
Sebelumnya aku ucapkan terimakasih banyak sudah baca karya aku ini, dan terimakasih atas dukungannya.
Tanpa kalian semua karyaku tidak ada apa-apanya.
***
Daysi yang baru saja kembali dari acara arisan para karyawan, lalu ia tertawa kecil dengan melihat ibu hamil yang satu ini, mencicipi makanan tapi habis satu toples.
"Apakah sebegitu enaknya kerupuk itu." Daysi duduk mendekati Momo.
"Iya Ma," Momo mengganti acara yang ia tonton dengan film yang lebih bagus.
Daysi mengerutkan alisnya, kenapa harus menonton film yang seharusnya di tonton anak-anak.
"Sepertinya mata dan pendengaran ku yang semakin aneh, besok aku harus ke Dokter ini." Batin Daysi yang berlalu pergi usai menepuk pundak Momo.
Tiba-tiba kepalanya berdenyut saat melihat keanehan ibu hamil yang satu ini, kalau ngidam makanan sih oke saja. Tapi yang ini sepertinya beda dari yang lain, untung saja ngidamnya bukan mengajak adrenalin ke rumah kosong atau sejenisnya seperti gedung tua atau rumah sakit tua.
"Untung aku dulu suka makan saja tidak melakukan hal yang aneh-aneh." Daysi tersenyum-senyum saat berjalan menuju kamarnya, hari ini ia pulang lebih dahulu dari pada Ksatria.
Acara arisan yang ia adakan berada di hotel Royal Malik, tentu saja arisan untuk para karyawan yang lebih dari 100 orang, yang di bagi jadi 2 jadi kocokan arisan bisa merata dan semua orang dengan cepat bisa merasakan uang arisan. Karena badannya memang sedikit tidak nyaman.
Sindy yang mendengar Mamanya pulang langsung menemui Daysi. Suara ketukan pintu terdengar.
Tok
Tok
Tok.
"Ma..., apa Sindy boleh masuk?" Masih menunggu di luar pintu kamar orang tuanya.
"Masuk nak!" Jawab Daysi di dalam kamar yang sedang mengoleskan minyak angin di perut dan lehernya.
Sindy segera masuk dan melihat Mamanya tidak enak badan dan sedikit pucat.
__ADS_1
"Apa Mama... sakit." Sindy mulai cemas dengan menyentuh dahi Daysi.
"Tidak Sindy, Mama tidak apa-apa cuma capek sedikit dan masuk angin ringan saja," Daysi merebahkan tubuhnya.
"Ya sudah kalau begitu Ma, Mama istirahat saja ya. Jika Mama tidak mampu berpuasa tidak usah berpuasa ya Ma." Sindy beranjak dari tempat Daysi merebahkan dirinya di ranjang.
Daysi terharu dengan sikap dan perhatian yang putrinya tunjukkan, hidupnya ini benar-benar sempurna sekarang. Memiliki menantu yang ternyata anak yang ia rawat sejak bayi, kemudian putrinya yang dulu dingin karena sikapnya yang tidak adil. Tapi semua berubah seiring berjalannya waktu, ternyata waktu dan perhatian untuk keluarga sangatlah penting untuk perkembangan seorang anak. Perkembangan bagaimana kedepannya nanti saat ia sudah dewasa dan besar.
"Putriku sungguh hebat, betapa malunya aku sebagai seorang ibu. Dulu aku selalu mengutamakan Cheval di banding dirinya, tapi sekarang hanya dia yang lebih perhatian padaku." Daysi mengusap air mata yang sedikit keluar dari pelupuk matanya.
Sindy pergi ke ruangan kerjanya untuk menyelesaikan pekerjaannya, semoga beres tepat waktu. Ia tidak mau mendengar omelan Momo yang bawelnya sama persis dengan Papanya Ksatria.
"Ayo... berpikir jernih dan ciptakan ide-ide yang baru. Meski tokoh yang di buat tokoh yang sudah lama ada." Sindy mulai merancang dan mengira-ngira desain apa yang cocok untuk ruangan bayi yang akan datang.
Ternyata merancang untuk kamar calon anaknya Momo dan Lais serumit dan sesulit ini.
Ddrreett
Ddrreett.
Sindy menatap siapa yang menelponnya. Hem... ternyata Momo yang menelponnya pasti ia menanyakan tentang desain ruangan untuk anaknya tidur lagi, tau begini ia tidak menerima pesanan dari adik bumil nya ini.
"Ya.... Hallo ada apa Momo?" Sindy bersikap biasa-biasa saja.
"Kamu di mana sih, kenapa tidak menemaniku memilih warna kamar calon bayiku!" Momo menggerutu sendiri.
"Aku di ruang kerjaku Momo, kenapa kamu laporan ke aku. Kan kamu punya suami Momo, lapor kek ke Lais jangan ke aku." Sindy langsung mematikan sambungan telponnya secara sepihak.
Dalam batin Sindy mengomel, punya suami kenapa harus dirinya yang terlibat. Kan tambah aneh.
Momo memanyunkan bibirnya, Lais yang melihat sang istri bad mood langsung mencubit bibirnya.
"Jangan manyun dan marah, tidak baik untuk ibu hamil. Bukannya kamu sudah menyerahkan urusan kamar pada Sindy, percayakan saja padanya sayang." Lais mengajak Momo pergi ke tempat penjual es krim.
"Iya, tidak marah lagi tapi belikan satu dus susu ibu hamil yang sudah instan dan tinggal minum saja jangan lupa satu lagi nanti setelah pulang buatkan bubur susu," Momo mengeratkan pelukannya di lengan suaminya.
__ADS_1
"Es krim ini..., jadi... tidak?" Lais memberikan satu cup pada Momo.
"Jadi!" Langsung saja meraih es krim tersebut dan menikmatinya dengan lahap tanpa memperdulikan sang suami lagi berpuasa.
Usai membeli susu ibu hamil, Momo meminta pada suaminya untuk mengantarkannya lagi ke rumah Papa dengan alasan ingin bertemu Daysi yang tadi katanya tidak enak badan.
"Kenapa kesana lagi sih sayang, aku yakin kamu ke sana bukan karena Mama yang tidak enak badan melainkan mau bertemu Sindy dan mengomelinya kan. Mas gak setuju sayang, lebih baik kita besok saja kesana nya." Lais tidak ingin mendengar sang istri menangis lagi.
"Aku janji mas tidak akan bahas itu lagi, lagian bukannya sudah jelas tadi saat kita belanja. Jika kamu menyuruhku untuk mempercayakan desain interior dalam kamar calon anak kita, Sindy yang mengurusnya," Momo mengingat ucapan suaminya tadi.
"Baiklah jika kamu mengigat itu, ingat jangan ngomel terus menangis lagi." Mengusap perut Momo dengan lembut.
"Iya mas," Momo langsung tersenyum lebar.
Memang ia ingin menemui Sindy tapi bukan mau mengomelinya, tapi cuma ingin menambahkan sesuatu yang akan membuatnya senang nanti.
Saat sampai di kediaman Malik, Momo langsung menemui Daysi yang ternyata badannya lebih baikan lagi.
"Mama... sudah tidak apa-apa badannya, tadi sepertinya Mama sakit sewaktu aku di sini?" Memegang tangan Daysi.
"Tidak apa-apa Momo, apa kamu sudah makan?" Balik menanyai Momo.
"Sudah Ma!" Momo duduk di dekat Daysi.
Tidak banyak percakapan yang terjadi kecuali membahas masalah bayi yang ada di dalam perut Momo, Daysi menyuruh sang putri untuk menjaga dan merawatnya dengan baik-baik.
Sayup-sayup mendengar suara Adzan Magrib.
"Ma... sepertinya sudah waktunya berbuka, ayo kita ke ruang makan Ma." Ajak Momo pada Daysi.
"Ayo, mana Lais suamimu?" Mencari kesana kemari.
"Tadi bermain golf dengan Aa Ma!" Momo berjalan lebih dahulu untuk mencari suaminya.
Cheval dan Lais sudah selesai bertandingnya dan tentu saja Cheval yang menang kali ini. Betapa bangganya bisa punya lawan yang seimbang dengan dirinya.
__ADS_1
"Lain kali aku yang menang." Menepuk pundak Cheval dengan keras.
"Tidak akan aku beri kesempatan untuk mengalahkan aku," Cheval tidak mau kalah.