada Momo.


"Gunakan ini untuk memijat punggungku, jika aku tidak menyuruh berhenti jangan berhenti. Ingat itu, jika kamu melanggar hukumanmu menjadi baby sitter Princess bertambah satu minggu."


"Baiklah boss yang super ngeselin sejagat raya ini, semoga nanti ada yang mau memijat kan punggungmu selain aku," jawab Momo sedikit menyindir Lais.


Sungguh kesal menghadapi orang tua ini, kenapa pikirannya lebih anak kecil dari pada Princess putrinya.


Lais tersenyum, "sepertinya aku akan merepotkan kamu kedepannya."


"Haduh ini orang, tidak tau malu sama sekali. Apa sekarang perusahaan jam milikmu bangkrut mendadak?"


"Tidak, aku hanya berhemat saja. Sayang uangnya jika harus membayar tukang pijat kalau ada yang gratis di rumah!" jawab Lais dengan ringannya.


Momo hanya mendengus kesal dengan ucapan Lais yang lebih ringan dari udara.


"Yang benar dong pijitnya, yang sini. Eehh... jangan yang situ geli tau, sebelah sini bagian bawah." Menunjuk punggung bagian kiri.


"Sudah pas atau belum?" tanya Momo sambil menatap wajah Lais yang masih tersenyum-senyum saat mengerjai dirinya.


"Sudah pas, ahh... enak banget pijitan kamu." Lais memejamkan mata dengan cepat.


"Nih orang pandai banget modusnya, apa seperti ini kelakuannya sepuluh tahun lebih terakhir ini pada teman-teman wanitanya. Sudahlah dari pada mikirin orang ngeselin ini yang bikin capek otak berkerja, lebih baik aku segera selesaikan memijat dia. Lama-lama bisa keriting ini jari. Aku mencolek pipinya yang bersandar di ranjang tidurnya. Imut... pikirku yang kagum sekilas."


"Apa aku tampan dan imut." Lais tiba-tiba membuka matanya dan tersenyum sangat lebar.


"Ka... mu kamu belum tidur?" tanya Momo dengan terkejut.


"Aku tidak tidur hanya memejamkan mata sebentar dan ternyata saat aku memejamkan mata, kamu diam-diam mengagumi ku ya." Tingkat kepedean meninggi.


"Andai saja kamu tau Lais perasaanku padamu Lais, dan kamu menolak ku sekarang haahh... hancur, remuk perasaanku. Hah... sudahlah dari pada berangan-angan yang bukan-bukan lebih baik sesuai keadaan saat ini, berkerja tanpa gaji untuk mempertanggung jawabkan kecerobohan ku tadi pagi."


"Kenapa diam, ada masalah dengan ucapan ku barusan?" Lais menanyai Momo.


"Tidak, aku pergi dulu!" Momo berdiri dan melangkah meninggalkan Lais yang masih berbaring manja di ranjangnya.


Tiba-tiba cengkraman kuat di pergelangan tangan Momo terasa sesak. Kenapa Lais terdiam saat mencengkram pergelangan tangan Momo apa ada yang perlu di bantu, Momo segera menatap Lais.


"Kenapa, apa ada sesuatu yang perlu di bantu." Tanya Momo sambil memutar bola mata dengan malas, menanggapi hal yang pastinya mengerjai dirinya lagi.


"Iya, jadilah istriku Momo dan jadilah mama untuk Princess," Lais menarik tubuh Momo dalam pelukannya.


Momo bingung kenapa dia berucap begitu ringan, tentang masalah hal serius seperti ini.


DAG

__ADS_1


DIG


DUG


Jantung kami berdua berdetak begitu cepat dan tidak normal.


Momo berusaha melepaskan genggaman tangan dan pelukan Lais namun usahanya tetap sia-sia.


"Jangan harap kamu bisa lepas dari cengkraman ku Momo."


"Lepas, apa-apaan sih kamu. Jangan mentang-mentang kamu boss aku dan seenaknya kamu memerintah aku," Momo memberontak.


"Kenapa kamu harus semanis ini saat memberontak Momo, tuhkan ada yang berdiri. Efek terlalu jomblo lebih dari 28 tahun. Tahan Lais tahan oke, jangan sampai ke bobolan dia masih belum menerima dirimu jiwa raganya."


"Aku minta ciuman selamat malam, jika kamu belum bisa menjawab pertanyaanku barusan."


"Tidak, aku bukan milikmu dan kamu tidak berhak meminta itu," jawab Momo dengan ketus.


Lais melepas pelukannya dan membiarkan Momo pergi.


"Apa aku terlalu buru-buru meraihnya, apa dia tidak ada rasa denganku. Sudahlah Lais tenangkan hati, jiwa dan pikiranmu dan gunakan cara lain untuk mendapatkannya." Dalam hati Lais sangat menyesal dengan tindakannya barusan.


"Maaf Momo." Ucap lirih Lais.


Kamar Monique.


Kamar ini terletak bersebelahan dengan milik Lais. Momo membersihkan diri sebelum ia tidur.


"Apa aku salah disini, kenapa tiba-tiba ia memintaku untuk menjadi mamanya Princess apa mamanya tidak ada. Apakah aku pantas menjadi mamanya Princess, apa kata orang staf rendahan sepertiku mendapatkan boss. Serasa tidak mungkin dan mustahil, aku tidak ingin jadi bahan gunjingan orang yang menjual diriku untuk kepuasan nafsu duniawi."


Momo segera memejamkan matanya dan segera melupakan ucapan Lais yang ngelantur malam-malam seperti ini.


Pagi hari begitu cepat, hari ini hari pertama Momo tidak berkerja di perusahaan Berlian milik Lais, hari di mana Momo harus menjadi baby sitter.


"Princess, makan dulu ya. Tante suapi ya."


Momo menyuapi Princess dengan telaten. Lais yang tidak sengaja melihat dari dalam ruang makan yang dindingnya terbuat dari kaca atau transparan. Senyum manis terukir di wajah tampan Lais.


"Sadar Lais, tadi malam dia menolak permintaanmu. Kamu jangan mudah luluh dengan sikapnya yang lembut pada Princess, kerjain sedikit ahh...."


Lais punya rencana dia berpura-pura kesakitan perut agar dia perhatian pada dirinya saja, senyum licik terukir di wajah Lais.


Lala hanya tersenyum melihat Momo begitu hawatir dengan boss mudanya tersebut, dari wajah keduanya saja bisa di lihat jika ada perasaan lebih pada mereka.


"Mama mau kemana suster." Princess menatap kepergian Momo.


"Mama, maksudnya mbak Momo?" Princess mengangguk. "Papa kamu sepertinya sakit Princess, jadi Princess makan sama mbak Lala dulu ya," Princess mengangguk dan membuka mulutnya yang mungil dengan lebar.


Jika ada yang melihat kelucuan Princess pasti langsung kagum dan bertanya-tanya siapa papanya dan seperti apa tampannya sang papa hingga memiliki putri secantik dan menggemaskan seperti dia.


Di ruang makan.


Momo segera membantu Lais untuk masuk ke dalam kamarnya.


"Kenapa bisa sakit perutnya, kamu telat makan atau makanannya terlalu pedas sampai kamu sakit perutnya. Aku ambilkan minyak angin dulu ya untuk meredakan perut kamu, di mana kotak obatnya?" Momo mencari-cari kotak obat namun Lais masih sengaja mengerjai Momo.


"Kamu cantik Momo," Lais tersenyum kecil.


Momo yang mendengar bualan Lais langsung menatap tajam Lais yang bersandar di ranjang tidurnya.


"Aku tanya sekali lagi di mana kotak obatnya." Sedikit meninggikan ucapannya.


"Disini," Lais menunjuk sebelah ranjangnya yang terdapat laci kecil paling atas.


"Kenapa tidak bilang dari tadi sih, buat orang emosi saja." Momo mendengus kesal.


Lais hanya tertawa melihat Momo marah dengan dirinya, berarti ia sangat-sangat peduli dengannya dan merasa hawatir sekali.


"Kamu oles sendiri saja, ini minyaknya." Momo melempar minyak tersebut ke arah Lais dengan kesal, Lais langsung mengeluh kesakitan.


"Aduh... sakit perutku," Lais berpura-pura kesakitan dan benar saja Momo langsung duduk dan menanyai Lais di mana yang sakit.


"Mana yang sakit?" dengan hawatir menatap perut datar milik Lais.


"Sini yang sakit, kamu oleskan minyak itu di perutku!" Lais membuka kemeja birunya di depan Momo dan benar saja saat aku membuka ia langsung menutup kedua mata dengan telapak tangannya.


"Apakah dia belum pernah melihat tubuh laki-laki kenapa ekspresinya seperti itu dan pipinya bersemburat merah, tambah cantik. Pikiranku langsung kemana-mana saat melihat ekspresi Momo yang seperti ini."

__ADS_1


Momo mulai membuka matanya saat Lais terus-terusan mengeluh sakit di perutnya, padahal kenyataannya perutnya dalam keadaan baik-baik saja.


Semoga aku tidak kena karma instan, masak iya pura-pura sakit perut, jadi beneran. Ya Allah bantu hamba mu ini biar bisa dekat dengan wanita sebaik dia meskipun setiap hari membuat aku kesal karena ulahnya yang beragam rasa dan macam saja.


"Ayo oleskan, yang sini." Aku membuka kancing kemejaku satu persatu.


Momo mengerutkan dahinya saat melihat tubuh bagus milik Lais. Momo mulai membuka penutup minyak angin tersebut dan mengoleskan pada perut datar milik Lais.


Rasanya sangat nikmat di sentuh wanita yang paling di cintai dalam hidup, aku rela jika setiap hari di perlakukan seperti ini, tidak cuma Princess saja yang di sentuh dan di perhatikan. Akhir-akhir ini aku sangat cemburu dengan Princess, tanpa meminta Momo untuk merawatnya saja sudah di perhatikan dan di rawat segala yang menyangkut Princess.


"Momo."


"Iya, ada apa boss?" Momo menatap curiga pada Lais.


"Ambilkan itu, permen karet rasa mint di toples itu." Aku menyuruh dia mengambil permen karet tersebut dan dia langsung mengiyakan padahal aku mau cari keuntungan sekarang.


"Ini," Momo memberikan toples tersebut.


"Kamu makanlah ini kemudian buang sisanya ke tempat sampah itu." Perintahku seenak ku sendiri.


"Tapi,"


"Tidak ada tapi-tapian kamu makan, aku juga. Temani aku sebentar disini." Aku menepuk ranjang sebelahku bersandar.


Momo sangat curiga dengan gelagat Lais yang sepertinya merencanakan sesuatu, kenapa menyuruh makan permen karet rasa mint dan di suruh membuang langsung setelah habis rasa mint nya.


"Sudah aku buang sisanya, kamu kenapa sih jangan bilang kamu menyuruh aku untuk memijat pundak dan punggung kamu lagi, lihat tangan aku sampai keriting pegal tau." Momo menunjukkan tangannya yang jelas-jelas baik-baik saja bahkan mulus tanpa kasar telapak tangannya.


Lais membuka bungkus kosong permen karet dan membuang sisa permen karet tersebut.


Langsung saja aku menarik pergelangan tangan Momo dengan kuat dan dia jatuh di atas pahaku dengan secepat kilat aku memberikan sentuhan luar biasa di bibirnya, tapi dia tidak membalas perbuatan ku dan hanya diam saja.


"Balas." Ucapku tegas, pada akhirnya Momo membalas ciumanku. Haduh lembut sekali bibir mungilnya, ingin sekali segera menghalalkannya biar puas bermainnya.


Tenang Lais, harus tenang nikmati moments yang langka ini meski harus dengan trik yang kotor seperti ini.


Lais melepas ciumannya.


"Kenapa wajahmu memerah, apa belum pernah berciuman." Lais meraih dagu Momo untuk menatap dirinya.


"...."


"Wah... aku beruntung ternyata dapat ciuman pertama dari Nerocosku." Aku mengusap bibirku dengan lembut dan masih membayangkan ciumanku barusan dengannya.


"Sudah tidak ada tugas lagi kan, bolehkah aku pergi pak boss yang ngeselin sejagat raya ini?" Momo berucap demikian agar Lais membiarkannya pergi.


"Sudah, perutku juga baik-baik saja setelah berciuman denganmu!" menarik tangannya dari dagu Momo.


Momo segera keluar dari kamar Lais dan masuk ke dalam kamarnya sendiri dan langsung mengunci pintu tersebut dengan rapat.


"Ciuman barusan, kenapa harus kamu yang mendapatkan pertama kalinya, eehh... tunggu bukan pertama tetapi kedua ini kali kedua yang pertama dulu secara tidak sengaja dan sekarang, aahh... sudahlah. Sadar Momo ingat dia belum cerita tentang Princess dan istrinya, jangan mudah tertipu dengan sikap semena-menanya yang penuh dengan keromantisan ini." Momo menepuk-nepuk pipinya berkali-kali.


Lais segera keluar dari kamarnya dan tidak jadi pergi ke kantor dan menyerahkan pada sekretarisnya untuk menghendel pekerjaannya hari ini.


"Nila, buatkan aku dua cangkir teh hangat dan hantarkan ke gazebo, setelah itu panggil Momo juga." Aku langsung pergi setelah menyuruh Nila.


Tidak ada 10 menit teh hangat sudah siap untuk di nikmati.


"Pak boss ini teh dan biskuitnya, mbak Momo juga sudah saya panggil pak. Permisi," Nila berlalu pergi.


Momo kebingungan sendiri, kenapa Lais tidak pergi ke kantor. Katanya sakit perutnya sudah sembuh, apa jangan-jangan masih sakit sampai harus dirinya di perintahkan untuk ke gazebo rumah ini.


"Pak boss ada apa, apa masih sakit perutnya."


"Tidak, duduklah dan temani aku minum secangkir teh. Aku tidak akan melahapmu seperti tadi, kamu tenang saja," Lais melanjutkan menikmati teh tersebut.


Momo masih was-was, mulut boss nya ini lain di bibir lain di kelakuannya.


"Benarkah, tidak memanfaatkan situasi lagi?" nada bicara Momo sangat dingin.


"Iya, aku janji jika di tempat terbuka seperti ini. Tetapi jika di tempat tertutup aku tidak yakin!" ucapku dengan penuh menggoda dia.


"Apa aku boleh tanya tentang masa lalumu Lais."


"Tentang apa, kalau tentang ibunya Princess aku bisa cerita sekarang, tapi setelah aku selesai bercerita apa kamu mau menjadi istriku,"


"Eehh jawaban apa ini, kamu benar-benar menghalu di pagi hari. Mana ada cerita masa lalu terus jawabannya harus mau menikah." Momo memalingkan wajahnya.

__ADS_1


"Kalau tidak mau ya sudah," aku sengaja mengancam mu seperti ini, biar kamu penasaran dan semakin penasaran.


__ADS_2