ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu

ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu
255. Bonus sekalian promo


__ADS_3

Lais mengawasi semua kegiatan di rumahnya lebih tepatnya kediaman Malik, setelah kepulangan sang istri ia langsung turut tangan menangani acara Aqiqah untuk kedua anak kembarnya hari ini.


"Aduh ... cucu-cucu Grandpa cakep-cakep semua." Ksatria menciumi kedua cucu kembarnya secara bergantian.


"Ini juga cucu aku Pa, sini yang cowok sama Grandma ya," Daysi langsung meraih cucu laki-lakinya, harap maklum ya ia belum pernah dapat laki-laki kecuali Cheval putra angkat sekaligus menantunya itu.


Semua terlihat bahagia dengan kehadiran si kembar yang menggemaskan ini di tambah lagi bibir mungil yang sangat merah merekah.


Lais terdiam ia tidak berkutik sama sekali dari pada kena semprot lagi dari sang Papa mertua yang tingkat kecerewetannya melebihi nenek moyangnya yang sudah tiada.


"Siapa nama anak kembar kalian Momo?" Daysi menanyakan perihal nama yang di siapkan oleh anaknya ini.


Momo menggelengkan kepalanya.


"Belum ada Ma, lagian sewaktu aku mengandung mereka kami berdua belum merencanakan nama. Tapi ... secepatnya kami berdua akan memberikan nama pada si kembar!" Momo tersenyum bahagia.


"Kenapa seperti itu, bukannya lebih baik menyiapkan nama jauh-jauh hari sebelumnya. Jika tidak bisa memberi nama Papa juga bisa memberi nama dan Papa sarankan pakai nama Malik juga di belakangnya, itu simbol dari Papanya Papa keluarga Malik." Ksatria geram sendiri, kenapa sampai lahiran belum menyiapkan nama sedikit pun untuk anak-anaknya.


Apa selama ini mereka bertengkar sampai-sampai terlena akan nama bayi kembarnya, jika iya pasti ini ulah Lais suami Momo lebih dahulu penyebabnya. Entahlah yang jelas sekarang kebahagiaan yang ada, semoga dengan kelahiran kembar semakin mempererat hubungan yang kurang baik kemarin-kemarin.

__ADS_1


"Iya Pa, segera kami berikan nama yang baik untuk mereka berdua. Iya kan mas?" Momo menatap Lais yang sedari tadi diam saja seperti orang sakit gigi.


"Iya, asalkan nama di bicarakan dengan baik-baik supaya tidak terjadi pertengkaran nantinya, Papa tidak mau Momo terluka lagi. Ingat itu Lais." Menunjuk wajah Lais.


"Baik Papa," Lais mengiyakan nasihat mertuanya ini.


Ksatria tidak habis pikir dengan hubungan kedua nya ini, benar-benar labil hubungannya. Dan semoga saja kedepannya jauh lebih baik dari sebelumnya, apalagi sudah bertambah anak-anak yang lahir ke dunia ini.


Beberapa asisten rumah melihat berita di televisi berita seorang model yang baru melahirkan namun yang paling mengejutkan, wanita itu tidak selamat saat melahirkan anaknya dan di perkirakan ia melahirkan seorang putra 1 Minggu yang lalu.


"Eh ... bukannya itu model yang bernama Aura, pantas kalau dia kena karma." Ucap salah seorang satpam yang geram dengan kehadiran Aura di tengah-tengah kebahagiaan anak majikannya itu.


"Hus ... jangan kencang-kencang bicaranya, nanti kalau Pak bos dan Bu bos tau bagaimana. Kena masalah kamu," Doni mengusap punggungnya yang terkena pukulan dari Tejo teman seprofesinya sebagai pengaman kediaman keluarga Malik.


"Papa mengundang tamu, seorang Dokter dan perawatnya kemari?" Daysi sedikit heran dengan suaminya, biasanya yang akan datang secara rutin adalah Filan kenapa sekarang berbeda yang datang.


Ksatria menggelengkan kepalanya.


"Tidak Ma, bahkan Papa tidak mengundang mereka!" bisiknya pelan.

__ADS_1


Dengan sedikit terpaksa Daysi dan Ksatria menerima tamu tidak di undang ini masuk dan berbincang-bincang singkat.


"Silahkan duduk Pak Dokter, ada apa ya Bapak kesini?


"Maaf Pa ... Bu ..., kedatangan kami atas permintaan Almarhum mbak Aura untuk menitipkan bayinya pada keluarga ini, terutama kepada Bapak Lais menantu anda Pak Ksatria," jawab Dokter Ilham secara terang-terangan usai di tanyai Ksatria.


Ksatria dan Daysi terkejut sekaligus bingung, permainan apa lagi yang di mainkan ulet keket itu. Kenapa tidak ada habis-habisnya membuat beban di keluarga Malik, apa dia belum puas melukai Momo putrinya dan sekarang di tambah lagi dengan bayi mungil yang masih berusia sekitar 2 bulanan ini. Wah ... benar-benar gila permainannya.


Ksatria yang belum tau perihal berita kematian Aura dengan cara halus menolaknya.


"Maaf Bapak Dokter sebelumnya, tapi kami benar-benar bukan kerabat dari saudari Aura. Sepertinya anda salah informasi Pak." Ksatria menjabarkan apa yang ada.


"Tapi, ini wasiat dari ibu Aura Pak. Dan ini surat kematian Aura dan ini juga tempat pemakaman ibu Aura yang tidak jauh dari Rumah Sakit Pak Ksatria," Ilham memberikan surat tersebut.


Ksatria memijat kedua pelipisnya begitu juga Daysi.


***


...PROMO...

__ADS_1



Ayo ramaikan karya baru Emak, semoga karya baru ini juga cocok di baca dan ngena ke hati teman-teman semua. Terimakasih ya


__ADS_2