ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu

ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu
26 Mengunjungi adik-adik panti


__ADS_3

Banyak typo beterbangan di karya ini. Harap maklum ya teman-teman.Terimakasih yang sudah mampir ke karyaku ini.


Selamat membaca.


Daysi segera melangkah sejauh mungkin dari ruangan yang barusan tekanan suhu panas sampai mencekik pori-pori kulit.


"Hhuuff... leganya habis keluar dari tempat menyeramkan." Daysi menebah dadanya berkali-kali.


Tiba-tiba Riri datang dan langsung menyindir Daysi. "Aduhh... ada yang baru nyari kesempatan nih sama si boss..." ucap Riri berlalu pergi.


"Nih... orang resek banget. Setiap aku berbuat ini itu selalu dapat sindirin dasar kurang kerjaan. Apa jangan-jangan dia juga yang menyebarkan rumor kemarin. Aah... sudahlah lebih baik aku harus waspada dan hati-hati dengannya." Gumam Daysi langsung meneruskan pekerjaannya.


Daysi segera melanjutkan pekerjaannya yang tertunda karena ucapan Riri yang menusuk indera pendengaran serta hatinya. Daysi sekuat tenaga menerima setiap cacian dan ucapan seperti itu sudah dari dulu Daysi selalu mendapatkan cemooh seperti itu.


Sore hari.


Daysi bergegas mengenakan jaketnya lagi dan tidak lupa ia mampir di sebuah mall terkenal di kota ini. Bisa di bilang Mall terbesar dan terlengkap di kota ini. Daysi membeli semua yang ia perlukan bahkan yang tidak ia perlukan ia beli sekalian


Ksatria Malik tersenyum sangat lebar saat melihat notifikasi berkali-kali di ponselnya.


"AA... HAA... HA..., segitu takutnya dengan ucapanku tadi siang. Sungguh lucu sekali kamu." Ucap Ksatria Malik masih tersenyum.


Untung ia berada di dalam ruangan pribadinya jika tidak semua orang akan mengambil fotonya untuk di simpan bahkan bisa di bilang sejarah yang langka, seorang CEO Ksatria Malik tersenyum begitu menawan dan tampan.


Dengan segera Ksatria membereskan pekerjaannya dan menutup laptopnya. Rasa lelah seharian mengecek laporan yang masuk kini hilang sudah karena ulah orang yang diam-diam mencairkan hatinya yang beku.

__ADS_1


Kediaman Ksatria Malik.


Ksatria segera keluar dari mobil pribadinya berjalan dengan gagah sambil melepas jas nya dan melipat lengan bajunya sampai siku. Mbok Yati yang melihat Ksatria Malik tersenyum-senyum sendiri merasa bahagia ingin sekali menanyai perihal yang membuatnya tersenyum sebahagia itu.


Ksatria Malik yang melihat Mbok Yati yang berjalan kearahnya langsung menanyai keberadaan Daysi saat ini.


"Mbok apa dia sudah pulang?" tanya Ksatria pada mbok Yati.


"Maksud den Ksatria, nak Daysi." Ksatria menganggukkan kepalanya. Mbok Yati tersenyum. "Belum pulang den, mungkin mampir di panti den, nak Daysi nya. Saya permisi ya den," mbok Yati berpamitan pergi untuk melakukan pekerjaannya yang lain.


"Kenapa aku bisa melupakan ini, dia kan sering mengunjungi Ummanya kata orang suruhanku untuk menjaganya." Gumam Ksatria segera menaiki anak tangga menuju kamarnya.


Panti asuhan Cinta Anak


Daysi membawakan banyak mainan, makanan dan pakaian di bantu oleh beberapa ojek online yang biasa Daysi pesan. Daysi sengaja memesan ojek online daripada taxi online alasannya cuma satu agar ojek online yang penghasilannya tidak menentu bisa membantu meskipun hanya sedikit saja bantuannya.


Daysi langsung memeluk adik-adik panti yang masih kecil dan memggemaskan.


"Lihat... kakak bawa apa. Taraa... ini untuk kalian semua, apa kalian suka?" tanya Daysi tersenyum bahagia.


"HOOREE..., terimakasih kakak Daysi yang baik hati dan cantik." Ucap semua anak-anak panti yang masih kecil-kecil. Daysi menganggukan kepalanya


Tak terasa air mata Daysi jatuh bercucuran begitu bahagia melihat senyum yang merekah dari adik-adik panti. Daysi segera melihat bayi yang ia temukan di depan panti asuhan kini bayi itu tambah berisi semakin tembam saja pipinya. Tak lupa Daysi membelikan perlengkapan bayi toh dia tidak mengeluarkan sepeser pun uang dari kerjanya.


Setelah makan malam bersama Daysi bermamitan kepada Umma Inayah dan para pengurus lainnya serta adik-adik panti juga.

__ADS_1


Saat berada di jalan pikiran Daysi jauh melayang ke atas awan. Andai saja ia dapat menceritakan jika dirinya sudah menikah kepada orang lain pasti beban di pikirannya reda sedikit. Namun ia sadar jika ia tak memiliki teman untuk bersandar apalagi bercerita ini itu dengan tenang.


CCITT... BBRRUGGHH..., Daysi mengerem motornya secara mendadak karena ia menabrak sesuatu ya menabrak sebuah pagar tembok.


Daysi segera mengecek apa sepeda motornya baik-baik saja. Daysi lega saat melihat motor kesayangannya baik-baik saja.


"Hhuuff... untung nih motor tidak kenapa-kenapa kalau sampai rusak apalagi dari sini jauh sekali bengkel motor bisa-bisa remuk semua badanku." Daysi segera mengambil motornya yang terjatuh.


Daysi melihat sekelilingnya begitu sepi sampai bulu kuduk merinding, Daysi segera mendirikan motornya dan menyalakan mesinnya. Daysi tersenyum lega karena motornya tidak mati mungkin karena sering Daysi mengecek ke bengkel motor bututnya.


Sesampainya ke kediaman Ksatria Malik. Daysi segera memarkirkan motornya. Tanpa Daysi sadari sorot mata tajam dari lantai dua menatap tajam kepulangan Daysi barusan.


"Kenapa aku jadi melihatnya terus sih. Sadar Ksatria ingat jika kamu itu mempesona dan tampan, tidak mungkin kamu dengan mudah diam-diam kagum dengan wanita seperti itu. Mustahil Ksatria masih banyak perempuan yang jauh menarik penampilan dan pendidikannya." Ksatria segera menepis pikirannya yang melayang-layang tentang Daysi.


Daysi segera masuk ke dalam rumah dan membersihkan dirinya. Rasa perih di telapak tangannya karena jatuh baru Daysi sadari saat dirinya membersihkan tubuhnya, dengan perlahan Daysi membersihkan lukannya. Setelah selesai mandi Daysi segera mengoleskan obat merah ke telapak tangannya yang terluka. Untung yang kena tangan kirinya karena Daysi jatuh ke kiri jalan.


Setelah mengolesi obat merah Daysi menuju dapur, perut kosongnya meminta diisi sesegera mungkin.


"Lapar sekali perutku, ada makanan apa ya di dapur?" Daysi membuka lemari kecil dan lemari pendingin.


Saat menemukan sayuran di dalam lemari pendingin dengan segera Daysi mengambil nasi yang masih panas dan meletakkannya di piring kemudian atasnya di beri sayuran yang sudah di masak mbok Yati. Dengan begini sayuran yang tadinya dingin agak hangat karena ada nasi di bawahnya yang masih panas.


Ksatria yang melihat Daysi hanya makan sayuran saja ingin sekali memberikan lauk ke Daysi namun rasa gengsi yang besar membuat ia mengurungkan niatnya tersebut.


"Aahh... ngapain aku perhatian ke dia. Nanti dia bisa besar kepala lagi." Ksatria segera pergi menuju keluar rumah.

__ADS_1


Saat berada di gasebo Ksatria pikirannya masih melayang-layang ke angkasa seperti taburan bintang dan pelanet yang saling melengkapi satu sama lain.


TTRIINGG..., suara ponsel Ksatria berbunyi menandakan notifikasi pesan masuk, ia lihat sebentar tertera nama A B C. Ksatria membaca satu-satu pesan yang masuk di ponselnya, begitu menggelikan saat membacanya kata-kata rayuan dan yang lainnya tertera di layar ponselnya.


__ADS_2