ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu

ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu
S3. 7


__ADS_3

Cheval berada di dalam mobil dengan bahagia membawa makanan, tapi saat di tengah perjalanan ada seseorang yang jatuh saat mengendarai sepeda, ingin menolong tapi tidak jadi sebab ia sudah berdiri lalu mengayunkan sepedanya lagi dengan hati-hati pasti ada luka di lutut dan lengannya.


Sang gadis langsung ke rumah sakit terdekat, bukan sok kaya atau apa tapi jika Kakak angkatnya tau dirinya terluka dan tidak mau datang ke tempat ia kerja maka hukuman akan di berikan yaitu di larang keluar bahkan ponsel dan teman-temannya akan di sita.


Rumah Sakit Umum.


"Bagaimana bisa jatuh seperti ini sih kamu, bodo* ya saat naik sepeda?" ketusnya tapi tetap mengobati kaki dan tangan Nisa dengan penuh perhatian.


"Maaf Kak Filan, gak bermaksut begitu tapi aku ... aku tadi jatuh juga gara-gara lihat ada cowok bule tampan dan manis!" jawaban Nisa langsung membuat Filan membulatkan matanya.


"Dasar mata keranjang, mentang-mentang ada yang bening plus bule mata jadi terlena. Merepotkan, kenapa Papa bisa punya anak angkat seperti kamu sih." Di perban setelah usai di obati dan di bersihkan lukanya, tidak parah namun Filan sengaja perban nya di lilitkan pada gadis ceroboh ini yang selalu saja membuat ulah lagi dan lagi apa tidak lelah hidupnya membuat ulah.


"Kenapa di perban sih Kak? bukannya tidak parah ya lukanya." Menatap kakinya.


"Lain kali kalau jatuh seperti ini akan aku perban sekalian nanti aku getok pakai palu biar sekalian gak bisa jalan lagi dan tidak bisa kemana-mana," Filan hawatir namun ia tidak mau menunjukkan secara langsung.


Adiknya ini cantik tapi ceroboh sekali. Kecerobohannya ini selalu membuat Filan merasa hawatir jika suatu saat nanti suaminya akan kerepotan menghadapinya.


"Siap kak, gak akan terulang lagi ko buat masalahnya dan gak bakalan oleng saat naik sepeda, tapi tidak janji jika tidak ada cowok cakep. Lagian Kakak aku kasih hati dan perasaanku cuma di anggap adik saja, jadi jangan marah jika aku melihat laki-laki di luaran sana." Mengungkapkan perasaannya.


Filan mulai tidak nyaman jika adiknya ini selalu mengungkit perasaannya untung ini di ruangan pribadinya maksudnya ruangan tempat ia memeriksa pasien satu-satu.


"Terimakasih kakak sudah mau mengobati lukaku ini dan mengomel lagi padaku untuk yang kesekian kalinya, itu tandanya kakak peduli dan sayang sama aku. Benarkan." Nisa langsung mengalungkan tangannya di leher Filan dan memberikan ciuman singkat di bibirnya.


Filan membulatkan matanya, berani sekali adiknya ini mencium dirinya di Rumah Sakit.


"Jaga bibir dan perilaku kamu itu, aku tidak ingin dapat masalah gara-gara kekanak-kanakan kamu ini," langsung mendorong tanpa perasaan sampai Nisa terjatuh dari kursi tempatnya di obati tadi.


"Aw, sakit." Lirih Nisa berbicara ia tau ia salah dalan lancang sekali.


"Maaf Kakak." Nisa tertunduk.


"Jadi perempuan itu harus tau menjaga diri sendiri, jangan jadi murahan karena obsesi semata ingat itu harus menjaga diri sendiri kamu ini wanita harus pandai menjaganya," Filan pergi begitu saja meninggalkan Nisa dan tidak menolong Nisa lagi.


Nisa yang sedari tadi menahan air matanya yang mau tumpah sebab ia di marahi oleh Filan. Nisa merasakan sakit di dad4nya secara tiba-tiba usai mendapatkan perilaku kasar dari Filan, memang ia lancang tapi bukan berarti kata-kata itu lagi yang terulang dan terucap baginya itu sangat buruk ucapannya sebab membuat dirinya merasa wanita murahan dan jal4ng.


"Jal4ng lagi ucapannya, maaf kakak jika aku mencintaimu. Tapi asal kakak tau aku tidak akan pernah menyerah, aku akan berusaha untuk menjadi suster pendamping kakak." Nisa menelusuri koridor rumah sakit sambil menahan kakinya dan lengannya yang berdenyut ngilu sekali.


Filan yang menangani pasien lain pusing, pasti Nisa akan berbuat aneh-aneh lagi.


"Aduh ...." Belum juga seberapa ia jalan kursi besi yang ada di koridor rumah sakit ia senggol, Nisa terjungkal dan hampir mencium kaki seseorang, ia mendongak ke atas.


Seorang perempuan dengan seragam putihnya menatap Nisa sambil mengerutkan kedua alisnya tapi sayang wajahnya tertutup oleh masker medis miliknya.


"Maaf ... maaf ... saya tidak sengaja terjatuh dan kebetulan di bawah kaki anda, sekali lagi saya minta maaf." Nisa berdiri lalu menatap wajahnya.


"Iya, tidak apa-apa. Lain kali harap di perhatikan jalannya ya kasih jika ada orang lain yang terkena," ucapnya di balik masker.


Nisa hanya menatap saja, Dokter wanita sepertinya cantik sekali terlihat dari suara yang ia lontarkan lemah lembut tapi sedikit dingin. Tak selang berapa lama Filan masuk ke ruangan yang sama dengan Dokter perempuan tadi.


"Coba aku lihat deh, sepertinya tadi itu kak Filan." Gumamnya berjalan menuju ruangan yang ada di ujung koridor rumah sakit.


Deg


Nisa memegang dad4nya seraya tersenyum getir saat melihat Dokter perempuan itu memeluk Filan dan Filan menyambut pelukannya seraya mengusap punggungnya.


"Mundur pelan-pelan saja, mereka mesra sekali. Apa dia pacar kakak?" dengan jalan gontai Nisa meninggalkan tempat tersebut dan segera membayar pengobatannya tadi.

__ADS_1


Kediaman Ksatria Malik.


Sindy berdecak pinggang saat melihat putri-putri kecil yang tadi kata Mama gak bandel tapi apa buktinya 180 lebih berbeda dari ekspektasi ternyata realitanya membuat orang darah tinggi mendadak.


"Inre ... Princess, kalian mau buat Mama jantungan apa? turun sekarang, jangan seperti monyet kalian berdua." Sindy teriak sambil mengambil trampolin yang ada jaringnya untuk berjaga-jaga jika dua putri yang sedang bermain dengannya tidak jatuh langsung ke tanah.


"Mama Sindy, takut," Princess ketakutan sekali terlihat ia sedikit gemetaran di atas sana.


"Ya Allah bagaimana ini?" ia berjalan ke tempat pak Tamrin, "tolong pak Tamrin itu anak-anak." Sindy memanggil tukang kebun yang kebetulan ada di dekatnya bermain meski tidak terlalu tinggi namun Sindy yang baru operasi tidak bisa cekatan seperti kemarin-kemarin sebelum operasi.


Tamrin segera menolong anak majikannya.


Sindy bernafas lega saat mereka selamat sampai bawah meski pak Tamrin terpaksa melepaskannya turun ke trampolin anak-anak sebab Inre juga hampir jatuh dari pohon.


Cheval yang baru pulang menemui istri dan anaknya.


"Inre ... Princess jangan seperti ini lagi ya nak, apa kalian tidak kasihan melihat Mama kalian sakit seperti ini dan juga kamu Princess Mama Momo kamu juga sedang sakit seperti Mama Sindy." Cheval memeringatkan mereka.


Tapi namanya anak kecil hanya iya-iya saja tapi tetap akan mengulanginya lagi dan lagi.


"Aa, ayo masuk dulu. Princess dan Inre ayo masuk dulu nak." Ajaknya pada mereka.


Cheval meletakkan pesanan Sindy dan anak-anak di atas meja makan, terang bulan 3 kotak dan martabak 5 kotak. Setiap membeli pasti Cheval akan membeli sebanyak itu takut satu keluarga besarnya ini tidak kebagian apalagi semua orang suka dengan makanan ini, selain cita rasanya yang khas makanan ini juga tidak terlalu mahal jika membeli satu porsi saja.


Saat berada di meja makan Cheval lebih dulu mengambilkan sang istri obat untuk di minum setelah ia makan.


"Apa sudah minum obat?"


"Sudah tadi siang Aa, yang belum untuk nanti malam sebelum tidur!" membukakan bungkus martabak telur dan daging.


"Ya sudah, makan ini dulu kalau begitu." Malah main suap-suapan padahal ada 2 anak kecil dan baby sitter yang berada di tempat itu.


Momo gelisah kenapa suaminya tidak pulang, apa sebegitu sibuknya dengan kliennya sedangkan Cheval kakaknya saja sudah pulang dan bercengkrama dengan istri dan anaknya penuh cinta.


"Ngambek nih ceritanya." Lais tiba-tiba datang mengejutkan Momo.


"Enggak, siapa yang ngambek," tapi bibir dan wajah terlihat sama-sama masam.


"Maaf ya sayang, tadi ban bocor dan harus di ganti dulu ke bengkel lalu aku beli ini juga untuk kamu." Memberikan obat pelancar asi dan juga jus buah segar untuk Momo.


"Terimakasih mas," memberikan ciuman di pipi Lais.


Lais tersipu di perlakuan manja oleh Momo artinya Momo sudah baikan dan tidak mudah marah lagi, dulu saat ia hamil si kembar Momo emosinya mudah naik turun sedih jika Momo emosi itu mempengaruhi kandungannya tapi sekarang Lais sebisa mungkin tidak membuat istrinya marah lagi.


"Lagi ciumnya." Menyodorkan pipinya namun anak kembar mereka menggangu lebih dulu dengan suara tangisan kencang mereka.


"Iya ... iya ... gak jadi minta aneh-aneh ke Mama ko." Lais menjauh dan benar saja kedua bayinya langsung tenang.


"Mandi dulu mas dan bersih-bersih kasihan anak-anak kamu dekati tapi kamu baru dari luar berkerja, kata orang Jawa biar gak kena sawan mas atau gangguan makhluk halus," mengambilkan jubah handuk yang bersih.


"Terimakasih sayang sudah mengingatkan suamimu ini, semakin cinta dan gak mau lepas." Lais memeluk Momo.


Momo memukul lengannya sebab suaminya bau sekali badannya apa tadi barusan lari maraton dari kantor sampai rumah, bau Pete lagi.


"Pantesan anak-anak nangis, bapaknya bau Pete ternyata. Siap-siap pakai masker dan semprot ruangan dan kamar mandi di tambah satu lagi biar baunya gak parah banget." Gumam lirih sambil mengayunkan box bayi mereka.


Di jalan raya kota.

__ADS_1


Seorang gadis mengelilingi pusat kota entah sudah berapa kali ia mengelilingi tempat itu yang jelas sudah dari sore sampai matahari tenggelam ia masih saja mengayuh sepedanya, jika di tanya kenapa tidak menggunakan kendaraan pribadi padahal jelas-jelas ia anak angkat dari keluarga Filan.


Klung


Pesan singkat masuk, Nisa menatap ponselnya pasti dari teman-teman nya yang mengirim pesan namun salah bukan dari teman-temannya melainkan dari sang kakak Filan.


💬 Kenapa tidak pulang, cari hiburan atau cari cowok dan pamer sana sini


Nisa terdiam, kenapa laki-laki ini selalu seperti ini. Nisa sadar ko 100 persen malah jika Kakak angkatnya ini pernah patah hati sebab orang yang ia sukai menikah dengan orang yang dia cintai, padahal dirinya bersama-sama juga sejak SMA dulu apalagi saat orang yang di cintai wanita itu pergi dia tetap stay dan setia mendampingi sampai sekarang bahkan, apalagi jika ia di suruh datang ke keluarga Malik pasti langsung tancap gas dengan segera serta penuh cinta dan kebahagiaan.


"Beruntung banget jadi mbak Momo, apa mbak Momo bahagia dengan suaminya. Tapi Dokter perempuan tadi itu?" Nisa malah sibuk memikirkan Dokter perempuan yang hampir ia cium kakinya tadi sore.


"Gak tau hah, lebih baik lanjut gowes-gowes." Nisa hanya membaca pesan tersebut tanpa membalasnya lagian buat apa membalas jika rentetan pesan berikutnya hanya menyakiti hatinya.


Filan yang menanti balasan pesan dari Nisa mulai gelisah, di mana gadis ceroboh itu apa dia membuat masalah lebih besar lagi dan lagi di tambah sang Papa kesehatannya menurun semenjak satu tahun belakangan ini meski masih bisa beraktifitas namun kondisinya tidak sebaik dulu dari gula darah.


💬 Cepet pulang


Nisa menatapnya, lalu ia membalas.


💬 Iya


Filan mengerutkan alisnya, tumben ini anak membalas pesan singkatnya cuma ini doang biasanya ia akan cerewet seperti tadi di rumah sakit, kesambet apa Nisa jadi aneh?


Di dalam kamar.


Sindy menatap curiga suaminya yang sedari tadi tersenyum-senyum melihat layar ponselnya ada apa sih di ponselnya sampai-sampai dirinya di abaikan seperti ini seperti makhluk tak kasat mata.


"Punya pacar?" pertanyaan konyol macam apa ini biasanya cewek akan cemburu dan marah tiba-tiba jika pasangannya fokus terus dengan ponselnya tapi justru Sindy berbicara demikian.


"Enggak!" singkat dan padat.


"Terus itu dari tadi aku lihat Ada fokus ke ponsel terus sambil tersenyum-senyum lagi." Sambil menunjuk ponsel yang di pegang dan asik menggeser layar.


"Marah ya plus cemburu nih ceritanya," menggoda dengan senyum devil nya.


"Iya cemburu, lagian aku masih dalam masa pemulihan kamu cuekin aku kayak gini. Sakit banget loh Aa perasaanku ini." Menunjuk dadanya.


"Cup ... cup ... cup ... sini-sini Aa bantu sembuhkan," menciumi seluruh wajah Sindy, Cheval hampir keterusan.


"Stop Aa." Mendorong wajah Cheval yang berada di lehernya.


"Maaf sayang, lupa biasanya langsung main coblos seperti pemilu dulu," Cheval memundurkan badannya dan sedikit menjauh dari istrinya.


"Iya gak papa Aa, lagian biasanya seperti itu kemarin-kemarin." Sindy ingat suaminya ini nafsunya gak bisa di kontrol jika bersama-sama tapi ini bagus untuk membangun hubungan rumah tangga yang baik dan menjauhkan hal yang buruk.


Cheval bersandar di ranjang sambil menunjukkan foto Lay dan Daylon, sudah lama dia dan teman-temannya tidak kumpul-kumpul lagi seperti waktu dulu jaman masa-masa putih abu-abu.


"Eh ini kak Lay, ko seperti ini sih Aa?" menunjuk wajah Lay.


"Kenapa? jadi tambah tampan ya!" sambil meledek.


"Iya Aa, padahal dulu itu dandanannya seperti anak punk tapi sekarang rapi pakai jas kejaksaan pula, pasti yang jadi istrinya senang." Memuji setinggi ini.


Cheval tersenyum getir.


"Senang apanya, satu tahun yang lalu ia di gugat sang istri. Tapi ini nih yang paling tampan di antara kami bertiga," menunjukkan foto Daylon.

__ADS_1


Daylon dari dulu memang tampan dan manis tapi sekarang jauh lebih tampan lagi apalagi seragam putih dan topi yang ia kenakan, sekarang Daylon jadi seorang nahkoda(kapten kapal) di salah satu kapal besar di Indonesia.


Sindy hanya terperangah melihatnya, ternyata orang-orang yang dulunya bandel dan susah di atur kini jadi orang-orang sukses, maka dari itu jangan pernah merendahkan orang lain.


__ADS_2