ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu

ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu
158 S2


__ADS_3

Jangan lupa pencet like, komen, favorite dan rate ya kakak kakak, biar aku semangat up nya.


Selamat membaca.


***


Di dalam taxi.


Emillia sedang mencari tempat tinggal untuk dirinya, Dhela yang menemani Emillia dengan senang hati.


"Aku harus waspada dengannya, cantik sih tetapi jika kelakuannya tidak baik bukannya itu buruk, semoga dia secantik wajahnya hatinya." Emillia menatap Dhela yang satu mobil taxi dengannya.


"Kenapa, apa ada yang salah denganku. Sedari tadi aku melihat kamu menatapku dengan tatapan curiga, tenang saja aku tidak akan menyakiti kamu." Ucap Dhela yang kembali menatap ke arah jalan raya.


"Tidak, cuma dikit curiga denganmu," jawab Emillia berterus terang.


"Oo... pasti Cheval atau keluarganya yang berbicara bukan-bukan tentangku kan?" Dhela menampilkan senyum pahitnya.


Ia sadar diri jika dirinya dulu sempat ada rasa cemburu dengan Sindy yang begitu sempurna kehidupannya tanpa sedikitpun ada kecacatan.


"Kamu tenang saja, aku tidak akan berpikir tentangmu yang buruk-buruk, karena hari ini pertama aku datang ke sini jadi nanti aku traktir deh makanan di restoran bawah apartemen." Emillia tersenyum.


Dhela menatap dengan tidak yakin, jika laki-laki di sampingnya baik dan tidak sedang modus.


"Semoga kamu tidak merencanakan sesuatu," Dhela membuka pintu taxi dan meninggalkan Emillia di dalam taxi.


Emillia jadi penasaran dengan Dhela yang ia kenal melalui sosial media.


Gubuk di perkebunan anggrek.


Cheval dan Sindy sedang menikmati santapan siangnya yang tadi ia pesan sebelum berkeliling di kebun anggrek.


"Makanan sudah sampai, ayo sayang." Mengulurkan tangan ke Sindy untuk membantu Sindy naik ke atas gubuk tersebut.


"Terimakasih Aa, suami baik plus romantisku," Sindy segera duduk di dekat sang suami.


Lais dan Momo yang baru sampai jadi tersipu malu dengan kelakuannya sendiri dan di tambah lagi melihat keromantisan dua insan yang sudah bersenda gurau di atas gubuk tersebut.


"Pengen seperti mereka yang romantis romantisan." Lais membisikkan pada Momo.


"Tidak usah," jawab dingin Momo langsung naik ke atas gubuk tersebut.

__ADS_1


Cheval dan Sindy yang tadinya saling suap suapan kini menghentikan aksinya saat melihat wajah Momo yang kusut.


"Kenapa kalian berdua?" Cheval melanjutkan menyuapi Sindy.


"Tidak kenapa-kenapa!" jawab datar Lais.


Makan siang di gubuk ini sangat nikmat meski ada sepasang laki-laki dan perempuan yang tanpa ikatan apapun.


"Ayo kembali sepertinya hari semakin sore." Ajak Momo yang sudah turun terlebih dahulu.


Di dalam mobil Momo hanya menatap dari luar sedangkan Lais mengendarai motor kesayangannya dari belakang.


"Kenapa sih kalian berdua ini, apa ada sesuatu yang membuat kalian bersitegang lagi." Sindy menatap jog bagian belakang.


"Tidak, hanya tidak ingin memiliki hubungan lebih yang akan menyakitkan saja," jawab malas Momo sambil memejamkan matanya.


Sindy hanya menghela nafas dengan berat, kenapa Momo harus mengalami kisah rumit tersebut. Apa benar sudah tidak ada jalan lagi untuk mereka berdua bersama.


"Meski Lais perhatian padaku seperti itu, tapi sampai sekarang dia tidak mengungkapkan cinta padaku, terus aku harus bagaimana jika aku kecewa lagi. Sebaiknya kita tidak usah bertemu lagi mulai sekarang." Momo mulai masuk ke alam mimpi.


Sindy menyentuh lengan kiri Cheval untuk melihat spion.


"Biarkan saja sayang, mungkin dia kelelahan. Apa kamu juga ingin tidur sayang?" Cheval mengusap lembut pipi Sindy.


"Oke kalau tidak mengantuk, temani Aa menikmati suasana pedesaan ini sebelum kita kembali ke kota." Cheval kembali fokus ke jalan.


Lais yang berada di belakang mobil berharap Momo turun dan naik kendaraan bersama dirinya namun hasilnya nihil bahkan ketika sampai di kota.


Lais melambaikan tangannya dan membelokkan kemudinya ke arah rumahnya sendiri. Cheval hanya mengisyaratkan dengan membunyikan klaksonnya.


"Momo bangun sudah sampai." Sindy membangunkan Momo.


"Eemm," Momo bangun dan segera mengambil tas kecilnya.


Momo melihat kesana kemari namun orang yang ia cari tidak ada. Ada rasa kecewa di dalam hati, meski ini keputusannya sendiri tetapi ia ingin selalu melihat keberadaannya meski hanya sekilas saja.


"Sudahlah mungkin dia lelah dan pulang lebih dahulu." Momo masuk ke dalam rumah papanya.


Ksatria yang menikmati secangkir cappucino buatan Daysi hanya menatap ke datangan sang putri yang masih jomblo. Padahal di usia muda seperti ini pasti banyak pacar seperti dirinya dahulu.


"Momo kenapa wajahmu kusut sekali, carilah kekasih hati untuk menceriakan dan mewarnai hidupmu." Ksatria melipat koran yang baru saja ia baca.

__ADS_1


Momo menggeleng, "tidak pa, masih enakan jomblo tanpa beban," sambil menyunggingkan senyum. "Andai takdir tidak rumit papa, pasti aku bisa bersama dengannya, meski lewat perjodohan itu."


"Apa kalian sudah makan tadi?" Ksatria melihat Cheval dan Sindy yang sudah berada di anak tangga yang paling atas.


"Sudah papa!" Momo langsung masuk ke dalam kamar yang biasa ia gunakan untuk menginap di rumah ini yaitu kamar mendiang bundanya.


Ksatria segera menuju lapangan golf sambil menikmati suasana di kediamannya. Daysi yang melihat kegelisahan Ksatria saat main golf langsung mendekati sang suami yang bermain sendirian.


"Apa butuh partner pa." Mengambil stik golf.


"Iya," Ksatria memukul bola dengan kencang sampai bola tidak terkena sasaran.


Sacha yang baru saja pulang dari Royal Malik langsung bertepuk tangan.


"Waw permainan yang sangat buruk." Ledek Sacha yang duduk manis di ayunan dekat dari lapangan tersebut.


"Semua gara-gara kamu, pikiranku jadi terbelah kemana-mana," ucap ketus Ksatria yang baru saja memasang bolanya kembali.


"Iisshh aku kena lagi." Sacha membuka laptopnya dan melanjutkan pekerjaannya lagi.


Ksatria mendekati Daysi dan memberikan stik golf pada istrinya.


"Segitu sibuknya sampai tidak perhatian dengan perasaan putrimu, lihatlah dia galau sehabis dari perkebunan anggrek tadi sore." Ksatria menunjuk Momo yang melamun di atas balkon kamar Aurellia.


Sacha langsung menatap sang putri yang kian lama mirip sekali dengan almarhumah Aurellia.


"Aku tau aku salah, tetapi aku memperbolehkan dia untuk bertemu dengannya lagi. Bahkan tadi pagi mereka berdua berangkat ke kampus bersama," Sacha menghela nafas panjang.


"Benarkah, tetapi setelah dari perkebunan tadi...." Ksatria tidak melanjutkan ucapannya.


"Tadi apa?"


"Tidak... tidak..., mungkin setelah dari perkebunan terus lelah dan tidak mau beraktivitas makanya terlihat lesu dan kurang semangat," Ksatria tidak mungkin berbicara jujur.


Sekelebat tadi ia melihat ada tanda merah tidak mencolok tetapi samar-samar di leher Momo, entah itu terkena ranting pohon atau gigitan serangga besar.


Di kamar Sindy dan Cheval.


Cheval masih bermain ria di tubuh Sindy, sedangkan Sindy membiarkan sang suami melakukan kegiatannya.


"Bagaimana pijatan ku, apa masih sakit jari tangannya?" Cheval memijat dengan penuh cinta dan perasaan.

__ADS_1


"Tidak sih Aa, sudah sembuh Aa!"


__ADS_2