
Setelah meredam hasratnya di dalam kamar mandi, Ksatria Malik segera menyambar jubah handuknya. Daysi tengah mengambilkan baju tidur untuk Ksatria.
"Maaf Daysi, aku lupa jika kamu masih baru datang bulan." Memeluk tubuh Daysi dan meletakkan dagunya di bahu Daysi.
"Iya tidak apa-apa, sudah kewajibanku dari dulu seharusnya melayani suami baik lahir dan batin," Daysi mengusap lembut rambut Ksatria Malik. "Ini bajumu pakailah, aku akan membersihkan diriku sebelum tidur."
Ksatria segera mengenakan pakaiannya sambil menunggu Daysi keluar dari kamar mandi, Ksatria menyenderkan tubuhnya di tepi ranjang. Daysi keluar dari kamar mandi mengenakan baju tidurnya.
"Daysi sini." Ksatria menepuk-nepuk tempatnya menyenderkan tubuhnya. Daysi mendekat dan naik keatas ranjang tidur.
Ksatria tiba-tiba berpindah posisi saat Daysi duduk sambil menyenderkan tubuhnya niatnya ingin duduk di ranjang malah kini ia harus menerima jika Ksatria meletakkan kepalanya di paha Daysi.
"Sat... kamu mau tidur?" Daysi menatap wajah tampan Ksatria.
"Iya Daysi, tolong kamu usap-usap rambutku. Aku ingin tidur dengan kamu yang mengusap rambutku!" sambil memandang wajah Daysi.
"Dasar bayi kecil, seperti Aak Cheval saja." Daysi mengusap-usap lembut rambut Ksatria yang sudah kering karena sehabis mandi tadi Ksatria mengeringkannya dengan hair dryer.
"Tapi aku suka panggilanmu barusan," Ksatria mulai memejamkan matanya.
"Iisshh... pandai sekali menggombal." Daysi tetap melajutkan menyentuh rambut Ksatria yang harum.
Ksatria yang sudah terlelap dalam mimpinya kini di pindahkan tidurnya dari pangkuan Daysi dengan susah payah Daysi meluruskan tidurnya Ksatria. Karena merasa kebas di pahanya sebab Ksatria tertidur nyenyak di pangkuannya.
Daysi berjalan keluar dan mengambil air minum karena kerongkongannya terasa sangat kering. Ia membuka lemari es yang ada di kamar Ksatria dan mengambil susu segar dalam kemasan.
__ADS_1
"Aahhh... segarnya." Daysi menenggak habis susu kotak tersebut, rasa original yang paling Daysi sukai maka dari itu Daysi tadi mencatat satu kardus susu kotak bergambar sapi.
Daysi mencuci mukannya lagi ia masih saja kepikiran tentang permintaan Ksatria yang terjadi tadi sebelum Ksatria tidur di pangkuannya. Setelah mengosok giginya Daysi mengintip sebentar kamar Aak Cheval dan melihat Ria tertidur di samping ranjang box Aak Cheval. Daysi menghampiri box tidur tersebut dan mencium wajah Cheval tidak ada gerakan seperti biasanya.
"Jika aku mengandung bayiku sendiri apa dia akan seimut Aak Cheval?" Daysi membayangkan anak kandungnya sendiri.
Setelah puas memandang Cheval, Daysi kembali ke kamarnya dan tidur di samping Ksatria sambil menatap wajah tampan Ksatria Malik. Malam semakin larut mata Daysi yang sudah berat akhirnya tertidur sambil menghadap wajah Ksatria hanya ada jarak satu jengkal saja.
Pagi hari kediaman Malik.
Daysi menyiapkan segala keperluan Ksatria dari kemeja bahkan setelan jasnya pula. Daysi memilih pakaian Ksatria sesuai hari ini. Karena hari ini hari Jumat Daysi menyiapkan kemeja batik dan jas yang pas dengan perpaduan batiknya.
Ksatria yang sudah bangun dari tadi mengrenyitkan dahinya ia heran dengan tingkah Daysi kenapa menyiapkan kemeja batik dengan jas, perpaduan tidak pas menurut pemikiran Ksatria. Akan tetapi demi kebahagiaan sang istri Ksatria mengenakannya, betapa terkejutnya Ksatria saat selesai mandi dan mengenakannya.
"Kenapa aku terlihat tampan sekali mengenakan kemeja batik ini di dan jas di luar kemejaku?" tanyanya pada diri sendiri yang berada di kaca besar kamarnya sambil memutar-mutar tubuhnya.
Daysi sudah selesai menyiapkan makanan di meja makan, karena hari ini perut Daysi tidak sakit jadinya ia bantu-bantu Mala dan mbok Yati memasak.
"Daysi, kamu tidak buat risoles lagi?" Ksatria duduk di tempatnya.
"Tidak, aku trauma membuatkanmu risoles. Kamu terlalu suka dengan makanan buatanku sampai-sampai cabai 1 magkuk kecil kamu habiskan!" Daysi segera mengambilkan makanan untuk sang suami.
"Aak kemana Daysi kenapa suasana rumah sepi?"
"Oohh, Aak lagi main sama Relli di halaman rumah sama mbak Ria!" Daysi duduk setelah mengambilkan makanan untuk Ksatria dan juga untuk dirinya sendiri.
__ADS_1
Ksatria langsung makan karena terus terang saja perutnya sudah berdemo saat ia mandi tadi. Daysi hanya menatap sekilas ia sudah biasa melihat Ksatria yang selalu nambah saat makan, saat ini selera makan Ksatria naik. Mungkin karena efek bahagia membuatnya suka makan namun karena ia menjaga ideal berat badannya setelah pulang dari hotel Ksatria selalu menyempatkan diri untuk berolah raga yang menguras banyak tenaga.
"Aku sudah selesai sarapan, aku terburu-buru mau ke hotel karena ada beberapa pengusaha yang mengajak kerja sama dan metting terjadi pagi ini. Aku berangkat dulu ya." Mencium dahi Daysi.
"Hati-hati," sambil mencium punggung tangan Ksatria.
Hotel Royal Malik.
Ksatria berjalan dengan gagah dan memasuki area metting room. Senyumnya mengembang sambil memimpin kegiatan metting paginya ini. Selesai metting dengan rekan bisnisnya Ksatria melepas jasnya di ruang pribadinya.
Pikirannya menerawang jauh lagi, hubungan rumah tangga yang ia anggap tidak akan pernah terjadi, saat ini terjadi bahkan sangat indah dan menyenangkan.
"Rasanya tidak sabar ingin pulang, tapi kalau aku pulang sekarang pasti kena semprot Daysi lagi. Nanti dia bilang tidak mau punya suami pengangguran lagi, haduhhh... Daysi andai kamu tidak berucap begitu pasti setiap hari aku akan berkerja dirumah dan melihatmu setiap hari tanpa rasa rindu seperti ini." Menebah dadanya berkali-kali.
Ksatria berjalan ke arah gorden yang biasanya di ganti oleh Daysi dan Ksatria mencuri-curi pandang Daysi saat menganti gorden. Ia ingat saat pertama kali bertemu Daysi sewaktu ia kembali dari luar negri. Ksatria ingat saat Daysi mengumpatnya sangat lirih namun masih terdengar di telinga.
Ksatria tertawa lepas jika mengingat hal konyol itu, apalagi saat Daysi dimarahi oleh Okta manager hotelnya. Ia bahan masih saja bisa bergembira bahkan menyanyi sambil mengoyangkan badannya.
"AAA... HAA... HAA..., kamu sunggu lucu dan konyol Daysi. Pantas saja aku selalu penasaran dengan tingkahmu saat kerja." Ksatria masih tertawa dengan keras, untung ruangannya kedap suara jadi sekeras apapun tawanya tidak terdengar sampai luar ruangan.
Ksatria membuka galeri ponselnya dan menghapus foto lamanya dengan Arabelle dan menyisakan satu untuk di tunjukkan pada Cheval putra Arabelle yang kini ia rawat dengan sang istri.
Ksatria yakin jika suatu saat nanti Cheval akan menanyakan siapa orang tuanya, karena Cheval memiliki wajah bule dari sang ayah. Bagaimana pun Cheval nanti tau jika dirinya beranjak dewasa. Setelah menghapusnya Ksatria meletakkan ponselnya di meja kemudian ia berkutat dengan laptopnya.
***
__ADS_1
Aak Cheval Malik.